
Tatit menatap wajah menantu nya yang terlihat bahagia, ia mengusap wajah yang beberapa minggu terakhir ini ia rindukan. Biarlah untuk saat ini besan yang tak lain adik nya menjauh karena kesalahan diri nya dan juga putra nya, namun setidak nya hubungan nya dengan menantu nya baik baik saja, karena untuk saat ini itu lebih dari cukup bagi nya. Ia melihat tangan Kinar yang membesar
"Sudah berapa lama tangan kamu membesar seperti ini?"
"Beberapa hari terkahir ini mam"jawab Kinar dengan melihat tangan nya
"Sudah periksa ke dokter? Lalu apa kata dokter?"
"Belum mam"
"Hah belum!? Gimana sih Irsyad, sudah tau ada perubahan fisik pada istri nya kenapa dia santai banget"
"Bukan salah mas Irsyad, mam, aku nya saja yang menolak untuk di bawa ke rumah sakit"
"Kamu gimana sih, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu?"
"Tapi ini tidak sakit mam"
"Setelah lepas magrib kita ke dokter ya?"
"Apa itu perlu mam?"
"Jangan membantah"kinar tersenyum, sungguh ia sangat merindukan Omelan mertua nya yang tidak bisa di bantah sedikit pun"Mami dari tadi tidak melihat nenek, pergi kemana nenek?"
"Nenek ke Semarang mam"
"Pada hal nenek sudah terlalu tua tapi masih saja sibuk mengurus usaha nya"
"Nenek pernah berbicara sama aku, ma. Kalau nenek tidak bekerja justru badan nya akan terasa sakit semua"
"Tapi nenek kamu itu sudah terlalu tua sayang"
"Nenek juga ibu nya mami kan?"canda Kinar membuat Tatit tertawa dengan memukul paha nya
"Sudah pintar sekarang kamu ya?"
"Sedikit mam"jawab Kinar dengan menunjukan angka nol jari nya
"Dengan siapa nenek pergi ke Semarang?"
"Bi Narsih, mam. Kemaren nenek sempat tidak mau mengajak Bi Narsih, mam, tetapi aku memaksa nya. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan nenek melihat usia nya yang tidak mudah lagi mam"
"Nenek kamu memang pekerja keras, apa yang sedang di bicarakan oleh pria kita?"mendengar kata pria kita membuat Kinar tertawa terbahak bahak sampai perut buncit nya naik turun"Kamu kenapa tertawa?"
__ADS_1
"Bukan pria kita mam, tetapi suami suami kita"
"Ah sama saja lah itu, tetapi kenapa lama sekali ya? Apa yang sedang mereka bicarakan? Seperti sidang paripurna saja"
"Itu urusan mereka mam, urusan kita saat ini justru membicarakan mereka"lagi lagi Kinar tertawa terbahak bahak
"Apakah Irsyad pernah menyakiti mu lagi?"Tatit menatap wajah Kinar
"Tidak mam, justru sekarang mas Irsyad sedang bucin dan baper sama aku?"
"Masak sih? Manusia kaku seperti dia bisa merasakan bucin?"Kinar hanya tersenyum,
"Apa yang papi bicarakan dengan Irsyad?"tanya tatit ketika Irfan dan Irsyad sudah duduk di depan mereka berdua
"Ini urusan sesama pria mi"Mata Irfan menatap wajah menantu nya dengan tersenyum
"Apakah mami boleh tau Pi?"
"Lebih baik mami tidak perlu tau"
"Kenapa Pi?"
"Sudah lah mi, yang papi bahas dengan Irsyad hanya masalah perusahaan yang berada di jakarta dan tidak lebih"Irfan mengusap paha nya"Makan apa kita siang ini? Eh, tapi Papi dari tadi tidak melihat ibu, kemana ibu?"
"Ibu kamu meski sudah tua namun tetap gesit mi"
"Kenapa kamu tidak membawa istri mu ke dokter Irsyad? Pada hal kamu tau kalau tangan dan kaki istri kamu mengalami perubahan bentuk"Tatit mengalihkan pembicaraan nya
"Aku sudah mengajak nya mi, tapi Kinar menolak nya"
"Seharusnya sebagai suami kamu itu memiliki kepekaan sedikit Ir"Irsyad hanya diam"Kalau Kinar menolak di bawa ke dokter setidak nya kamu punya cara bagaimana agar istri mu itu mau"Irfan menatap irsyad"Kita makan di luar setelah itu kita membawa kinar ke klinik untuk memeriksa kondisi nya Pi"
"Mam"
"Jangan mencoba membela nya Kinar, Mami tau sifat suami mu yang sebenar nya"Ucap Tatit dengan menatap ke arah putra nya"Kamu tidak takut terjadi sesuatu dengan istri dan calon anak mu, Ir!?"
"Mami, jangan bicara seperti itu mi"
"Lalu kenapa kamu membiarkan istri mu dengan kondisi seperti ini?"
"Mami sudah mi, sekarang bersiap lah kita akan ke dokter setelah itu kita makan di luar"ucap Irfan"Tahan emosi mami, nanti darah tinggi mami naik"
"Sejak kapan mami memiliki riwayat darah tinggi Pi"
__ADS_1
"Sejak mami mengetahui kelakuan mu, Irsyad"
"Pi"panggil Irsyad pelan"Maafkan semua atas sikap ku selama ini, aku janji akan membuat mami dan papi bangga pada ku"ucapan yang tulus dari Irsyad membuat Tatit terharu, ternyata putra nya telah berubah menjadi sosok yang lebih baik, sifat ini lah yang di ingin kan Tatit dan Irfan.
"Sekarang bersiap lah, papi dan mami juga mau mandi dulu"Irsyad hanya menganggukkan kepala nya dan setelah itu kedua orang tua nya meninggalkan mereka.
"Maafkan aku, mas. Mungkin jika kemaren aku menuruti ajakan mu pasti mami tidak akan marah"ucap Kinar ketika mereka sudah berada di dalam kamar
"Bersiap lah, tentang ucapan mami barusan jangan kau ambil hati, ku rasa kau sudah paham betul dengan sifat mami ku"Kinar mengangguk kan kepala nya
"Tapi gara gara aku, mami jadi marah pada mu mas"
"Lupakan lah, apa yang di katakan mami memang benar, aku nya saja yang tidak peka"tangan irsyad bermain di perut istri nya"Maafkan ayah ya nak, ayah akan berusaha menjadi ayah yang tau betul apa keinginan ibu mu dan juga kamu"suara nya begitu lembut membuat Kinar merasa terharu, ia memegang tangan suami nya yang berada di atas perut nya"Tangan mu semakin membesar"Kata Irsyad dengan mengusap jari jari tangan istri nya"Apa ini sakit?"tanya Irsyad kembali dengan menatap wajah istri nya
"Tidak sakit mas hanya terasa kaku"Kinar menggenggam tangan nya
"Kenapa kau tidak bicara pada ku"
"Aku merasa hanya kaku mas dan tidak ada rasa sakit sedikit pun"Irsyad mengusap kembali jari jari Kinar, Irsyad pernah mengatakan pada istri nya, ternyata merubah panggilan menjadi seorang ayah itu penuh perjuangan bahkan rasa sakit tidak di hiraukan apa lagi ketika melahirkan nyawa taruhan nya. Irsyad tidak pernah membayangkan jika ia harus kehilangan istri yang setia seperti Kinar, bahkan mungkin jika ia mencari pengganti nya ia tidak akan pernah mendapatkan istri seperti Kinar,
"Ya Allah beri lah kemudahan istri hamba ketika melahirkan nanti, jika rasa sakit istri hamba bisa di bagi maka hamba siap menanggung nya ya, maka berikan lah pada hamba jika rasa sakit itu bisa mengurangi istri hamba ya Allah"batin Irsyad
"Kau kenapa mas?"tanya Kinar dengan menangkup wajah suami nya yang menitipkan air mata
"Terima kasih Kinar, terima kasih"
"Untuk apa kau berterima kasih pada ku, mas?"
"Tidak mudah merubah panggilan ku untuk menjadi seorang ayah, dan terlalu banyak rasa sakit yang harus kau tanggung demi melahirkan keturunan ku, tapi sedikit pun kau tidak pernah mengeluh pada ku, Kinar"
"Itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang istri untuk melahirkan keturunan mu, mas"Jawab Kinar dengan mengusap wajah suami nya"Setidak nya sebagai seorang istri aku sudah menunaikan kewajiban ku yaitu melahirkan keturunan suami ku"Irsyad langsung memeluk tubuh istri nya dengan lembut
"Sekali lagi terima kasih Kinar, maafkan aku kalau aku belum bisa menjadi suami seperti yang kau ingin kan"
"Aku sudah mengatakan berkali kali mas, jangan ucapkan kata itu lagi, aku sudah merasa cukup bahagia dengan sikap mu saat ini"Irsyad semakin erat memeluk tubuh istri nya
"Aww"jerit Kinar, membuat Irsyad langsung melepaskan pelukan nya
"Apa ada yang sakit?"wajah Irsyad penuh khawatir dengan memegang kedua pipi istri nya yang meringis
"Pelukan mu begitu erat sehingga membuat perut ku tertekan mas"
"Benarkah? Maafkan ayah nak" Irsyad jongkok di depan perut istri nya dengan mengusap perut nya dengan lembut"Ayah kalau sudah dekat dengan ibu mu suka lupa dan kebablasan kalau kamu saat ini berada di perut ibu mu"Irsyad memegang kedua pinggang Kinar lalu mencium perut nya berkali kali, jika di tanya saat ini siapa yang paling bahagia mungkin hanya Kinar dan Irsyad lah orang yang paling bahagia seantero Jogja 🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1