
Irsyad mulai merasa putus asa, ini bukan pertama kali nya ia merasa putus asa. Pada hal wanita yang tadi makan siang dengan nya adalah rekan kerja nya, ia sengaja tidak memperkenalkan pada istri nya karena ia juga merasa marah karena ketika ia menelpon Kinar saat bersama Nina, Kinar tidak ingin di ganggu. Sungguh Irsyad seperti anak kecil, bukan, bukan seperti anak kecil? Tetapi ia terlalu merasa cemburu. Lalu ia pantas membalas semua nya pada istrinya begitu? Sungguh ia memang pantas di sebut seperti kanak kanak, seharusnya ia duduk di bangku TK. Pada hal ia seorang suami dan calon ayah. Irsyad memegang kepala nya yang terasa pusing, jika di tanya apakah dia takut? Sungguh Irsyad sangat takut, apalagi ini sudah larut malam, dengan kondisi hamil istri nya masih di luar rumah pada jam tengah malam. Ia mengambil ponsel nya dan mencoba menghubungi istri nya namun tetap tidak ada jawaban.
Kinar turun dari tangga dengan berlahan lahan sambil memegang perut nya, ia juga merasakan kepala nya sedikit pusing dan terasa kunang kunang. Ia melihat ke arah kanan dan kiri masih ada beberapa orang lalu lalang.
"Bodoh nya aku, kenapa aku harus pergi"bisik nya pada diri nya sendiri"Lebih baik kita pulang nak, kita cari taksi ya"tidak berapa lama menunggu taksi datang, begitu taksi pergi, mobil Irsyad lewat.
Mata Kinar melihat lampu yang bergemerlapan, selama ini ia tidak pernah keluar rumah selarut ini. Dan ini lah pertama kali nya ia keluar selarut ini sendirian. Bukan karena di sengaja tetapi karena sesuatu hal yang membuat nya harus pergi selarut ini.
Kinar tidak langsung turun ketika taksi membawa nya sampai di depan rumah nenek nya, nafas nya terasa menghimpit dada nya dan terasa begitu sesak. Selama ini Kinar bohong kalau ia begitu kuat namun nyata nya ia begitu rapuh. Sebelum turun ia membayar ongkos taksi nya setelah itu ia turun. Ketiak ia akan masuk ke dalam rumah ia tidak melihat mobil suami nya, dan ia menduga kalau suami nya pasti belum pulang dan masih sibuk dengan wanita baru nya.
Ia mengetuk pintu, tetapi ternyata pintu utama tidak terkunci sehingga membuat Kinar langsung masuk tanpa menunggu Bi Narsih membuka kan pintu untuk nya. Rumah nya begitu sunyi, karena nek Popon satu Minggu ini keluar kota ke rumah teman nya. Ia melihat seluruh ruangan namun ia tidak menemukan apapun. Justru ia merasa dada nya semakin begitu sesak.
Kinar menarik selimut ketika ia selesai mandi dan ia merasakan badan nya begitu menggigil karena kedinginan. Sudah berapa kali ia menguap namun mata nya tidak dapat di pejamkan. Pikiran nya masih melayang membayangkan tentang suami nya tadi siang.
"Kau kemana saja?"tanya Irsyad ketika melihat Kinar sudah berada di rumah dan tengah tertidur
"Kau membuat ku terkejut"jawab Kinar dengan mengucek mata nya beberapa kali.
"Maafkan aku"
"Jangan pernah mengucapkan kata maaf kalau pada akhir nya kau akan mengulangi hal yang sama"
"Aku tidak selingkuh"
"Aku tidak membutuhkan penjelasan mu"Kinar menarik selimut nya"Aku begitu lelah dan ingin tidur"
"Dengar kan, tolong dengar kan penjelasan ku"
"Jangan memaksa ku!!"nada Kinar naik satu oktaf
"Mereka bukan selingkuhan ku"
"Aku tidak perduli, selama ini aku terluka tidak ada yang menyembuhkan ku, dan kau tau siapa yang menyembuhkan luka ku?"Kinar menatap nanar mata suami nya"Aku, aku sendiri yang mengobati luka ku!"jawab Kinar dengan menepuk nepuk dada nya
"Aku hanya cemburu karena tadi ketika aku menelpon mu, kau tidak ingin di ganggu"
"Hanya karena aku berkata begitu kau membalas nya?"Kinar tersenyum sinis"Lalu balasan apa yang pantas untuk suami yang tukang selingkuh?"Irsyad terdiam dengan menunduk"Kau pikir aku tidak sanggup menjalani hidup sebagai seorang janda!?"tanya nya dengan wajah memerah"Kalau aku menjadi seorang janda dengan satu orang anak, aku masih sanggup mas, sanggup"
"Tolong jangan berkata begitu, wanita yang kau lihat tadi, mereka rekan ku"air mata Irsyad mulai jatuh
"Air mata buaya!"
"Apapun yang kau katakan aku tidak perduli"
"Kau ingin membuat ku merasa cemburu? Atau dia itu memang wanita baru mu!?"Kinar bertanya untuk meyakinkan diri nya
"Hanya membuat mu merasa cemburu"
"Dan kau bangga membuat ku merasa cemburu?"
"Tidak"
"Tidak?"Kinar tersenyum mendengar jawaban dari mulut suami nya"Jika kau tidak bangga membuat ku merasa cemburu, lalu kenapa kau lakukan?"Irsyad menatap istri nya"Kau ingin tau seberapa besar cinta ku saat ini pada mu, itu yang ingin kau tau?"Irsyad memandang istri nya, ia tidak menyangka kalau istri nya akan semarah ini pada nya. Kinar membaringkan tubuh nya kembali
"Apakah kau sudah makan?"
__ADS_1
"Jangan pura pura sok perhatian"
"Kau ingin makan sesuatu?"
"Aku hanya ingin tidur"
"Makan lah sesuatu jika tidak kau akan sakit"namun Kinar tidak menghiraukan suami nya, ia tetap tidur"Kinar,, kau boleh marah pada ku"
"Tapi jangan sakiti calon anak ku, begitu kan maksud mu, mas?"Kinar tersenyum"Aku hampir hapal semua kata kata mu"
"Kalau kau masih tidak percaya, baiklah"ucap Irsyad sambil berlalu dari hadapan istri nya. Kinar menatap punggung suami nya dengan wajah masam. Itu lah perempuan ketika marah di bujuk tidak mau, begitu di tinggalkan suami nya justru marah, serba salah.
Ketika bangun pagi ia tidak menemukan suami nya, ia turun dengan memakai sendal dan mencari keberadaan suami nya namun ia tidak menemukan nya.
"Apa yang sedang mbak Kinar cari? Bibi tau pasti lagi mencari mas Irsyad kan?"Narsih menggoda sambil tersenyum"Mas Irsyad sudah pergi pagi pagi sekali mbak. Dan malam tadi mas Irsyad juga tidak tidur menangis terus"
"Air mata buaya"
"Memang buaya punya air mata to mbak? Kok bibi tidak pernah lihat?"
"Karena bibi tidak pernah melihat buaya sedang galau di tinggal pasangan nya"
"Masak sih mbak"
"Besok aku tunjukkan ya bi?"
"Pasti seru mbak, nanti kalau bibi lihat buaya menangis mau bibi videoin mbak, biar bibi bisa menunjukan sama semua orang kalau buaya itu punya air mata"Kinar menepuk jidat nya"Kapan mbak Kinar mau bawa bibi lihat buaya menangis mbak"niat nya bercanda kenapa Narsih menanggapi nya serius
"Nanti kalau istri buaya nya sudah melahirkan"
"Lho jadi buaya yang galau itu istri nya sedang hamil to mbak?"Kinar tidak menanggapi nya dan langsung pergi begitu saja
Kinar tengah menikmati film favorit nya yaitu drakor. Kadang ia tersenyum sendiri terkadang ia juga menangis, ia begitu terbawa alur cerita nya.
"Sayang"suara Irsyad, namun tidak ia hiraukan"Sayang"panggil nya sekali lagi, namun Kinar masih tidak memperdulikan suami nya"Kenapa kau diam saja?"
"Aku lagi serius nonton"suara Kinar begitu ketus
"Ada tamu"
"Tamu mu kan?"
"Bukan, dia mencari mu"
"Mencari ku?"Irsyad menganggukkan kepala nya"Aku tidak memiliki janji temu pada siapa pun hari ini"
"Lalu tamu siapa dia?"
"Mungkin tamu mu"
"Kalau begitu aku suruh masuk ya?"
"Terserah"jawab kinar ketus, tau kah kalian kalau Kinar terlalu gengsi mengakui kalau sebenar nya dia itu benar benar merasa cemburu.
"Bu Kinar"panggil seseorang yang suara nya tidak ia kenal sama sekali"Maaf menganggu waktu Bu Kinar"wanita yang berada di hadapan nya begitu serius melihat ke arah nya, karena Irsyad membantu nya untuk duduk dan juga membantu merapikan daster istri nya
__ADS_1
"Ah tidak"Kinar merapikan rambut nya yang berantakan namun sedikit pun tidak mengurangi kecantikan nya, karena kecantikan Kinar memang tidak ada obat nya
"Silahkan duduk mbak"
"Terima kasih Bu"
"Jangan memanggilku dengan sebutan ibu, panggil saja Kinar"
"Bagaimana mungkin saya memanggil istri rekan kerja bos saya dengan sebutan nama"Kinar melihat ke arah suami nya
"Kalai boleh saya boleh tau, mbak.."
"Nama saya Dwi, mbak. Panggil Dwi"
"Mbak Dwi ada urusan apa datang kemari? Bukan kah lebih baik kalau ada urusan pekerjaan seharusnya di selesai kan di kantor atau di luar sambil makan siang"
"Kedatangan saya kemari hanya ingin meluruskan kesalahan bu kinar"
"Oh,,,"ucap Kinar sambil manggut manggut kan kepala nya"Meluruskan kesalahan saya? Memang apa yang sudah saya lakukan sampai kau harus meluruskan kesalahan ku?"tanya Kinar dengan kening berkerut sambil mengusap perut nya
"Bu, Bu, bukan begitu maksud saya, Bu"Kinar melihat Dwi begitu gugup
"Lalu?"Irsyad bingung, ia tidak menyangka kalau Dwi yang begitu bijak bisa langsung gemetaran ketika berhadapan dengan istri nya"Apa yang kau ingin katakan pada saya?"
"Sebenar nya kalau saya dan pak Irsyad tidak memiliki hubungan apapun"
"Jika kalian berdua memiliki sebuah hubungan pun saya tidak tau"
"Tapi saya dan pak Irsyad tidak memiliki hubungan apapun Bu"
"Di bayar berapa kau dengan suami ku untuk menjelaskan semua ini?"Dwi merasa kebingungan
"Sayang, aku dan Dwi tidak memiliki hubungan apapun"
"Itu kata mu, mas"Kinar berdiri dengan menarik leher baju yang ia gunakan, sungguh pada hal di dalam hati nya ia tertawa bahagia, karena sampai sebegitu nya Irsyad membawa wanita itu hanya untuk menjelaskan semua yang terjadi kemaren pada nya.
"Bu, tolong percaya pada saya?"
"Kenapa kau harus takut jika di antara kalian memang tidak memiliki hubungan apapun"Kinar berjalan untuk mengambil air putih, namun tangan nya di tarik oleh Dwi
"Bu"panggil nya dengan memegang tangan Kinar, tangan Dwi terasa dingin dan gemetar sehingga membuat Kinar melihat ke arah nya"Bu"ia tersenyum dalam hati ketika melihat Dwi menangis
"Kau menangis? Kenapa kau menangis? Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya merasa haus dan ingin minum"
"Tolong bu"
"Pergilah"kata Kinar dengan melihat wajah Dwi yang pucat karena ketakutan"Aku bilang pergi, maka pergi lah"
"Tapi Bu,,,"Ia melihat wajah Kinar yang polos namun wajah nya masih kelihatan begitu cantik
"Aku sudah mengatakan pada mu, apakah kau tidak mendengar ucapan ku?"Kinar melihat wajah Dwi yang menunduk"Kenapa kau masih berdiam diri? Apa yang membuat mu takut, hm? Aku tidak akan melakukan apapun dengan mu"Dwi mengangkat wajah nya dan melihat ke arah Kinar"Jika kau melakukan sesuatu setelah itu kau merasa takut maka jangan kau lakukan"
"Iya Bu, iya"Irsyad masih terdiam dengan berdiri dan melipat kedua tangan nya di dada. Ia tidak menyangka kalau istri nya begitu tegas dan bisa membuat sekretaris teman nya merasa takut.
"Aku akan menelpon atasan mu"
__ADS_1
"Untuk apa Bu?"wajah Dwi kelihatan semakin pucat dan tegang.
"Kenapa kau merasa takut, aku tidak akan melakukan apapun"Kinar tersenyum"Pergi lah, kau tidak perlu takut karena ini masalah rumah tanggaku dan kau tidak terlibat di dalam nya"Dwi masih tidak percaya dengan menatap ke arah Kinar"Pergi lah!"ucap Kinar dengan memegang perut bawah nya. Setelah Dwi pergi, Kinar menarik nafas nya begitu kasar sehingga membuat irsyad cepat cepat lari dan memegang bahu istri nya"Jauhkan tangan mu"kata Kinar namun Irsyad tidak memperdulikan ucapan istri nya, karena ia takut terjadi sesuatu pada Kinar dan juga calon bayi nya.