
Begitu sampai rumah Tatit mengantar kan Kinar langsung istirahat di kamar Irsyad, tapi Kinar menolak nya
"Aku di ruang TV saja mam"kata Kinar pelan
"Ya sudah, kamu istirahat ya sayang, kalau butuh sesuatu panggil mam atau bi Sumi ya"Kinar menganggukkan kepala, kini Kinar membaringkan tubuh nya yang begitu lemas
Kinar merasa heran dengan kondisi nya, setau Kinar ketika Kinan mengidam tidak seperti diri nya, bahkan Kalau di lihat selera makan Kinan begitu tinggi dan tidak pernah mengeluh mual, lalu kenapa kehamilan nya tidak seperti Kinan? Hati kinar bertanya tanya, tapi bukan kah setiap kehamilan memang berbeda beda. Kepala Kinar semakin pusing, dengan pelan pelan Kinar duduk dan ingin berdiri
"Kamu mau kemana sayang?"
"Mau ambil minyak angin mam"
"Kamu duduk aja ya, bi,,,,bi Sumi"
"Iya nya"
"Tolong ambilkan minyak kayu putih bi"
"Baik nya"
"Kamu sini aaja, mam takut kalau kamu jatuh, sedikit lagi mam selesai"Kinar hanya menganggukkan kepala, sebenar nya ia merasa bosan dan segan harus berbaring terus
"Ini non"
"Terima kasih bi"
"Sama sama non"
"Maaf bi,, aku sudah merepotkan bi Sumi"
"Jangan bicara seperti itu non"Kinar hanya diam dengan memandang bi Sumi yang meninggalkan nya
"Bagaimana ngomong nya sama mam kalau aku ingin pulang"gumam Kinar dengan rebahan sambil mengusap kening nya dengan minyak angin"Pasti mam gak akan ngizinin, secara ini kan calon cucu pertama nya"kata Kinar dengan mengusap perut nya, baru aja Kinar memejamkan mata sudah di kejutkan dengan suara Tatit
"Tada,, bangun sayang ini yang kamu mau kan?"tanya Tatit dengan meletakan sepiring rujak dan segelas jus jeruk di atas meja depan tv
"Mam tidak perlu repot"
__ADS_1
"Mam gak repot sayang, apa pun yang di ingin kan calon cucu mam pasti mam lakukan"
"Terima kasih mam"
"Makan rujak nya juga jus nya setelah itu minum obat nya"Kinar merasa terharu atas perhatian mertua nya, dengan lahap Kinar memakan rujak mangga muda nya, membuat Tatit nyengir
"Tidak masam sayang"Kinar menggelengkan kepala sambil mengusap wajah nya yang di banjiri keringat, setelah itu jus dan meminum obat nya
"Sekarang istirahatlah, karena calon cucu mam pasti sudah kenyang"kata Tatit dengan membelai perut kinar dengan lembut"Baik baik di perut mami ya sayang, semua menantikan kehadiran mu, sekarang tidurlah Kinar,wajah mu begitu pucat"Kinar menganggukkan kepala, Sumi mengangkat gelas dan piring bekas rujak, yang tertinggal hanya vitamin, obat mual dan minyak angin
Irsyad khawatir jam sudah menunjukkan angka 17.15 wib tapi tanda tanda Kinar pulang belum ada, di hubungi ponsel Kinar ternyata ponsel nya tertinggal di rumah,
"Kemana dia? Kenapa jam segini dia belum pulang? Lebih baik aku menghubungi Nina, bukan kah selama ini Kinar selalu bersama nya kemana pun pergi"Irsyad menekan nama Nina di ponsel nya
"Halo pak"
"Apakah sekarang kau bersama Kinar?"
"Kinar? Tidak pak, Kinar tidak bersama saya?
"Kalau kau tidak bersama Kinar lalu kemana dia?"
"Jangan mengajari ku soal itu!!!!"bentak nya
"Maaf bukan mengajari bapak, tapi selama ini pak irsyad tidak pernah menghubungi nya"jawab Nina dengan tersenyum
"Ponsel nya di tinggal di rumah"
"Itu arti nya percuma Kinar membawa ponsel, karena tidak ada yang menghubungi nya bahkan suami nya, kalau begitu itu keputusan yang baik"
"Jaga bicara mu!!!"bentak nya dan Irsyad langsung menutup panggilan nya, Nina tertawa puas ternyata Irsyad khawatir juga dengan Kinar, tapi kemana Kinar?
Irsyad menghubungi nomor telpon orang tua nya
"Halo Pi"
"Eh kamu Irsyad ada apa? Tumben nelpon papi?"
__ADS_1
"Apa dia berada di sana?"
"Dia siapa Irsyad?"
"Kinar maksud aku Pi"
"Iya Kinar bersama mami di rumah"
"Ok thanks Pi"telpon terputus, dengan langkah terburu buru Irsyad menuju lift dan langsung ke parkiran, wajah nya nampak gusar
Irsyad menekan klakson nya agar pak Kasim membuka pintu pagar nya, begitu terbuka Irsyad memasukan mobil nya ke dalam dan di parkiran begitu saja, ia masuk ke dalam rumah orang tua nya begitu tergesa gesa, benar irsyad melihat Kinar sedang tidur di sofa ruang TV sementara mami dan Sumi sedang sibuk di dapur
"Ternyata kamu enak enakan tidur di sini!!!!"kata Irsyad dengan nada tinggi dan dengan kasar Irsyad menarik tangan Kinar sehingga sampai membuat Kinar terduduk
"Kamu sadar sekarang kamu berada dimana!?"bentak Irsyad, Kinar memejamkan mata nya karena merasa kepala nya pusing dan dada nya berdebar begitu cepat karena suara irsyad, tangan nya memegang pinggiran sofa begitu erat keringat dingin mulai membasahi wajah nya yang pucat
"Apa apaan kamu Irsyad!!!"bentak Tatit
"Mami tidak lihat, menantu macam apa dia?"dengan menunjuk ke arah Kinar"Mertua sibuk di dapur dia malah enak enakan tidur"
"Kinar punya alasan kenapa dia tidur"
"Alasan klasik mi"
"Bukan alasan klasik Irsyad, apa kamu tidak melihat ada banyak obat di meja ini, ha!!?"tanya Tatit dengan menunjuk plastik yang berisi beberapa tablet obat"Pantas saja sikap mu seperti ini membuat asam lambung Kinar selalu kambuh"
"Itu karena dia jarang makan mi"
"Bukan, bukan jarang makan irsyad, itu karena kamu sebagai suami tidak peka"
"Maksud mami apa?"Kinar mengusap keringat nya dan tanpa terasa air mata nya mengalir buru buru Kinar bangkit dan menggulung rambut nya yang berantakan asal asalan
"Apa kamu melihat tangan nya itu Irsyad? Itu bekas infus, tadi mami membawa nya ke rumah sakit dan kamu tau apa kata dokter nya? Karena Kinar terlalu stres"Kinar berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah nya yang pucat dan juga kusam.
"Mami tidak pernah mengajari mu untuk tidak hormat pada siapapun Irsyad, tapi ternyata mami telah salah Irsyad, salah,,"Tatit menangis"Mami menyesal telah menikah kan kamu dengan Kinar keponakan yang mami sayangi Irsyad, kalau mami tau akan begini lebih baik mami tidak menikah kan kamu dengan Kinar"Tatit menangis dan terduduk di sofa"Kamu kuliah dengan lulusan terbaik, tapi tidak dengan sikap mu Irsyad, jika begini biar mami yang akan mengembalikan Kinar pada orang tua nya"Irsyad terdiam
"Mami pikir Kinar barang?
__ADS_1
"Bukan kah kamu menganggap nya barang? Lalu apa beda nya dengan mami?"Kinar berdiri di depan pintu kamar mandi, Irsyad lari ke kamar nya
"Kamu jangan salah paham dengan ucapan mam ya sayang, mam berkata seperti itu agar Irsyad suami kamu itu menerima keberadaan kamu sayang"kata Tatit dengan mengusap punggung Kinar, yang di lakukan Kinar hanya tersenyum sesekali mengusap wajah nya yang kusut