
Pada hal asinan itu bukan makanan kesukaan Kinar hanya saja saat ini ia ingin makan menu itu, seorang dokter datang ke ruangan Kinar
"Bagaimana keadaan nya mbak Kinar?"sapa dokter yang menangani Kinar
"Alhamdulillah sudah mendingan dok"
"Apa masih ada nyeri di sini?"dokter Fatma memegang bawah perut Kinar, Tatit hanya memandang nya dengan cemas
"Sudah tidak dok"seorang suster sedang mengecek tekanan darah kinar
"Berapa tekanan darah nya sus?"
"💯/60 dokter"
"Masih rendah, apa masih mengeluarkan plek?"
"Saya tidak tau dok"
"Suster tolong di cek, apakah mbak Kinar masih mengeluarkan plek?"suster membuka selimut yang menutupi tubuh Kinar, lalu menurun kan celana nya, dan melihat apakah hari ini ia masih mengeluarkan plek"Bagaimana sus?"
"Masih dok tapi hanya sedikit"
"Kalau begitu suntikan lagi obat nya ya sus?Dan mbak Kinar jangan lupa obat nya di minum ya?"Kinar mengangguk kan kepala, Irsyad hanya diam terpaku melihat kinar yang sedang di periksa"Kalau begitu saya tinggal ya mbak Kinar dan Bu Tatit"
"Iyaa dok dan terima kasih"
"Sama sama"Tatit membantu Kinar merapikan baju nya yang tersingkap
"Apa kah masih nyeri sayang?"tanya Tatit dengan mengusap perut kinar
"Sudah tidak mam"
"Ini asianan nya"kata Irsyad dengan menempatkan asinan nya di mangkok, Kinar hanya diam karena di hati nya masih ada rasa kecewa dan sakit, mungkin selama ini Irsyad menganggap kalau kinar tidak memiliki hati, ini lah yang nama nya sakit tapi tak berdarah
"Makan ya"kata Tatit dengan menyuapi Kinar"setelah ini minum obat nya"kinar menganggukkan kepala, dengan telaten Tatit menyuapi nya, begitu sayang nya tatit pada nya
__ADS_1
"Sudah mam"kata Kinar dengan pelan
"Baru berapa suap"
"Hoek"Kinar mual dan menutup mulut nya dengan tangan
"Jangan di muntah kan"kata Tatit dengan mengusap lengan kinar, kenapa mual ini menyerang nya kembali, bukan kah selama ini ia sudah tidak merasakan nya, oh Kinar tau kalau bayi nya sedang ingin mencari perhatian pada ayah nya
"Kamu pingin di sentuh ayah ya"tanya Kinar dalam hati sambil mengusap perut nya dengan tersenyum"ayah mu kurang peka, bahkan tidak peka sama sekali"
"Kamu kenapa?"
"Tidak ada mam"
"Minum obat nya"Tatit membuka obat dan di berikan nya pada Kinar, hanya sekali teguk langsung tertelan
"Apa kamu masih merasa mual?"
"Masih mam, tapi tidak begitu terlalu"Kinar menurun kan kaki nya, hal itu Irsyad langsung berdiri
"Mau ke kamar mandi mam"
"Eh jangan"
"Aku mau buang air kecil mam"Irsyad berjalan ke arah Kinar dan langsung membopong nya untuk masuk ke dalam kamar mandi,Tatit terkejut begitu juga dengan Kinar, spontan Tatit langsung mengangkat infus dan mengikuti Kinar ke dalam kamar mandi dan menggantungkan ke kapstok kamar mandi, Irsyad menurunkan Kinar
"Mam sama mas Irsyad keluar saja, aku bisa sendiri"
"Mami keluar saja, biar aku nunggu Kinar di sini"Tatit menunjukkan ekspresi wajah terkejut nya. Kinar menatap Irsyad yang tidak mengerti dengan sikap nya, sesaat dia membuat Kinar sakit hati, marah tidak jelas bahkan ingin membunuh anak nya yang belum lahir, dengan tatapan yang sama sekali tidak mengerti, setelah buang air Irsyad membopong tubuh kinar kembali dan di baringkan di ranjang, seharusnya Kinar merasa bahagia karena selama menikah, ini kali pertama nya Irsyad melakukan hal yang benar dan tidak arogan, dia seperti ini karena perbuatan Irsyad.
"Lebih baik mami pulang, biar Kinar aku yang menjaga nya"kata Irsyad
"Mami tidak percaya"
"Untuk kali ini mi, kasih aku kesempatan untuk merawat nya dan mami harus percaya pada ku"
__ADS_1
"Setelah itu?"
"Mi"panggil Irsyad pelan
"Oke mami pulang, jika terjadi sesuatu dengan menantu dan calon cucu mami kamu yang akan bertanggung jawab sepenuh nya"
"Aku akan melakukan tugas ku mi"
"Tugas apa? Tugas suami atau ayah bagi calon anak mu?"Kinar hanya diam
"Kedua nya mi"
"Baik lah, Kinar mam pulang ya sayang"pamit Tatit dengan mengusap perut ku
"Iya mam"kini hanya tinggal Kinar dan Irsyad, setelah Tatit pulang tinggal mereka berdua, sedikit pun Irsyad tidak ada bertanya apakah Kinar sedang baik baik saja atau gimana rasa nya? Suasana di kamar begitu kaku dan terasa garing, ah percuma dia menjaga Kinar karena dia seperti robot, Kinar membaringkan tubuh nya dan memaksa mata nya untuk terpejam, Irsyad masih duduk dan melihat ke arah kinar apa yang sebenar nya di lakukan wanita nya.
"Ya"Kinar mendengar Irsyad berbicara pada seseorang dan Kinar tau tanpa di beritahu
"
"Aku gak bisa karena ada pekerjaan penting"
"
"Besok kita ketemu ya sayang"ada rasa nyeri di dada Kinar dan dia tidak tau kenapa dada nya terasa nyeri, sakit kah Kinar ketika Irsyad memanggil Susan dengan sebutan sayang?
"
"Oke by"Kinar berusaha menenangkan diri nya, sampai kapan rumah tangga nya akan berjalan seperti ini, benar benar tertutup kah hati Irsyad untuk nya? Dada Kinar semakin bergemuruh dan tanpa terasa air mata nya jatuh di pipi nya yang begitu lembut,ada kah seorang istri mengemis cinta kepada suami nya? Atau itu hanya Kinar? Sungguh malang nya nasib Kinar harus mengemis cinta pada suami nya sendiri.
Ini lah yang nama nya sakit tidak berdarah mencintai tapi tidak di cintai, salah kah Kinar yang jatuh cinta pada suami robot nya?Atau ini sebuah kesalahan kenapa Kinar harus jatuh cinta pada nya, tapi rasa ini tumbuh tanpa ada nya paksaan, rasa ini tumbuh begitu saja di hati nya, seharusnya Kinar menahan rasa ini agar tidak tumbuh, apa lagi berkembang tapi semua nya sudah terlambat, jangan kan berbicara, memandang nya saja ia tidak mau.
Kinar terbangun karena merasa ingin ke kamar mandi, ia tidak perlu membangun kan suami robot nya yang cuek, dengan pelan Kinar memegang kedua infus nya dan turun berjalan ke kamar mandi, di gantungkan nya infus di kapstok dan Kinar duduk di closed kamar mandi
"Kenapa aku dulu tidak kabur saja dari rumah, ketika kedua orang tua ku menjodohkan ku dengan nya, sungguh aku benar benar menyesal, hati ku begitu sakit, dada ku terasa begitu nyeri"kata Kinar dengan menangkup wajah dengan kedua tangan nya, kali ini Kinar benar benar menangis, air mata nya tidak dapat di bendung lagi, kesabaran nya sudah melemah seperti keadaan nya.
__ADS_1