
Waktu berjalan begitu cepat, Kinar sudah benar benar pulih dan ia juga sudah bekerja kembali meski kemana mana selalu di kawal oleh Nina sang bodyguard.
"Kin"
"Hm"
"Kamu ingat tidak dengan Dimas?"
"Hm"
"Kok Hm sih?"
"Teman kita waktu di bangku SMA kan?"
"Iya"
"Terus kenapa dengan Dimas?"
"Dia titip salam sama kamu"
"Salam kembali"jawab Kinar masih sibuk dengan laptop yang berada di depan nya
"Dia ngajak ketemuan"
"Ya temui saja Nin"Nina mendekati Kinar dan menutup laptop nya
"Kok di tutup Nin? Masih banyak yang harus aku kerjakan"Kinar menatap ke arah Nina
"Habis dari tadi aku ngomong kamu kacangin terus"
"Aku tidak cuekin kamu Nin, aku dengar kok apa yang kamu katakan"
"Dimas ngajak ketemuan"ulang Nina
"Aku kan sudah jawab, temui saja"
"Masalah nya, Dimas ngajak ketemuan bukan sama aku"
"Lalu dengan siapa? Bukan kah kamu yang di telpon nya?"
"Dia kepingin ketemu sama kamu"mata Kinar melotot terkejut
"Lu gila Nin, untuk apa dia mau ketemu sama aku? Kamu kan tau kondisi ku saat ini?"
"Dia hanya mengajak ketemuan bukan ngajak kamu nikah neng"
"Kamu tidak mengatakan apa pun tentang keadaan ku sekarang kan?"
"Lu pikir gua gila gitu, Kinar,, Kinar. Aku tidak pernah mengatakan apapun tentang keadaan mu sekarang, apa lagi tentang keadaan rumah tangga mu"
"Dia tau nomor ponsel mu dari mana?"Nina menjawab dengan menaikan kedua bahu nya, Kinar menyandar kan punggung nya di kursi dengan mengusap perut nya yang sudah membesar.
"Dia ngajak makan siang"
"Kamu saja yang pergi, aku malas"
__ADS_1
"Ayok dong Nin, sekali kali boleh dong kita memanjakan diri"
"Aku takut ketika kita ketemuan, istri nya datang lagi"
"Kamu pikir ini drama Korea atau India? Kalau cerita begituan hanya ada di drama Indonesia kali Kin"Kinar tersenyum
"Dia sudah menikah belum?"
"Dia masih sama seperti aku, IJO LUMUT"
"Artinya?"
"Ikatan Jomblo Manis dan Imut"Kinar tertawa terbahak bahak, jujur Nina merindukan tawa Kinar yang sudah lama menghilang dan kini sudah kembali lagi
"Kelihatan kalau kalian itu berjodoh"
"Kamu sudah seperti Tuhan saja yang tau jodoh seseorang"
"Habis kamu bisa bertahan dengan gelar itu"
"Bukan aku bertahan dengan gelar itu"
"Lalu apa?"
"Aku tidak pernah membayangkan gimana jika aku menikah?"
"Kenapa harus kamu bayangkan?"
"Siapa yang akan menjaga mu?"Hati Kinar tersentuh mendengar jawaban dari sahabat nya
"Aku sudah cukup dewasa Nin, apa kamu lupa kalau sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu?"
"Sampai kapan kamu akan menjaga ku terus? Kamu berhak untuk bahagia"
"Yang mengatakan aku tidak berhak bahagia siapa?"Kinar menatap wajah sahabat nya
"Nina, usia kita tidak mudah lagi"
"Tanpa kamu beritahu, aku sudah tau Kin"
"Maka akhiri lah masa kesendirian mu, aku tidak ingin menjadi beban mu"Ucap Kinar lirih
"Menjaga mu bukan suatu beban bagi ku, Kinar"
"Tetapi tetap saja aku merasa bersalah"
"Bersalah?"
"Hm"jawab Kinar dengan menganggukkan kepala
"Kenapa kamu mesti merasa bersalah?"
"Karena kesendirian mu di sebabkan oleh ku"Kinar merasa sedih"Seharusnya saat saat seperti ini yang menemani ku adalah suami ku"
"Suami? Apakah kamu mau kembali pada suami yang telah berkali kali menyakiti mu?"
__ADS_1
"Itu lebih baik, dari pada aku harus selalu bergantung pada mu"
"Ngaco kamu, lama lama bicara mu ngelantur seperti orang habis minum pil tidur. Ayuk buruan keburu Dimas kelamaan menunggu kita"Nina menarik tangan Kinar dengan lembut, semakin lama ia berbicara dengan Kinar, ia semakin tidak tega, bagaimana mungkin ia meninggalkan Kinar sendirian dalam keadaan hamil seperti ini
Mereka memasuki mobil Kinar, pada hal pengunjung kafe begitu ramai karena waktu nya istirahat dan jam makan siang. Di lirik nya Kinar yang duduk di sebelah nya yang lagi mengusap perut besar nya
"Rasa percaya diri ku hilang Nin"
"Sudah jangan bicara apa pun, wajah cantik begitu masih saja tidak percaya diri"
"Bukan itu masalah nya"
"Lalu apa?"Kinar terdiam tidak menjawab pertanyaan dari sahabat nya, Nina memarkirkan mobil di sebuah resto yang begitu terkenal di Jogja
"Wajah mu begitu kusam"Spontan Kinar mengambil kaca kecil dan bedak dan lipstik di dalam tas nya, lalu memoles nya sedikit, rambut nya yang sebahu di kuncir kebelakang seperti ekor kuda, menambah kecantikan nya yang begitu sempurna. Sebelum turun ia juga merapikan baju nya yang sedikit berantakan, lalu turun dengan membawa tas nya, Kinar dan Nina berjalan beriringan, tangan nya berada di atas perut nya yang bundar.
"Kinar"panggil seseorang
"Hai"sapa Nina dengan senyum manis nya, ternyata bukan hanya Dimas yang berada di sana, tetapi ada sekitar sepuluh orang teman nya yang dulu sama sama duduk di bangku SMA, dengan rasa tidak lebih percaya diri Kinar menjabat tangan mereka satu persatu
"Duduk Kin"Dimas mempersilakan Kinar duduk, karena ia melihat perut Kinar yang membesar
"Kok cuma Kinar yang di tawarin, aku juga dong"ilmu manja nya keluar, selama ini ia tidak pernah menunjukan kepada Kinar sisi manja nya
"Silahkan Nina"kata Dimas sambil tertawa"Tenyata kamu tidak berubah ya Nin?"
"Sebenar nya aku pingin berubah Dimas, tapi sayang ilmu Kanuragan ku belum cukup tinggi, sehingga aku tidak mampu merubah diri ku sendiri"Semua tertawa mendengar lelucon dari Nina
"Sudah lama banget ya kita gak ketemu"ucap Dimas dengan menatap Kinar yang hanya menunduk kan kepala, Nina yang melihat langsung menyentuh tangan Kinar
"He"kata Kinar terkejut
"Di ajak ngomong Kin, kok malah diam saja"
"Oh"
"Ya Ella Kin"Dimas selalu menatap ke arah Kinar dengan penuh cinta, Nina bukan tidak tau arti tatapan nya"Kepala kamu jangan di tundukkan terus Kin, nanti yang ada tulang leher kamu keseleo"senyum manis nya mengembang di bibir nya yang merona merah, siapa pun yang melihat nya pasti akan terpesona
"Kamu nikah kenapa tidak undang undang kita sih Kin?"tanya Diki, ia hanya tersenyum
"Eh, ngomong ngomong suami kamu mana?"senyum di bibir nya hilang seketika
"Iya Kin, kita penasaran benget. Siapa sih pria yang beruntung yang telah membuat mu hamil, ups sori maksud nya yang telah mencuri hati mu"Dimas masih menatap ke arah Kinar
"Suatu saat kalian aku kenalin ya, tapi tidak sekarang karena suami ku lagi keluar kota"
"Pasti suami kamu orang sukses ya Kin?"tanya Dimas pelan, setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Dimas membuat Kinar grogi
"Ha"Nina hanya menepuk jidat melihat tingkah sahabat nya, Nina bukan tidak tau kalau Dimas dan Kinar masih menyimpan cinta semasa di bangku SMA, namun itu sudah lama sekali.
"Kamu lagi sakit ya Kin?"Nina memegang kening Kinar
"Tidak"
"Aku boleh minta no ponsel mu?"Tanya Dimas tanpa menunggu jawaban dari Kinar, Nina langsung mengirim melalui wa
__ADS_1
"Terima kasih Nin"
Pesanan datang, dan mereka makan sambil sesekali bercanda sehingga membuat mereka tertawa terbahak bahak, tetapi tidak dengan Kinar.