
Mereka berdua menikmati rasa itu dimana rasa itu pernah hilang, meski tidak begitu lama tapi Kinar sudah lupa cara bahagia itu seperti apa, tertawa itu seperti apa dan kini semua nya telah kembali. Meski Nina tau seberapa lama Kinar bisa menikmati rasa itu.
"Kamu tau Kin aku sungguh sangat merindukan mu. Apa kah kamu juga merindukan ku?"Kinar tertawa kecil"Kenapa tertawa?"
"Untuk apa kamu bertanya kalau kamu sendiri sudah tau jawaban nya"Nina tersenyum
"Aku hanya ingin memastikan saja"
"Tidak perlu kamu memastikan nya, karena aku pasti sangat merindukan mu"Nina tertawa
"Kenapa tidak dari tadi kamu menjawab nya?"Kinar selalu menunjukan senyum di wajah nya, ketika orang melihat senyum nya mereka tidak akan percaya jika Kinar sedang terluka
"Bolehkan aku bekerja di sini Kin?"mohon Nina, Kinar menatap sahabat nya begitu dalam
"Aku sudah mengatakan nya Nin kalau aku tidak akan mampu menggaji mu"
"Seberapa pun kamu beri aku akan terima"
"Jangan terlalu banyak berkorban untuk ku Nin"
"Aku ikhlas"
"Tapi aku tidak ingin kamu seperti narkoba"
"Kok narkoba?"
"Iya aku akan kecanduan pada perhatian mu sehingga aku akan sulit untuk hidup tanpa mu"
"Assekkk"sahut Nina dengan tertawa
"Aku serius Nin"
"Kamu pikir aku bergurau tidak serius begitu?"
"Ah Nina"Kinar memukul tangan Nina
"Sakit tau Kin"ponsel Kinar bergetar di atas meja, panggilan masuk dari ART nenek nya
"Ya bi Narsih ada apa?"
__ADS_1
"Ibu Rianti non,,,,"suara Narsih terdengar terbata bata
"Apa yang terjadi dengan nenek bi?"
"Bu Rianti jatuh non"
"Apa? Sekarang nenek dimana Bi?"tanya Kinar begitu khawatir, sedangkan Nina bingung melihat perubahan pada wajah Kinar, Narsih menyebutkan nama rumah sakit di mana nek Popon akan di rawat. Dengan terburu buru Kinar menuju ruangan nya
"Jangan lari Kin"panggil Nina dengan menarik tangan Kinar"Ada apa?"
.
"Nenek ku jatuh Nin"sahut Kinar dengan berjalan terburu buru, Nina mengikuti nya dari belakang di pandangi nya sahabat nya itu yang jalan nya sudah mulai kesusahan karena perut dan badan nya tidak seimbang
"Kamu sini saja biar aku yang mengambil tas dan kunci mobil"Nina berlari menuju ruangan Kinar, sementara kinar menemui Uci
"Ci"panggil Kinar pelan dengan mengusap keringat yang membanjiri wajah nya
"Ya mbak"
"Kalau ada yang mencari saya bilang ya saya ada urusan"
"Baik mbak"Kinar berjalan ke arah Wahyu
"Mbak Kinar mau kemana?"
"Saya ada urusan"
"Ayuk Kinar"ajak Nina
Nina selalu memperhatikan jalan Kinar yang kelihatan begitu susah. Nina tidak membayangkan bagaimana jika Kinar tiba tiba melahirkan siapa yang akan menolong nya, nenek nya saja sudah tua bagaimana akan menjaga Kinar. Nina membuka kan pintu mobil untuk kinar dan setelah itu ia masuk untuk menyetir
"Buruan Nin"
"Sabar dong Kin, ini juga sudah ngebut kamu ingin melahirkan sebelum pada waktu nya?"tanya Nina"Tidak akan terjadi apa apa pada nenek mu percayalah pada ku"Kinar melihat ke arah Nina"Jangan menatap ku seperti itu kamu ingin bola mata mu keluar dari kelopak mata mu yang indah itu?"kata Nina dengan tersenyum"Kamu jangan terlalu sering berlari Kinar. Apa kamu lupa kalau perut mu itu sudah sebesar itu?"Kinar mengusap perut nya
"Bayi ku sangat strong Nin seperti ibu nya"
"Iya aku tau bayi mu itu memang sangat strong seperti ibu nya, tapi aku yang melihat nya sangat ngeri"kata Nina dengan melihat ke arah perut Kinar"Kamu apa tidak berpikir bagaimana jika kamu jatuh"
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi"
"Oh ternyata sekarang kamu sudah kuat ya dan merasa kalau kamu itu begitu strong? Apa di rumah nenek mu tidak ada cermin?"
"Nenek ku tidak semiskin itu Nin sampai tidak memiliki cermin di rumah nya"
"Kalau begitu pasti kamu yang tidak pernah bercermin"Kinar menatap Nina dengan senyum sinis"Kalau kamu pernah bercermin pasti kamu akan tau tulang leher mu yang begitu menonjol, wajah mu yang begitu tirus, dan badan mu lihat,, lihat lah"kata Nina dengan menunjuk nunjuk "Apa kamu pernah melihat nya? Tidak kan? Perut mu saja yang kelihatan besar bahkan aku merasa perut mu tidak akan sanggup menumpang di tubuh mu yang kurus macam kena gizi buruk. Apa kamu tidak pernah memakan makanan yang banyak asupan gizi nya?"
"Jangan menghina ku"
"He aku tidak menghina mu, aku mengatakan yang sebenar nya, baik lah setelah sampai rumah sakit, kita akan ke dokter kandungan. Setelah bertemu Dokter Kandungan apa kah yang aku katakan ini salah atau benar?"
"Tentu benar Nin, karena berat badan ku tidak naik tapi malah turun itu setelah bertemu dengan mu"
"Eh tuan putri kita bertemu baru beberapa jam, dan itu tidak mungkin membuat berat badan mu turun secara dratis"
"Terserah kamu"
Begitu sampai rumah sakit, Kinar berlari kecil untuk masuk mencari ruangan nenek nya
"Dasar keras kepala, aku sudah mengatakan jangan berlari"kata Nina dengan menarik tangan Kinar"Susah sekali di beritahu"kata Nina dengan menarik tangan Kinar"Aku sudah mengatakan jangan berlari Kin aku takut jika kamu terjatuh"Kinar menatap Nina dengan nafas terengah engah"Sesak? Itu akibat kalau tidak mendengar kan ucapan ku"Kinar berjalan pelan dengan memegang bawah perut nya yang terasa keram"Sakit?"
"Tidak"jawab Kinar dengan menggigit bibir bawah nya, Nina berjalan di samping Kinar dan menarik tas Kinar dengan pelan
"Jalan sudah susah saja masih mau berlari"gerutu Nina tapi Kinar tidak memperdulikan nya, dia melihat Narsih sedang berdiri dengan meremas kedua tangan nya di depan ruangan UGD
"Bi Narsih"
"Non Kinar"
"Bagaimana dengan kondisi nenek saya Bi?"
"Tadi sempat pingsan non"jawab Narsih dengan tangan gemetar"Ketika saya di dapur. Dan ibu ke kamar mandi dan saya mendengar suara jeritan begitu saya lihat ibu sudah jatuh non"Kinar memegang tangan Narsih dan membawa nya untuk duduk, Kinar mengusap keringat di dahi nya dengan menggunakan tangan, entah mengapa setiap Nina melihat Kinar dia begitu iba dan kasihan
"Jangan menatap ku seperti itu"kata Kinar membuat Nina terkejut
"Ternyata kepala, telinga dan sekujur tubuh mu memiliki mata ya Kin?"gurau Nina
"Jangan mengolok ku, seluruh lubang pori pori di tubuh ku memiliki mata jadi jangan melihat ku seperti itu Nin, aku tidak ingin di kasihani"kata Kinar pelan membuat Nina tersenyum
__ADS_1
"Matahari dan bulan saja boleh di lihat masak kamu ciptaan Tuhan yang maha sempurna tidak boleh di lihat?"
"Diam lah" Ucap Kinar membuat Nina dan Narsih menatap ke arah nya, seharusnya di usia senja seperti ini nek Popon harus tinggal bersama anak nya, karena Kinar tau usia nenek nya tidak lagi mudah dan fisik nya pun sudah mulai menurun, meski nek Popon tidak bisa hanya duduk diam jika itu dia lakukan justru dia akan merasa tambah sakit