
Di dalam bus Tatit menangis tersedu sedu, sekarang pun ibu nya tidak mengharapkan kehadiran nya, seharusnya sebelum ke Jogja ia berpikir apakah kehadiran nya di terima atau tidak? Dia harus menerima kenyataan kalau kejadian yang telah ia lakukan terhadap Kinar telah membuat jarak di antara mereka. Dengan kasar ia menghapus air mata nya
Flash Back
Dengan rasa takut ia mengetuk pintu dimana ibu nya sedang tidur
"Ibu"
"Tatit?"Nek Popon begitu terkejut melihat kehadiran putri sulung nya, ia ingin memeluk tubuh ibu nya tetapi nek Popon mengangkat tangan nya dan itu tanda nya ia tidak ingin di peluk"Untuk apa kau datang kemari?"Tatit menundukkan kepala
"Kedatangan ku kemari ingin meminta maaf kepada Kinar Bu"
"Ternyata nyali mu begitu besar, dan kau masih berani menampakan wajah mu di hadapan nya setelah apa yang kau lakukan pada nya?"ia terdiam dengan menunduk"Jangan pernah mengusik nya kembali jika kau ingin melihat cucu mu lahir"
"Aku hanya ingin meminta maaf Bu"jawab nya pelan
"Kau jangan terlalu egois, kau kemari hanya memikirkan calon cucu mu tapi tidak dengan menantu mu"
Selama ini yang ada di kepala nya hanya calon cucu nya, ia tidak pernah memikirkan perasaan Kinar, mungkin ia terlalu mengharapkan seorang cucu sehingga ia lupa bagaimana cara menghargai menantu nya.
"Pergi lah, dan kembali ke Jakarta jangan pernah mengganggu kehidupan Kinar, dia sudah cukup menderita, jadi biarkan ia hidup bahagia tanpa ada orang seperti kamu di sekitar nya"ucapan nek popon begitu pedas rasa sakit sampai ia rasakan sampai ke tulang rusuk nya
"Setelah aku meminta maaf pada Kinar, aku janji tidak akan pernah mengganggu nya lagi bu"nek Popon membaringkan tubuh nya kembali
"Jangan pernah menyentuhnya meski itu pelukan atau pun lain nya"
"Aku tidak akan menyentuh tubuh nya sedikit pun Bu, aku janji"
"Ibu harap kau bisa memegang janji mu itu"
"Aku janji"
"Ibu ingin istirahat"dari ungkapan bahasa yang nek popon ucapkan, ia tau kalau diri nya secara tidak langsung telah di usir, sungguh sangat menyedihkan. Mungkin tidak ada kata yang mampu mengungkapkan betapa sedih nya ia saat ini. Jangan pernah menangisi hasil dari apa yang telah kamu perbuat Tatit.
Bi Narsih yang saat itu mendengar semua pembicaraan antara Tatit dan nek Popon ikut bersedih, ia tau kalau Tatit sosok anak dan ibu yang baik, namun setelah kejadian itu mereka seperti orang asing
"Bu"
"Hm"
__ADS_1
"Ibu pasti lapar, makan lah Bu"
"Terima kasih banyak Narsih"
"Akan saya siapkan Bu"
"Tidak Narsih, terima kasih banyak"Tatit menghapus air mata nya"Benar kata ibu ku kalau kehadiran ku di sini hanya akan mengusik Kinar, rasa nya dada ku begitu sesak Narsih, ketika ibu ku juga tidak mengharapkan kehadiran ku di sini"Tatit menangis tersedu sedu di meja makan"Rasa nya aku ingin mati saja Narsih. Jika kematian ku bisa membuat orang orang yang ku sayangi bisa memaafkan kesalahan ku, aku rela Narsih"ada rasa iba di hati Narsih namun ia tidak bisa melakukan apapun
"Tenang lah Bu, ibu jangan berkata seperti itu, mungkin saat ini Bu Popon masih marah"
"Tetapi sampai kapan?"Narsih terdiam dengan menatap Tatit
"Bersabarlah bu, semua butuh waktu"
"Ya semua memang membutuhkan waktu, aku tidak menyalahkan ibu ku, jika ibu bersikap seperti itu hal yang wajar, seharusnya aku terima itu?"ia mengusap dadanya yang begitu sakit"Tapi rasa nya dada ku begitu sakit, Narsih"Ia menangis kembali dengan memukul dada nya yang semakin sesak"Narsih, jika aku tidak sampai Jakarta pada pukul tujuh pagi, kamu harus memberitahu suami ku, kalau aku naik bus **"ucap Tatit"Dan jangan mengatakan pada siapapun baik ibu ku atau pun Kinar"
"Tapi bu"
"Berjanji lah pada ku Narsih"Tatit melihat ke arah Narsih yang menggelengkan kepala nya
Flash On
"Apa yang telah terjadi pada mami, Bi? Kenapa ponsel nya tidak dapat di hubungi? Apa bi Narsih tau kenapa mami harus pulang malam ini juga, seharusnya bi Narsih mencegah nya Bi?"Kinar tidak dapat menutupi rasa khawatir nya
"Maafkan saya, mbak. Tapi bu Popon menyuruh Bu Tatit kembali ke Jakarta"
"Nenek mengusir nya?"Narsih menganggukkan kepala nya"Kenapa Bi Narsih tidak memberitahu ku?"
"Saya bingung mbak"Kinar mengusap wajah nya dengan kasar
"Jam masih menunjukkan angka satu dini, tetapi kenapa kalian sudah pada ribut"
"Mami, nek"
"Kenapa dengan mami mertua mu itu, ha?"wajah tidak suka kelihatan di wajah nya
"Kenapa Nenek harus mengusir mami, Nek?"
"Nenek tidak mengusirnya Kinar, nenek hanya menyuruh nya kembali ke Jakarta"
__ADS_1
"Tapi itu sama saja kalau nenek telah mengusir mami, nek?"
"Kamu lupa apa yang telah mami mertua mu lakukan pada diri mu, kamu lupa?"Nek popon mulai terlihat emosi
"Aku tidak pernah melupakan nya nek, aku tidak akan pernah melupakan hal itu"
"Lalu kenapa kamu membela nya?"
"Nek"panggil Kinar pelan"Aku tidak membela nya nek, Mami itu tidak pernah dari Jogja ke Jakarta naik Bus, bahkan tengah malam seperti ini nek"Kinar menatap ponsel nya"Aku khawatir telah terjadi sesuatu pada mami, dari tadi aku hubungi ponsel nya tidak aktif"
"Kenapa kamu harus khawatir? Selama ini apa pernah Tatit mengkhawatirkan diri mu?"sudah habis cara Kinar memberi pengertian terhadap nenek nya, nek Popon tidak pernah tau kalau Tatit begitu menyayangi nya lebih dari anak nya sendiri"Bisa saja kan dia sengaja mematikan ponsel nya agar kita semua di sini khawatir? Mulai sekarang mami mertua mu itu akan terbiasa naik bus tengah malam sendirian"
"Nek"
"Masuk ke dalam kamar mu dan tidurlah, dan kamu Narsih kenapa masih berdiri di sini? Kamu mau saya pecat?"Kinar menepuk jidat nya, emosi telah menguasai pikiran nek Popon, sekeras apapun ia menjelaskan semua nya saat ini akan terasa sia sia.
"Pergilah bi, dan jangan dengarkan ucapan nenek"kata Kinar pelan dengan mengusap punggung Narsih
"Iya mbak"Kinar menatap ke arah nenek nya yang masih berdiri dengan melipat kedua tangan di dada nya
"Kenapa nenek berbicara seperti itu pada Narsih, dia tidak tau apa apa nek?"ucap Kinar pelan
"Masuk lah ke kamar mu, apa kau ingin melihat nenek mu ini semakin marah?"sejati nya Kinar adalah anak yang penurut, satu bentakan bisa membuat nya terdiam
Kinar melangkah kan kaki menuju kamar nya, ia lebih baik mengalah saat ini karena itu akan lebih baik. Emosi nek Popon sedang memuncak dan ia tidak bisa mengontrol nya, itu akan bisa berakibat fatal untuk kondisi nenek nya saat ini
Di dalam kamar Kinar masih terus menghubungi ponsel Tatit tetapi tetap masih tidak aktif
"Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi pada mami, kenapa ponsel nya dari tadi tidak bisa di hubungi?"Dada nya berdebar debar tak menentu"Awh"Kinar mengusap perut nya ketika ia merasakan perut nya begitu sakit akibat tendangan bayi yang berada di dalam perut nya
Hampir dua hari Kinar menghubungi nomor ponsel Tatit, namun tetap tidak aktif. Dan ia juga berusaha menghubungi Astrea dan menanyakan kabar tentang mertua nya, tetapi mama nya juga tidak tau
"Barang kali saja mami mertua mu itu ganti nomor"
"Mungkin saja, mami mulai membuat jarak dengan ku setelah ucapan dari nenek, Nin"
"Biarkan saat ini kalian sama sama menjaga jarak, jika semua keadaan nya sudah membaik kamu bisa memulai nya kembali. Ya sudah kita berangkat ya?"Kinar mengangguk kan kepala nya dan masuk kedalam mobil Nina
"Nin, kenapa aku masih khawatir sama mami ya Nin"
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu memikirkan mami kamu, Kin, nanti yang ada perut kamu jadi keram"yang di katakan Nina benar ada nya. Jika memang terjadi sesuatu pasti Astrea mengabari nya.