
Kinar masih tidak percaya dengan semua ucapan suami nya, pada hal dia berusaha untuk mempercayai nya tapi rasa nya begitu sulit. Ia takut ketika ia percaya pada suami nya justru ia di bohongi kembali, mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang rasa nya begitu sulit.
"Kau masih belum mempercayai ku?"Kinar menatap suami nya sesaat lalu menatap ponsel nya kembali"Sayang,, sampai kapan kau akan seperti ini? Percayalah sayang, aku kemaren memang pergi ke Singapore sayang"ucap Irsyad dengan memegang tangan Kinar
"Jika kau berbohong?"
"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau"
"Dengan meninggalkan mu dan aku tidak akan mengizinkan mu untuk bertemu dengan anak mu"
"Iya, kau bisa melakukan itu jika aku berbohong"
"Baik, itu janji mu mas jadi jangan pernah menyesali apa yang telah kau ucapkan"
"Aku tidak pernah menyesal Kinar, karena aku tidak melakukan apapun"Kinar hanya mengangguk anggukkan kepala nya sambil tersenyum kecil
"Apa bila yang kau lakukan itu benar maka yang kau korban kan bukan aku saja yang di sini mas tetapi juga calon anak kita, calon anak mu yang belum lahir"tangan Kinar masih berada di dalam genggaman Irsyad bahkan sedikit pun tidak ada niat dalam diri Irsyad untuk melepaskan tangan istri nya
"Suatu saat kau akan mengerti Kinar kalau aku sungguh sungguh sangat menyayangi mu bahkan sedikit pun tidak ada niat dalam diri ku untuk menyakiti mu"
"Kau dulu pernah mengatakan hal yang sama mas, bahkan kau juga meminta maaf pada ku dan mengatakan kalau kau khilaf. Lalu sampai kapan kau akan membuat ku menderita? Apakah sampai aku tiada?"
"Tidak Kinar, tidak. Aku ingin bersama mu sampai menua bahkan jika Tuhan mengizinkan kita bersama aku ingin merawat anak kita sampai dewasa, jika di antara kita berdua di panggil Tuhan aku ingin yang terlebih dahulu yang di panggil Tuhan itu aku Kinar, aku. Karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa mu, terlebih harus merawat anak kita sendiri"Irsyad menarik nafas nya"Aku selalu berdoa semoga kau sehat sehat Kinar agar kita bisa selalu bersama"
"Jika aku yang tiada duluan"
"Aku tidak akan sanggup Kinar, tidak akan sanggup"
"Apa kau mengatakan yang sebenar nya?"
"Apa aku kelihatan berbohong"
"Mata mu penuh tipuan mas"kali ini Kinar tidak dapat menutupi kemarahan nya"Mata itu juga pernah aku lihat beberapa bulan yang lalu tetapi kau melakukan kesalahan dengan menyakiti ku, jadi tolong mas tolong bagaimana agar aku dapat mempercayai mu kembali tanpa harus mengingat kalau kau telah menyakiti ku?"kali ini Kinar yang memohon"Hati ini masih sakit bahkan aku takut hal itu terulang kembali, Kau tau aku kelihatan begitu bodoh saat ini. Mungkin jika benih mu tidak tumbuh di rahim ku, sudah tentu ku pastikan kalau aku tidak akan pernah kembali pada mu, mas. Aku masih trauma tentang kejadian itu"Kinar menarik tangan nya yang berada di dalam genggaman Irsyad dan mengusap perut nya yang terasa begitu tegang
__ADS_1
"Aku akan ke proyek, jam istirahat kita makan bersama"
"Proyek mu itu tempat nya jauh mas, jadi jangan memaksa"
"Tidak"
"Terserah kamu"jawab Kinar pelan, Kinar membuka pintu dan turun dari mobil di ikuti dengan Irsyad
"Kinar"Panggil Irsyad membuat Kinar membalikkan badan dan menatap suami nya sesaat"Jangan membuat ku putus asa Kinar"
"Putus asa?"tanya Kinar dengan senyum mengejek"Ternyata aku salah menilai mu, mas. Perjuangan mu hanya sebatas ini, jika kau merasa putus asa pergi lah, pergi lah aku tidak akan pernah mencari mu apa lagi menghalangi mu"jawab Kinar lirih"Aku cukup tau kalau kau bukan lah suami yang bisa aku banggakan, perjuangan mu belum seberapa, tapi kau sudah putus asa , kau memang pria lemah"setalah itu Kinar langsung masuk dan meninggalkan Irsyad begitu saja, sedangkan Irsyad hanya mampu menatap punggung istri nya sambil berbisik pelan
"Salah kah jika aku mulai putus asa dengan sikap nya? Apa kah yang di katakan nya benar kalau aku pria lemah? Seharusnya aku tidak bicara seperti itu tadi, dulu meski pun ia selalu mendapat perlakuan buruk dari ku sedikit pun dia tidak pernah mengeluh apa lagi putus asa"Irsyad mengusap wajah nya"Akan aku buktikan kalau aku bukan pria lemah Kinar"mobil nya meluncur menyusuri kota Jogja
Kinar berjalan dengan memegang perut nya yang buncit, dari sudut para karyawan menatap ke arah nya.
"Pagi mbak"
"Pagi"jawab Kinar dengan tersenyum
"Lho kamu masih masuk? Bukan nya sebentar lagi kamu menikah?"
"Kelamaan di rumah"
"Pamali wanita mau nikah masih keliaran"
"Kamu pikir aku jin"
"Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan Nin"
"Jangan diambil hati, aku hanya bercanda",Nina menggandeng tangan Kinar dan di bawa ke ruangan Kinar"Wajah mu menyimpan sesuatu?"sudah Kinar duga kalau sahabat nya ini tidak dapat di bohongi.
"Kau seperti dukun"
__ADS_1
"Tapi bukan dukun beranak kan?"
"Ih serem tau"Kinar tersenyum dengan mengusap perut nya yang bundar"Aku benar benar penasaran dengan calon mu, Nin?"Nina tertawa terbahak bahak
"Meski aku jelek bukan berarti calon suami ku itu si buruk rupa Kinar"
"Justru jelek itu pasangan nya ganteng Nin"
"Jangan di validasi kalau aku itu jelek Nin"Kinar tersenyum
"Aku tidak memvalidasi, aku mengatakan yang sebenar nya"
"Sama saja kali Kin"ucap Nina dengan memegang hidung nya yang pesek"Eh,, muka mu kenapa kusut?"tanya Nina dengan memukul paha Kinar pelan"Apakah manusia robot itu menyakiti mu kembali?"
"Kenapa aku begitu sulit mempercayai nya ya Nin?'
"Karena suami mu terlalu sering menyakiti mu, sakit nya tidak kelihatan tapi itu lah yang nama nya sakit tidak berdarah Kin, walau pun tidak luka tapi rasa nya begitu sakit, bahkan sulit untuk menghapus nya"
"Haruskah aku mempercayai nya?"
"Tanya hati mu, jangan mengambil keputusan saat marah, bisa saja kan manusia robot bisa berubah menjadi Manusia paling lembut"
"Kenapa kamu membela nya?"
"Aku tidak membela nya Kin tapi bisa saja pak Irsyad itu memang benar benar berubah"
"Tapi hati ku masih ragu Nin"
"Aku tidak bisa memaksa hati mu begitu juga dengan suami mu, tapi jangan sampai kamu menyesal Kin, jangan sampai kamu menyesal ketika suami mu sudah benar benar berubah justru kamu tidak mempercayai nya"hati Kinar mulai ragu"Jika seorang penjahat telah berubah maka ia akan benar benar berubah Kin"Kata kata Nina seperti kompor sumbu tiga puluh enam sehingga hati nya mulai terbakar dan mempercayai ucapan Nina
"Jika dia tidak berubah dan masih menyakiti ku kembali?"
"Itu arti nya takdir mu lah yang memang buruk"ada rasa tidak tega melihat sahabat nya yang menatap nya begitu nanar
__ADS_1
"Seburuk apapun takdir ku, sekuat apapun aku melawan nya semua akan sia sia"Kinar mengusap perut nya dengan wajah sendu nya