
Kinar tersenyum ketika sudah berada di dalam mobil bersama suami nya, karena hari ini Irsyad membawa nya ke puncak untuk liburan. Setidak nya ini quality time untuk mereka berdua dan calon bayi nya yang belum lahir.
"Kau senang?"
"Tentu saja"jawab Kinar tersenyum bahagia, hari ini ia seperti anak kecil yang habis di belikan mainan, senyum bahagia tidak lepas dari bibir manis nya. Irsyad menatap ke arah istri nya sembari tersenyum. Ini mungkin momen langkah karena ini pertama kali nya Irsyad membawa Kinar menginap di sebuah puncak, sederhana namun mampu membuat Kinar bahagia. Seharusnya ia turut bahagia kalau akhir nya Kinar bahagia bersama suami nya
"Kau tau mas?"tanya Kinar dengan melihat ke Irsyad yang diam tanpa menjawab sepatah kata pun namun senyuman di bibir mewakili semua nya"Aku selalu menunggu momen bahagia ini, dan akhir nya kau membawa ku juga"mendengar ucapan istri nya hati Irsyad seperti tertusuk duri"Aku tidak akan pernah melupakan semua ini mas, ternyata suami robot ku mengerti juga kalau istri nya juga butuh refreshing"Kinar tertawa terbahak bahak, ia tidak menyadari kalau setiap ucapan yang begitu polos mampu membuat suami nya merasa malu
"Setelah aku lahiran nanti kau akan membawa ku jalan jalan kembali kan mas?"tanya Kinar kembali dengan memegang paha suami nya
"Kemana pun kau mau, aku akan membawa mu"
"Benarkah itu?"
"Tentu, selagi itu mampu membuat mu bahagia"
"Terima kasih mas, kau tidak perlu membawa ku ke eropa. Kau cukup membawa ku jalan ke Bogor saja itu sudah membuat ku merasa bahagia"Irsyad menatap istri nya dengan tersenyum kecut.
Setiap istri memiliki impian, kita tau impian Kinar itu sangat sederhana. Suami nya bukan dari kalangan sederhana tapi sangat kaya.
Pintu rumah di ketuk beberapa kali, membuat Narsih yang sedang duduk santai di taman belakang terkejut dan buru buru lari untuk membuka pintu.
"Mbak Nina"kata Narsih terkejut"Apa kabar mbak? Sudah lama sekali mbak nya tidak main kemari"Nina hanya tersenyum sambil melihat ke arah dalam"Oh walah dalah, saya lupa untuk mempersilahkan masuk, Silahkan masuk mbak"Nina melangkah kaki nya dengan penuh keberanian
"Terima kasih bi"
"Mbak nina mau minum apa?"Bahasa Narsih begitu mentok sekali
"Tidak usah repot repot bi, aku kemari ingin bertemu dengan Kinar, bi"
__ADS_1
"Terlambat mbak"
"Maksud bi narsih?"tanya Nina dengan menyipit kan mata nya
"Mbak Kinar baru saja pergi"
"Kemana bi?"
"Honey moon mbak"
"Honey moon?"
"Iya mbak, mas Irsyad membawa mbak Kinar liburan ke puncak"ada rasa sedikit kecewa di hati Nina, ia pun tidak tau kenapa ia harus kecewa, bukan kah itu wajar jika Kinar pergi bersama suami nya. Sebenarnya ia kecewa atau cemburu? Seperti nya bukan cemburu tepat nya iri, kenyataan nya ia baru nikah satu bulan harus berpisah dengan suami nya, sedangkan Kinar yang berkali kali di sakiti suami nya nyata nya mampu bertahan dan sekarang justru suami sahabatnya begitu bucin. Dan tidak seharusnya ia merasa iri sebab takdir orang itu berbeda beda
"Berapa lama bi?"
"Berapa lama nya saya tidak tau mbak, tapi seperti nya beberapa hari mbak. Karena bawa koper segala"
"Telpon saja mbak"Nina mengambil ponsel nya dan mereka berdua mendengar nada dering ponsel berada di dalam, Narsih mencari keberadaan suara ponsel Kinar, dan Narsih melihat ponsel cucu majikan nya berada di ruang tv
"Mbak Kinar ternyata tidak membawa ponsel nya, mbak"kata Narsih dengan menunjukkan ponsel Kinar
"Ketinggalan atau sengaja di tinggal ya bi?"
"Seperti nya sengaja di tinggal mbak"jawab narsih tersenyum sambil mengusap usap kening nya yang tidak gatal"Karena mas Irsyad baru pulang mbak"
"Pulang?"
"Iya mbak, tiga hari mas Irsyad tidak pulang menyelesaikan pembangunan proyek nya atau kontrak proyek nya ya mbak, saya kurang tau mbak. Yang saya tau mas Irsyad ingin ketika mbak Kinar lahiran ia ingin berada di samping istri nya mbak"Nina hanya diam, ia menyibak anak rambut yang sedikit menutupi mata nya
__ADS_1
Sekarang Nina menyadari, setelah ia berkata kasar pada kinar di hadapan suami nya, Kinar dan ia mulai menjauh, pada hal Nina tidak bisa jauh dari Kinar, waktu itu ia tidak dapat mengontrol emosi nya, tidak seharusnya ia berkata kasar pada Kinar. Karena Kinar tidak ada hubungan nya dengan masalah yang sedang ia hadapi. Pasti saat ini Kinar benar benar merasa sakit hati sehingga ia tidak pernah menghubungi nya sekedar menanyakan kondisi nya atau apalah. Dan ia sangat yakin jika saat ini Kinar lebih nyaman bersama suami nya di banding kan dengan diri nya.
"Jangan salah kan Kinar. Jika saat ini dia lebih dekat dan lebih nyaman bersama suami nya di banding kan aku"batin Nina"Semua salah ku, aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf pada mu, Kinar"Nina mulai gusar"Ternyata aku sangat merindukan mu, dan ingin berbagi cerita dengan mu"Narsih hanya melihat ke arah Nina yang masih terdiam dengan menundukkan kepala nya
"Mbak"panggil Narsih dengan memegang lutut Nina
"Eh, iya Bi?"jawab Nina terkejut"Terima kasih bi, karena bi Narsih masih mau menerima kedatangan ku"
"Jangan bicara seperti itu mbak"jawab Narsih sambil tersenyum"Mbak Nina itu sahabat terbaik nya mbak Kinar, jadi bagaimana mungkin saya menolak kedatangan mbak Nina"kepala Nina sedang berpikir keras, ia sangat yakin kalau Kinar tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang kejadian di rumah sakit. Kalau dia menceritakan semua nya kepada Narsih sudah pasti Narsih akan tidak serama ini.
"Seharusnya aku berpikir seribu kali untuk menyakiti hati Kinar"Ucap Nina lirih
"Mbak Nina mengatakan sesuatu?"
"Ha,he"jawab Nina kelihatan kebingungan"Tidak bi"jawab Nina kembali dengan mengusap-usap lutut nya, lalu berdiri "Kalau begitu saya permisi pulang Bi, dan tolong sampaikan pada Kinar kalau saya ingin sekali menemui nya Bi"kata Nina ketika sudah berada di depan pintu
"Baik mbak, nanti kalau mbak Kinar sudah pulang pasti akan saya sampaikan mbak"
"Terima kasih bi"Narsih mengangguk-anggukkan kepala nya. Setelah Nina pergi dengan mobil nya Narsih masuk dan menutup pintu
Di dalam mobil Nina memegang kepala dengan menggunakan tangan kiri nya dan tangan kanan nya memegang setir. Dan sekali kali tangan nya mengusap kening dan berpindah ke pipi
"Ternyata bukan Kinar yang kecanduan akan diri ku, tapi justru aku yang candu dengan nya"ucap nya pelan"Ku pikir setelah aku menikah dengan Tommy aku tidak membutuhkan Kinar lagi, tapi nyata nya?"Nina menggelengkan kepala nya
"Lebih malu nya lagi, ku pikir si brengsek itu baik bahkan lebih baik dari Irsyad dan nyata nya,,?"Nina menarik nafas nya yang terasa sesak"Dia bahkan tidak pantas di sebut manusia"Ia memukul stir beberapa kali
"Bajingan seperti nya memang pantas berada di penjara"ucap nya dengan geram"Ingin rasa nya aku mengebiri nya, karena dia bukan saja brengsek tapi penjahat kelamin"Sambil berpikir ia menepuk nepuk jidat nya pelan"Aku jadi penasaran tentang istri Tommy, aku akan mencari tau"Ia menjadi penasaran tentang istri pertama mantan suami nya
"Tidak semudah itu aku mencari tau tentang istri pertama bajingan itu, karena aku bukan detektif, tapi bisa saja aku minta tolong dengan mas andre"ia berpikir dengan memegang dagu nya"Tidak,, tidak,, jika aku minta tolong dengan mas Andre pasti dia berpikir yang tidak tidak"ia menggelengkan kepala nya berkali kali
__ADS_1
"Aku tau apa yang harus aku lakukan"Nina menekan pedal gas sehingga mobil nya melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busur nya. Sekarang ia sudah menemukan ide bagaimana cara nya agar ia tahu dimana istri pertama mantan suami nya.