
Setelah Irsyad berangkat ke kantor, Kinar membaringkan tubuh nya di sofa ruang tv, ia benar benar ingin balas dendam dengan tidur nyenyak setelah ia tidak bisa tidur malam tadi, apalagi bayi yang berada di dalam perut nya yang begitu aktif di tambah ayah calon bayi nya lebih agresif
"Mbak"panggil Narsih ketika Kinar baru mulai memejamkan mata nya
"Iya Bi"jawab Kinar dengan melihat ke arah Narsih
"Mbak Kinar saya tinggal sendirian di rumah tidak apa apa?"
"Bi Narsih mau kemana?"
"Saya mau belanja bulanan mbak"
"Pergi lah bi"
"Mbak Kinar jangan melakukan apapun di rumah ya"
"Iya Bi, pergilah"jawab Kinar dengan memejamkan mata nya, Narsih hanya tersenyum, ia hapal betul kalau cucu majikan nya pasti sangat lelah. Setelah Narsih pergi, Kinar benar benar tertidur dengan lelap pada hal jarum jam masih menunjukan angka 09.00 wib. Bahkan ketika Irsyad menghubungi nya, Kinar merasa enggan untuk menjawab nya
"Kenapa lama sekali mengangkat nya? Apakah kau sakit?"tanya Irsyad merasa khawatir
"Ya aku sakit mas"
"Sakit? Apa nya yang sakit?"
"Aduh mas, kenapa kau selalu menggangguku. Aku hanya ingin tidur sebentar mas"jawab Kinar dengan mengusap perut nya"biarkan aku tidur barang sebentar saja mas"
"Baik lah,, baiklah. Aku akan ke proyek mungkin di sana akan sulit jaringan"
"Hem"setelah itu Kinar memutuskan panggilan nya"hadeh, nak jika begini ibu mu akan merasa lelah terus"ucap Kinar lirih dengan mengusap perut nya. Ia memulai memejamkan mata nya yang benar benar sudah mengantuk, baru beberapa menit ia memejamkan mata nya Kinar mendengar suara bel berbunyi
"Siapa lagi sih, kenapa semua orang tidak membiarkan ku untuk istirahat"Kinar mengomel sembari berdiri dengan memegang perut nya"seperti nya yang menekan bel bukan bi narsih karena bi Narsih membawa kunci, lalu siapa?"dan alangkah terkejut nya Kinar ketika ia membuka pintu ternyata Nina, ia sedang menangis dengan mata sembab dan rambut berantakan
__ADS_1
"Kinar"Nina langsung memeluk tubuh Kinar dengan erat, Kinar tidak dapat berkata apapun karena ia masih tidak percaya dengan kondisi sahabat nya yang sangat berantakan
"Apa yang terjadi?"tanya Kinar dengan melepas kan pelukan nya, Nina semakin menangis ketika Kinar menanyakan keadaan nya"Tenang kan diri mu, kita bicara di dalam ya"ajak nya dengan menggandeng tangan sahabat nya
"Duduklah"kata Kinar ketika mereka berdua sudah berada di dalam rumah"katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi sehingga kau seperti ini?"
"Aku tidak tau harus dari mana menceritakan nya pada mu"Nina mengusap air mata nya"Kau pasti sakit hati pada ku, karena aku pernah mengatakan kalau Tommy tidak seperti suami mu"Kinar hanya tersenyum sambil mengusap paha sahabat nya, ia sangat yakin kalau sahabat nya saat ini pasti sudah mengetahui tentang identitas suami nya
"Apakah Tommy memukul mu?"tanya Kinar pura pura tidak tau, Nina menjawab hanya dengan menggelengkan kepala nya"Lalu apa yang telah Tommy lakukan pada mu? Apakah dia selingkuh?"tanya Kinar penuh selidik dengan menatap sahabat nya
"Dia telah berbohong pada ku, Kinar"Nina menangis kembali, harus kah Kinar mengatakan pada sahabat nya kalau sebenar nya ia dan suami nya telah mengetahui tentang status suami dari sahabat nya? Jika ia mengatakan semua nya pada Nina, apakah Nina akan menyalahkan diri nya dan juga suami nya? Kinar merasa serba salah dengan menarik nafas nya yang tiba tiba menghimpit dada nya
"Ternyata tommy sudah memiliki anak dan tiga orang anak Kin"Kinar tidak mampu berbuat apapun"Aku mengetahui semua nya pagi tad Kin, dan apakah kau tau? Aku benar benar membenci nya. Mbak Hanna menghubungi ponsel Tommy dan tanpa sengaja aku mengangkat nya, ternyata tommy pergi dari rumah nya sudah satu bulan Kiiinnn"ucap Nina sambil menangis"Aku benar benar sakit hati pada Tommy, Kin"
"Lalu apa yang ingin kau lakukan dengan pernikahan mu?"
"Aku ingin bercerai dari nya, jangan kan di sentuh nya melihat nya saja saat ini aku sudah benar benar jijik"apakah karena sudah tau status suami nya maka Nina tidak akan mau di sentuh oleh suami nya?
"Bagiamana aku akan tenang Kin, kalau ternyata selama ini bukan aku saja yang telah di bohongi nya, tetapi juga keluarga ku Kin"selama ini Nina lah yang selalu menenangkan nya, lalu sekarang"Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan keluarga ku lakukan nya terutama mas Andre, dia lah yang menjodohkan ku"Kinar tau bagaimana perasaan sahabat nya saat ini
"Apakah mas Andre tidak menyelidik terlebih dahulu latar belakang Tommy?"
"Itu lah yang aku sayang kan, kenapa mas Andre sampai tidak tau pria yang akan di nikahkan kepada adik perempuan nya"Nina mengepalkan tangan nya dengan geram dan wajah nya di penuhi kebencian
"Sabar Nin"
"Bagaimana mungkin aku bisa sabar Kin, kalau nyata nya diri ku telah di bohongi"
"Alangkah baik nya jika kau memberitahu kan tentang hal ini pada kedua orang tua mu, terutama mas Andre"
"Aku takut mas Andre akan berbuat nekat pada Tommy"
__ADS_1
"Itu arti nya kau mencintai Tommy?"
"Bukan mencintai nya, Kin, bukan"jawab Nina dengan menggelengkan kepala nya
"Kalau begitu apa nama nya?"
"Aku hanya tidak tega melihat istri dan anak anak nya, Kin"
"Apakah kau sudah sarapan?"Nina menggelengkan kepala nya
"Sarapan dulu ya"
"Aku tidak berselera kin"
"Kalau begitu aku buatkan teh ya?"Nina menatap Kinar dengan perut besar nya"Aku tidak ingin kau jatuh sakit"Kinar berdiri di ikuti dengan Nina
"Aahw"Nina menjerit dengan memegang perut nya, mendengar Nina menjerit Kinar langsung membalikan badan nya dan begitu terkejut nya Kinar ketika melihat ke arah kaki Nina yang sudah banyak darah, Kinar mendekati nya
"Kau hamil?"tanya Kinar dengan wajah penuh khawatir, Nina hanya mampu menganggukkan kepala nya"Kenapa tidak kau katakan kalau kau saat ini hamil Nin!!?"jerit kinar, ia benar benar khawatir melihat sahabat nya, Kinar sedang berpikir pada siapa ia akan minta tolong, Narsih sedang keluar, nenek nya saat ini berada di jakarta, suami nya itu lebih tidak mungkin karena Irsyad saat ini sedang di proyek.
"Bertahan lah Nin, aku akan membawa mu ke rumah sakit"ucap Kinar dengan memapah tubuh semok Nina, darah berceceran di lantai. Siapapun yang melihat darah yang berceceran di lantai akan merasa takut dan khawatir, apa lagi semua orang di rumah ini tau kalau Kinar sedang hamil tua. Dengan susah payah Kinar membawa Nina masuk ke dalam mobil nya, begitu Nina sudah masuk ke dalam mobil Kinar menutup pintu nya, sebelum ia masuk ke dalam mobil Kinar mengusap perut nya yang terasa keram.
Kinar harus kuat, karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Nina dan calon bayi nya, Nina terlalu baik bagi nya, mungkin ia melakukan hal ini tidak akan mampu membalas semua kebaikan Nina selama ini pada nya, tetapi Kinar berusaha melakukan yang terbaik buat sahabat nya.
"Bertahan lah Nin"ucap Kinar dengan memegang tangan sahabat nya yang terasa dingin karena berkeringat"Kau wanita hebat pasti kau bisa melewati ini semua"Nina menatap Kinar dengan wajah pucat dan di penuhi keringat, Kinar mulai menghidupkan mesin dan melajukan mobil nya. Kinar meringis menahan perut nya yang semakin keram
"Jangan nakal ya nak, saat ini Tante Nina sedang berjuang menahan calon saudara mu yang berada di dalam perut Tante, nak"ucap Kinar lirih dengan mengusap perut nya, Nina melihat ke arah Kinar yang sedang meringis menahan keram di perut nya
"Kin, apakah perut mu juga terasa sakit?"
"Ha"jawab Kinar terkejut dengan melihat ke arah Nina"Tidak, hanya sedikit keram, mungkin calon bayi ku merasakan apa yang kau rasakan"jawab Kinar dengan tersenyum. Dua sosok wanita yang saat ini sedang merasakan sakit, namun kedua nya adalah sosok yang sangat kuat, tapi apakah kedua nya mampu mempertahan kan calon bayi nya? Tunggu di episode selanjut nya
__ADS_1