Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Terluka


__ADS_3

Ia mengambil sebatang rokok yang berada di dalam saku nya setelah itu ia menempelkan rokok di antara kedua bibir nya yang merah, lalu menyulut nya. Irsyad bukan perokok berat namun entah mengapa ia merasa hari ini adalah hari yang membuat nya menjadi stres. Di hisap nya rokok yang berada di bibir nya, berlahan lahan lalu menghembuskan asap nya ke udara. Ia kelihatan sangat gusar mungkin dengan sebatang rokok bisa membuat nya sedikit tenang, ia tidak ingin masa lalu terulang kembali, ia tidak ingin kehilangan Kinar dan ia juga tidak ingin membuat hati istri nya tersakiti kembali dengan perkataan nya. Sudah cukup ia menoreh luka di hati nya, bukan ia telah berjanji akan membuat istri nya lupa bagaimana rasa kesedihan itu, lalu sekarang apa yang telah ia lakukan, bahkan ucapan lebih menyakitkan dari pada sebuah pukulan, Irsyad membuang rokok nya yang baru beberapa ia hisap, lalu berlari menuju kamar dimana istri nya sedang di rawat, hati nya sedikit tenang ketika melihat istri nya sedang tertidur dengan tangan kanan di atas perut nya yang buncit sedang kan tangan kiri nya yang terpasang infus di letakan begitu saja di samping tubuh nya, dengan pelan pelan Irsyad menggeser kan kursi ia tidak ingin menimbulkan suara sedikit pun karena ia tidak ingin menganggu tidur istri nya yang pulas. Di tatap wajah istri nya dan ia melihat sisa air mata di pipi putih istri nya, ia mengambil tangan kinar yang terpasang infus dan mencium nya berkali kali, kini Irsyad tiba tiba merasakan iba melihat kondisi istri nya


"Maafkan aku, Kinar. Maafkan aku"ucap irsyad lirih dengan mencium tangan istri nya"Kau benar dan aku lah yang terlalu egois, tidak seharusnya aku berkata begitu, Nina adalah segala nya bagi mu karena ketika kau sakit dan terluka Nina lah yang selalu ada untuk mu"irsyad mengusap pucuk kepala istri nya dengan lembut, bukan Kinar tidak tau apa yang telah Irsyad ucapan namun ia hanya masih berpura pura tidur


"Percaya lah pada ku, Kinar. Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan mu"kali ini butiran bening jatuh di pelupuk mata nya yang tajam"Aku tau kalau kau lebih perduli dengan Nina di banding kan dengan ku, dan aku tidak merasa cemburu dengan semua itu karena aku tau Nina lah yang selalu bersama mu ketika kau terluka"irsyad menghapus air mata nya"Sekali lagi maafkan atas semua ucapan ku yang telah membuat mu terluka"Irsyad mencium tangan istri nya dan air mata nya jatuh begitu saja tepat di tangan istri nya, ia pun merasa heran mengapa sekarang ia mudah menangis, apakah itu tanda nya ia merasa bersalah?


Tanpa Irsyad ketahui Kinar menatap nya dengan tersenyum, senyuman nya bukan mengejek suami nya yang sedang menangis tetapi ia merasa terharu karena sikap suami nya yang mengakui kalau diri nya bersalah karena ucapan nya, sikap arogansi nya benar benar telah hilang.


"Mas"panggil Kinar pelan


"Kau sudah bangun?"tanya Irsyad dengan mengusap air mata nya, jujur di hati Kinar merasa bersalah, ia selalu mengutamakan Nina bahkan apapun yang sedang ia alami, ia tidak pernah berbagi dengan suami nya dan ia lebih percaya pada sahabat nya, Nina.


"Sudah"jawab nya pelan dengan membalikan badan nya ke arah Irsyad, Kinar mengurung kan niat nya untuk meminta ke pada suami nya untuk melihat keadaan Nina, irsyad terdiam dengan melihat wajah istri nya


"Mungkin bagi mu, aku bukan siapa siapa"ucap Irsyad lirih dengan mengusap perut istri nya"Dan mungkin kau juga masih sakit hati pada ku"Kinar terkejut mendengar ucapan suami nya


"Kenapa kau bicara seperti itu pada ku, mas!!?"nada suara Kinar naik satu oktaf


"Tidak, tidak. Jangan marah dulu pada ku"jawab Irsyad dengan mencium tangan istri nya


"Bagaimana aku tidak marah ketika mendengar ucapan mu"


"Aku minta maaf"Kinar menatap wajah suami nya yang sendu

__ADS_1


"Kau cemburu pada Nina?"Irsyad menggelengkan kepala nya"Jawab dengan jujur, apakah kau cemburu pada Nina?"Irsyad menatap wajah istri nya dengan tersenyum


"Aku tidak punya hak cemburu pada Nina, dia itu sahabat mu dan bodoh nya jika aku cemburu dengan seorang wanita"Irsyad masih tersenyum"Aku bersyukur kau masih mau menerima ku kembali"kali ini Kinar benar benar semakin iba melihat suami nya"Kau ingin makan?"


"Tidak"Jawab Kinar dengan meringis menahan keram di perut nya


"Katakan lah sesuatu agar aku tau apa yang kau ingin kan?"Kinar masih melihat suami nya"Kau ingin melihat kondisi Nina?"Irsyad tau itulah sebenar nya yang Kinar inginkan"Tunggu sebentar aku akan mengambil kursi roda untuk mu"Irsyad berdiri


"Tunggu mas"Irsyad melihat istri nya"Kau marah?"


"Tidak, sedikit pun aku tidak marah"ucap Irsyad dengan tersenyum melihat kearah istri nya, setelah itu ia berjalan ke arah pintu dan keluar, percuma ia marah, percuma ia melarang kalau kenyataan nya ia sendiri tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu. Irsyad membawa kursi roda tepat di samping ranjang istri nya, tanpa bicara sedikit pun Irsyad membopong tubuh kecil istrinya dan di letakkan di kursi roda dan meletakkan botol infus di pangkuan istri nya, Kinar hanya melihat sikap suami nya tanpa mengatakan apapun, lalu mendorong nya ke arah resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu pak?"suara resepsionis itu terasa lembut


"Kamar Nina, maksud saya kamar atas nama Nina dimana ya sus?"tanya Kinar Sebelum Irsyad menjawab nya, entah mengapa ia merasa cemburu dengan wanita yang di bagian resepsionis, ia kelihatan begitu modis dengan tinggi semampai dan bodi nya begitu perfeksionis


"Terima kasih mbak"setelah itu Irsyad mendorong kursi roda dan membawa nya ke kamar dimana Nina sedang di rawat, tanpa mengetuk pintu Irsyad dan Kinar masuk ke dalam, ternyata di dalam kamar Nina orang tua nya sedang berbicara dengan nya


"Tante, apa kabar?"tanya Kinar dengan tersenyum


"Baik Kin, kamu kenapa? Kamu di rawat di sini juga?"


"Kinar sakit karena menolong ku, ma"Sri sang mama menatap Kinar dengan tatapan sendu

__ADS_1


"Terima kasih sudah menolong Nina, nak"Kinar dapat merasakan hati Sri, pasti hati nya saat ini benar benar hancur, putri semata wayang nya telah menikahi orang yang salah, dan Kinar yakin pasti hati Nina akan sulit untuk menerima pria yang akan menikahi nya suatu saat nanti.


"Tidak Tante, Nina bukan saja sahabat ku tetapi dia sudah aku anggap sebagai saudara ku"Sri tersenyum, sahabat putri nya tidak saja cantik meski wajah nya tanpa polesan namun tetap memancarkan kecantikan nya dan yang paling utama sangat baik, putri nya tidak salah jika selama ini ia lebih memilih pekerja dengan Kinar meski gaji nya tidak seberapa.


"Kau sudah baikan?"


"Meski ia harus kehilangan calon bayi nya yang belum sempat lahir"


"Ya Allah!"pekik Kinar dengan menutup mulut nya, sedang kan Irsyad hanya diam tanpa membuka suara


"Itu lebih baik Kin, karena aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengan pria pembohong seperti nya"


"Sabar Nin"


"Bagaimana aku harus sabar Kin"nada suara nya naik satu oktaf"Karena kau tidak di posisi ku"benar kata suami nya tidak baik menemui Nina saat ini tetapi ia memaksa nya, dan nyata nya nina justru menaikan nada bicara nya sehingga membuat Kinar terkejut"Kau tidak tau bagaimana rasa nya hati ku saat ini, ia telah mengkhianati ku!"lupa kah Nina jika sahabat nya lebih dulu tersakiti sebelum diri nya, atau memang ia merasa saat ini hanya diri nya yang tersakiti? Bahkan Kinar harus menata hati nya kembali karena berulang kali di khianati dan di sakiti suami nya. Untuk saat ini lebih baik Kinar tidak menjawab semua perkataan sahabat nya meski hati nya sedikit sakit dengan ucapan sahabat nya


"Kau masih bersyukur menikah dengan pria seperti pak irsyad, meski ia berulang kali menyakiti mu tapi ia tidak pernah menikahi selingkuhan nya!"


"Ya Allah, Nin"ucap Kinar dengan menutup mulut nya, meski ia berulang kali di sakiti suami nya, ia tidak pernah berkata kasar pada sahabat nya, atau di sini Nina yang paling tersakiti di bandingkan nya dulu?


"Tidak baik bicara seperti itu nak"ucap Sri dengan mengusap bahu putri nya


"Dia tidak tau ma bagaimana saat ini hati ku"

__ADS_1


"Aku tau Nina, aku tau"ucap kinar dengan berusaha menahan air mata nya"Bahkan aku lebih dulu merasakan yang nama nya sakit di banding kan kau"irsyad hanya diam dengan menatap tajam ke arah Nina"Lebih baik aku keluar Tante"


"Iya itu lebih baik"Irsyad langsung mendorong kursi roda istri nya dan membawa nya masuk ke dalam ruangan nya dan mengangkat tubuh istri nya ke ranjang, mereka saling menatap dan Irsyad tidak tega melihat istri nya menangis dengan mengusap wajah nya.


__ADS_2