
Sebelum ia keluar meninggalkan putri nya, ia mencium kening Kinar dengan penuh kasih sayang, ia berharap sentuhan lembutnya bisa membuat putri nya terbangun, namun itu hanyalah sebuah harapan. Arifin keluar menemui istri nya yang masih duduk diam dengan menangis
"Tante, aku keluar mau cari minum dulu ya tan?"
"Terima kasih banyak Nin"ia hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala.
Nina berjalan keluar dengan menangis, dari tadi ia berusaha menahan air mata nya agar tidak jatuh di depan Astrea, tetapi kenyataan nya diri nya juga jauh lebih lemah. Ia jongkok dengan menangis tersedu sedu, persahabatan yang mereka bangun dari kelas satu SD, jika di hitung mereka bersahabat sekitar dua puluh delapan tahun, itu bukan waktu yang singkat. Harus kah kini ia kehilangan sahabat nya? Nina tidak akan sanggup jika harus kehilangan sahabat nya, ia berharap ada keajaiban.
Ia membawa dua botol air mineral dan beberapa roti dan juga makanan ringan
"Minumlah Tan, aku tidak ingin Tante juga ikutan sakit"ucap Nina dengan memberikan segelas air dan sepotong roti
"Terima kasih Nin"Nina hanya tersenyum
"Minum lah om"Arifin menatap sahabat putri nya yang begitu setia menunggu
"Terima kasih banyak Nin, kamu adalah satu satu nya sahabat putri kami, ia tidak memiliki sahabat terkecuali kamu"Arifin mengambil sebotol air mineral yang di berikan sahabat putri nya"Lebih baik kamu pulang dulu Nin, saya takut keluarga mu akan mencari mu"
"Om Arifin tidak perlu khawatir, karena aku sudah mengatakan pada mama, kalau aku sedang menunggu Kinar"Kata Nina"Om, Tante, apa aku boleh masuk untuk melihat Kinar?"
"Masuk lah nak, masuk, barang kali kehadiran mu bisa membuat nya terbangun"Nina langsung berlari menuju kamar dimana Kinar di rawat
"Sungguh kejam nya pak Irsyad, dia telah membuat istri dan calon anak nya tidak berdaya"Baru kali ini ia sesedih ini semenjak Ia bersahabat dengan Kinar, air mata nya tanpa di paksa pun keluar begitu saja, selama ini Nina adalah sosok yang jarang sekali menangis, tapi kali ini. Ia langsung memeluk tubuh ringkih Kinar dengan menangis"Kinar, bangun lah, tidak kah kau ingin merawat bayi mu sampai ia tumbuh menjadi dewasa? Aku tidak akan sanggup merawat bayi robot mu sendirian, itu terlalu berat bagi ku Kinar"Nina masih memeluk tubuh sahabatnya"Kinar,,"air mata nya semakin deras,
"Awh"suara rintihan, membuat Nina terkejut dan merasa takut. Bukan kah tempat ini adalah tempat terakhir bagi orang orang yang sakit, lalu jika tidak sembuh pasti meninggal"Sakit tau"ucap Kinar sambil menepuk kepala Nina
"Ha"mata Nina terbuka lebar dan kelihatan terkejut, ia tidak menyangka Kinar akan sadar hanya dengan satu pelukan dari nya"Kinar akhir nya kamu sadar juga!!!!"ucap Nina kegirangan dengan memeluk erat tubuh Kinar
"Lepaskan pelukan mu, dada ku terasa sesak akibat pelukan mu terlalu kuat"
__ADS_1
"Sorry,, sorry,, aku begitu bahagia melihat mu sudah sadar Kin"Kinar menatap di sekeliling nya, namun Nina baru teringat ia Buru buru lari keluar"Dokter,,,dokter!!"jerit nya membuat Astrea dan Arifin semakin takut
"Ada apa mbak?"
"Sahabat saya mbak, sahabat saya"ucap Nina terbata bata dengan mengusap dada nya
"Ada apa Nin, apakah Kinar baik baik saja?"Nina menatap wajah Astrea dengan menangis"Katakan sesuatu Nin, apakah Kinar baik baik saja?"
"Kinar tan"
"Iya, ada apa dengan Kinar?"antara bahagia dan sedih di rasakan Nina, sehingga tidak dapat di ungkapkan dengan kata kata
"Bagaimana dengan kondisi putri saya dokter?"tanya Astrea ketika melihat Gea keluar dari ruangan Kinar di rawat
"Alhamdulillah Bu, putri bapak dan ibu sudah sadarkan diri"
"Terima kasih ya Allah engkau telah mendengarkan doa doa kami"Arifin langsung membawa tubuh istri nya kedalam pelukan nya
"Apa kami boleh melihat putri kami dokter?"tanya Astrea ketika mereka sudah berdiri
"Boleh Bu, tapi setelah di pindahkan ke ruang rawat inap"raut kebahagiaan tidak dapat ia sembunyikan
Begitu melihat putri nya di pindahkan di ruang rawat inap, mereka mengikuti langkah suster yang memindahkan Kinar.
"Kinar"panggil Astrea dengan memeluk tubuh putri nya, ketika sudah di pindahkan di ruang rawat inap"Akhir nya kamu bangun juga nak, betapa ibu sangat mengkhawatirkan mu"Kinar tersenyum dengan memegang tangan Astrea
"Putri mama ini wanita hebat, jadi tidak semudah itu aku akan tiada ma"Arifin mengusap pucuk kepala putri nya dengan lembut
"Tapi kenyataan nya kamu membuat mama dan papa khawatir sayang"Kinar tersenyum melihat ke arah Nina
__ADS_1
"Terima kasih untuk semua nya Nin"Ucap Kinar membuat air mata nya jatuh kembali
"Jika kau ingin tidur, tidur lah Kin tetapi jangan lupa untuk bangun? Aku begitu khawatir"
"Ah,, aku tidur terlalu panjang, sehingga lupa untuk bangun ya Nin?"senyum khas nya sekarang sudah menghiasi bibir nya, ada rona bahagia di wajah Nina
Irsyad hanya terdiam dengan menatap ke arah Tatit dengan menitikan air mata
"Sekarang pergilah menjauh dan jangan kau dekati istri mu lagi"ucap Tatit"Biarkan saat ini istri mu bahagia"sedikit pun Irsyad tidak menjawab ucapan mami nya"Mami tidak mau ketika anak mu lahir, bukan kamu saja yang tidak di inginkan kehadiran nya tetapi kehadiran mami juga tidak di inginkan"ada kesedihan di mata Tatit"Ini demi kebaikan Anak dan istri mu, sekarang pergilah"Sebenarnya Tatit merasa iba ketika melihat putra nya, wajah nya begitu kusam dan di penuhi luka, dengan langkah lesu Irsyad keluar dari kantor polisi, Tatit terpaksa mengeluarkan putra nya dari kantor polisi dengan uang jaminan, biarlah ia berseteru dengan Arifin adik nya.
Dunia saat ini benar benar tidak berpihak pada nya setelah apa yang dia lakukan terhadap istri nya, kenapa dia tidak membiarkan istri nya pergi saja dari nya, setidak nya ketika Kinar melahirkan ia dapat melihat anak nya dengan bebas tanpa ada yang menghalangi, sekarang justru ketika ia benar benar ingin melihat darah daging nya lahir kebebasan nya sebagai seorang ayah terhalangi karena perbuatan nya.
"Maaf kan aku Kinar, aku akan membuktikan pada mu kalau aku benar benar telah berubah, tapi maaf jika suatu saat aku terpaksa menemui mu karena aku sudah tidak tahan menahan rindu di hati ku"terlalu kuno pemikiran mu Irsyad, ternyata ia masih berani menyimpan rindu untuk istri nya setelah apa yang ia lakukan. Irsyad akan menata hidup nya, ia ingin ketika anak nya lahir nanti ia akan berubah menjadi sosok seorang suami dan ayah yang baik.
Astrea mengambilkan makan siang untuk putri nya yang memang sudah di sediakan pihak rumah sakit.
"Waktu nya makan siang sayang"ucap Astrea sambil tersenyum"Makan lah biar mama yang menyuapi mu"
"Mama,,, aku bukan anak kecil lagi"rengek Kinar"Aku bisa makan sendiri"Kinar bukan tipikal anak dan istri yang manja, bahkan ia tidak terbiasa di perlakukan berlebihan seperti ini, karena dari sejak kecil ia di ajarkan hidup mandiri oleh sang nenek
"Kenapa harus malu sayang"Nina tersenyum kecil, ia tau kalau Kinar bukan sosok yang manja, apalagi bergantung sama orang lain, ia hanya dekat dengan Nina.
"Kali ini saja nurut dengan kata mama ya sayang"Kinar menatap wajah Astrea yang sedikit kecewa
"Aku tidak ingin bergantung sama mama"
"Aku ini mama mu Kinar, jika seumur hidup mu, kau bergantung sama mama sedikit pun mama tidak akan keberatan"akhir nya Kinar menurut setelah Nina menganggukkan kepala"Nah gitu dong sayang"
Setelah Kinar sadar, Arifin kembali ke Jakarta. Karena sudah beberapa hari pekerjaan nya terabaikan selama Kinar koma, sekarang ia bisa dengan tenang kembali ke Jakarta.
__ADS_1