
Dengan perasaan tidak menentu Arifin dan Astrea pergi ke rumah Tatit, mereka berdua ingin memastikan keadaan kakak perempuan nya, begitu mereka sampai di rumah yang mereka tuju, Arifin memandangi rumah Tatit kelihatan sunyi seperti tidak berpenghuni
"Kemana mereka ya ma, rumah nya seperti sudah lama tidak di tempati?"
"Mama juga tidak tau pa"Arifin menekan bel beberapa kali ternyata di buka dan yang membuka pintu bi Sumi, ada orang nya tetapi kenapa rumah nya seperti tidak ada tanda tanda kehidupan
"Pak Arifin, Bu Astrea"
"Bi Sumi, apa mas Irfan ada bi?"
"Ada pak di kamar"
"Mbak Tatit?"
"Sama, juga lagi di kamar pak"Arifin menggandeng tangan istri nya menuju kamar utama dimana Tatit dan suami nya sekarang berada. Tanpa mengetuk pintu Arifin langsung mendorong daun pintu kamar, dan betapa terkejut nya ia melihat kakak perempuan nya yang tertidur tidak berdaya, sedangkan Irfan sedang mengepel tubuh istri nya dengan penuh kasih sayang, kamar yang tadi nya begitu bersih dan rapi kini berubah menjadi seperti ruang ICU, suara komputer untuk mendeteksi jantung begitu menggema, ini kedua kali nya Arifin dan istri nya berada di ruangan ICU
"Apa yang terjadi dengan mbak Tatit, mas?"ia langsung memeluk tubuh Tatit dengan menangis, di tatap nya wajah Irfan yang kusam seperti tidak di rawat selama bertahun tahun
"Apa kamu masih perduli dengan nya setelah apa yang ia lakukan terhadap putri kalian?"Irfan tersenyum kecut
"Ya, tadi nya aku marah bahkan membenci nya" ucap Arifin dengan melihat ke arah Tatit"Tapi setelah mendengar kabar mbak Tatit yang tidak baik baik saja aku begitu khawatir mas"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan nya, aku tau kau masih membenci istri ku"
"Bagaimana aku tidak khawatir mas, mbak Tatit adalah kakak perempuan ku!!"
"Pa, sabar"Astrea menenangkan suami nya dengan mengusap lengan nya
"Ya aku tau itu, aku sudah tidak memiliki keberanian untuk memberitahu mu setelah apa yang telah istri ku lakukan"
__ADS_1
"Bukan berarti mas Irfan tidak memberitahukan ku"
"Sekarang tidak perlu kamu marah, to kamu juga sudah taukan kondisi mbak mu gimana"
"Kenapa mas Irfan tidak membawa nya ke rumah sakit saja?"
"Untuk apa? Jika di rawat di rumah aku bebas menemui nya kapan pun, dan aku bisa tidur bersama nya kapan pun aku suka"
"Itu nama nya kamu egois mas"
"Aku tidak egois, aku hanya ingin jika ia menghembuskan nafas nya dia berada di sisi ku"ada guraian air mata
"Apa maksud mu, mas!?"
"Harapan nya untuk sadar itu sangat kecil Fin, dan aku tidak tau sampai kapan ia akan tidur seperti ini?"Arifin mengusap wajah kakak nya dan mencium kening nya
"Mas Irfan tidak boleh pesimis, selagi kita berusaha pasti Allah kasih jalan"
"Kita belum mencoba nya mas"
"Tetap, aku tidak akan membawa nya kemana mana, setelah ia sadar aku akan membawa nya pergi jauh dari orang orang yang membenci diri nya"Astrea ikut mendekati Tatit dengan mengusap lengan nya, ia tidak tega melihat nya, mulut dan hidung nya terpasang selang untuk membantu nya bernafas, keadaan Tatit lebih buruk di banding kan Kinar dulu
"Apakah mbak Tatit mengalami kecelakaan?"
"Ya"Arifin menangis, ia marah terhadap diri nya sendiri, Tatit adalah sosok kakak yang baik bagi nya. Ingatan itu masih jelas di kepala nya, Tatit selalu membela nya jika ayah dan ibu memarahi Arifin ketika ia berbuat salah, dan demi diri nya lah Tatit selalu kena hukuman, seperti di tampar, di marah dan tidak di beri uang saku bahkan pernah tidak di beri makan, ia makan bekas sisa nya Arifin karena sudah tidak ada lagi lauk yang tersisa. Seharusnya waktu Tatit meminta maaf kepada diri nya ia ingat hal itu.
"Maafkan aku mbak, maafkan aku"ucap Arifin dengan menangis, Irfan hanya diam"Jangan pernah membawa Mbak Tatit kemana pun mas tanpa seizin dari ku"
"Kenapa aku harus meminta izin pada mu? Dia istri ku dan aku berhak membawa nya kemana pun, lagi pula untuk apa dia berada di Jakarta kalau kalian semua membenci nya, bahkan aku yakin Kinar tidak akan mengizinkan nya untuk melihat bayi nya ketika dia lahir"Arifin terdiam dengan menatap kakak ipar nya
__ADS_1
"Aku tidak akan mengizinkan nya"
"Sudah aku katakan Fin, aku tidak perlu izin dari mu!!"
"Pa"Panggil Astrea dengan menggelengkan kepalanya, Arifin dan berdiri dan mendekati Irfan
"Kenapa kamu keras kepala sih mas?"ia seperti sudah kehilangan cara, dengan kasar ia mengacak acak rambutnya"Please, ku mohon mas, ku mohon untuk kali ini dengar kan kata kata ku mas. Jangan membawa kemanapun mbak Tatit mas, aku janji ketika Kinar melahirkan nanti aku yang akan mengizinkan mbak Tatit untuk menunggu nya sampai bayi Kinar lahir mas"
"Untuk apa kamu terlalu memaksakan diri, kalau pada kenyataannya kau tidak mengizinkan nya"Irfan mendekati istri nya dan memeluk nya dengan lembut
Arifin keluar dengan memegang ponsel nya, cara satu satu nya agar Irfan tidak membawa Tatit pergi adalah Kinar, karena ia yakin pasti Abang ipar nya akan mendengar kan semua ucapan putri nya
"Jangan pernah memaksa Kinar untuk menerima istri ku karena itu akan membuat nya hancur"
"Saat saat seperti mas Irfan masih mempermasalahkan harga diri!? Ingat mas saat ini kita hanya ingin mbak Tatit sadarkan diri. Jadi tolong hilang kan pemikiran seperti itu"apa yang di katakan Arifin benar
Ukur harga diri mu bukan dengan saldo rekening bank mu, tetapi dengan frekuensi kemurahan hati mu. Karena harga diri di mulai dari pemahaman diri, tumbuh dengan keberanian dan ketekunan, di akhiri dengan kepercayaan diri.
"Kinar akan datang, aku harap kehadiran bisa membuat mbak Tatit sadar mas"
"Kamu menyuruh nya datang kemari? Kamu apa tidak berpikir dengan kondisi nya yang sedang hamil besar?"
"Sebelum aku kemari Kinar sudah memaksa untuk kemari mas, jadi aku tidak memaksa nya tetapi karena kemauan nya sendiri. Sudah lah mas, apapun akan aku lakukan demi mbak Tatit"
"Terima kasih Fin, terima kasih"ucap Irfan dengan memeluk adik ipar nya
"Apapun akan aku lakukan untuk kakak perempuan ku mas, dan aku yakin setiap seorang adik tidak akan sanggup melihat kakak perempuan nya terluka"Arifin mengusap punggung kakak ipar nya
Kini Irfan semangat nya naik kembali seperti kena cas, yang di ucapkan Arifin membuat rasa pesimis nya berubah menjadi optimis. Dia berharap istri nya secepatnya nya sadarkan diri. Saat ini dia tidak ingin yang lain, ia hanya ingin istri nya sadar dan bisa menemani nya sampai menua dan ia juga berharap ketika nanti dia tidak bisa berjalan Tatit bisa menjadi kaki nya, ketika ia buta istri nya bisa menjadi mata nya. Harapan nya tidak banyak, ia berharap ketika harus mati maka diri nya lah yang akan mati duluan karena ia tidak akan sanggup hidup tanpa istri yang begitu ia cintai seumur hidup nya.
__ADS_1
"Aku dan istri ku akan menemani mas Irfan untuk menjaga mbak Tatit sampai sadar mas"ungkapan seorang adik yang begitu tulus sehingga mampu membuat nya terharu