Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Masih Gelisah


__ADS_3

Astri berdiri di depan pintu ruangan UGD, ia masih harap harap cemas menanti kabar putri nya, Nina hanya melihat Astri dengan sendu, ibu mana yang bisa tenang ketika mendapat kabar putri nya sedang sakit, tidak ada ibu yang akan diam saja mendapat kabar seperti itu, tidak ada lagi canda di dan tawa antara Astri dan Tatit, sekarang telah terjadi perang dingin di antara kedua nya, meski status mereka sebagai adik ipar dan kakak ipar, bahkan ikatan mereka semakin dekat setelah anak kedua mereka menikah, kedua nya melupakan keadaan mertua dan ibu nya, Narsih berjalan mendekati kedua anak majikan nya


"Maaf Bu saya mau keruangan ibu Rianti"mendengar kata ibu Rianti, Astri dan Tatit saling menepuk jidat nya dan mereka saling memandang satu sama lain


"Pergilah Narsih, jika ibu bertanya tentang Kinar, katakan dia baik baik saja dan kamu jangan mengatakan tentang kejadian barusan"


"Baik Bu"Narsih berjalan menuju ruangan nek Popon di rawat


"Kamu tidak ingin melihat ibu?"


"Kamu saja yang melihat bukan kah,,?"


"Dia ibu ku?"sambung Tatit"Dia memang ibu ku, tapi kamu lupa kalau ibu ku juga ibu mu, dan jangan kamu katakan kalau beliau adalah ibu suami ku?"Astri hanya diam"Sekali lagi aku minta maaf As,, aku sungguh menyayangi Kinar, kamu tau itukan dan apa aku pernah membuat nya menangis? Tidak aku tidak pernah membuat nya menangis, aku sudah menganggapnya seperti putri ku sendiri As"kata Tatit dengan memegang tangan Astri"Percayalah pada ku As, sedikit pun aku tidak ingin menyakiti nya,,,"mata Tatit mulai berkaca kaca


"Lalu apa nama nya ini mbak? Kinar sampai harus masuk ke ruangan UGD!!?"nada bicara Astri masih tinggi, pintu UGD terbuka dan Shella keluar dengan memakai baju kebesaran nya


"Apa Kinar baik baik saja dok?"tanya Astri dengan cemas, hak Tatit sebagai ibu mertua telah hilang dan dia hanya diam


"Sekarang ini kami memasang selang oksigen, karena pasien mengalami sesak nafas"


"Apa bayi nya baik baik saja dokter?"tanya Tatit


"Alhamdulillah baik, untuk sekarang biarkan pasien istirahat dulu Bu, setelah di pindahkan di ruangan rawat inap ibu bisa melihat nya"


"Terima kasih dok"Astri duduk di sebelah Nina dengan menarik nafas begitu berat, ada perasaan lega di hati Tatit ketika Shella mengatakan kalau Kinar dan calon bayi nya baik baik saja, meski diri nya merasa bersalah karena menyakiti menantu dan calon cucu nya, mereka melihat Kinar di dorong menggunakan tempat tidur brankas, seketika ketiga orang yang begitu khawatir dengan keadaan Kinar mengikuti nya menuju ruang rawat inap. Astri melihat pipi dan leher putri nya memar dan kebiruan, ada perasaan tidak terima dengan perlakuan kakak ipar nya ketika melihat kondisi putri nya, jangan kan dipukul kuat, di pukul pelan saja akan meninggalkan bekas di kulit Kinar, karena dia memiliki kulit bersih dan putih, Astri melihat perut kinar yang besar, karena di perut itulah janin Irsyad tumbuh, begitu sampai ruangan perawat keluar dan meninggal kan mereka, sesaat Astri dan Tatit terdiam melihat kondisi Kinar, di punggung tangan kinar terpasang jarum infus dengan botol warna kuning tergantung di besi penyanggah nya, lalu sebelah kiri juga terpasang jarum infus namun di botol nya beda warna, Astri tidak tau apa nama nya yang pasti ini demi kesembuhan putri nya dan demi kesehatan calon cucu nya. Nina hanya mampu menatap iba, kehidupan Kinar begitu tragis, mungkin jika Nina yang mengalami nya dia tidak akan mampu, bagaimana mungkin sahabat nya yang baik bisa menderita seperti ini, jika memang suatu saat Nina menikah dia ingin mendapat kan pendamping yang bisa mencintai diri nya dengan sepenuh nya, jangan kan menyakiti nya melihat dia menderita saja pasangan nya tidak akan tega, namun ketika melihat Kinar menikah dan mengalami begitu banyak cobaan Nina menjadi ragu untuk menikah, diri nya terlalu takut nasib nya akan seperti Kinar, suami yang tidak pernah mencintai nya sedikit pun. Kinar kamu terlalu baik menjadi istri seorang Irsyad, jika setelah ini Kinar berpisah, Nina orang pertama yang akan selalu ada untuk nya. Tangan kinar mulai bergerak begitu juga mata nya yang terbuka dengan pelan pelan, Astri langsung memegang tangan putri nya, Nina juga melakukan hal sama, namun Nina lebih memilih berdiri di kaki Kinar dan memijit nya, sedang kan Tatit hanya diam

__ADS_1


"Kamu sudah siuman sayang?"tanya Astri pelan dengan mengusap punggung tangan Kinar yang terpasang jarum infus, Kinar hanya tersenyum dengan menatap Astri"Apa ada yang sakit?"Kinar hanya menggeleng pelan, Astri tidak ingin bertanya terlalu banyak karena dia takut pertanyaan nya akan membuat Kinar semakin sakit"Istirahatlah nak mama akan menjaga mu"Astri mencium tangan putri nya, tidak terasa air mata nya jatuh, dengan buru buru Astri mengusap nya, ia melihat ke arah leher Kinar yang merah kebiruan, dia begitu ingat sebelum nya Kinar juga pernah mengalami hal seperti ini, namun itu akibat perbuatan suami nya dan sekarang ibu dari suami nya juga melakukan hal yang sama, kenapa nasib putri nya begitu malang? Menyesali yang sudah terjadi tiada guna, seandainya waktu bisa di ulang kembali lebih baik Astri melihat putri nya menjadi perawan tua dari pada harus mengalami nasib buruk yang berkepanjangan, tapi inilah hidup memiliki cerita yang tidak bisa di tebak oleh siapa pun


"Kamu lapar?"tanya Astri dengan menggenggam tangan putri nya, dia ingin menambahkan energi agar putri nya itu kuat menghadapi ujian yang tiada henti. Lagi lagi Kinar hanya tersenyum dengan menggeleng pelan


"Apa ini pertanda kalau putri ku akan tiada?"batin Astri, rasa takut menghantui pikiran nya"Tidak,,, putri ku sangat kuat, tidak akan terjadi apa apa pada nya"Astri berbicara pada diri nya sendiri"Kamu harus kuat ya nak?"kata Astri


Kinar ingin memejamkan mata nya yang terasa mengantuk karena jujur malam tadi diri nya tidur hanya dua jam


"Jangan tidur nak"tahan Astri karena dia benar benar takut, bagaimana jika ketika Kinar memejamkan mata itu adalah tidur selama nya untuk nya"apa kamu masih mengantuk?"Kinar mengangkat tangan kiri nya dan di letakan di atas perut untuk membelai pelan perut nya yang bergerak "Kamu ingin memakan sesuatu?"tanya Astri menawarkan nya karena dia sungguh takut"Apa kamu mau mama yang menyuapi nya?"Kinar tersenyum dengan menggelengkan kepala, tangan Astri kelihatan gemetaran, Kinar tau kalau saat ini Astri begitu mengkhawatirkan keadaan nya, dengan lembut Kinar membelai tangan Astri dengan kanan kiri nya, karena tangan kanan nya berada di genggaman tangan Astri


"Mama jangan khawatir"kata Kinar pelan"aku baik baik saja"


"Bagaimana kamu mengatakan kalau kamu baik baik saja nak, dan bagaimana mama tidak khawatir dengan kondisi kamu seperti ini"tumpah sudah air mata Astri, Tatit hanya berdiam diri, sungguh diri nya sangat takut untuk mendekati Kinar, kalau sebenarnya ia tau Kinar tidak akan melakukan apa pun terhadap diri nya, Shella masuk keruangan Kinar dan memeriksa keadaan Kinar


"Apa kabar Kinar?"sapa Shella"Apa kamu masih merasakan sesak?"Kinar menggelengkan kepala"Apa kamu merasakan panas di hidung kamu?"Kinar menganggukkan kepala, itu arti nya oksigen harus di lepas"Sus tolong lepaskan oksigen nya"Suster langsung melepaskan oksigen yang terpasang di mulut Kinar, Shella memeriksa dada Kinar dengan alat teleskop nya yang selalu tergantung di leher"Semua nya sudah baik baik saja, jika merasakan sesak panggil saja suster ya,bapa bayi mu masih bergerak?"Kinar menatap Shella dengan memegang perut nya dan Shella tersenyum ternyata bayi di dalam perut kinar menendang tangan Shella"Bayi mu begitu aktif, aku merasakan respon nya ketika aku memegang perut mu"kata Shella dengan tersenyum"Kalau begitu saya tinggal dulu ya Kin"


"Lihat lah nenek barang sebentar ma"


"Tapi,,,"Astri ragu


"Tante jangan khawatir aku di sini yang akan menjaga Kinar"


"Baik lah,,,mama akan kembali"Astri melepaskan tangan kinar"Mama tinggal sebentar ya sayang"Kinar menganggukkan kepala, kini Nina mendekati Kinar


"Terima kasih Nin"

__ADS_1


"Kamu tidak perlu mengucapkan itu Kin,,aku sudah mengatakan berulang kali kalau aku selalu ada buat kamu, apa diri mu melupakan nya?"


"Tidak, aku tidak pernah melupakan nya"Nina tersenyum, hati nya begitu lega karena sahabat dan calon anak nya baik baik saja, Tatit mendekati Kinar dengan langkah pelan, mungkin ia ingin berbicara sesuatu, Nina berdiri karena dia ingin memberikan waktu untuk mereka berdua berbicara


"Aku keluar sebentar ya cari makanan,napa kamu ingin sesuatu?"


"Tidak terima kasih"Nina berjalan menuju pintu dan keluar dan ia menatap ke Kinar sebelum menutup pintu nya kembali, Tatit duduk di kursi sebelah Kinar


"Maafkan mam sayang"ucap Tatit pelan, Kinar ingin duduk"Kamu ingin duduk?"Kinar menganggukkan kepala, dengan lembut Tatit menyanggah kepala Kinar dan mengambil bantal nya untuk di letakkan di dinding agar Kinar bisa duduk dengan bersandar, lalu Tatit membantu Kinar duduk dan menggeser kan badan nya untuk lebih merapat ke bantal yang sudah di letak kan di dinding


"Apa sudah nyaman?"Kinar menjawab hanya dengan mengangguk kan kepala, mereka berdua seperti dua orang asing yang baru kenal"Maafkan mam sayang"kata Tatit dengan memegang tangan Kinar yang terpasang jarum infus"Mam sungguh tidak sengaja melakukan nya, Mam begitu marah tapi,,,"Kinar hanya diam dengan menatap Tatit"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu begitu marah dengan mam? Kamu benci dengan mam?"Kinar menghapus air mata nya yang jatuh begitu saja, diri nya tidak menyangka jika ibu suami nya begitu tega melakukan nya tanpa melihat kebenaran nya terlebih dahulu, apa kah Irsyad juga akan melakukan hal yang sama ketika mereka bertemu bahkan akan melakukan hal yang lebih parah yaitu akan membuat Kinar tiada?


"Katakan sesuatu nak?"Kinar tidak memiliki kata yang harus di katakan, jika boleh jujur Kinar tidak marah dengan Tatit, namun sangat kecewa dengan sikap nya


"Kenapa kamu mengatakan pada mam kalau kamu telah melenyapkan calon cucu mam?"tanya Tatit, namun Kinar masih diam tanpa reaksi sedikit pun"Katakan Kinar, mam ingin tau alasan kamu kenapa kamu mengatakan hal itu?"Tatit melihat wajah menantu nya, meskipun Kinar tidak mengatakan apapun, tapi Tatit tau kalau kinar sedang kecewa pada diri nya"Baiklah jika kamu tidak ingin berbicara pada mam untuk apa mam di sini? Mungkin benar kamu sudah menganggap mam seperti orang asing"tatit melepaskan tangan kinar dengan pelan"Mam memohon pada kamu, jika kamu membenci irsyad dan juga mam tolong sekali,,,,"Tatit menghapus air mata nya, bagaimana dia tidak sedih, keponakan yang selalu dia sayangi dan menantu yang dia banggakan kini membenci nya, meski ini adalah kesalahan diri nya"Mam mohon biarkan calon cucu mam lahir dan mam juga memohon kamu jangan menyakiti nya"Tatit berdiri dan melangkah keluar namun sebelum langkah nya sampai di pintu


"Aku tidak pernah membenci calon anak ku, meski pun aku sangat membenci ayah nya sedikit pun aku tidak ada niat untuk membuat nya tiada"kata Kinar dengan membelai perut nya, langkah tatit berhenti"Calon bayi ku tidak tau apa apa, lalu kenapa dia harus menanggung semua nya, aku masih memiliki hati bagaimana mungkin aku akan membuat nya tiada"ia menghapus air mata nya, Tatit masih membelakangi Kinar"Jika kalian menganggap ku kejam, itu hak kalian semua"ia kini tidak lagi menyebut tatit dengan sebutan mam karena diri nya masih kecewa meski itu terdengar tidak sopan"Tadi nya aku ingin melenyapkan bayi nya, tapi ketika aku merasakan gerakan nya yang begitu kuat rasa benci ku berubah menjadi sayang, bagaimana aku akan tega melenyapkan nya setelah aku merasakan tendangan nya"Kinar menghapus air mata nya kembali


"Lalu kenapa kamu mengatakan pada kami kalau kamu telah melenyapkan kan nya?"Tatit masih berdiri di posisi yang sama


"Aku memiliki alasan kenapa aku mengatakan hal itu"


"Kalau begitu katakan lah"


"Aku tidak ingin melihat kalian semua bersedih karena aku pergi meninggalkan Jakarta dengan kondisi seperti ini, maka ketika aku mengatakan bayi ini telah tiada setidak nya kalian tidak begitu khawatir dan bisa tidur dengan tenang terutama mama ku yang merasa bersalah"

__ADS_1


"Apa kamu pikir di sini mama kamu saja yang merasa bersalah lalu bagaimana dengan mam!!!!"bentak Tatit dengan menghapus air mata dan berbalik ke arah kinar"Apa kamu pikir mam tidak sedih? Mam begitu merasa bersalah ketika kamu pergi tanpa pamit dan mam begitu kecewa ketika kamu mengatakan kalau calon cucu mam tiada"kata Tatit dengan mendekati Kinar"tapi semua nya itu tidak benar


__ADS_2