Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Ada Yang Berbeda


__ADS_3

Kinar berusaha membaringkan tubuh nya yang tiba tiba terasa begitu lemas, diri nya merasa tidak memiliki tulang, sehingga tidak dapat menyanggah tubuh nya yang mungil


"Bi Narsih,,,"panggil Kinar pelan, tetapi tidak ada jawaban"Bi Narsih,,,,"panggil Kinar sekali lagi"Bi Narsih,,"masih tidak ada jawaban, Kinar duduk dengan mengusap keringat yang membanjiri wajah nya"Kenapa tiba tiba aku lemas, apa yang terjadi pada ku?"di raih nya ponsel dan menekan nomor Nina


"Ada apa Kin?"


"Kamu dimana Nin?"


"Ini lagi di cafe"


"Bisa tidak kamu kemari sebentar"


"Kamu sakit?"tanya Nina dengan nada penuh khawatir


"Badan ku tiba tiba lemas Nin,, aku sudah memanggil bi Narsih berkali kali, tapi tidak ada mungkin dia sedang ke pasar, mam sedang mengurus nenek, tolong kemari sebentar saja Nin, aku takut terjadi sesuatu dengan bayi ku"


"Aku justru takut terjadi sesuatu pada mu, baik lah titah tuan putri akan saya laksanakan, tapi ingat jangan kemana mana baringkan saja tubuh mu di ranjang sampai aku tiba"ponsel di matikan, Kinar mengusap perut nya


Nina melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata rata, dia takut jika terjadi sesuatu dengan Kinar dan juga bayi nya, begitu sampai depan rumah nek popon, Nina langsung menekan tombol bel yang terpasang di dinding sebelah pintu terdengar suara langkah kaki dari dalam


"Kamu Nin, ada apa pagi pagi begini sudah kemari? Maaf maksud Tante apa ada hal penting?"tanya Tatit


"Bagaimana mungkin Tante tidak mengetahui nya"


"Maksud kamu apa Nin?"Tatit mengikuti langkah kaki Nina menuju kamar Kinar, begitu pintu di buka Kinar tengah meringkuk tangan nya memegang pinggir kasur dan wajah nya pucat di penuhi keringat

__ADS_1


"Kinar!!!"panggil Tatit mendekati Kinar"kamu kenapa sayang?"Tatit mengusap wajah Kinar yang di penuhi keringat


"Kita ke rumah sakit ya"ajak Nina dengan membantu Kinar untuk duduk


"Kenapa kamu tidak memanggil mam?"tanya Tatit


"Tante please ini bukan saat nya untuk bertanya"Tatit terdiam, ternyata sekarang Kinar terlihat berbeda semenjak kejadian dimana Tatit menyakiti nya"Ke rumah sakit ya"


"Tidak Nin,,, aku hanya merasa lemas"


"Kalau tidak ke rumah sakit, bagaimana aku tau harus bagaimana"Tatit keluar mengambil air hangat


"Minumlah"Kinar mengambil gelas berisi air dari tangan Tatit dan meminum nya, ia memijit kaki Kinar dengan lembut


"Terkadang ketika sedang hamil tiba tiba merasakan mual yang sangat parah, merasakan pusing berkunang kunang, itu hal biasa, tapi jika tidak cepat ditangani akan beresiko tinggi"Kinar hanya diam dengan memandang Tatit"kamu punya minyak angin Nin?"


"Biar mam gosok pakai minyak angin punggung kamu, barangkali saja kamu masuk angin"Nina membantu Kinar untuk berbalik arah, setelah itu Tatit menaikan baju Kinar dan melepaskan tali bra nya, semenjak menikah dengan putra nya, tatit tidak pernah melihat Kinar tanpa baju pada hal sebelum nya ia terbiasa melihat semua itu karena sebelum menjadi menantu nya Kinar sering mandi dan menginap di rumah nya, namun sekarang berbeda, di gosok nya punggung Kinar dengan lembut, karena ia tidak ingin menyakiti Kinar sedikit pun setelah kejadian kemaren. Punggung kinar begitu putih bersih tanpa ada luka sedikit pun


"Apa sudah lebih enakan?"tanya Tatit, Kinar hanya menganggukkan kepala, sedangkan Nina hanya melihat Tatit yang begitu serius menggosok punggung kinar


"Memangnya kalau lagi hamil seperti ini ya Tan?"


"Tergantung,,,tidak semua wanita hamil mengalami hal seperti ini"Tatit masih menggosok punggung Kinar, ada rasa sedih di hati Tatit bagaimana mungkin kinar menghadapi semua nya sendiri, seharusnya masa masa seperti ini Irsyad ada di samping nya, karena Tatit tau wanita hamil hormon nya naik turun, seharusnya saat ini ada tempat berkeluh kesah untuk Kinar, ketika kaki nya terasa sakit karena terlalu banyak jalan, selera makan yang menurun, perut nya terasa keram, rasa mual berlebihan, susah tidur karena bayi nya bergerak terus, rasa nya semua itu terasa berat, bagaimana Kinar bisa menghadapi semua ini. Tatit menghapus air mata nya melihat hal itu Nina hanya diam


"Berbalik"kata tatit, Kinar pun nurut dengan lembut Tatit menyingkapkan baju Kinar ke atas begitu melihat perut kinar yang bundar Tatit tersenyum, dengan lembut ia membelai nya di tuangkan nya minyak angin ke tangan nya, lalu mengusap kan nya ke perut kinar dan deg perut kinar bergerak gerak

__ADS_1


"Kamu marah sama Oma sayang?"tanya Tatit kepada bayi yang ada di perut kinar"Maafkan Oma sayang dan maafkan juga papa kamu ya nak, Oma tau pasti ini sangat berat"kata tatit dengan memandang Kinar"Oma janji sebelum kamu lahir ayah kamu akan tinggal bersama kalian"Kinar hanya diam


"Jangan memaksa sesuatu yang tidak mungkin mam, karena itu akan sangat menyakitkan nanti nya"


"Mam janji sayang, mam tau bagaimana rasa nya ketika hamil tanpa ada suami di samping kita"Kinar menutup perut nya


"sudah agak mending mam"tatit tersenyum


"Mam hari ini akan pulang ke Jakarta kalau ada apa apa hubungi mam ya nak?"kata tatit"Nin tolong jaga Kinar ya"


"Pasti Tan"setelah itu tatit meninggalkan kamar Kinar, ada perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata


"Kenapa kamu diam saja?"


"Benarkah mam bisa menyatukan ku dengan mas Irsyad?"


"Kamu berharap?"


"Tidak"


"Tapi dari bahasa tubuh mu mengatakan iya, kenapa kamu harus malu pada ku Kinar, lagian wajar jika kamu menginginkan nya to dia masih suami kamu kan"


"Itu dulu nin tapi sekarang tidak"


"jangan bohong Kinar"kata Nina"Maaf bukan aku ingin menyakiti mu dengan kata kata ku, jujur aku tidak akan rela jika kamu harus kembali dengan manusia robot itu tapi kita juga tidak boleh egois anak mu membutuhkan figur seorang ayah"

__ADS_1


Yang di katakan nina memang benar, tapi haruskah Kinar kembali pada Irsyad yang tidak pernah mencintai nya sedikit pun, lalu untuk apa mereka bersatu, hanya untuk anak nya? Tidak, Kinar tidak ingin lagi mengemis cinta pada Irsyad, harga diri nya sudah cukup terinjak injak karena hanya demi cinta, cinta seorang suami


__ADS_2