
Sebelum Arifin pergi memastikan keadaan kakak nya, ia menghubungi Kinar melalui ponsel nya, ia ingin tau apakah yang di katakan Jesika bohong atau benar ada nya. Ponsel terhubung terdengar suara Kinar
"Ya pa"suara khas Kinar
"Nak, apakah mertua mu dua hari atau tiga hari yang lalu berkunjung ke Jogja?"
"Papa tau dari mana?"
"Jawablah nak?"
"Iya pa"
"Untuk apa mertua mu kesana?"
"Untuk meminta maaf pada ku pa"Arifin mengusap wajah nya, begitu menyesal kah Tatit sampai harus ia berkunjung ke sana hanya untuk meminta maaf pada putri nya? Atau ini pertanda kalau kakak perempuan nya akan tiada?
"Lalu setelah itu?"
"Sebelum menemui ku, mami berbicara dengan nenek pa, setelah itu baru menemui ku, mami pulang ke Jakarta sekitar pukul satu dini hari, karena nenek menyuruh nya pulang"
"Sudah papa duga"
"Ada apa pa?"
"Tidak ada, kenapa kamu tidak mencegah nya nak?"
"Aku sudah tidur pa, aku tau ketika aku bertanya kepada bi Narsih tentang keberadaan mami"
"Ah"Arifin menarik nafas nya yang terasa berat, ini adalah hal yang paling berat ia rasakan dimana setelah Kinar juga mengalami koma.
"Ada apa pa? Apa yang terjadi dengan Mami, pa?"Arifin sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenar nya karena ia takut akan mengganggu kesehatan putri dan calon cucu nya"Katakan pa, tolong katakan pada ku? Beberapa hari ini dada ku selalu berdebar debar dan perut ku juga terasa sakit, ketika ku bawa ke dokter tidak ada masalah pa"Arifin menceritakan apa yang di ceritakan oleh Jesika"Aku akan ke Jakarta pa"
"Jangan dulu, jika kabar ini benar akan papa hubungi kamu"
"Tapi pa"
"Dengar kata papa ya nak?"
__ADS_1
"Iya pa"ponsel terputus, Kinar menatap ke arah Nina yang menaikan kedua bahu nya, sebesar apapun rasa sakit hati nya pada Tatit, ia tidak akan tega mendengar jika keadaan nya tidak baik baik saja.
"Apa yang terjadi Kin?"
"Entah lah Nin"ia menatap ponsel nya"Papa ku mengatakan kalau mami mengalami kecelakaan, tetapi papa ku tidak tau dimana saat ini mami di rawat, seperti nya mereka saat ini sedang menjauh Nin?"
"Itu lebih baik, dari pada kehadiran nya selalu mengganggu ketengan mu"
"Jujur saat ini aku sangat merindukan nya Nin"ia melihat wajah sendu Kinar
"Sejak kapan kamu menyimpan rindu untuk mertua mu yang kejam itu Kin?"
"Aku manusia biasa Nin, yang memiliki hati dan perasaan, tentang rasa ini aku tidak pernah menciptakan dia tumbuh dengan sendiri nya"Ia menatap sahabat nya, yang di rasakan Kinar itu wajar karena bagaimana pun Tatit selain mertua juga Tante nya"Dan aku tidak pernah menyimpan rasa rindu ini sebelumnya"
"Maaf Kin, aku hanya takut kamu akan mengalami hal yang sama kembali"
"Percayalah Nin, itu tidak akan terjadi kembali"sahut Kinar"Mami sekarang banyak berubah Nin, jangan kan menyakiti ku, sedikit pun mami tidak akan berani menyentuh ku"ia masih teringat ketika Tatit menemui nya untuk meminta maaf, sedikit pun Tatit tidak memaksa untuk memeluk dirinya, biasa nya jika ia menemui diri nya l paling tidak ia memeluk diri nya sambil mengusap perut nya yang buncit.
"Kamu sebegitu yakin nya?"Kinar menganggukkan kepala nya, di lubuk nya yang paling dalam ada setitik rindu untuk suami nya, ya meski Irsyad tidak pernah merindukan nya. Ia tidak dapat membohongi diri nya kalau rasa itu masih ada sampai saat ini, ia berusaha menepisnya, tetapi semakin ia menepis nya justru rasa itu semakin dalam dan ia tidak dapat mencegah nya. Bagaimana mungkin ia tidak merindukan nya, salah kah pembaca setia ku jika Kinar merindukan Irsyad suami nya? Karena bagaimana pun ia adalah ayah dari calon bayi nya.
"Apakah kamu tidak merindukan ku mas? Secuil saja mas, apakah rasa itu tidak ada untuk ku sama sekali?"Batin Kinar dengan mengusap perut nya"Tidak seharusnya aku merindukan mu, karena suami seperti mu tidak pantas untuk di rindukan, tetapi aku tidak dapat membohongi perasaan ku"Nina menatap Kinar duduk di kursi dengan menyandarkan tubuh nya
"Ha"Wajah terkejut tidak bisa di tutupi dari wajah Kinar
"Apa yang sedang mengganggu pikiran mu?"
"Tidak ada"
"Jangan membohongi ku"Kinar menatap wajah Nina begitu dalam
"Salah kah jika saat ini aku begitu merindukan mas Irsyad, Nin?"tanya Kinar
"Rasa itu tidak pernah salah Kin, karena rasa itu tumbuh dengan sendiri nya, tetapi yang salah kenapa rasa itu tumbuh tidak pada tempat nya"
"Entah lah Nin? Aku benar benar begitu merindukan nya, aku berusaha menepis rasa itu tetapi semakin aku menepis nya dada ku semakin sakit"Nina mendekati Kinar dan mengusap punggung nya dengan lembut
Pintu ruangan nya di ketuk dari luar
__ADS_1
Tok,,tok,tok
"Masuk"pintu terbuka, betapa terkejut nya ia dan Nina karena yang masuk adalah pria yang saat ini begitu ia rindukan"Mas Irsyad"panggil Kinar dengan berdiri, ia tidak menyangka ternyata alam juga ikut turut merasakan apa yang ia rasakan, sehingga angin menyampaikan rasa rindu nya kepada sang suami.
"Aku keluar dulu ya Kin"dengan spontan Kinar mengangguk kan kepala, ia berusaha melupakan nya dengan dekat dengan Dimas, tetapi itu tidak bisa merubah rasa terhadap Irsyad
"Apa kabar?"tanya Irsyad dengan menatap ke arah perut Kinar
"Hm,,,"
"Bagaimana kabar kamu dan calon anak ki,, maksud ku dengan kandungan kamu?"mata Kinar masih melotot, ia masih tidak percaya dengan perubahan sikap Irsyad yang begitu lembut dan perhatian"Ini buat kamu"Irsyad memberi kan plastik berisi makanan"Makanlah, ini sehat buat kamu dan calon bayi"Irsyad tidak berani meneruskan kata kata nya, ia dapat melihat tatapan Irsyad yang penuh cinta, karena selama ini ia tidak pernah menatap diri nya seperti ini
"Kandungan ku baik, dan terima kasih sudah repot repot membelikan ini"Jawab Kinar dengan mengangkat plastik yang di berikan oleh nya
"Maaf atas semua kesalahan ku, aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu dan juga ayah yang baik buat,,"lagi dan lagi Irsyad tidak berani meneruskan ucapkan nya"Sekali lagi aku minta maaf"Wajah nya tertunduk lesu"Sekarang apapun yang kau ingin kan aku tidak akan menolak nya, bahkan berpisah dari ku jika itu yang kau mau aku terima"setelah itu ia meninggalkan Kinar yang masih terdiam membisu
"Mas"Panggil Kinar dengan berlari dan memeluk tubuh kekar Irsyad dari belakang"Apakah kau tidak rindu pada ku? Apakah kau juga tidak ingin tau kabar calon anak kita mas?"Irsyad menarik nafas nya, ada rasa haru yang menyeruak di hati nya, Kinar masih begitu mencintai nya setelah apa yang telah ia lakukan
"Apakah aku masih berhak atas diri mu dan juga calon anak,,"
"Anak kita mas, dia calon anak kita"Kinar membenam kan wajah nya di punggung suami nya ia mencium aroma farpum yang selama ini ia rindukan, seperti nya ia sedang mengidam"Kau masih memiliki hak atas diri ku dan calon anak ini mas"Kinar tidak dapat membendung air mata nya"Aku dan calon anak kita begitu merindukan mu mas, apakah kau sedikit pun tak merindukan kami?"Irsyad membalikan tubuh nya dan langsung di ciumi nya kening Kinar bertubi tubi
"Maafkan aku Kinar, sungguh aku minta maaf" ucap Irsyad dengan membawa tubuh mungil istri nya ke dalam pelukan nya, diusap nya kepala istri nya dan sesekali di cium nya
"Apakah kau ingin pergi meninggalkan kami mas? Karena aku tau kau tidak pernah mencintai ku sedikit pun"
"Sekarang aku benar benar mencintai mu Kinar, bahkan aku tidak tenang sebelum aku tau kondisi mu dan juga calon bayi ku"
"Mas"Panggil Kinar dengan mode manja
"Saat ini aku sedang berusaha untuk merubah sikap ku yang arogan"
"Berapa lama mas, apakah kau tidak ingin mendampingi ku ketika melahirkan nanti?"Tidak ada jawaban, ia hanya mencium pucuk kepala istri nya dengan lembut, suatu hal yang belum pernah ia lakukan
"Percayalah pada ku, ketika kau melahirkan nanti aku akan berada di samping mu"senyum bahagia menghiasi wajah Kinar
"Kin"Panggil seseorang dengan menepuk bahu nya"Pulang yuk"
__ADS_1
"Mas Irsyad, dimana mas Irsyad?"
"Mas Irsyad? Memang suami mu datang?" Kinar kelihatan bingung, semua nya terasa nyata dan bukan mimpi, pada hal ia begitu sangat merindukan pertemuan ini