
Dengan sekuat tenaga Nina berlari mencari dokter Gea yang menangani Kinar selama di rawat inap. Nafas nya terengah engah, ada rasa takut di hati nya, ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika Kinar benar benar tiada. Haruskan ia yang merawat anak nya Kinar? Nina tidak akan sanggup melalui itu semua, pasti akan sangat berat bagi nya.
"Dokter"nafas nya tersengal sengal"Tolong dokter, tolong teman saya"
"Siapa mbak?"
"Kinar dokter, Kinar"
"Apa yang terjadi pada nya?"
"Sekarang dokter ikut saya, nanti akan saya jelaskan pada dokter"Nina menarik tangan Gea sambil berlari, bagaimana mungkin Nina begitu berani menarik tangan Gea sambil berlari. Tetapi kenapa Gea sebagai dokter di rumah sakit nurut banget dengan tarikan tangan Nina?
Di ruangan rawat inap Irsyad masih menangis dengan memeluk tubuh mungil istri nya, melihat dokter Gea datang, Irsyad melepaskan pelukan nya, Gea mulai menaikkan peralatan nya di atas tubuh Kinar
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok"Gea menatap Irsyad sesaat, setelah itu ia menarik nafas nya"Katakan dok, jangan membuat saya menjadi takut"
"Sabar pak"
"Bagaimana saya bisa sabar Nin, sementara kondisi istri saya seperti ini"nafas Kinar mulai terengah engah, sekarang sudah terlambat menyadari semua nya.
"Kita harus memindahkan nya keruang ICU pak"nafas Kinar semakin sesak, sampai dada nya naik turun, mendengar ruang ICU hati Nina dan Irsyad melemah
"Tapi apa yang sedang terjadi dok!?"
"Saat ini tidak ada waktu untuk menjelas kan semua nya"Nina membantu para perawat mendorong brankar, Irsyad masih terdiam terpaku
"Harus kah Kinar tiada bersama calon anak ku? Tidak,, ini semua salah ku"
"Pak, cepat lah!!"panggil Nina yang melihat suami sahabat nya masih berdiri mematung. Wajah Irsyad kelihatan bingung.
Langkah kaki nya berjalan begitu cepat untuk membawa istri nya ke ruang ICU. Nina melihat ke arah mantan bos nya yang berjalan mondar mandir di depan pintu ruang ICU, sesekali tangan nya di masukan di kedua saku celana nya, lalu pindah ke kepala, sekarang tangan nya masih setia menutup wajah nya yang penuh keangkuhan
"Bapak ingin berubah menjadi setrika?"helaan nafas nya begitu berat keluar dari mulut nya
"Kau tidak tau betapa khawatir nya saya"
__ADS_1
"Apa bapak pikir saya juga tidak khawatir begitu? Saya rasa, khawatir saya lebih besar di bandingkan rasa khawatir bapak"
"Jaga ucapan mu Nina!!"
"Uusttt,, jangan mudah marah pak, emosi nya tolong di kontrol, karena jika itu tidak bisa bapak lakukan, maka lebih baik bapak pergi dari sini"
"Berani sekali kau mengusir ku dari sini, apakah kau tidak tau kalau Kinar itu istri ku"
"Istri"senyum mengejek terukir dari bibir Nina"Sejak kapan bapak Irsyad Malik Ibrahim menganggap Kinar sebagai istri? Apa saya perlu menjelaskan secara rinci?"tatapan nya begitu tajam seakan akan ingin menelan Nina bulat bulat"Jangan menatap saya seperti itu pak, karena saya bukan selingkuhan nya Kinar"Makjleb, ucapan Nina membuat Irsyad benar benar kena mental"Tapi saya merasa kalau Kinar itu adalah istri saya, saya adalah orang yang pertama kali mengetahui kalau Kinar hamil, Apakah bapak tau, bagaimana hari hari yang ia lalui selama masa kehamilan nya? Itu sungguh sangat berat bagi nya, percuma saya bicara dengan bapak yang selalu sibuk dengan wanita lain"sejak kapan Irsyad menjadi pendiam"Dan sekarang bapak dengan penuh percaya diri mengatakan, kalau Kinar istri bapak, apa bapak lagi amnesia?"Irsyad masih tetap diam, sudah hampir satu jam mereka menunggu Kinar yang berada di ruangan ICU, baik suster mau pun dokter belum ada yang keluar"Sekarang hubungi keluarga Kinar pak, saya tidak mau orang tua Kinar murka melihat kondisi anak nya sekarat karena perbuatan suami nya"
Ya ampun,, sungguh Nina masih tidak dapat percaya dengan perubahan sikap Irsyad yang menjadi penurut, dia mengambil ponsel nya dan menjauh dari diri nya. Setelah itu ia kembali berdiri di samping Nina dengan menyandarkan tubuh nya di tembok.
Tidak berapa lama Gea keluar dengan seorang perawat
"Bisa keruangan saya sebentar pak"tidak ada jawaban keluar dari mulut Irsyad, ia mengikuti langkah Gea menuju ruangan nya, sementara Nina masih setia berdiri di depan pintu ruang ICU
"Silahkan duduk pak"kata Gea begitu sampai di dalam ruangan nya
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok?"
"Lalu apa yang harus di lakukan dokter?"
"Saya sebagai dokter merasa serba salah pak, karena kondisi Bu Kinar yang sedang hamil"Irsyad tidak dapat mengatakan apapun, karena ia tidak akan pernah lupa kalau kondisi istri nya seperti ini karena perbuatan nya
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan istri bapak, tetapi saya tidak bisa janji pak"di usap nya wajah yang merasa bersalah"Tetapi apa yang terjadi pak, bagaimana mungkin Istri bapak bisa seperti ini?"Irsyad menatap wajah Gea, ingin ia mengatakan semua nya tetapi lidah nya seperti kaku"Jika bapak tidak bisa menjelaskan, jangan di paksa pak"tanpa berbicara apa pun ia keluar dari ruangan Gea.
Ia melihat ke arah Nina yang sedang memain kan jari nya, ia tau kalau sahabat istri nya benar benar sedang khawatir. Melihat Irsyad berjalan ke arah nya, Nina langsung berlari kecil mendekati Irsyad
"Apa kata dokter Gea, pak?"ia masih diam dengan menatap Nina"Kenapa bapak diam saja? Tolong katakan sesuatu pak?"
"Apa yang harus saya jelaskan lagi pada mu Nin?"
"Saya hanya ingin tau hasil dari pemeriksaan Kinar"
"Tulang Sternum nya retak, hal itu yang mengakibatkan Kinar sesak dan tidak sadarkan diri"
__ADS_1
"Hah!"wajah terkejut tidak dapat lagi di tutupi dari wajah Nina, dia menyandarkan tubuh nya di samping Irsyad
Mereka berdua melihat suara langkah kaki yang begitu ramai berjalan ke arah mereka, tangan Arifin langsung menarik leher kemeja Irsyad, sedikit pun ia tidak memberikan perlawanan kepada mertua nya, ia sudah tau pasti hal ini akan terjadi, bogem mentah mengenai bibir nya, membuat darah segar mengalir dari bibir nya
"Jika kau tidak bisa membuat putri ku bahagia, bukan berarti bisa sesuka hati mu menyakiti putri ku"tatapan mata Arifin membuat Irsyad tertunduk, kedua orang tua nya hanya diam"Selama ini aku cukup diam dengan semua tindak tanduk mu Irsyad, bahkan kau berjalan, makan siang dengan kekasih mu, aku pun dan papi mu pernah melihat mu, tapi kami cukup diam. Ternyata aku salah menikahkan putri ku pada mu"Tatit menatap suami nya yang juga diam dengan seribu bahasa.
"Bahkan mami mu juga mengetahui nya, tapi kami terlalu bodoh membiarkan semua nya begitu saja, sekarang pergi lah dari hidup putri ku dan jangan coba sekali lagi kau mendekati nya"Arifin menepuk pipi Irsyad"kau akan tau akibat nya"
"Maaf kan aku pa"Irsyad bersimpuh di kaki Arifin
"Pergi lah dari hadapan ku Irsyad!!"kata Arifin dengan menendang baju Irsyad
"Pa, tenang lah, kita lagi di rumah sakit"Astria berusaha menenangkan suami nya yang sedang emosi dengan melihat ke arah Irsyad yang sedang meringkuk
"Sekali lagi pergi lah!!"Arifin menekan suara nya
"Pa"mohon Irsyad
"Sudah aku katakan, pergi dari hadapan ku Irsyad!!"Ada rasa tidak tega di Astria, tetapi mengingat perbuatan nya terhadap Kinar putri nya rasa itu menjadi benci"Mulai saat ini kau bukan lagi menantu ku, kau bebas melakukan apapun yang kau suka tanpa harus mengingat putri ku lagi"Nina hanya berdiri diam terpaku, melihat suami sahabat nya yang meringkuk di atas lantai"Pergilah sebelum aku memasukan mu kedalam penjara"Tatit berusaha membantu putra nya yang meringkuk tidak berdaya
"Pergi lah Irsyad, sebelum semua nya semakin memburuk"
"Tapi mi"
"Mami bilang pergi lah Irsyad, renungi lah semua perbuatan yang telah kau lakukan pada istri mu"
"Mbak Tatit pun sama, kalian ibu dan anak tidak ada beda nya"
"Fin"
"Diam lah mbak, dan jangan mencoba membela diri"Arifin mengusap wajah nya dengan gusar
"Pergilah kalian semua dari hadapan ku!!"Jerit Arifin membuat semua nya terkejut, Astria berusaha menenangkan suami nya yang sedang emosi, kini tinggal mereka bertiga.
Merasakan kekecewaan merupakan bagian dari kehidupan. Saat muncul, rasa kecewa terkadang membuat seseorang putus asa dan memiliki suasana hati yang buruk.
__ADS_1