
Miska melihat suami nya sedang berdiri di depan pintu dengan menatap ke arah nya
"Maaf mas, aku tadi ke rumah Hanna sebentar"ucap Miska ketika ia sudah berada di hadapan suami nya
"Apa Hanna ada masalah lagi?"Miska menganggukkan kepala"Sampai kapan rumah tangga Hanna akan seperti ini terus?"
"Aku juga tidak tau mas"jawab Miska dengan membuka pintu rumah
"Ingat sayang, Hanna itu adik mu satu satu nya, beri lah ia nasehat agar ia bisa melakukan sesuatu untuk masa depan nya"
"Sudah mas"Isnan merangkul pundak istri nya"Apakah kau sudah makan mas?"
"Belum, apakah kau masak sesuatu?"Miska menganggukkan kepala nya sembari tersenyum
"Aku semakin mencintai mu"kata kata yang selalu Isnan ucapkan ketika ia pulang dari kantor.
"Aku tau kalau kau begitu mencintai ku, mas. Tapi kau juga harus tau cinta ku pada mu itu lebih besar"mereka berdua seperti anak ABG.
"Benar kah?"goda Isnan dengan mencium pipi istri nya
"Mandi lah, setelah itu baru kita makan"
"Aku mandi dulu"keluarga yang begitu harmonis, meski di hati Miska ada rasa takut. Takut jika suami nya akan berpaling dari nya karena hingga sampai saat ini juga ia belum memiliki keturunan, meski Isnan tidak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi tetap saja di hati Miska ada rasa takut.
"Apa yang mengganggu pikiran mu?"tanya Isnan dengan memegang pundak istri nya, Miska melihat wajah suami nya yang begitu teduh dan lembut.
"Kau sudah selesai mandi?"jawab Miska dengan menyusun piring di meja makan
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, sayang. Tetapi kau sudah memberiku pertanyaan, jawab dulu pertanyaan ku"Isnan mengecup pipi istri nya
"Entah lah mas"
__ADS_1
"Kok entah?"
"Terkadang muncul perasaan ragu di hati ku"
"Ragu? Pada siapa keraguan mu itu?"
"Pada mu"
"Kau ragu padaku?"Isnan membalikan tubuh istri nya, lalu memegang pundak nya"Katakan apa yang membuat mu ragu tentang ku?"tanya Isnan lembut, ia tidak ingin melukai hati istri nya
"Tentang anak, mas. Sampai saat ini kita belum memiliki anak, aku takut kau akan meninggal kan ku karena aku tidak bisa melahirkan anak untuk mu"Isnan tersenyum
"Sedikit pun aku tidak pernah mempermasalahkan tentang anak pada mu, karena kita di sini sama sama tau, bukan kau yang tidak bisa melahirkan keturunan untuk ku, tapi aku sayang, aku"Isnan menunjuk diri nya"Aku yang tidak bisa menanam benih di rahim mu"Mata Isnan memerah"Justru di sini aku yang takut, sayang. Aku takut kau yang akan pergi meninggalkan ku, karena aku tidak bisa memberi mu keturunan"Miska tidak menyangka ketika ia menyinggung soal anak justru suami nya yang menangis
"Maafkan aku, mas"Isnan langsung memeluk tubuh istri nya dengan erat"Sedikit pun aku tidak berniat membuat mu terluka, tapi aku hanya takut kau akan pergi dengan wanita lain yang bisa melahirkan keturunan mu"
"Percayalah pada ku, sedikit pun aku tidak ada niat melakukan itu, kau wanita satu satu nya yang aku cintai"Miska mengusap punggung suami nya, dan Isnan mengecup kening istri nya berkali kali.
"Terima kasih atas cinta dan kasih sayang mu selama ini pada ku, mas"ucap Miska dengan melepaskan pelukan nya"Aku bersyukur memiliki mu, karena hanya kau dan Hanna yang aku punya saat ini"Miska mengusap wajah suami nya, Isnan tersenyum. Ini lah yang ia suka dari istri nya.
"Sstttt"Miska menutup mulut suaminya dengan menggunakan jari nya"Aku lapar, bisa kita makan sekarang?"Ucap Miska manja
"Oh tentu, sayang"jawab Isnan dengan menarik kursi untuk duduk istri nya"Silahkan tuan putri"ucap Isnan membungkukkan setengah badan dengan menaruh tangan kanan nya di dada
"Tuan putri ingin menu yang mana?"
"Mana pun yang kau ambilkan pasti akan aku makan"Seandainya hidup Hanna seperti ini pasti ia akan bahagia meski suami nya bukan orang kaya.
"Kata nya lapar, makan lah"Miska melihat ke arah suami nya, ia masih memikirkan adik nya. Bagaimana ia makan dengan tenang, sedangkan ia tadi melihat ketiga anak adik nya makan hanya dengan lauk mie instan, lalu apakah bayi yang berada di dalam kandungan adik nya akan sehat
"Aku memikirkan Hanna, mas"
__ADS_1
"Kenapa dengan Hanna?"
"Suami nya di penjara"
"Di penjara?"Isnan begitu terkejut mendengar ucapan istri nya
"Ya, Tommy menikah lagi dan ia mengaku diri nya belum menikah. Pihak istri nya tidak terima dan menganggap Tommy menipu mereka"
"Lalu bagaimana dengan Hanna dan anak anak nya?"
"Aku mengatakan pada Hanna, agar ketiga anak nya kembali kan saja pada orang tua Tommy, mas"
"Lalu apakah adik mu setuju?"
"Hanna merasa keberatan mas, karena ia sudah begitu menyayangi ketiga anak Tommy"
"Hanna tidak salah jika ia menyayangi ketiga anak tiri nya, tapi ia juga harus memikirkan bayi yang berada di kandungan nya saat ini. Aku tidak menyepelekan adik mu, sayang. Tapi apa ada yang menerima ia bekerja dengan kondisi perut besar seperti itu"
"Itu lah mas, aku begitu iba melihat nya. Siapa yang akan menanggung kelangsungan hidup nya?"Miska menatap suami nya"Aku tadi memberi nya uang untuk cek kandungan nya mas, karena sudah dua bulan Hanna tidak pernah cek ke dokter mas"Miska menggenggam tangan suami nya"Maafkan aku, mas. Aku tidak izin terlebih dahulu pada mu, tapi percayalah uang yang ku berikan pada nya itu uang tabungan ku, meski uang itu pemberian dari mu, mas"Isnan membalas genggaman tangan istri nya, lalu mencium nya
"Itu hak mu, karena uang itu sudah ku berikan pada mu"Isnan mengambil uang dari saku nya berwarna merah dan ia memberikan pada istri nya beberapa lembar"Ini ada uang, besok kau berikan lah pada nya. Karena aku tidak ingin melihat istri ku muram karena selalu memikirkan adik nya"Miska langsung berdiri dan memeluk suaminya
"Terima kasih banyak mas, terima kasih atas pengertian mu"Miska merasa terharu dengan sikap suami nya
"Hanna sudah ku anggap seperti adik ku, jika ia membutuhkan uang atau apapun, kau jangan sungkan mengatakan pada ku, karena aku ini suami mu"Isnan mengusap kepala istri nya. Apakah di dunia nyata ada suami seperti isnan? Ia begitu menyayangi adik dari istri nya
Miska mengusap perut nya dengan lembut, nasib nya begitu buruk, setelah ia menikah tidak saja harus merawat ketiga anak tiri nya tetapi ia harus menerima perbuatan suami nya yang tidak pernah puas dengan satu istri. Ia masih memikirkan ucapan Miska, yang mengatakan ia harus mengantarkan ketiga anak nya kepada ibu dari suami nya. Hanna menatap si bungsu yang tidur begitu pulas lalu mencium nya sembari mengusap kepala nya, lalu ia melihat ke arah anak pertama dan kedua nya
"Haruskah kalian menanggung semua perbuatan ayah kalian? Sekarang tidak kalian saja yang harus menderita, tetapi adik kalian yang masih berada di perut ibu pun juga harus menanggung perbuatan ayah kalian"Miska menghapus air mata nya, hidup nya begitu berliku bahkan begitu sulit harus ia tanggung.
Ia melihat uang pemberian Miska yang di berikan nya tadi, ia menghitung nya
__ADS_1
"Jika aku besok memakai uang ini untuk cek, lalu bagaimana untuk kebutuhan kami selanjut nya? Ibuuuuu!"jerit Hanna dalam hati"Bagaimana aku mampu melewati semua nya, ibu. Jika aku sendiri saja tidak tau apa yang harus aku lakukan. Ibu selalu mengajarkan ku tentang ketegaran tetapi saat ini aku benar benar tidak mampu ibu"Hanna menangis"Aku tidak akan mampu melewati semua nya dengan sendiri ibu"Hanna menghapus air mata nya, ia melihat sekeliling kamar. Rumah ini adalah peninggalan kedua orang tua nya yang sudah tiada, Miska begitu baik karena dengan suka rela memberikan rumah ini untuk nya, ia tidak meminta sedikit pun uang dari nya. Karena rumah yang ia tempati sekarang seharusnya di bagi dua dengan Miska sang kakak.
"Ibu, terkadang aku merasa lelah. Tapi rasa lelah itu hilang ketika aku mengingat ada orang yang harus aku bahagiakan yaitu Anak ku, ibu. Dan ada masa depan nya yang harus aku perjuangkan. Ya Allah berikan lah kesehatan dan bahu yang kuat agar aku mampu bertahan"Ia menangkup wajah nya dengan menggunakan kedua tangan nya.