
Dengan berusaha menahan air mata, Hanna memasukan baju ketiga putra nya di dalam tas, ia tidak memasukan semua nya, ia meninggalkan baju ketiga nya satu stel satu stel, pasti ia akan sangat merindukan ocehan ketiga nya. Mungkin jika ia merindukan mereka, ia hanya dapat memeluk baju ketiga nya.
"Ini Bu"ucap Hanna dengan menyerahkan tas yang berisi baju ketiga nya, ibu mertua nya tidak menjawab, ia dapat merasakan perpisahan ini.
"Jika tinggal di sana jangan nakal ya nak"ucap Hanna dengan mengusap kepala mereka
"Ibu janji kan, akan sering melihat kami?"
"Tentu sayang"
"Jika adik sudah lahir bolehkan aku menjaga nya ibu?"ucap Diki
"Kamu memang kakak terbaik"ucap Hanna dengan mengusap pipi Dika
"Ibu, kami ingin berpamitan dengan Tante Miska"
"Tapi Tante Miska sedang pergi bersama om Isnan"
"Oh iya, tadi pagi aku melihat Tante Miska pergi bersama om Isnan naik mobil Bu"mertua Hanna hanya dapat tersenyum melihat tingkah cucu nya.
"Sekarang ikutlah bersama nenek dan kakek ya"ketiga nya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah nenek dan kakek nya.
"Maafkan ibu, Hanna"ucap mertua nya dengan memeluk Hanna sembari menangis"Terima kasih telah merawat cucu ibu dengan baik, sebenar nya ibu tidak begitu yakin bisa merawat mereka seperti diri mu, tetapi ibu yakin kau punya alasan yang memang benar ada nya"ucap mertua nya dengan melepaskan pelukan nya"Jika kau sudah melahirkan kabari ibu ya nak, karena bagaimana pun ini cucu ibu juga"ucap nya lagi dengan mengusap perut Hanna, namun hanna hanya mampu mengangguk kan kepala nya
Dengan berat hati Hanna mengantar kan ketiga jagoan nya masuk ke dalam mobil, ketiga nya juga masih dalam keadaan menangis. Jika Hanna boleh jujur sebenar nya ia tidak ingin berpisah dengan mereka, bahkan hati kecil nya tidak rela berpisah. Kalau ia mengetahui suami nya menikah lagi dan tidak masuk penjara mungkin ia akan mampu bertahan dengan kondisi seperti saat ini dengan merawat mereka. Namun sayang perjalanan hidup nya sudah tertulis dan tidak mungkin ia dapat mengubah nya. Karena perjalanan hidup nya tidak di tulis menggunakan pena sehingga ia dapat mengubah nya kapan pun ia mau. Lambaian tangan nya membuat dada nya begitu sakit, bahkan sakit nya tidak separah ketika ia mengetahui suami nya menikah lagi.
Hanna berdiri dimana kamar ketiga putra nya jika tidur malam, ia melihat lemari yang sudah tidak ada isi nya lagi
"Aku harus kuat, aku tidak boleh stres"ucap nya dengan mengusap perut nya"Masih ada yang harus aku pikirkan, terutama calon anak ku"
Sudah dua hari Hanna keliling mencari pekerjaan, dan akhir nya ia mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan toko, untuk saat ini apapun jenis pekerjaan yang ia dapat ia syukuri yang penting halal. Dengan semangat empat lima ia berangkat naik angkot, setidak nya uang yang ia terima dari Nina untuk modal ia naik angkot sebelum ia gajian. Bukan hal mudah bagi wanita hamil untuk melakukan pekerjaan yang di katakan tidak ringan, mengangkat dan menggeser kan kardus yang masih ada isi nya.
Ketika ia sedang istirahat ponsel nya berdering dan panggilan masuk dari no suami nya
"Ya"sahut Hanna datar ketika ponsel nya terhubung
"Selamat pagi, Bu"ia terkejut karena ternyata bukan suami nya tetapi orang lain
__ADS_1
"Pagi juga pak"
"Apa benar ini dengan istri, pak Tommy?"
"Ya benar pak"
"Maaf Bu, bisa tidak ibu datang ke rumah sakit Bhayangkara?"
"Rumah sakit? Siapa yang sakit pak?"tanya Hanna penasaran
"Maaf Bu, saya tidak bisa menjelaskan melalui ponsel"
"Tetapi saya baru masuk kerja pak, jika tidak ada alasan yang tepat maka saya tidak bisa pergi" ucap Hanna pelan namun hati nya mulai di liputi rasa takut
"Pak Tommy melakukan percobaan bunuh diri"
"Sampai kapan kau akan terus menyusahkan ku, mas"ucap Hanna pelan dan sedikit pun ia tidak terkejut, tetapi judit mendengar nya"Tidak bosan kah kau selalu membuat ku menderita, sekali saja buat aku bahagia mas"gumam nya lagi
"Pak Tommy meninggal Bu"
"Ha!"Hanna menjerit dengan menutup mulut nya, sebenci dan sesakit apapun ia terhadap suami nya ia tidak dapat memungkiri kalau ia akan sesakit ini ketika mendengar suami nya meninggal karen bunuh diri, Hanna menangis sembari mengusap perut nya"Sepicik itu kah pikiran nya sehingga membuat anak ku menjadi yatim sebelum ia lahir, lalu apa yang akan di katakan oleh ketiga putra mu, mas. Harus kah mereka menyesal karena kedua orang tua nya meninggal karena bunuh diri"pemilik toko mendekati nya karena ia melihat Hanna menangis tersedu sedu
"Suami saya, Bu. Suami saya"
"Iya saya tau, tapi suami mu kenapa?"
"Meninggal Bu"jawab Hanna dengan mengusap air mata nya
"Ha"pemilik toko yang bernama Bu linda menutup mulut nya, ia tidak dapat menutupi betapa terkejut nya ia
"Boleh tidak saya izin Bu"
"Pergi lah"Linda merasa iba melihat Hanna.
Dengan langkah tertatih-tatih ia menunggu angkot, ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Ibu...
__ADS_1
Aku gagal menjadi tulang rusuk, karena Tuhan telah mentakdirkan ku menjadi tulang punggung"ucap nya pelan ketika sudah berada di dalam angkot, orang orang yang berada di dalam angkot melihat nya penuh rasa iba, saat ini Hanna tidak perduli apa yang ada di pikiran mereka.
"Ya Allah saat ini aku sedang bersembunyi di balik kata pasrah, sebenar nya aku berharap tinggi pada Mu Tuhan, aku bisa berbohong pada semua manusia"ucap nya dalam hati dengan ******* ***** tangan nya"Tetapi tidak dengan Mu. Dimana Engkaulah lebih paham tentang hati ku di bandingkan diri ku sendiri. Tolong, tolong genggam hati ku seerat-eratnya Tuhan, sebab saat ini aku sangat rapuh, serapuh rapuh nya Tuhan"batin nya lagi, tangan nya gemetar, terasa dingin dan berkeringat"Tolong dekap aku hangat sehangat nya. Sebab saat ini tidak ada lagi tempat aku bersandar. Aku merasa gamang, gamang segamangnya karena tidak ada lagi tempat aku mengadu"mata nya sudah terasa begitu lelah, karena terlalu banyak air mata nya yang keluar"Jika harapan ini tidak ku simpan pada Mu. Lantas pada siapa aku simpan harapan ini?"
"Bukan kah ini yang kau ingin kan? Kau ingin menjadi seorang janda yang ditinggal suami nya karena mati bukan karena selingkuh?"ia menangkup wajah nya menggunakan kedua tangan nya yang gemetar
Sesampainya di rumah sakit, ia hanya mampu diam terpaku dengan melihat jasad suami nya yang tertutup kain putih, ia berusaha menepuk nepuk pipi nya beberapa kali untuk meyakinkan diri nya kalau saat ini ia tidak berada dalam mimpi. Sedikit pun air mata nya tidak keluar, namun hati nya terasa begitu sakit.
"Maaf mbak, ambulance sudah siap"Hanna menatap seorang polisi dan di samping nya seorang dokter"Bisakah mbak Hanna memberitahu alamat yang akan kita tuju?"tanpa memikirkan apa yang akan terjadi Hanna langsung memberikan alamat nya
Ketika mendengar suara sirene air mata Hanna tidak dapat ia bendung lagi, ia mendekap tubuh suaminya yang terasa begitu dingin dan kaku
"Kenapa harus sesakit ini luka yang kau tinggalkan oleh mu, mas!?"ia merintih"Berkali kali ku jatuh kan air mata ku untuk menangisi luka yang kau tinggalkan, agar luka yang kau tinggalkan sembuh tetapi justru luka ini semakin sakit karena terlalu dalam"Hanna menjatuhkan kepala nya di dada jasad suami nya"Ibu rasa nya begitu sakit sekali Bu... Jika aku meminta pada Tuhan untuk mengembalikan raga mu pada ku agar aku bisa berkeluh kesah pada mu, apakah itu pantas Bu?"ucap nya lirih"Meski itu mustahil tapi aku begitu sangat berharap Bu. Aku terlalu serakah dan egois pada Nya, karena akal sehat ku telah terkalahkan oleh luka yang ia toreh, Bu"
"Aku telah gagal menjadi ibu yang seutuh nya, karena peran ayah harus aku ambil untuk menghidupi anak ku yang belum lahir Bu"
Dengan tangan gemetar ia mengambil ponsel nya, lalu mencari nomor yang terlalu sering berada di panggilan keluar ponsel nya
"Halo"suara Miska di balik sebrang
"Mbak,,,"tangis nya pecah kembali,
"Ada apa Hanna? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Dan suara itu, bukan kah itu suara sirine ambulans?"Hanna menangis semakin tersedu sedu"Tolong katakan pada ku, Hanna. Jangan membuat ku takut"Isnan yang duduk di samping istri nya merasa heran
"Mas Tommy, mbak"Ia tidak sanggup lagi berkata kata, sungguh Hanna yang hebat, ia begitu luar biasa, ia begitu kuat. Jujur para pembaca jika aku di posisi Hanna sudah pasti kaki ku tidak mampu untuk menompa tubuh ku yang tidak berdaya.
"Katakan Hanna, apakah tejadi sesuatu pada mu? Apakah kau baik baik saja?"
"Mas Tommy meninggal mbak"
"Ha"Miska menutup mulut nya karena betapa terkejut nya dia, saat ini yang ada di pikiran nya bukan tentang Tommy, tetapi adik perempuan nya. Mampu kah adik perempuan nya melewati semua ini? Mampukah adik nya,, Miska menangis tersedu sedu di pundak suami nya. Takdir adik nya yang di tuliskan Tuhan begitu berat.
"Mas Tommy bunuh diri mbak"Hati Miska benar benar hancur, ia tidak rela adik nya menyandang status janda dalam kondisi hamil karena suami nya meninggal bunuh diri, pasti itu akan menjadi Boomerang untuk anak nya ketika lahir nanti. Ingin sekali rasa nya Miska memeluk tubuh adik nya yang ia yakini saat ini pasti benar benar putus asa dan sangat rapuh.
"Katakan, katakan pada ku kemana kau akan membawa jenazah suami mu?"
"Kerumah orang tua nya mbak"
__ADS_1
"Aku dan mas Isnan akan segera menyusul. Kau harus kuat Han, kau harus kuat. Karena aku yakin kau adalah adik perempuan ku yang paling terhebat, karena kau seperti ibu"ucap nya dengan menghapus air mata nya. Hanna hanya mampu tersenyum kecut di balik ponsel nya"Ingat Hanna, air mata keluar itu bukan karena kau lemah, itu menandakan kalau kau wanita terhebat"Miska berusaha untuk menguatkan adik semata wayang nya, sehingga ia tidak tau lagi apa yang harus ia katakan, tetapi setidak nya setiap ucapan nya mampu membuat Hanna lebih tenang. Saat ini Hanna hanya membutuhkan bahu sang kakak, karena ia benar benar lelah dengan takdir hidup nya.