
Tidak perlu mengeluh apa yang telah terjadi, sebab mengeluh tidak pernah memperbaiki keadaan. Masalah adalah ujian pendewasaan, jadi tidak ada alasan untuk menyalah kan orang lain. Berusahalah dengan sebuah harapan yang kamu impikan, dan dampingi lah usaha tersebut dengan kesabaran dan keikhlasan, niscaya kamu akan menemukan apa yang kamu impikan.
Tatit duduk termenung dengan menyandarkan tubuh nya di bantal, ia masih memikirkan apa yang telah ia dan putra nya lakukan, bahkan saat ini dia belum mengetahui keadaan Kinar, keberanian untuk menanyakan perihal keadaan Kinar hilang begitu saja ketika melihat adik laki laki nya begitu marah, bahkan mungkin akan lebih marah jika ia tahu Irsyad telah di bebaskan dengan jaminan.
"Mi"panggil Arifin, tidak ada jawaban hanya tatapan dari Tatit"Apa mami sudah tahu soal kabar Kinar dan calon cucu kita mi?"Tatit menggelengkan kepala"Coba mami telpon Arifin dan tanyakan tentang keadaan Kinar, Apa ia sudah pulih?"
"Mami tidak memiliki keberanian Pi"
"Mami sudah melakukan kesalahan yang begitu besar, siapa pun orang nya pasti tidak akan rela putri nya di sakiti"
"Mami benar benar merasa bersalah dengan Kinar pi"
"Mudah mudahan Kinar dan calon cucu kita baik baik saja ya mi? Papi masih tidak percaya atas tindakan keji yang di lakukan oleh putra kita mi, hal ini lah yang membuat papi tidak bisa menanyakan kabar tentang Kinar kepada Arifin, mi"Tatit hanya diam"Papi mau ke kantor mi, oh ya coba mami tanya pelan pelan sama Arifin atau bila perlu mami datang ke rumah nya dan minta maaf"kata Irfan dengan meninggalkan istri nya. Tatit mengambil ponsel nya dan ingin menghubungi adik nya, lagi lagi ia begitu takut
"Lebih baik Kinar saja yang ku telpon, tapi apa Kinar sudah baikan? Keberanian ku benar benar telah musnah, bagaimana cara mengembalikan keberanian ku ini? Benar kata papi, lebih baik sekarang aku kerumah Astrea" Tatit buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia langsung pergi ke rumah adik laki laki nya
Begitu ia sudah sampai di depan rumah adik nya, lagi lagi ia masih memiliki rasa takut, tidak jangan merasa takut Tatit, jika niat mu memang tulus semua nya akan baik baik saja, kau memang bersalah mungkin jika kau meminta maaf keadaan akan sedikit membaik, walau kau tidak yakin sepenuh nya akan hal itu.
Di tekan bel yang terpasang di depan rumah, ia menekan nya beberapa kali, benar dugaan nya yang membuka pintu nya ternyata adik laki laki nya yang kelihatan sudah rapi dengan jas kantor nya
"Untuk apa lagi mbak Tatit kemari? Bukan kah sudah aku katakan jangan menampakan wajah mu di hadapkan ku?"
"Maafkan aku, Fin?"tangan Tatit begitu dingin dan gemetaran ketika memegang tangan Arifin
"Ternyata kamu masih memiliki keberanian setelah apa yang kamu lakukan terhadap putri dan calon cucu ku, mbak"Tatit terdiam dengan tertunduk
"Pa"Panggil Astrea dengan mengusap lengan suami nya"Lebih baik papa berangkat ke kantor"Ucap Astrea dengan melihat wajah kakak ipar nya
__ADS_1
"Itu lebih baik dari pada harus berhadapan dengan manusia tidak punya hati"
"Papa"
"Aku berangkat dulu"Astrea mendekati Tatit dan memegang tangan nya, sekejam apapun kakak ipar nya, ia lah yang membawa nya sampai ketitik keberhasilan.
"Masuklah mbak"Ajak Astrea dengan menggandeng tangan kakak ipar nya"Duduklah mbak"Astrea berdiri untuk mengambil kan minum
"Duduklah As, kamu tidak perlu repot repot"
"Hanya minum"
"Aku tidak haus"Astrea menurut dengan duduk di sebelah Tatit
"Aku ingin tau tentang keadaan Kinar" butiran bening jatuh di wajah nya yang mulai kelihatan keriput"Aku minta maaf As, sungguh aku ingin minta maaf, walau permintaan maaf ku tidak akan bisa merubah segala nya, bahkan mungkin Kinar tidak akan semudah itu untuk memaafkan ku, As"
"Aku sudah tidak memiliki muka untuk bertemu dengan nya"air mata nya semakin jatuh, pada hal ia sangat menantikan calon cucu yang saat ini bersemayam di rahim Kinar, tetapi setelah apa yang ia lakukan rasa nya ia sudah tidak memiliki hak lagi, apalagi memvalidasi kalau itu adalah cucu nya"Apa keadaan Kinar sudah membaik As?"Tatit menatap wajah Astrea dengan sendu, setelah kejadian dimana Kinar koma, makan dan tidur nya pun tidak teratur
"Alhamdulillah sudah mbak"
"Alhamdulillah ya Allah"sahut Tatit dengan penuh rasa haru"Haruskah aku merasa bahagia atau aku justru merasa sedih As?"Tatit memegang tangan Adik ipar nya"Bahkan aku sangat yakin, Kinar tidak akan mengizinkan ku untuk melihat cucu ku ketika lahir"ia semakin menangis tersedu sedu membuat hati Astrea menjadi iba
"Mbak,, percayalah pada ku, putri ku tidak sejahat itu, bahkan hati nya begitu baik, tetapi jika dia tidak mengizinkan mbak Tatit melihat nya itu karena dia masih menyimpan kemarahan"
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahan ku, As? Katakan lah, semua akan aku lakukan agar Kinar bisa memaafkan ku?"
"Aku juga tidak tau mbak"jawab Astrea dengan menarik nafas nya begitu dalam
__ADS_1
"Jika perlu sekarang juga aku akan ke Jogja"
"Tapi mbak,,,"ada keraguan di hati Astrea, bagaimana jika putri nya tidak suka dengan kehadiran Tatit? Bagaimana jika Kinar menolak permintaan maaf dari Tatit?
"Sekarang juga aku akan ke Jogja As"
"Mbak"Panggil Astrea dengan memegang lengan Tatit"Jika Kinar belum bisa memaafkan atas apa yang telah terjadi, aku harap mbak Tatit tidak akan memaksa nya dan tidak akan sakit hati atau pun kecewa"
"Kinar berhak berbuat apapun As, dan dia juga berhak menolak permintaan maaf ku, jika itu terjadi sedikit pun aku tidak akan marah, tidak akan sakit hati atau pun kecewa. Setidaknya aku sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan ini"Tatit menghapus air mata nya"Aku pergi dulu ya As"
Tatit langsung menuju stasiun kereta api, ia ingin secepatnya sampai di Jogja. Ada keraguan di hati nya ketika ia sudah sampai di depan pintu rumah ibu nya, apakah ibu nya juga akan marah dan membenci nya? Entahlah ia pun tak tau. Di kumpulkan keberanian nya untuk menekan bel, suara langkah kaki
"Ibu"
"Dimana ibu, bi Narsih?"
"Ada di dalam Bu"
"Kalau Kinar?"
"Kalau hari gini mbak Kinar belum pulang Bu, sekitar jam limaan mbak Kinar baru pulang"
"Oh,,"
"Silahkan masuk Bu"
"Terima kasih banyak Narsih"
__ADS_1
"Ibu sedang di kamar tidur siang Bu, kalau ibu mau masuk, masuk saja Bu"Tatit menganggukkan kepala. Berulang kali ia menarik nafas, tetapi tetap saja dada nya masih bergetar begitu kencang.