Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Khawatir Bercampur Marah


__ADS_3

Irsyad mulai terlihat putus asa ketika sudah lima rumah sakit ia datangi namun ia belum menemukan keberadaan istri nya. Begitu Kinar menuju klinik ibu dan anak, dimana selama ini ia kontrol kehamilan nya, ia langsung berhenti memarkirkan mobil nya lalu turun dari mobil, ia berlari kecil sambil memegang perut nya yang terasa keram, rasa sakit yang ia rasakan tidak ia hiraukan, saat ini yang terpenting bagi nya keselamatan Nina, ia masih terbayang begitu banyak darah berceceran dari kaki Nina


"Sus,, suster" panggil nya pelan dengan menyeka keringat yang membasahi wajah nya


"Iya Bu"


"Tolong sus, tolong"perawat langsung menolong Kinar karena melihat kondisi Kinar dengan memegang perut dan berkeringat


"Ibu kenapa? Ibu mau melahirkan?"Kinar menarik nafas nya yang terengah engah dengan memegang perut nya"Duduklah Bu"ajak seorang suster dengan membawa kursi roda"Ibu jangan khawatir"


"Bukan saya, sus"ucap Kinar dengan memegang tangan seorang suster


"Lalu siapa Bu?"


"Teman saya, sus. Teman saya di mobil"Kinar mengajak beberapa suster menuju mobil nya, langkah nya mulai lemah. Tetapi ia harus kuat, jika ia pingsan siapa yang akan menolong Nina, sementara Nina lebih membutuhkan pertolongan. Dengan cepat suster menolong Nina dan membawa nya masuk ke dalam menggunakan kursi roda, sedang kan Kinar mengambil tas nya dan pelan pelan ia masuk ke dalam rumah sakit. Perut nya semakin keram, ia duduk di kursi tunggu dan menyandarkan tubuh nya yang terasa lemas.


Seorang suster mendatangi nya dengan membawa kursi roda, suster menatap Kinar yang mulai pucat dengan wajah di penuhi keringat


"Mari Bu"


"Saya tidak sakit sus"


"Ibu juga harus di rawat, wajah ibu begitu pucat"


"Bagiamana dengan kondisi sahabat saya, sus?"


"Ibu jangan khawatir, dokter sedang menangani sahabat ibu"Kinar berdiri dengan di bantu suster untuk duduk di kursi roda, ia meringis menahan sakit, suster meletakan tas di atas paha nya, lalu ia di bawa masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan. Begitu sampai ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan, Kinar berdiri dengan tangan gemetaran


"Mbak Kinar Kenapa?"Kinar tidak menjawab hanya meringis menahan sakit


"Bu Kinar tadi berlari dokter"dokter Ega terkejut dengan melihat ke arah Kinar yang kini sudah berbaring miring dengan mengusap perut nya, dokter Ega mengusap perut Kinar yang keras

__ADS_1


"Mbak Kinar harus menjaga kandungan nya mbak, bayi dalam perut mbak Kinar kontraksi"Kinar meremas tangan dokter Ega, tangan nya terasa dingin karena berkeringat"ini sangat berbahaya mbak"


"Tapi bayi saya tidak kenapa kenapa kan dokter?"tanya Kinar dengan meremas tangan dokter Ega


"Jika hal ini terjadi terus menerus dengan terpaksa bayi mbak Kinar lahir secara prematur"


"Tolong dok, tolong jangan biarkan bayi saya lahir belum waktu nya"mohon Kinar dengan meringis


"Suster tolong pasangkan infus"


"Baik dokter"suster yang sudah profesional ia akan cepat melakukan apa yang di minta oleh dokter, Sekarang bukan perut nya saja yang terasa keram tetapi juga tangan nya terasa sakit


"Tahan ya mbak, ini akan mencegah bayi mbak Kinar lahir secara prematur"Kinar hanya menganggukkan kepala, jarum yang di suntikkan melalui jarum infus terasa sakit"Apakah suami mbak Kinar tau kalau mbak Kinar berada di sini?"Kinar hanya menggelengkan kepala nya"Hubungi suami nya mbak agar bisa menemani mbak Kinar malam ini"Ega mengusap kembali perut Kinar yang masih terasa keras, berlahan lahan mulai lemas dan tidak keras seperti pertama kali datang


"Bagaimana dengan kondisi sahabat saya, dokter?"


"Mbak Kinar tenang dan jangan khawatir, hal ini lah yang memicu kandungan mbak Kinar kontraksi, teman mbak Kinar sudah di tangani dengan dokter"dokter Ega masih mengusap perut Kinar"setelah perut mbak Kinar sudah tidak keram lagi baru bisa menjenguk teman nya"


"Sus tolong antarkan mbak Kinar ke ruangan rawat inap"


"Baik dokter"


Saat ini Kinar masih benar benar khawatir dengan kondisi Nina, ia takut terjadi sesuatu dengan kandungan sahabat nya. Begitu masuk ke dalam ruang rawat inap Kinar mengambil ponsel yang berada di dalam tas nya, alangkah terkejut nya ia ketika melihat begitu banyak panggilan masuk dari suami dan bi Narsih


"Halo,, kau dimana? Apa yang terjadi? Apakah kau dan bayi ku baik baik saja?"suara Irsyad terdengar khawatir


"Iya aku baik baik saja mas"


"Lalu dimana kau sekarang?"


"Aku di rumah sakit ibu dan anak, mas" tep telpon di tutup begitu saja oleh Irsyad, ia melajukan mobil nya dengan kencang tanpa memikirkan akibat nya, Kinar menarik nafas nya begitu berat, ia meletakan ponsel nya dan mengusap perut nya

__ADS_1


"Maafkan ibu nak, bukan ibu sengaja untuk menyakiti kamu, tapi ibu melakukan semua ini ada alasan nya"ucap nya dengan menitikkan air mata"Pasti ayah mu sangat khawatir dan ibu sangat yakin ayah mu pasti akan marah pada ibu"Kinar mengusap air mata nya,


"Apa yang terjadi?"suara yang begitu ia kenal dan masuk tanpa permisi apa lagi mengetuk pintu


"Mas"panggil Kinar dengan menangis, dengan lembut Irsyad membawa kepala Kinar ke pelukan nya


"Apa yang terjadi?"tanya irsyad dengan melihat jarum infus yang terpasang di tangan istri nya


"Nina mas"


"Ada apa dengan Nina?"


"Nina pendarahan mas"Irsyad kini tau kalau darah yang berceceran di lantai menurut cerita bi Narsih pada nya itu bukan darah kinar tetapi darah Nina


"Jika itu darah Nina, lalu mengapa kau juga di rawat?"tanya Irsyad penuh selidik"dan apakah kau menyetir mobil sendiri?"Kinar menatap suami nya yang sedang menahan amarah, Kinar mengangguk kepala"Bukan kah aku sudah mengatakan kalau ada sesuatu yang genting kau harus memberitahu ku?"


"Aku bingung mas"


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mu dan calon anak kita, apakah kau memikirkan semua itu?"


"Aku benar benar bingung mas"Kinar mulai menangis


"Bukan berati kau mengabaikan keselamatan mu"Kinar menatap suami nya dengan tajam"Aku sudah seperti orang gila ketika bi narsih memberitahu ku kalau banyak darah berceceran di lantai"


"Aku begitu khawatir dengan kondisi Nina, mas"


"Selain diri mu, ia masih memiliki saudara. Ayah dan ibu nya juga masih adakan?"kali ini nada bicara Irsyad naik satu oktaf"Apa dia tidak tau kalau kau juga lagi hamil? Dan aku rasa dia lebih tau kondisi mu dari pada aku"Kinar menatap suami nya


"Harus kah aku tidak perduli pada nya begitu maksud kamu, mas? Sementara aku berada di hadapan nya" Kinar mengusap perut nya yang terasa keras"Bantuan yang aku berikan saat ini pada nya, aku rasa belum cukup di bandingkan bantuan nya pada ku saat kau tidak bersama ku, mas"Kinar menarik nafas nya"Lebih baik kau keluar mas, kehadiran mu bukan membuat ku semakin tenang"Irsyad menatap penuh iba ke arah istri nya"Pergilah, kau sudah tau bukan kalau aku dan calon anakmu baik baik saja"Irsyad menatap ke arah istri nya sebelum ia keluar dari ruang rawat inap istri nya


Saat ini memang Irsyad yang harus mengalah karena ia sudah salah, jika ia berada di dalam kamar maka pertengkaran pasti tidak akan terhindar kan. Ia tau betapa besar nya pengorbanan Nina pada istri nya, tapi apakah salah jika ia merasa khawatir? Atau rasa khawatirnya terlalu berlebihan? Jika ia di anggap bersalah oleh istri nya, ia akan meminta maaf tapi tidak sekarang karena hati kedua nya masih sama sama lagi panas

__ADS_1


__ADS_2