
Miska masih menatap adik nya yang tidak henti henti nya menangis, ia tau mungkin jika ia di posisi adik nya ia pasti tidak akan sanggup menjalani nya sendiri. Ia tau saat ini hati adik nya benar benar lagi rapuh.
"Sekarang kau pikirkan lah tentang pendapat ku. Jika menurut mu benar, kau bisa mengambil saran ku tetapi jika tidak itu semua terserah pada mu"Hanna masih diam"Lebih cepat kau menyerah kan mereka pada keluarga nya itu lebih baik, tapi jika kau belum sanggup untuk berpisah dengan mereka, kau tidak harus melakukan nya sekarang"Miska memegang tangan adik nya"Pikirkan lah"Miska menarik nafasnya "Aku pulang dulu, kakak ipar mu sebentar lagi pulang dari kantor"Kata Hanna dengan menyerahkan uang di atas meja
"Untuk apa ini mbak?"
"Sudah dua bulan kau tidak pernah kontrol kandungan Hanna, jangan karena ketiga anak tiri mu, kau mengabaikan kesehatan darah daging mu"
"Tapi mbak"Hanna ragu untuk menerima nya
"Ambil lah, dia itu calon keponakan ku, meski aku tau perilaku ayah nya begitu sangat buruk pada mu"Miska menggenggam tangan adik nya"Aku Memang sangat membenci ayah nya tetapi bukan berarti aku juga membenci anak nya"Hanna semakin menangis mendengar ucapan kakak nya"Apakah kau sudah makan?"Hanna menggelengkan kepala nya"Makan lah, jaga kesehatan mu"
"Sekali lagi terima kasih mbak"
"Aku pulang, jika kau butuh sesuatu kau jangan sungkan sungkan bicara pada ku"Hanna hanya menganggukkan kepala, bersyukur kah ia ketika menghadapi sebuah masalah masih ada sang kakak yang selalu pasang badan untuk nya?
"Masuk lah dan jangan lupa kunci pintu nya"lagi lagi Hanna hanya menganggukkan kepala karena begitu perhatian nya sang kakak pada diri nya.
Hanna mengantar kan sang kakak sampai depan pintu, ia menatap kakak nya yang berjalan dengan terburu buru karena ia melihat mobil kakak ipar nya sudah terparkir di depan rumah nya, ia sangat tau kalau kakak ipar nya sangat mencintai kakak nya bahkan sangat mengagungkan kakak nya. Tetapi ia sangat sedih sampai saat ini kakak nya juga belum memiliki keturunan. Setiap rumah tangga memiliki masalah masing masing dan sesuai takaran nya. Hanna menutup pintu lalu mengunci nya, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat ketiga anak anak nya apakah mereka sudah tidur atau belum, ternyata ketiga nya sudah tidur begitu lelap.
Andre masih setia menunggu di dalam mobil namun yang di tunggu tidak kunjung keluar, lupa kah Hanna jika saat ini ada yang sedang menunggu nya? Maaf Andre, Hanna lupa jika saat ini kau sedang menunggu nya, jangan pernah datang ke rumah nya karena keadaan nya sedang tidak baik baik saja.
Setelah mandi ia merebahkan tubuh nya yang terasa begitu lelah, bahkan sedikit pun ia tidak merasakan yang namanya lapar, ia mengusap perut nya dengan lembut
"Maafkan ibu, nak. Bukan tidak ada keinginan ibu untuk membawa mu ke rumah sakit, tapi kondisi keuangan ibu sedang tidak baik"ucap Hanna tersenyum dengan mengusap perut nya"Tante mu memang sangat baik, ibu tidak tau bagaimana cara membalas nya"lalu ia mencium pipi gemoy si bungsu dengan lembut
"Ya Allah!"pekik Hanna dengan menepuk kening nya"Mas Andre,, pasti dia masih menunggu ku, tapi tidak mungkin aku keluar rumah jam segini, apa kata para tetangga ketika mereka melihat ku menemui pria di pinggir jalan sedang kan suami ku tidak di rumah?"ucap nya"Maafkan aku, mas. Saat ini tidak baik menemui mu, suatu saat jika kita bertemu kembali aku akan meminta maaf pada mu"
Hari ini Kinar masih betah dengan tidur nya bahkan mata nya kelihatan sembab karena kebanyakan tidur. Astrea sang mama sudah kembali ke jakarta, sedang kan nenek sibuk dengan bisnis kuliner nya
"Mbak"panggil Narsih
"Hm"jawab Kinar dengan mata terpejam
"Sudah sore mbak, apakah mbak Kinar tidak mandi dan makan?"
"Mata ku masih terasa begitu berat bi"
"Jika mbak Kinar hari gini masih tidur, nanti yang ada mbak Kinar tidak bisa tidur malam, mbak"
"Setidak nya aku sudah tidur siang dengan puas, bi"jawab nya dengan mata masih terpejam
__ADS_1
"Tapi tidak baik wanita hamil tidur malam malam mbak"
"Sebentar lagi ya bi, mata ku benar benar masih berat"Narsih hanya menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum
"Kalau begitu bibi ke dapur dulu ya mbak?"
"Hm"Kinar melanjutkan tidur nya, sampai ia tidak mendengar panggilan masuk di ponsel nya. Seperti ini lah wanita hamil yang mendekati kelahiran, ia akan tidur di siang hari sampai menjelang sore dan ketika malam mata nya tidak dapat di pejam kan. Entah berapa kali Irsyad menghubungi ponsel istri nya tetapi tidak di angkat juga
"Iya mas"
"Bibi dimana?"
"Di rumah mas"
"Saya menghubungi ponsel istri saya tidak di angkat bi, Apakah istri saya tidak di rumah?"
"Oohh,,, mbak Kinar sedang tidur mas"Jawab Narsih
"Tidur? Hari gini masih tidur?"suara irsyad di seberang sana terdengar begitu khawatir
"Iya mas, malam tadi mbak Kinar tidak bisa tidur mas, ketika tidur sudah jam lima subuh"
"Tidak, mbak Kinar hanya merasakan keram di perut nya mas, sehingga membuat nya tidak bisa tidur"
"Tapi istri saya baik saja kan bi?"
"Baik mas, baik"
"Sekarang bi Narsih masuk ke dalam kamar, terus bangun kan istri saya, dan suruh mandi dan makan bi"
"Baik mas"Narsih mematikan ponsel nya dan berjalan menuju kamar Kinar
"Mbak, mbak Kinar"panggil Narsih dengan memegang lengan Kinar
"Ada apa bi?"tanya Kinar pelan
"Mas Irsyad nelpon ponsel mbak Kinar, tapi kata nya tidak di angkat, mbak"mendengar nama Irsyad, ia langsung bangun dan duduk
"Kenapa bibi tidak membangun kan ku?"
"Jangan kan mendengar suara saya, suara dering ponsel sendiri saja tidak dengar"
__ADS_1
"Masak sih bi?"Kinar mengambil ponsel dan ia melihat panggilan tidak terjawab"iya Bi, mas Irsyad menelpon ponsel ku, bi"
"Mandi lah mbak, setelah itu makan. Kalau tidak nanti mas Irsyad akan memarahi saya, mbak"Kinar menatap bi narsih
"Baik bi, aku akan mandi setelah itu baru makan bi"
"Saya tunggu di luar ya mbak"
"Iya Bi"
Dengan langkah malas, Kinar berjalan ke kamar mandi dengan memegang perut nya, begitu masuk ke dalam kamar mandi, ia tidak langsung mandi. Tetapi ia bercermin dan melihat wajah nya yang sembab.
"Kenapa muka ku menjadi sembab seperti ini? Perasaan tadi sebelum tidur muka ku tidak sembab seperti ini?"kata nya dengan diri sendiri dengan mengusap wajah nya yang begitu sembab.
"Bi, bi narsih"jerit Kinar keluar dari kamar mandi dengan memegang perut nya"Bi, bi Narsih!"
"Ada apa mbak?"Jawab Narsih dengan lari tergopoh gopoh"Ada apa mbak?"Narsih melihat ke arah Kinar"Mbak Kinar kenapa manggil bibi, apakah mbak Kinar sakit?"
"Tidak Bi"Narsih mengusap dada nya"Muka saya kok sembab ya bi?"
"Oh walah,,, mbak. Bibi kira ada apa?"Narsih melihat ke arah wajah Kinar yang memang sembab"Wajah mbak Kinar kok sembab ya?"
"Aku nanya bi?"
"Tapi setahu bibi, kalau hamil tua seperti itu mbak"
"Masak sih bi, perasaan waktu Kinan hamil badan dia tidak seperti aku, Bi?"
"Wanita hamil memang beda beda mbak"Kinar mengkucir rambut nya yang berantakan"Tapi jika mbak Kinar khawatir, lebih baik mbak Kinar ke dokter saja mbak, konsultasi gitu"
"Kalau malam ke rumah sakit tidak ada dokter kandungan yang jaga bi, yang ada dokter umum, bi"
"Ya kalau begitu mbak Kinar ke tempat praktek dokter kandungan saja, mbak"
"Lebih baik besok pagi saja aku periksa bi, lagian tidak ada yang sakit"
"Kalau menurut mbak Kinar seperti itu, ya sudah besok pagi saja. Lagian kalau pergi sekarang bibi takut mbak kinar tidak ada yang menemani"Kinar tersenyum
"Aku mandi dulu, bi. Setelah itu kita baru makan ya?"
"Iya mbak"Kinar masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar nya, ia masih penasaran dengan perubahan bentuk tubuh nya yang begitu signifikan"Mudah mudahan kita berdua baik baik saja ya, nak?" Ucap nya dengan mengusap perut nya yang bundar.
__ADS_1