
Setelah kembali nya liburan selama tiga hari, Irsyad kembali bekerja dan Kinar meminta suami nya untuk mengantarkan dirinya ke kafe, pada hal irsyad melarangnya karena Kinar harus istirahat
"Istirahat lah, pasti kau sangat lelah"
"Aku bosan di rumah terus mas"jawab Kinar manja"Jika aku lahiran pasti aku tidak bisa kemana mana mas"ucap nya dengan memasang dasi suami nya
"Kau keberatan melahirkan anak ku?"
"Bukan begitu maksud ku, mas. Ini lah kesempatan ku untuk bisa keluar dengan bebas sebelum anak mu lahir"Irsyad tersenyum dengan mencubit hidung Kinar dengan pelan namun menimbulkan warna merah
"Aku sudah pernah mengatakan pada mu, ini lah saat nya kau menikmati sosok istri yang sebenarnya"Kinar hanya tersenyum"Kau harus mendengarkan kata kata ku?"
"Iya"
"Kalau suami bertanya jawab nya yang ikhlas?"
"Aku ikhlas mas"jawab nya"Bahkan aku ikhlas lahir dan batin"Irsyad mencium bibir istri nya
"Tiga hari bukan waktu yang singkat menghabiskan waktu kita berdua mas"
"Tapi rasa nya waktu tiga hari itu sangat cepat, bahkan aku selalu ingin bersama mu terus"
"Kau ingin membuat calon anak dan istri mu kelaparan?"
"Tentu tidak, bahkan aku ingin ketika ia lahir nanti ia akan bangga memiliki ayah dan ibu seperti kita"ucap Irsyad dengan mengusap perut istri nya, Kinar hanya tertawa
"Sekarang kita sarapan ya, sebelum rasa lapar ku hilang karena mendengar rayuan gombal mu"
"Aku sedang tidak menggombal mu, aku mengatakan yang sebenarnya. Apakah kau tidak percaya dengan setiap ucapan ku"Irsyad membawa tangan istri nya di atas dada nya"Kau merasakan detak jantung ku?"Kinar menatap suami nya, lalu dengan cepat irsyad membawa kepala istri nya kedalam pelukan nya"Kau mendengar kalau detak jantung ku menyebut nama mu?"Kinar tertawa terbahak bahak dan melepas kan pelukan nya lalu memukul dada suami nya
"Kenapa kau tertawa? Kau tidak bisa mendengar kan detak jantung ku?"
"Aku mendengar nya, tapi suara detak jantung mu bukan menyebut nama ku tetapi,,,"
"Tetapi apa?"Irsyad penasaran
"Tidak ada, aku Ingin sarapan mas, perut ku benar benar sangat lapar"
Setelah selesai sarapan, Irsyad langung pergi menuju kantor. Hari hari yang ia lalui saat ini benar benar begitu membahagiakan, karena terlalu bahagia senyum manis selalu menghiasi bibir nya
Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, Kinar sedang duduk di kamar menyusun perlengkapan calon bayi nya, Irsyad lah yang memilih semua nya. Seperti nya ia tidak memiliki hak untuk memilih baju untuk calon bayi nya. Sungguh sangat menyedihkan bagi nya, siapa yang hamil dan siapa pula yang melahirkan. Tapi bagi nya tidak masalah karena itu arti nya Irsyad sangat menyayangi calon anak nya. Pintu kamar nya di ketuk dari luar
"Masuk bi, pintu nya tidak ku kunci"jawab nya dengan masih sibuk menyusun pakaian calon bayi nya, bahkan ketika pintu di buka ia tidak melihat nya
"Kinar"suara yang sangat familiar, ya itu suara sahabat terbaik nya. Nina langung memeluk tubuh nya sembari menangis
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"tanya Kinar
"Maafkan aku, Kinar"ucap nya dengan melepaskan pelukan nya"Tidak seharusnya waktu itu aku bicara seperti itu pada mu"
"Aku sudah melupakan nya"
"Kau memang sahabat terbaik ku"Nina menggenggam tangan Kinar"Aku sangat merindukan mu"Kinar tersenyum dengan menatap sahabat nya"Begitu banyak kisah yang ingin aku bagi pada mu, apakah kau ada waktu?"Nina melihat sahabat nya yang masih sibuk menyusun perlengkapan calon anak nya"Aku yakin pasti kau sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mendengar kisah ku?"
"Kau salah, aku siap mendengarkan kisah mu. Ceritakan lah pada ku"
"Kau tidak terganggu?"
"Tidak"Kinar berdiri membawa Nina keluar dari kamar nya, dan ia membiarkan begitu saja baju calon anak nya yang berantakan di atas ranjang nya
"Kau ingin minum sesuatu?"
"Tidak"Nina mengikuti langkah Kinar yang membawa nya ke taman belakang
"Ceritakan lah pada ku, aku akan mendengar semua kisah mu"ucap Kinar ketika sudah duduk
"Aku telah salah mengatakan pada mu kalau pria brengsek itu lebih baik dari suami mu"Kinar hanya diam"Kau tau Kinar? Kalau istri nya sekarang ini korban pemerkosaan nya"
"Ha!"Kinar begitu sangat terkejut
"Dan apakah kau tau istri pertama nya meninggal karena bunuh diri? Bahkan Hanna begitu baik mau merawat ketiga orang anak yang bukan darah daging nya, dan lebih parah nya anak itu adalah anak Tommy dari istri pertama nya. Kau tau berapa anak Tommy dari istri pertama nya?"Kinar menggeleng kan kepala nya
"Ya Allah"Ucap Kinar tidak percaya
"Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kelanjutan hidup nya dengan kondisi hamil, lalu bagaimana nasib ketiga anak nya? Tommy begitu tega membuat calon anak nya menjadi yatim sebelum lahir"Nina menarik nafas nya yang begitu terasa berat"Selama ini aku merasa perempuan yang paling di sakiti Tommy ternyata Hanna lebih tersakiti di bandingkan aku. Aku begitu egois Kinar"Nina menangis kembali
"Wajar kau bersikap begitu karena kau belum mengetahui segala nya"
"Tetapi aku merasa bersalah, terutama dengan mu dan pak Irsyad"Kinar memegang tangan sahabat nya"Pasti suami mu sakit hati dan marah pada ku?"
"Tidak, mas Irsyad tidak seperti itu. Bahkan dia sedikit pun tidak ada mengatakan tentang itu"
"Sungguh aku merasa malu Kinar, malu"
"Untuk apa kau merasa malu? Mas Irsyad dan aku memaklumi nya"
"Aku merasa malu, Tommy terlalu busuk. Pantas kalau dia malu untuk hidup maka nya ia mengakhiri hidup nya dengan cara bunuh diri. Pasti ia sadar kalau ia tidak pantas untuk hidup di muka bumi ini"
"Tidak baik berbicara seperti itu, doakan saja semoga Tuhan mengampuni semua dosa dan kesalahannya nya. Kau bisa menganggap Hanna itu saudara perempuan mu bukan madu mu"ucap Kinar"Jalin lah silaturahmi dengan nya, karena hidup mu lebih baik di banding kan diri nya. Bahkan kau tau harus bagaimana ia melanjutkan hidup nya dengan kondisi hamil, harus kah ia menjadi tukang cuci pintu ke pintu hanya untuk sesuap nasi?"Nina menatap Kinar dengan sendu
"Pasti ia sangat berat melalui semua ini"
__ADS_1
"Itu sudah pasti"
"Maukah kau menemani ku berkunjung ke rumah nya?"Kinar ragu untuk menjawab nya"Pasti kau tidak mau menemani ku?"
"Aku akan minta izin terlebih dahulu pada mas Irsyad"
"Kau istri yang baik, wajar saja kalau pak Irsyad bisa bucin dengan mu"mereka berdua tertawa. Kinar mengambil ponsel yang berada di atas meja lalu mencari nama Irsyad di ponsel nya
"Iya sayang, aku baru pergi beberapa jam kau sudah menghubungi ku, apakah kau merindukan ku?"goda Irsyad di balik ponsel Kinar, ia se
"Sudah pasti aku merindukan mu, mas"terdengar suara Irsyad tertawa bahagia
"Katakan ada apa kau menghubungi ku, pasti ada sesuatu?"Tanya Irsyad membuat Nina merasa iri
"Aku boleh keluar mas?"
"Kemana? Naik apa? Dengan siapa? Lama tidak?"
"Terlalu banyak pertanyaan mu, mas"
"Kalau begitu dengan siapa kau akan pergi?"
"Nina mas, aku pergi dengan Nina"
"Lalu mau kemana dia mengajak ku?"
"Ke rumah istri mantan almarhum suami nya"
"Jangan katakan kalau Tommy telah tiada?"
"Ya, Tommy sudah tiada mas"Irsyad menarik nafas nya
"Apakah kau mengizinkan ku?"
"Pergi lah, katakan pada Nina nyetir mobil nya jangan laju laju"
"Siap pak"jawab Nina
"Kau harus hati hati membawa istri dan calon anak ku, dan ingat jangan terlalu lama"
"Siap pak"
"Pergi lah, ingat jangan terlalu lelah"
"Iya mas, kalau begitu aku matikan ponsel nya ya"
__ADS_1
"Hm"ucap Irsyad, Kinar langsung mematikan ponsel nya. Nina lega ternyata Irsyad tidak sakit hati pada nya dan lebih senang nya ia mengizinkan nya membawa Kinar.