Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Masih nyesak


__ADS_3

Hanna masih duduk termenung di kursi meja makan, ia bingung apa yang harus ia lakukan untuk langkah selanjut nya. Apakah ia harus mengikuti saran yang di berikan oleh Miska atau tidak? Entah sudah berapa kali ia mengusap wajah nya dengan menggunakan tangan, ia terlihat begitu gusar. Suara ketukan dari luar terdengar, ia merapikan rambut dan mengusap sisa sisa air mata di wajah nya, begitu pintu di buka, ia terkejut karena Miska pagi pagi sudah berkunjung ke rumah nya


"Mbak Miska... Apakah ada hal penting yang membuat kau berkunjung ke rumah ku?"tanya Hanna dengan wajah penuh ketakutan"Apakah mas Isnan tau kalau mbak Miska memberi ku uang, lalu mas Isnan marah?"Hanna memegang tangan Miska, dan Miska merasa tangan adik nya terasa gemetar dan dingin


"Duduklah"Miska membawa Hanna duduk


"Jawablah mbak, tolong jangan membuat ku merasa takut"Miska tersenyum lembut dengan mengusap tangan Hanna yang kelihatan gemetar"Uang nya masih aku simpan mbak, bahkan ini belum aku gunakan sama sekali"Hanna menunjukan uang yang malam tadi di berikan oleh Miska kepada nya


"Dengar Hanna"ucap Miska lembut"Sedikitpun mas Isnan tidak marah pada ku, justru ia memberikan uang ini untuk mu"Miska memberikan uang pemberian dari suami nya, Hanna menatap uang yang berada di tangan kakak nya, dan ia ragu untuk menerima nya


"Aku tidak tau mbak ucapan apa yang harus aku berikan pada mu, mbak. Kau terlalu baik pada ku"Hanna menangis dengan memeluk kakak nya"Kau adalah kakak terbaik yang ku miliki"


"Kita itu saudara Hanna, aku tidak akan bisa tinggal diam melihat mu menderita"hati kakak mana yang tega melihat kondisi adik nya seperti Hanna"Kau tau?"Ia melepaskan pelukan adik nya dan meletakan uang yang berada di tangan nya di atas meja, lalu memegang kedua pipi adik nya yang penuh air mata, mereka berdua seperti anak kecil yang sedang berbagi cerita"Kita dari kecil sudah tidak memiliki ayah, ketika ibu bekerja aku harus menjaga mu, dan kini kita sudah tidak memiliki yang nama nya seorang ibu dan ayah. Lalu bagaimana kau akan mampu berjalan sendiri, sementara dulu ketika kau sedang belajar berjalan aku yang menuntun mu"Hanna menangis dengan menundukkan kepala nya"Dari kau lahir sampai dewasa, aku tau berapa ukuran kaki mu"Hanna semakin menangis, ia tidak mampu lagi mengucapakan sepatah kata pun


"Sampai saat ini aku pun tidak mampu berjalan sendiri di atas kaki ku, mbak"Jawab Hanna dengan menangis tersedu sedu"Aku sudah berusaha untuk belajar, tetapi tetap saja aku tidak mampu mbak"Hanna mengusap air mata nya"Tolong ajarkan aku, mbak. Agar aku mampu berjalan di atas kaki ku sendiri, supaya hidup ku selalu tidak bergantung pada mu. Aku sangat malu dengan mas Isnan, dia terlalu baik ku sebut sebagai kakak ipar, mbak"Miska merengkuh tubuh adik nya yang begitu ringkih, ia tau saat ini adik nya tidak akan mampu melewati semua nya sendiri


"Mas Isnan sudah menganggap mu seperti adik nya sendiri, jadi kau tidak perlu sungkan apa lagi merasa takut"


"Aku hanya tidak ingin kalian berpisah mbak, karena kau terlalu sering membantu ku"


"Jangan katakan itu Hanna, aku sudah izin terlebih dahulu kepada mas Isnan ketika memberikan uang ini pada mu"


"Bagaimana aku mampu membayar nya mbak"Hati Miska semakin sakit dan terasa teriris, sedikit pun ia tidak pernah membayangkan kehidupan adik yang begitu ia sayangi akan seperti ini, ia menatap wajah adik nya dengan sendu. Bagaimana ia akan mampu menyakiti hati adik nya, sedangkan wajah adik nya begitu mirip dengan ibu nya bahkan seperti Copy paste. Wajah yang penuh kelembutan. Miska menjadi rindu akan ibu nya, sosok yang penyayang terhadap anak anak nya, bahkan ibu nya tidak pernah memarahi nya apalagi memukul nya


"Kau tidak perlu memikirkan itu, uang ini bukan hutang Hanna, ini adalah pemberian seorang kakak kepada adik nya"Air mata Hanna sudah tidak terhitung seberapa banyak keluar, jika ia tidak memiliki Miska mungkin ia akan merasa putus asa dan tidak tau apa yang harus ia lakukan dengan hidup nya. Kehidupan nya begitu rumit bahkan rumus matematika dan kimia yang begitu rumit bisa ia jabarkan, tetapi hidup nya tidak mungkin bisa ia jabarkan seperti rumus matematika dan kimia. Ia masih bersyukur memiliki sosok kakak yang baik dan perduli terhadap nya.


"Kau terlalu baik mbak"Miska menggenggam tangan adik nya, sejak dulu ketika Hanna punya masalah dan menangis ia lah yang selalu menenangkan nya dengan cara menggenggam tangan dan memeluk nya. Miska begitu menyayangi adik nya, karena sejak kecil mereka di tinggal sang ayah, sedangkan ibu nya sibuk mencari uang untuk menafkahi mereka. Mata Hanna begitu sembab, dan Miska tau adik nya menangis sejak kemaren sepulang dari kantor polisi, ingin rasa nya ia mencekik leher Tommy yang telah membuat hidup adik nya menderita, tetapi ketika ia mengetahui Tommy masuk penjara ia merasa senang, karena dengan begini adik nya bisa terlepas dari belenggu ikatan pernikahan yang tidak seharusnya terjadi.


"Kau jangan stres, karena jika kau stres bayi dalam kandungan mu juga akan ikut stres"ucap Miska dengan mengusap perut adik nya"Jika kau tidak sanggup merawat anak mu ini, aku bisa merawat nya"ucap Miska pelan karena ia takut menyinggung perasaan adik nya"Maksud ku jika kau tidak sanggup, aku bersedia Hanna"ada perasaan iba di hati Hanna mendengar ucapan kakak nya, tapi bagaimana pun ia tidak akan tega memberikan bayi nya ketika sudah lahir. Karena ini adalah anak pertama nya, meski ia tau ayah nya tidak akan mungkin bertanggung jawab terhadap bayi nya.

__ADS_1


"Jika kelak bayi ku sudah lahir, kau bisa menganggap nya seperti anak mu sendiri mbak"


"Terima kasih Hanna"wajah Miska penuh rona kebahagiaan"Apakah ketika bayi mu lahir nanti, aku bisa membawa nya pulang ke rumah ku untuk menginap beberapa hari?"tanya nya dengan mengusap perut Hanna


"Tentu saja mbak, tentu"


"Kau yang hamil, aku yang bahagia Hanna"ucap Miska yang terlihat begitu senang"Kau tau, aku sudah tidak sabar menantikan kelahiran anak mu, Hanna"


"Bersabar lah mbak, tiga bulan lagi anak ku akan lahir di dunia ini"jawab Hanna dengan mengusap perut nya


"Ambil lah uang ini"Miska menyerah kan uang kepada adik nya


"Tapi mbak"Hanna ragu


"Ambil lah, dan pergi lah ke rumah sakit dan cek kandungan mu. Anak anak mu tidak usah di bawa dan tinggalkan bersama ku"Miska yang baik"Eh, dimana mereka?"Miska mencari ketiga anak Hanna yang lucu lucu dan menggemaskan


"Biasakan kepada anak anak mu, agar mereka bangun lebih awal"


"Aku tidak tega membangun kan mereka, mbak"


"Sampai kapan kau harus tega pada mereka Hanna? Kau tidak memukul dan memarahi mereka, kau hanya mengajarkan anak mu untuk lebih disiplin"Hanna terdiam"Segera lah pergi ke dokter. Ketiga anak mu, aku yang akan menjaga nya"


"Terima kasih mbak"Hanna memeluk kakak nya


"Apakah kau sudah masak?"Hanna menggelengkan kepala nya"Kau tidak perlu masak biar mereka makan di rumah ku. Sekarang bangun kan mereka karena aku akan membawa nya ke rumah ku"


"Kalau begitu sebentar ya mbak"Hanna berjalan menuju kamar dimana mereka sedang tidur, begitu ia masuk ke dalam kamar ketiga nya sudah bangun dan sedang duduk


"Eh, kalian sudah bangun?"

__ADS_1


"Sudah ibu"


"Lalu kenapa tidak segera keluar?"


"Ibu sedang bicara dengan Tante Miska, jadi kami tidak ingin mengganggu ibu"


"Anak pintar"Hanna mengusap pipi ketiga nya"Sekarang pergi lah ke kamar mandi"


"Kami harus mandi Bu?"


"Iya dan jangan lupa gosok gigi, ibu tunggu di depan ya, karena Tante Miska sedang menunggu kalian"


"Hore, berarti kami akan ke rumah tante Miska, ibu?"


"Iya"


"Ibu akan pergi kemana? Apakah ibu akan meninggalkan kami?"Sulung yang pintar yang memiliki nama Dika, yang nomor dua bernama Diki dan yang ketiga Dian


"Tidak, ibu hanya akan pergi ke rumah sakit"


"Ibu sakit?"tanya Dika menatap Hanna begitu serius


"Ibu ke rumah sakit karena ingin melihat kondisi adik kalian yang saat ini masih berada di perut ibu"ucap Hanna dengan mengusap perut nya


"Adik sakit?"tanya Dian yang imut. Wajah nya begitu polos, Hanna tersenyum dengan mencubit pipi gemoy Dian


"Tidak, sekarang pergi lah mandi. Kasihan Tante Miska terlalu lama menunggu kalian semua"


"Baik ibu"Hanna tersenyum, bagiamana ia akan sanggup berpisah dengan mereka. Ketiga anak tiri nya begitu baik dan penurut.

__ADS_1


__ADS_2