Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Masih Tidak Akan Sanggup


__ADS_3

Andre mengantar kan Hanna sampai di pinggir jalan, dan ia hanya melihat nya tanpa ikut turun. Hanna langsung di sambut dengan pelukan hangat oleh ketiga anak nya


"Ibu kemana saja? Kok lama sekali pulang nya?"tanya si sulung yang baru berusia lima tahun, Hanna menatap kakak nya dengan senyuman


"Ibu ada urusan, apakah kalian menangis?"


"Tidak"jawab ketiga nya dengan bersamaan


"Anak pintar"Hanna menepuk pipi ketiga anak nya dengan lembut"Sekarang bilang apa sama Tante?"


"Terima kasih Tante"


"Anak anak pintar, sekarang kalian pulang dan ingat jangan nakal ya, kasihan ibu kalian"kata Miska dengan melihat ke arah adik nya yang kelihatan begitu lelah.


"Iya Tante"betapa gemas nya mereka bertiga, si sulung jalan duluan sedangkan kedua adik nya menggandeng tangan Hanna sambil loncat kegirangan.


"Terima kasih mbak"Miska hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum, sebenar nya ia ingin bertanya kemana adik nya pergi, dan kenapa setelah kembali ke rumah mata nya begitu sembab, pasti telah terjadi sesuatu. Namun niat itu ia urungkan, karena akan ada pertanyaan dari ketiga keponakan nya yang lucu lucu


"Apakah kalian lapar?"


"Aku sangat lapar ibu"jawaban sangat polos dari mulut anak kedua nya


"Kalian ingin makan apa?"


"Aku ingin makan mie, ibu"jawab si bungsu dengan mendongak kan kepalanya menatap Hanna sembari tersenyum


"Baiklah, ibu akan masak mie buat kalian, tetapi kalian harus mandi terlebih dahulu"


"Iya ibu"harus kah ia mengorbankan kebahagian mereka demi kebahagian nya sendiri, itu terlalu egois. Mereka tidak salah, mereka hanya korban keegoisan ayah nya, dan bukan berarti ia juga harus mengorbankan mereka yang tidak tahu apa apa.


"Aku tidak bisa meninggalkan mereka, aku tidak boleh egois, lalu bagaimana cara nya agar aku bisa menyambung hidup untuk mereka?"Tama si sulung membuka kan pintu dan menyalakan lampu


"Tama"

__ADS_1


"Iya Bu"


"Ibu minta tolong, mandi kan kedua adik mu ya, ibu akan masak untuk makan malam kalian"


"Iya Bu"Tama begitu dewasa di usia nya yang masih di bilang balita, dengan telaten ia membawa kedua adik nya ke kamar mandi, sedangkan Hanna sibuk memasak di dapur meski hati nya sedang berkecamuk


"Kalian sudah selesai?"tanya Hanna ketika ia melihat mereka sudah rapi dengan baju nya, ketiga nya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum"Kalau begitu kita makan sekarang"anak anak yang baik, mereka langsung duduk dengan memegang piring nya masing masing. Hanna menyendok kan nasi kedalam piring ketiga nya


"Sekarang makan lah, tapi sebelum makan kalian berdoa terlebih dahulu"Tama memimpin doa dan setelah itu mereka menyantap makan, mereka begitu lahap meski lauk nya hanya dengan mie instan. Hati Hanna begitu terenyuh melihat mereka yang tidak pernah mengeluh apapun yang ia masak.


"Ibu kenapa tidak makan?"tanya Tama


"Ibu tidak lapar, kau makan lah setelah itu langsung tidur"


"Ibu harus makan, jika tidak makan pasti adik ku yang di dalam perut ibu akan kelaparan"Tama yang baik, Tama yang penurut, Tama yang perhatian meski usia nya masih terlalu dini. Hanna mengusap kepala bocah lima tahun dengan lembut


"Ibu akan makan nanti, setelah ibu mandi"Makan malam telah berlalu tinggal lah Hanna yang masih duduk dengan melihat uang seratus ribu pemberian kakak nya


"Hanna"panggil Miska dengan memegang punggung adik nya yang sedang mencuci piring


"Ahhh"jerit Hanna terkejut dengan memegang perut nya


"Apa yang sedang kau pikirkan?"Miska menatap adik semata wayang nya"Kau ada masalah? Ceritakan lah pada ku barang kali bisa mengurangi beban di hati mu, ingat Hanna saat ini kau sedang mengandung jangan karena kau stres bayi dalam kandungan mu juga akan ikut stres"Hanna masih terdiam"Kau tidak mempercayai ku?"ini bukan kali pertama nya ia di khianati oleh suami nya"Ingat Hanna kita itu bersaudara"


jika ia mengatakan kepada kakak nya apakah kakak nya akan menyalakan nya atau justru mendukung nya, ia masih terdiam dengan melihat perut nya yang mulai membesar


"Kau ragu untuk menceritakan nya pada ku?"Hanna masih terdiam"Ayolah Hanna jangan diam saja"Hanna masih diam tanpa reaksi sedikit pun"Kau dari mana? Kenapa mata mu begitu sembab? Apakah kau bertengkar dengan suami mu?"Hanna membawa Miska ke meja makan


"Harus dari mana aku menceritakan semua nya mbak? Dada ku terasa begitu sakit"


"Katakan lah, barang kali setelah kau cerita pada ku, beban mu akan berkurang"


"Mas Tommy, mbak"Hanna tidak dapat menahan air mata nya, hati nya begitu sakit

__ADS_1


"Tommy berulah lagi?"Hanna menganggukkan kepala nya"Kenapa pria seperti Tommy itu tidak bisa berubah, tidak ingat kah dia pada mu yang saat ini tengah mengandung darah daging nya?"


"Mas Tommy di penjara mbak"


"Ha"Miska terkejut"Apa yang di lakukan nya sampai harus masuk penjara?"


"Kasus penipuan mbak"


"Apa dia menikah lagi?"Hanna menangis dengan menganggukkan kepala nya"Pria seperti dia itu harus di kebiri, dia itu penjahat kelamin Han"


"Saat ini aku benar benar bingung mbak"


"Apa yang kau bingung kan? Tanpa kau melaporkan nya ke polisi, ia sudah di tahan"


"Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup ku, mbak?"Hanna memegang dada nya"Bagaimana cara ku untuk memenuhi kebutuhan ku sehari hari, mbak Miska tau kondisi ku saat ini"Miska menetap adik nya dengan penuh iba, selama Tommy pergi dan tidak memberi kabar, Miska lah yang memenuhi kebutuhan adik dan ketiga anak nya. Hati Miska begitu miris melihat kehidupan adik nya, jangan kan untuk membeli baju baru untuk makan setiap hari saja Hanna harus berusaha payah, lalu bagaimana langkah selanjut nya sementara suami adik nya saat ini berada di kantor polisi.


"Aku bingung mbak"jawab Hanna sembari menutup wajah dengan menggunakan kedua tangan nya"Aku bingung, bagaimana aku bisa menghidupi mereka, mbak"Miska mengusap bahu adik nya yang menangis"Haruskah aku menyerah kan ketiga anak mas Tommy kepada keluarga nya?"


"Jika itu adalah jalan satu satu nya agar mereka terjamin masa depan nya kenapa tidak?"


"Tapi aku tidak bisa mbak"


"Kenapa?"


"Aku sudah terlanjur menyayangi mereka, mbak"


"Kalau hanya gara gara kasih sayang tetapi masa depan mereka terancam itu percuma Hanna"Miska menatap adik nya yang masih menangis"Kau bisa menjenguk mereka kapan pun kau mau"


"Aku tidak akan sanggup menjawab pertanyaan mereka dan tangisan nya ketika aku meninggalkan mereka, mbak"


"Lama kelamaan kau akan terbiasa, kau juga harus memikirkan bayi yang saat ini masih dalam kandungan mu, masa depan nya juga harus kau pikirkan. Saat ini jangan kau pikirkan masa depan nya, untuk biaya kelahiran nya, biaya hidup nya setelah ia lahir juga mulai kau pikirkan"Hanna menatap kakak nya"Aku bisa membantu biaya untuk lahiran mu nanti, tetapi aku juga tidak bisa berjanji bisa membantu mu ketika ia sudah lahir. Kau tau, aku juga punya keluarga kalau hanya sekedar membantu uang belanja mu, aku mampu tetapi sampai harus kapan?"tanya Miska"Aku tidak keberatan membantu mu, tetapi ketiga anak mu itu bukan tanggung jawab mu apalagi aku. Mereka hanya anak tiri mu bukan berati keluarga suami dan mantan istri dari suami mu menyerahkan tanggung jawab sepenuh nya pada mu, tapi jika ayah nya mampu menafkahi kau itu baru tanggung jawab mu"Miska bicara panjang lebar"Kau tau sendiri sudah berapa bulan suami mu pergi, pernah kah ia menafkahi mu dan ketiga anak nya? Kau boleh saja baik Hanna, tapi jangan bisa kau di bodoh bodohi oleh suami macam Tommy"


Hanna diam sambil berpikir, apa yang di katakan kakak nya benar, selama ini ia sudah terlalu baik mau mengurusi ketiga anak suami nya meski ia tidak pernah di beri nafkah lahir. Ia masih bersyukur ketiga anak tiri nya tidak minum susu, tidak ngompol, juga tidak banyak permintaan dan mereka terlalu baik. Itulah yang membuat diri nya bisa menerima mereka seperti anak nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2