
Kinar memainkan gelas nya dengan cara memutarkan nya
"Kamu sudah menikah Tin, maksud saya kamu sudah memiliki suami?"
"Sudah Bu"
"Oh ya"jawab Kinar terkejut"Sudah punya anak?"
"Sudah Bu"Kinar tersenyum
"Kalau kamu kerja siapa yang menjaga anak mu?"
"Suami saya Bu"
"Suami kamu tidak kerja, maaf maksud saya,,,?"
"Suami saya kerja nya malam Bu, satpam di PT X"
"Oh,,,"Kinar menganggukkan kepala nya"Anak kamu sudah besar?"
"Baru berusia 18 bulan Bu"Kinar menatap Titin, ia pasti tidak akan sanggup ketika anak nya sudah lahir akan di tinggal kerja satu harian, itu pasti sangat berat nya
"Ibu melamun?"
"Ah tidak, kamu hebat"ucap Kinar dengan tersenyum"Pasti anak kamu lucu ya Tin, dan pasti sangat menyenangkan ketika kamu pulang di sambut dengan senyum manis nya"Kinar tersenyum sendiri
"Inu sedang hamil? Maaf maksud saya,,,"Kinar hanya membalas nya dengan senyuman, semua karyawan mengenal Kinar yang ramah dan tidak sombong.
"Terima kasih atas waktu nya Tin"kata Kinar dengan menyentuh lengan Titin"Saya duluan ya Tin"sebelum kembali ke ruangan nya, Kinar mengisi gelas nya yang kosong dengan air putih kembali
"Iya Bu"Titin tersenyum melihat Kinar"Aneh sejak kapan Bu Kinar minum air putih ingin di temani ngobrol"batin Titin
Belum lagi Kinar sampai ke ruangan nya sudah waktu nya jam istirahat, semua pegawai berhamburan keluar, pasti mereka sangat senang karena hari ini mereka akan makan gratis di restauran mahal lagi. Tetapi tidak dengan Kinar.
__ADS_1
Kinar masuk ke dalam ruangan nya, dan tanpa menutup pintu Kinar menunggu Nina, tiba tiba Kinar merasakan kepala nya pusing dan perut nya juga terasa mual, di pijit nya kepala nya untuk mengurangi rasa sakit, tidak sengaja Irsyad melihat keruangan Kinar yang tidak di tutup, dipandangi nya Kinar yang sedang memijit kepala nya
"Aku penasaran sebenar nya sakit apa dia"batin Irsyad"Apakah benar dia sakit asam lambung karena stres atau yang lain nya? Tapi kenapa badan nya tidak kurus, hanya tulang leher nya kelihatan begitu menonjol"batin Irsyad berkecamuk"Nanti setelah di rumah aku akan menanyakan nya"Irsyad buru buru berjalan karena dia melihat Nina sedang berjalan menuju ruangan Kinar
"Kamu kenapa Kin?"tanya Nina begitu masuk melihat wajah Kinar yang pucat sedang memijit kepala nya
"Kepala ku pusing dan perut ku terasa mual Nin"Kinar buru buru lari ke toilet di dalam ruangan nya, Nina mengejar nya sama seperti pagi tadi muntah tapi tidak ada yang di muntah kan, Nina memijit tengkuk Kinar
"Tolong ambilkan minyak angin di tas ku Nin" kata Kinar pelan, Nina berlari begitu cepat karena dia begitu khawatir dengan kondisi Kinar, dengan lembut Nina mengusap tengkuk Kinar dengan menggunakan minyak angin
"Gimana sudah mendingan?"tanya Nina dengan melihat Kinar yang mencuci muka nya dengan air wastafel
"Sudah agak mendingan m"jawab Kinar dengan berjalan ke arah sofa yang berada di ruangan nya
"Kalau kamu masih mual mendingan kita gak usah ikut makan bersama mereka"kata Nina menatap wajah Kinar yang sayu, Kinar mengambil minyak angin di tangan kinar dengan pelan dan mengusap kan di perut nya yang masih rata
"Tidak enak Nin apa kata mereka nanti?"
"Katakan saja pada mereka, kalau kamu sedang tidak enak badan"Kinar hanya diam"Apa kamu sudah minum vitamin dan obat mual nya?"Kinar menggelengkan kepala
"Kamu marah Nin?"tanya Kinar dengan menyadarkan tubuh nya di jok kursi depan
"Tidak, tapi aku tidak suka kamu terlalu memaksa, apa lagi di sana kamu akan bertemu dengan Susan"Kinar tersenyum dengan pandangan menuju jalan lurus
"Jangan khawatir Nin, aku sudah terbiasa"Nina melengos kesal, begitu sampai di restauran yang di share di grup Nina dan Kinar melihat pengunjung begitu ramai sekali, bahkan nampak mobil berjejer di halaman parkiran, di hati Nina khawatir dengan keadaan sahabat nya ini, Kinar merapikan rambut nya yang berantakan, dengan santai Kinar dan Nina turun dan langsung masuk, benar dugaan Nina, suami sahabat nya itu sudah duduk dengan manis dengan kekasih nya, meski tidak kelihatan mesra dan kesan nya menjaga jarak, tapi tetap saja itu membuat Kinar sakit
Sayang sekali kursi yang kosong hanya tinggal satu meja dan itu tepat di sebelah Irsyad, Kinar hanya mengikuti langkah Nina
"Duduklah"kata Kinar tanpa memandang suami nya sedikit pun, Nina terdiam bagaimana mungkin Kinar akan sesantai ini melihat suami nya sedang bersama kekasih nya
"Jangan melamun"Kata Kinar dengan menyenggol tangan Nina, tapi Nina hanya diam, tangan Nina melambai untuk memanggil pelayan
"Iya mbak"
__ADS_1
"Bisa minta air hangat satu gelas"
"Tentu mbak"
"Jangan lama ya mbak"pelayan itu mengangguk kan kepala, tidak membutuh kan waktu lama pelayan itu mengantar kan segelas air di atas nampan, Kinar mengeluarkan paper bag nya dan menyendok kan susu ke dalam gelas dan mengaduk nya
"Kamu tidak ingin makan sesuatu?"
"Aku minum susu saja Nin"jawab Kinar dengan mengeluarkan obat nya
"Kamu minum obat tanpa makan terlebih dahulu?"tanya Nina yang membuat Irsyad memandang kami berdua"Makan lah barang sedikit saja untuk mengisi perut mu, setelah itu baru minum obat nya"
"Istri kamu sedang sakit ya sayang"?tanya Susan dengan manja yang sedang duduk di depan irsyad, Kinar hanya diam tanpa perduli dengan mereka, namun hati nya kenapa terasa panas dan sakit
"Ia mengatakan kalau dia sakit asam lambung"
"Pantas saja wajah nya pucat sekali"Irsyad memandang wajah Kinar yang memang kelihatan pucat, akhir nya pesanan yang di tunggu oleh mereka datang juga.
"Bu kinar tidak makan?"
"Saya masih kenyang"semua menawarkan makan, tapi Kinar menolak dengan lembut, Nina melambaikan tangan kembali untuk minta segelas air putih
Nina membuka tablet obat milik kinar dan menyerahkan pada nya, begitu air putih yang di minta Nina datang, Kinar langsung meneguk obat nya
"Habis kan susu nya Kin"Kinar menurut kata Nina, begitu susu nya habis habis, Kinar memasukan obat dan susu nya ke dalam paper bag nya
"Kita pergi dari sini yuk Nin"
"Kita mau kemana?"
"Nongkrong ke mall yuk"
"Dengan senang hati nona muda, itu keputusan yang tepat sekali"jawab Nina dengan sedikit membungkuk kan badan nya dengan melirik ke arah Irsyad, tak ayal membuat Irsyad tertawa dalam hati
__ADS_1
"Apaan seh Lo ah"kata Kinar dengan memukul lengan Nina, Kini Nina kelihatan bahagia karena keputusan Kinar untuk pergi dari sini itu adalah keputusan yang tepat.