Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Rasa Khawatir


__ADS_3

Terkadang lebih baik diam, dari pada menjelaskan apa yang kita rasakan, karena menyakitkan ketika mereka bisa mendengar tapi tidak bisa mengerti.


Di luar sana masih banyak orang yang lebih layak untuk bersedih dari pada kita, tapi mereka masih bisa merasa bahagia. Masih banyak orang yang lebih layak mengeluh dari pada kita, tapi mereka masih tetap bersyukur. Masih banyak orang yang lebih layak berputus asa dari pada kita, tapi mereka masih tetap berjuang, tetapi mereka tetap bersyukur karena ini memang sudah takdir Tuhan.


Nina sudah siap dengan tas nya, tapi ia masih nunggu Kinar yang masih saja serius dengan laptop nya


"Pulang yuk"rengek Nina"Kamu kalau sudah kerja suka lupa waktu, kasihan calon bayi mu, dia juga butuh istirahat"Kinar menatap Nina dengan tersenyum"Ingat masih ada hari esok, kamu dari tadi duduk terus apa tidak terasa pegal pinggang mu?"Kinar justru mengusap perut nya sambil tersenyum"Pulang yuk, sudah sore lagian pamali wanita hamil mandi malam malam tau"


"Yang pamali itu sehabis pulang kerja tidak mandi"


"Kamu kalau di kasih tau suka ngeyel"


"Oke,, oke, ya sudah kita pulang, lagian kaki ku terasa keram"


"Bagaimana kaki mu tidak keram, dari tadi kamu duduk terus tidak ada bergerak, ingat Kin jangan memikirkan diri kamu sendiri, kamu juga harus memperhatikan perkembangan calon bayi mu"


"Baik Bu dokter, kalau begitu mari kita pulang"Pada hal pengunjung kafe mulai ramai karena ini malam kamis


"Nina, kamu tidak perlu repot report mengantarkan ku pulang, aku bisa mesan ojol atau taksi online"


"Jangan keras kepala"


"Sampai kapan aku selalu bergantung pada mu?"


"Sampai kamu tidak membutuhkan ku lagi"


"Diri mu sudah candu bagi ku"Nina tertawa terbahak bahak


"Aku sudah seperti morfin bagi mu, begitu maksud mu Kinar Humairah?"


"Sudah jangan ngaco, yuk pulang seluruh badan ku sudah terasa gerah"


"Kamu merasakan gerah juga?"


"Aku manusia bukan robot Nina, sehingga tidak bisa merasakan gerah"deg ketika diri nya menyebutkan kata robot ada yang sakit di hati nya, ia mengusap perut nya


"Kamu kenapa Nin?"tanya Nina khawatir karena ia melihat Kinar tengah mengusap perut nya


"Perut ku terasa lapar Nina"bohong Kinar


"Kirain ada apa, yuk buruan, kamu mau makan dimana biar aku antar"


"Makan di rumah saja Nin, kasihan bi Narsih susah susah payah masak tapi tidak ada yang makan"

__ADS_1


"Masakan rumah memang lebih sehat"mereka keluar dari dalam ruangan Kinar dan menuju parkiran


Di dalam perjalanan Kinar menyadarkan tubuh nya di bangku mobil sambil mengusap perut nya yang sedikit agak keram


"Perut kamu sakit?"


"Ah, tidak Nin, perut ku benar benar terasa lapar"


"Beli roti atau cemilan yang lain ya?"


"Tidak perlu Nin, sebentar lagi juga sampai"Nina sedikit menekan vedal gas mobil, akhir nya sampai juga, membuat hati Kinar sedikit lega. Ia tidak mau memberitahu kepada sahabat nya kalau perut nya sedikit keram, sudah terlalu banyak ia merepotkan Nina.


"Kamu tidak mampir dulu"


"Terima kasih, masuk lah dan segera makan. Jika butuh sesuatu kamu bisa menghubungi ku"


"Iya Nina iya"Jawab Kinar dengan tersenyum


"Besok tunggu aku ya"Kinar menganggukkan kepala, Nina memutarkan mobil nya dan menghilang di keramaian jalan


"Kenapa dengan perut ku, maaf kan ibu ya nak, pasti kamu begitu lelah"ucap Kinar sambil masuk ke dalam. Begitu terkejut nya Kinar ketika ia tau siapa yang membuka kan pintu untuk nya


"Mami"panggil nya terkejut


"Bi Narsih"


"Iya mbak"


"Dimana mami bi? Kenapa mami tidak ikut makan?"


"Oh ibu,mbak. Ada di belakang sedang di taman"


"Malam malam begini?"


"Iya mbak, dari tadi siang datang ketemu ibu terus kebelakang mbak"


"Apa mami sudah makan bi?"


"Dari tadi siang tidak ada makan apapun mbak"Kinar terdiam, Tatit kelihatan begitu berubah. Kinar penasaran ada hal apa mertua nya datang ke Jogja? Bahkan terlihat berbeda. Biasa nya mertua nya adalah orang yang paling ingin tau tentang kehamilan nya. Kinar buru buru menghabiskan nasi yang berada di piring nya dan berjalan menuju taman belakang, begitu gelap hanya cahaya lampu yang redup menerangi taman, ia melihat mertua nya sedang berdiri di depan taman


"Mami, kenapa mami berdiri di sini tanpa penerangan? Apakah mami baik baik saja?"


"Kinar"Panggil nya pelan dengan menghapus air mata nya

__ADS_1


"Mami baik baik saja, justru mami ingin tau apakah kamu baik baik saja setelah apa yang mami dan Irsyad lakukan pada mu?"Kinar menarik nafas sambil tersenyum meski senyum itu tidak terlihat oleh Tatit


"Seperti yang mami lihat, aku baik baik saja dan mami tidak perlu mengkhawatirkan itu"


"Tidak seharusnya nya mami menanyakan hal itu pada mu, karena sudah pasti kamu baik baik saja"ia menarik nafas nya yang terasa menghimpit dada nya"Kamu wanita hebat"


"Mi"panggil nya


"Hm,,"lagi lagi ia menarik nafas nya yang begitu sesak"Mami kesini hanya ingin meminta maaf pada mu setelah apa yang mami lakukan pada mu"


"Jujur aku tidak dendam pada mami bahkan membenci mami sedikit pun"Kinar mengusap perut nya"Aku hanya sedikit kecewa"


"Jika kau benci dan dendam pada mami, sedikit pun mami tidak akan marah"ucap nya penuh sesal"Mami berharap perbuatan mami di tulis dengan pensil agar mami bisa menghapus nya dan melakukan hal yang baik terhadap mu"Tatit menghapus air mata nya kembali"Sekali lagi mami minta maaf"Kinar penasaran dengan perubahan sikap Tatit yang berbeda, seharusnya yang berubah itu diri nya, lalu kenapa ini kebalikan nya"Istirahat lah dan tidur, waktu sudah malam pasti kamu lelah"


"Ya, aku memang begitu lelah"ucap Kinar dengan meninggalkan Tatit sendirian


Di dalam kamar nya Kinar tidak dapat memejamkan mata nya, ia miring ke kanan dan ke kiri dengan mengusap perut nya. Sebenarnya ia tidak tega bersikap seperti itu kepada mertua nya namun ia terpaksa. Tenggorokan nya terasa haus, dengan pelan ia menuju dapur, dan ia juga penasaran di mana Tatit berada, apakah dia juga sudah tidur?


"Bi Narsih"


"Mbak Kinar"


"Bi Narsih ngapain jam segini belum tidur?"waktu sudah menunjukan jam Satu dini


"Saya tadi sudah tidur mbak, tapi Bu Tatit membangun kan saya"


"Dimana sekarang mami bi?"


"Sudah pulang ke Jakarta mbak"


"Hah"Kinar terkejut


"Ibu kelihatan sedih mbak"


"Jam berapa tadi pergi nya bi?"


"Kalau tidak salah jam setengah satu mbak"


"Hah"Kinar begitu merasa bersalah dengan sikap nya yang terlalu cuek"Naik apa bi?"ia merasa khawatir dan takut, bagaimana mungkin mertua nya malam malam begini pulang sendirian, bagaimana jika terjadi sesuatu pada nya


"Naik bus mbak"


"Ya Allah"rasa takut menghampiri nya, ia buru buru masuk ke dalam kamar mengambil ponsel nya dan berusaha menghubungi nomor Tatit, tetapi nomor nya tidak aktif. Ia merasa dada nya berdebar debar seperti telah terjadi sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2