
Kinar kelihatan begitu gelisah sehingga membuat nya jalan mondar mandir di depan ruangan UGD, sedangkan Narsih berdiri dengan ******* ***** tangan nya untuk menghilangkan rasa takut nya. Sementara Nina hanya memperhatikan Kinar yang masih gelisah dengan pelan ia menarik tangan Kinar
"Duduklah"kata Nina dengan memegang kedua punggung kinar"Duduklah kita tunggu dokter keluar"Kinar hanya menganggukkan kepala dengan membelai perut nya"Lihatlah anak mu juga sudah lelah mengikuti gerakan ibu nya"Nina menatap Kinar dengan menarik nafas bagaimana bisa Kinar segesit ini meski dia sedang kondisi hamil
"Keluarga ibu Rianti"seorang suster memanggil dengan cepat, Kinar mendekati suster itu
"Saya sus, bagaimana dengan kondisi nenek saya sus?"
"Ibu bisa menemui dokter Shella setelah ini"
"Tapi bagaimana dengan kondisi nenek saya sus?"tanya Kinar namun suster pergi tanpa memberi penjelasan terlebih dahulu kepada Kinar. Ia berusaha mengejar suster itu tapi Nina menarik tangan Kinar dengan menggelengkan kepala dan seorang dokter perempuan cantik keluar
"Keluarga ibu Rianti"
"Iya saya dokter"jawab Kinar dengan berjalan ke arah dokter Shella
"Kinar"panggil Shella yang sangat mengenali Kinar"kamu tidak mengenali ku?"Kinar menoleh ke arah Nina
"Shella"panggil Nina"Apa kabar?"
"Baik Nina, baik"Shella masih mengingat nama Shella"Kamu apa kabar?"mereka berdua saling berjabat tangan
"Baik, eh Kinar kamu tidak ingat dengan nya? Dia Shella teman kita waktu SMA dulu"Kinar sebenar nya ingat kalau shella adalah teman sekelas nya, tapi Kinar lebih mengingat jika Shella pernah mengisi hari hari Irsyad dengan penuh canda tawa
"Ya aku mengingat nya, apa kabar dokter Shella?"
"Panggil saja shella Kin jangan memakai embel embel dokter"Shella menjabat tangan Kinar"Kamu sudah menikah? Kenapa tidak mengundang ku?"Kinar hanya tersenyum
"Kamu juga sudah menikah?"tanya Kinar dengan melihat sebuah cincin yang tersemat di jari manis tangan Shella
"Sudah malah aku menikah sudah dua tahun. Tapi Allah belum mempercayai ku untuk memiliki keturunan"wajah Shella berubah muram"oh ya apakah ibu Rianti,,,,"
"Dia nenek ku Shell bagaimana dengan keadaan nya apakah baik baik saja?"
__ADS_1
"Jangan khawatir nenek mu baik baik saja hanya tulang pergelangan kaki nya retak"
"Ha retak!!!"
"Kamu jangan khawatir hanya retak dan tidak sampai patah"
"Tenang Kin kamu jangan khawatir seperti ini"kata Nina dengan mengusap punggung Kinar
"Apa kami boleh melihat nya Shell?"
"Boleh tapi setelah di pindahkan keruangan rawat inap ya"Shella menarik tangan Kinar dengan pelan untuk menjauh dari Nina"Aku ingin bertanya Kin?"
"Bertanya? Tentang?"tanya Kinar dengan melihat kearah Nina
"Irsyad, maksud aku apa kabar dengan Irsyad? Apakah dia sudah menikah? Maaf tidak seharusnya aku menanyakan hal ini pada mu, tapi aku sangat yakin kamu pasti mengetahui nya, karena kamu adalah sepupu nya"Kinar menatap Shella. Ternyata dunia ini terlalu kecil sampai Kinar harus bertemu dengan mantan pacar suami nya. Kinar masih mengingat jelas hubungan mereka berdua yang sama sama saling mencintai, bahkan Irsyad rela melakukan apapun untuk Shella, Kinar mengusap wajah nya yang tiba tiba terasa panas seperti terbakar. Apakah Kinar sedang terbakar cemburu? Tidak seharusnya ia cemburu pada Shella, karena Shella lebih dulu dekat dengan suami nya, meski secara silsilah Kinar lebih dekat karena ada nya hubungan tali persaudaraan. Tapi beda dengan Shella wanita yang paling istimewa di hati suami nya.
"Ya"jawab Kinar pelan
"Irsyad belum menikah"jawab Kinar membuat Nina terkejut dan mendekati Kinar
"Sudah aku duga pasti dia masih mencintai ku"begitu sombong nya Shella"Dia tidak akan bisa move on dari ku, kami pacaran lima tahun Kin dan kami sudah berencana untuk menikah tapi sayang aku telah jatuh cinta pada orang lain, meski aku tau ketika itu status ku masih pacar Irsyad, apa kamu punya nomor ponsel nya?"
"Ah tidak,, aku tidak menyimpan nomor ponsel nya"
"Baiklah,, aku pasti akan menemukan nya, oya kamu bisa menemui nenek mu, aku tinggal dulu ya masih ada pasien yang lain"
"Silahkan Shell"Shella berjalan meninggalkan Kinar yang menatap nya begitu dalam
"Kenapa kamu mengatakan kalau Irsyad belum menikah?"
"Karena sekarang dia sudah melajang"
"Tapi kalian berdua kan masih suami istri"
__ADS_1
"Akan segera menjadi mantan"Nina berjalan di samping Kinar menuju ruangan nenek nya
"Kamu benar benar ingin melepaskan nya?"
"Kamu tidak perlu bertanya karena kamu sudah pasti tau jawaban nya"
"Kin di Islam itu tidak di perbolehkan wanita yang sedang hamil bercerai dengan suami nya"
"Aku tau itu"
"Kamu benar benar ingin berpisah dari nya kin?"
"Aku lelah Nin, sungguh aku sangat lelah. Bukan hati ku saja yang lelah tapi juga fisik ku Nin. Mungkin saat ini yang aku butuh kan adalah psikolog Nin" suara Kinar terdengar lirih"Dan kamu sudah tau jawaban nya jadi tolong jangan ungkit lagi masalah itu"Nina terdiam karena dia tau kondisi sahabat nya saat ini, begitu sampai di ruangan rawat inap nek Popon Kinar dan Nina langsung masuk
"Nenek baik baik saja?"tanya Kinar dengan memeluk erat nenek nya
"eh... Kenapa kamu menangis? Pamali perempuan sedang hamil menangis, karena ketika anak mu lahir nanti dia akan menjadi anak yang cengeng"kata nek Popon dengan membelai perut kinar"Nenek tidak apa apa hanya sedikit sakit kaki nenek"
"Nenek mengatakan hanya sakit sedikit? Apa nenek tidak tau kalau kaki nenek kena gips? Dikarenakan tulang pergelangan kaki nenek retak"nek Popon hanya tersenyum
"Kaki nenek yang sakit kenapa kamu yang nangis? Dengar Kin nenek baik baik saja kamu jangan khawatir"
"Aku sangat takut nek"Kinar memeluk tubuh nenek nya dengan erat
"Nenek tidak semudah itu untuk tiada, dan jika pun nenek tiada itu setelah nenek melihat anak mu lahir"
"Nenek,,,,,"panggil Kinar manja dengan memeluk nenek nya begitu erat, dengan lembut nek Popon membalas memeluk erat tubuh mungil cucu nya. Menyaksikan itu Nina hanya tersenyum
"Nenek akan selalu di samping mu Kinar"
"Berjanjilah nek"
"Tentu sayang"senyum bahagia menghiasi wajah sayu Kinar membuat air mata Nina jatuh, ia selalu berdoa untuk sahabat nya ada kebahagian setelah ada kesakitan, karena buah kesabaran itu sangat sakit tapi rasa nya begitu manis. Nina berharap semoga Kinar menuai itu semua. Sudah cukup selama ini Kinar menderita
__ADS_1