
Malam ini ternyata bukan hanya Nino yang menelepon Dila, sehabis Dila sholat Isa ada panggilan masuk lagi dari Wowo.
Dila yang awalnya ingin tidur lebih awal karena besok harus bangun pagi, ternyata rencananya harus gagal.
" Halo assalamualaikum Wo...".
" Wa'alaikum salam, gimana kabar kamu Dil?, dari kemarin pengen telepon kamu, tapi takut kamu lagi sibuk di situ. Apa semuanya berjalan lancar Dil?".
Wowo mempunyai sederetan pertanyaan yang ingin sekali di sampaikan pada Dila, tapi Wowo tahan, karena mungkin akan membuat Dila bingung menjawab yang mana dulu.
" Alhamdulillah semuanya lancar Wo, aku juga disini baik-baik saja. Gimana keadaan anak-anak?".
Dila menanyakan keadaan anak didiknya di TPQ, karena terakhir Dila mengajar mereka, dan berpamitan, justru ada beberapa anak yang menangis dan merajuk mengatakan tidak mau berangkat mengaji lagi kalau bukan ustadzah Dila yang mengajar.
Anak-anak kecil itu memang sangat sayang pada Dila, kebanyakan anak didik Dila usia paud sampai usia SD kelas 1, sekitar 4 sampai 7 tahunan, karena Dila mengajar di kelas/ jilid 1. Semua muridnya baru belajar huruf Hijaiyah dan suratan-suratan pendek, belajar niat sholat, niat wudhu, belajar gerakan sholat, semuanya adalah pelajaran awal yang membutuhkan guru yang sabar.
Belum lagi anak-anak kecil belum bisa fokus belajar masih suka bermain-main, menjadi guru untuk anak-anak kecil butuh kesabaran khusus.
" Sejak kamu pamitan dan membuat banyak anak kecil menangis waktu itu, sampai hari ini ada beberapa anak yang belum berangkat ngaji lagi, tapi ada juga yang sudah mulai berangkat lagi, dan belajar menerima guru pengganti".
Jawaban Wowo membuat hati Dila seolah mencelos, ada rasa kangen dengan anak-anak didiknya yang masih polos-polos. Ada juga rasa sedih yang tiba-tiba muncul ketika mendengar masih ada beberapa anak didiknya yang belum berangkat mengaji lagi.
" Tolong kamu sering-sering nemenin guru yang jadi pengganti ku ya Wo..., dia masih butuh bantuan, karena ngajar anak-anak kecil itu butuh kesabaran ekstra", pinta Dila sambil menghapus air mata yang tak terasa menetes di pipinya.
" Iya Dil, tanpa kamu minta juga sudah aku lakuin, habisnya guru yang gantiin kamu kelihatan banget keteter, dia nggak sesabar kamu, kadang sama anak kecil masih suka marah dan bicara keras", ucap Wowo
" Bukan nggak sesabar aku, hanya saja dia belum terbiasa dan belum beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku yakin, lama kelamaan juga dia bisa menjadi pribadi yang sabar dan bahkan lebih baik daripada aku Wo...".
Cukup lama Dila dan Wowo mengobrol di telepon, hingga Dila harus mengakhiri obrolannya karena Asri sudah kembali ke kamar dan hendak tidur. Dila tidak ingin mengganggu istirahat Asri, dan tanpa sepengetahuan Dila, ternyata dari awal Dila ngobr dengan Wowo, hingga akhir obrolan mereka, Kunto terus mendengarkan dari kamar sebelah dalam diam.
" Habis di telpon siapa Dil?, kok mata kamu terlihat sembab begitu, apa kamu habis nangis?, telepon dari orang tuamu ya?", tebak Asri, Asri pun duduk diatas tikar dan menyender di dinding kamar.
" Bukan dari orang tuaku As, tadi temen aku yang telepon, namanya Wowo, kami sama-sama ngajar anak-anak kecil mengaji di TPQ".
" Tadi dia kasih tahu keadaan anak-anak didik ku".
__ADS_1
" Katanya ada beberapa yang belum mau berangkat ngaji lagi, karena guru yang ngajar ganti".
" Kamu tahu kan As, anak kecil usia 4 sampai 7 tahun itu masih sangat polos, mereka kalau sudah sayang itu bakalan sayaaang banget".
" Kemarin saja saat terakhir aku ngajar di TPQ, dan aku pamitan pada anak-anak kalau aku nggak bisa ngajar lagi karena mau pergi kerja di tempat yang jauh, mereka pada sedih dan nangis, kamu tahu sendiri kan As, anak kecil itu sangat ekspresif, dan mereka itu selalu mengekspresikan apa yang mereka rasakan".
" Aku jadi rindu mereka semua, semoga saja anak-anak itu bisa menerima guru pengganti yang baru, karena sebenarnya mereka hanya perlu beradaptasi sebentar, aku bisa tahu kok, kalau guru ngaji yang menggantikan tempatku itu sangatlah baik dan penyayang. Mereka hanya butuh kenal lebih dekat saja".
Asri tersenyum tipis mendengar cerita Dila,
" Ternyata teman sekamar aku ini seorang ustadzah?, waaah... aku benar-benar merasa bangga, jadi teman sekamar seorang ustadzah", Asri berusaha membuat Dila tidak terus larut dalam kesedihan dengan membuat candaan.
" Apaan sih kamu As, nggak usah bersikap seperti itu, dan tolong... jangan cerita ke siapa-siapa tentang hal ini, please.... bisa kan?", pinta Dila memohon.
" Iya iya, santai saja sih, aku tuh paling jago buat jaga rahasia".
" Ya sudah sekarang kita tidur, tumbenan kamu belum tidur pas aku balik ke kamar, kemarin aku balik kamu sudah lagi ngorok keras banget".
Dila hanya nyengir, " perasaan aku tidurnya nggak ngorok deh As".
" Aku nggak percaya, kamu pasti bohong, kalau bener aku tidurnya ngorok, coba kamu videoin pas aku lagi ngorok", tantang Dila merasa tidak terima dibilang tidurnya ngorok.
" Oke, deal, tapi nggak malam ini, sudah terlalu malam, kamu nya belum tidur, sedangkan aku sudah ngantuk. Sekarang aku mau tidur, jadi kamu jangan berisik oke?", Asri langsung tidur meringkuk menghadap ke kanan, menatap dinding kamar, membelakangi Dila yang ada di samping kirinya.
" Kalian berdua sudah malam kok masih ngobrol, belum tidur ?", suara Evan terdengar dari depan pintu kamar Dila.
" Ngapain kamu jam segini di luar Van?", tanya Asri dari dalam kamarnya.
" Mau berangkat kerja lah, aku masuk shift malam, jadi besok pagi seharian bisa rebahan di kamar", jawab Evan sambil masuk ke kamar dan berganti mengenakan seragam kerja.
" Kok shift kerjanya berubah-ubah sih Van, bukannya tadi pagi kamu sudah berangkat kerja?", pertanyaan Dila membuat Evan tersenyum lebar dan semakin bersemangat menjawab, karena merasa diperhatikan.
" Aku tukeran jadwal sama temenku, ada yang istrinya lagi sakit, jadi harus nemenin istrinya dirumah malam ini, kalau pagi sih katanya ada mertuanya yang datang nemenin istrinya, makanya minta tukeran shift malam ini", jawab Evan menjelaskan.
" Wah... ternyata tetangga kita baik hati dan peduli sesama juga ya As, aku doain semoga kamu dipertemukan dengan jodoh yang baik dan cantik deh Van", ucap Dila tulus.
__ADS_1
" Yang kaya kamu Dil?, ada lagi nggak, cewek yang cantik dan baik kayak kamu?, kalau ada aku mau deh di kenalin", ucap Evan jujur, tapi sayang Dila, Asri, dan Kunto yang mendengar keseriusan Evan justru mengira jika evan hanya bercanda belaka.
" Terus mau dikemanain gebetan yang lagi kamu incar sampai di bela-belain nungguin di mushola tadi?", tanya Dila yang teringat cerita Kunto.
" Kayaknya nggak berjalan lancar Dil, kemarin balik dari mushola mood Evan berubah jadi jelek banget, bawaannya pengen marah-marah melulu sama aku", Kunto ikutan bicara. " Aku yang nggak tahu apa-apa, jadi korban pelampiasan kekesalannya".
" Ah, kalian ini nggak asyik di ajak ngobrol, sudah lah, aku mau berangkat kerja dulu, sebentar lagi bus jemputan lewat. Tidur Dil, As, sudah mau jam 11, besok kalian bisa kesiangan kalau tidur kemalaman", Evan keluar dari kamarnya setelah selesai mengganti seragam kerja.
Suasana pun kembali sepi, karena sudah malam, hanya suara jangkrik dan beberapa hewan malam lainnya yang berbunyi. Dila dan Asri memilih memejamkan matanya, agar bisa secepatnya tidur.
_
_
Pagi pun tiba, Dila bangun kesiangan, karena semalam tidur larut malam. Hari ini Dila tidak jamaah subuh ke mushola, karena Dila bangun jam setengah enam.
Dila langsung bergegas lari ke kamar mandi usai subuh di kamarnya. Asri sudah ke kamar mandi saat Dila sedang subuh tadi.
Jam 6 lebih seperempat Dila dan Asri bergegas gabung dengan teman-teman lain yang sudah lebih dulu pergi ke warung untuk memesan sarapan.
Dila sengaja memilih menu yang berkuah agar proses makannya lebih cepat, sayur sop dan sambel adalah pilihan yang tepat. Benar saja, saat yang lain selesai sarapan, Dila juga sudah menghabiskan sarapannya, beda dengan Asri yang memilih tempe orek dan ayam goreng, baru habis setengah porsi yang lain sudah selesai, sehingga mau tidak mau harus meninggalkan sarapannya yang belum habis. Karena jam sudah menunjukkan setengah 7.
Dila dan yang lain sengaja naik bus untuk menghemat energi mereka pagi ini, karena acara pagi hari adalah tes ketahanan fisik, olah raga dan baris berbaris.
Jam 7 semua peserta sudah berada di lapangan luas yang ada di samping gedung LPK. Semua sudah memakai baju olahraga, termasuk Dila yang memakai baju olahraga seragam SMK nya dulu, karena memang hanya itu baju olahraga yang Dila miliki, tapi ternyata bukan cuma Dila, ada beberapa peserta lain yang juga memakai baju olahraga seragam SMK seperti Dila.
" Sekarang kita melakukan pemanasan terlebih dahulu, usai pemanasan kita akan mengelilingi jalanan yang sudah kami atur rutenya".
" Bagi kalian yang tidak bisa lolos seleksi ini, kalian bisa mundur dan berhenti mengikuti training di sini, karena apa?, ada yang tahu?".
" Karena di dunia kerja yang sesungguhnya, kalian harus bekerja dengan keras, membutuhkan fisik yang kuat dan otak yang cerdas, karena itulah usai latihan fisik pagi ini, dilanjut latihan baris berbaris, dan siangnya kalian akan mengikuti psikotes".
" Bagi yang hari ini lolos seleksi, besok bisa mulai mengikuti pelatihan kerja, langsung praktek seperti di pabrik / PT yang sebenarnya".
" Apa saja prakteknya?, ada yang akan di latih menyolder, ada yang dilatih merakit komponen, dan masih banyak lagi praktek yang lain".
__ADS_1
Dan bla... bla... bla.... begitu panjang penjelasan dari sang mentor, untung saja cuaca pagi ini tidak terlalu cerah, bahkan sedikit mendung, jadi berdiri berlama-lama di bawah matahari pun tidak menjadi masalah bagi semua peserta.