Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 102


__ADS_3

Mungkin karena suka dengan anak kecil, Dila merasa begitu beruntung bisa mengajar di hari pertama dengan lancar dan hampir semua murid kelas 5 SD yang berjumlah 34 anak itu menyukai Dila. Meski ada beberapa yang masih sulit menerima Dila, karena sudah terlanjur sayang dengan guru sebelumnya yang sudah tua dan pensiun.


Sebenarnya dibilang anak kecil kurang tepat, karena ada beberapa murid yang tumbuh pesat dan tingginya hampir sama dengan Dila, setinggi telinga Dila. Mungkin saat besar kelak anak itu bisa menjadi pemain basket profesional, atau bisa juga jadi TNI atau polri. Baru usia 11 tahun saja sudah sekitar 1,5 meter.


Kelas yang Dila ajari juga sebagian besar adalah anak-anak dari orang tua kalangan menengah ke atas. Karena itulah kebanyakan dari mereka berangkat dan pulang sekolah diantar oleh supir keluarga. Orang tua/ wali murid kebanyakan sibuk bekerja.


Tak heran jika tas, sepatu, jam tangan dan aksesoris lain yang anak didiknya pakai adalah dari brand ternama yang harganya tidak murah.


Mungkin memang seperti itu kehidupan anak-anak di kota besar, kurang menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya, mereka bahagia hanya karena dibelikan barang-barang mahal, dan tidak mempermasalahkan ketidak hadiran orang tuanya di samping mereka.


Seperti siang ini, saat Dila selesai mengajar dan sudah membereskan semua buku-buku di mejanya di kantor dan hendak pulang bersama El, Dila menghampiri salah seorang murid dari kelasnya.


Sudah hampir setengah jam sejak bel pulang berbunyi, tapi anak itu masih duduk di depan sekolahan menunggu jemputan.


" Apa belum dijemput ?", tanya Dila sambil berdiri di depan muridnya itu. Sang murid sedang terlihat asyik bermain gedget di tangannya.


Ya.... para murid di sekolah Mulia memang diperbolehkan membawa ponsel dan semacamnya, hanya saja wajib mematikan ponselnya saat pelajaran berlangsung, khawatir mengganggu jalannya pelajaran.


Karena ponsel memang sangat berguna apalagi bagi mereka yang setiap hari diantar jemput oleh supir.


" Supir keluarga saya lagi nganter ayah pergi keluar kota, makanya disuruh naik bus, nanti saja sebentar lagi saya pulangnya Buguru, nanggung ini sudah mau menang, lagian di rumah juga nggak ada siapa-siapa, cuma ada bibi yang lagi bersih-bersih rumah", jawab anak itu tanpa menoleh ke Dila.


Seperti itulah anak-anak sekarang, jauh berbeda dengan jaman Dila masih kecil, yang selalu bicara sopan kepada orang yang lebih tua, apalagi pada gurunya. Namun memang jaman sudah berubah, belum lagi mungkin anak-anak dari daerah kampung dan dari kota besar memang berbeda.


" Dimana rumah kamu?, jangan terlalu sore pulangnya, meski di rumah tidak ada orang, tapi lebih aman kalau kamu main game nya di dalam rumah, kalau di tempat umum seperti ini, bisa jadi ada orang jahat seperti jambret atau copet yang mengintai kamu, karena gadget yang sedang kamu genggam sekarang".


Anak laki-laki itu langsung menatap Dila dengan tatapan jengah, namun kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Dila dan masuk ke dalam bus yang kebetulan berhenti di depan mereka. " Iya, ini saya juga mau pulang", ucap anak itu sambil berlalu.


Anak kecil, yang bicara dengan tidak menggunakan kata-kata kasar saja itu sudah termasuk menghormati orang yang lebih tua. Sudah lebih dari cukup.


Dila pun mengajak El untuk pulang, karena sejak tadi El hanya memperhatikan ibunya menegur salah satu siswa SD yang duduk sendirian sambil main game. Padahal teman-teman yang lain sudah pulang semua.

__ADS_1


Di dalam mobil Dila bercerita pada El tentang dirinya yang kini menjadi guru di SD Mulia. Tentu saja El sangat senang, itu berarti mulai hari ini, Dila yang akan selalu mengantar jemput El setiap hari.


El juga merasa senang karena sewaktu-waktu bisa menemui Dila di sekolahan, karena ibunya setiap.hari akan ada di sekolahan.


" Ye..... El senang karena ibu jadi guru di sekolah El. Berarti saat El kelas 5 nanti, Bu Dila yang jadi guru El?", sorak El begitu kegirangan, sangat berbeda dengan ekspresi Indra kemarin, yang katanya tidak mempermasalahkan pekerjaan Dila, tapi ekspresinya tidak menunjukkan tanda-tanda bahagia seperti El sekarang.


Esok harinya Dila agak santai karena kelasnya ada pelajaran agama di jam pertama, Dila sengaja tetap berada di kantor sambil mendalami materi pembelajaran siswa kelas 5 SD.


" Lagi free?", tanya Bima yang kembali ke kantor untuk mengambil soal ulangan untuk para murid-muridnya yang tertinggal di mejanya.


" Pelajaran pertama agama, jadi agak santai", jawab Dila.


" Istirahat pertama traktir di rumah makan depan ya, aku belum sarapan nih, tadi pagi sibuk bikin soal buat ulangan di jam pertama", pinta Bima.


Dila mengangguk, " iya beres, buruan sana ke kelas, ditunggu sama murid-muridnya sudah pada deg-degan mau ulangan".


Bima mengangguk cepat dan meninggalkan kantor sambil membawa tumpukan soal ulangan harian.


" Akrab?, biasa saja", jawab Dila singkat.


" Biasa saja kok mau traktir makan segala, mau juga dong kalau traktir makan seperti itu kamu anggap biasa saja", gumam Evan.


" Dia itu sudah sering traktir aku waktu masih kuliah, orang kita seangkatan dan satu fakultas. Kamu nggak ingat sama Bima?, yang dulu KKN bareng aku di Bekasi, kan sempat ketemu sama kamu juga pas di kafe ujung jalan?".


Kini Dila bisa melihat Evan nampak mengingat-ingat. " Bisa beda banget ya, yang waktu itu pakai kaos hitam dan celana jeans ya?, benar-benar pangling aku melihat dia pakai seragam keki seperti itu", ujar Evan.


" Tapi beneran boleh gabung nanti pas makan di depan ya?, aku juga belum sempet sarapan karena harus isi jam pertama, nggak di traktir juga nggak papa Dil", imbuh Evan.


" Oke ", jawaban Dila sungguh singkat padat dan jelas.


Dila masuk ke kelas 5 karena pelajaran agama sudah selesai, sambil menunggu anak-anak non muslim kembali masuk ke kelas, karena biasanya saat pelajaran agama, anak-anak yang non muslim akan mendapat pembelajaran dari guru yang berbeda, dan biasanya bertempat di ruang bimbingan konseling.

__ADS_1


" Sudah masuk semuanya?, kalau sudah masuk kita mulai pembelajaran selanjutnya", ujar Dila setelah mengecek semua kursi sudah terisi penuh. Hari ini semua muridnya hadir. Memang absensi di kelas ini cukup bagus, dan Dila bersyukur untuk hal itu.


Para murid dan juga orang tua mereka menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi mereka. Dan itu membuat Dila tidak kerepotan karena absen kelasnya selalu bagus. Jika pun ada yang tidak berangkat pasti dengan keterangan yang sangat jelas.


Istirahat pertama Dila bersama Bima dan Evan pergi ke rumah makan depan sekolahan, di sana memang biasa untuk tempat sarapan bagi guru, siswa atau wali murid yang menunggui anaknya, yang belum sempat sarapan di rumahnya. Karena itulah rumah makan itu selalu buka pagi-pagi, dengan berbagai menu masakan rumahan. Itu membuat yang belum sarapan tidak perlu repot dan bingung mencari tempat makan yang dekat dengan sekolahan.


" Sama Pak Evan juga?", tanya Bima saat melihat Evan mengikuti dirinya dan Dila berjalan ke rumah makan depan sekolah.


" Iya Pak Bima, saya juga belum sarapan, saat tahu kalian mau ke sini, saya minta gabung sama Bu Dila, biar ada teman makan. Tenang..., saya bayar sendiri", imbuh Evan sengaja menyindir Bima yang tadi minta ditraktir Dila.


Bima nampak tidak suka dengan kata-kata Evan yang sengaja menyindirnya.


" Kita kan sudah janjian, kalau Bu Dila diterima mau makan-makan bersama", ucap Bima, namun pada kenyataannya, yang makan hanya Bima dan Evan, Dila hanya memesan teh manis, duduk sambil menemani kedua temannya itu sarapan.


" Kamu nggak sekalian makan Dil?", Evan lebih dulu selesai makan, karena dia makan dengan sangat cepat, terlihat sangat lapar.


" Sudah sarapan nemenin anak sama suami di rumah", jawab Dila sengaja menekankan kata 'anak dan suami' pada Evan.


Evan mengangguk sambil bergumam, " jadi pengen cari istri biar ada yang nemenin makan di rumah".


Bima langsung cengengesan mendengar kata-kata Evan, " Noh.... di depan TK sama kelas 1 SD banyak tuh baby sitter yang masih lajang. Pasti mau banget tuh diajakin nikah kalau cuma buat nemenin makan di rumah". Bima sengaja membuat Evan kesal.


" Kalau baby sitter nya kayak baby sitter El dulu aku mau", Evan sengaja memancing dan menggoda Dila agar Dila bersuara. Namun nyatanya Dila cuma manyun.


" Mba, semua jadi berapa?", tanya Dila sambil berdiri dan menyerahkan kartu debit miliknya.


" Sudah Bu, sudah dibayar sama Mas Bima", Dila menatap Bima sambil mengernyitkan keningnya.


" Katanya mau di traktir, kok malah bayar sendiri, plus bayar punya Evan juga?", protes Dila sambil menghampiri Bima.


" Traktirannya kapan-kapan saja yang mahalan dikit, makan disini sih paling cuma habis 15 ribu, enak dikamu dong!", gumam Bima.

__ADS_1


" Terserah kamu deh, sebentar lagi bel masuk berbunyi, aku duluan ya", ujar Dila meninggalkan kedua teman lelakinya yang masih duduk di rumah makan.


__ADS_2