
Dila terus memberontak sambil terus minta tolong, berharap ada yang mendengar suaranya dan bangun dari tidur mereka, setidaknya yang ada di kamar paling dekat terbangun dan membantunya, ya.... Dila berharap El bangun dan menyadarkan ayahnya yang sedang mabuk itu.
Semua penghuni rumah baru saja tidur, mungkin kah ada yang mendengar suara Dila?, apa lagi kamar pembantu lainnya berada jauh di belakang.
" Tuan... tolong sadar, Tuan jangan lakukan ini". Dila terus memberontak, apalagi Indra sudah membenamkan kepalanya di ceruk leher Dila dan mulai menciumi leher Dila. Membuat Dila semakin ketakutan.
Dila menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha memberontak dan mempersulit Indra yang terus berusaha menguasai tubuhnya, tapi tenaga Indra seolah tidak wajar, Indra begitu kuat seperti seseorang yang habis mengkonsumsi obat kuat.
" Kamu bisa diam kan!, kalau kamu masih berteriak, aku terpaksa akan membungkam mulut mu!", seru Indra dengan wajah merah karena keinginannya yang sudah memuncak.
Dila tak menghiraukan ucapan Indra, Dila masih terus saja memberontak dan berteriak minta tolong, Dila tahu Indra sedang mabuk dan semua yang dilakukan diluar kendali dan ingatan nya.
" Tolong jangan seperti ini Tuan, Anda akan sangat menyesal saat Anda sadar, lepaskan saya Tuan!", Dila terus berteriak berusaha menyadarkan Indra yang seperti sedang kerasukan.
Karena Dila terus berisik dan memberontak, Indra pun membungkam mulut Dila menggunakan mulutnya.
Aroma mint dari pasta gigi yang Dila pakai bercampur dengan bau alkohol dari mulut Indra. Dila terus menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan berusaha mempersulit Indra. Namun tangan kiri Indra menahan wajah Dila agar tidak terus bergerak.
Berhasil membuat Dila bungkam, Indra melanjutkan aksinya, hingga tubuh Dila semakin gemetar dan ketakutan melihat kegilaan yang dilakukan majikannya itu.
Masih dengan posisi menguasai Dila, Indra mulai menyalurkan naluri kelelakiannya.
Entah apa yang Dila rasakan sekarang, sentuhan tangan dan bibir Indra di sekujur tubuhnya membuatnya me remang, apalagi saat Indra melakukan sentuhan-sentuhan di bagian sensitif tubuh Dila, Dila tak bisa menahan suara desa han yang berhasil lolos dari mulutnya.
" Hentikan Tuan....aaahh !".
Namun justru suara yang keluar dari mulut Dila itu membuat Indra semakin bersemangat dan semakin menjadi, terus mengeksplor tubuh Dila yang terus bergerak memberontak.
Saat kedua tangan Indra berusaha melepas sisa pakaian yang dikenakan Dila, dengan sekuat tenaga Dila mendorong tubuh Indra hingga Indra terjungkal kelantai.
Dila berhasil lepas dari kungkungan Indra, dan berusaha lari menuju pintu untuk keluar. Namun sayang kaki Dila terasa kram akibat cukup lama di duduki oleh Indra tadi.
Dengan langkah tertatih dan pakaian berantakan, Dila berhasil meraih gagang pintu kamar, namun Indra berhasil menutup dan bahkan mengunci pintu kamarnya.
Indra menggendong tubuh Dila dan berhasil membawa Dila kembali ke atas ranjangnya.
Tak pernah Dila sangka tenaga majikannya begitu kuat, dan mampu mengangkat dan menggendong tubuhnya yang terus berontak dengan begitu mudah dan terkesan begitu ringan.
__ADS_1
Indra kembali mengungkung dan menguasai Dila. Kini Indra sudah berhasil membuat tubuh Dila polos tanpa tertutup sehelai benang pun, begitu juga dengan tubuhnya. Dila sampai tak bisa berkata-kata karena ini pertama kalinya Dila melihat tubuh polos seorang laki-laki dewasa tanpa busana.
Indra tak lagi memberi Dila kesempatan untuk bergerak, karena kini kakinya kembali diapit oleh Indra.
Indra langsung menghujamkan miliknya yang sejak tadi sudah menggeliat mencari sarang untuk dimasuki.
Dila menjerit dan menangis kesakitan. Seolah ada sesuatu benda yang keras dan besar berusaha menerobos masuk ke bagian inti dari tubuh Dila. Hingga beberapa kali hentakan, benda keras itu baru berhasil terbenam sempurna di tubuh Dila. Dila bisa merasakan seperti ada bagian tubuhnya yang sobek di bawah sana.
Indra terus berusaha mencapai puncak kenikmatan, dan setelah apa yang diinginkannya telah tercapai. Seketika tubuh Indra ambruk menindih Dila yang masih menangis, dan merintih kesakitan.
Dila mendorong tubuh Indra hingga jatuh terkulai lemas di sampingnya. Perlahan Dila mengancingkan piyamanya kembali, sambil menatap tubuhnya yang penuh bekas merah yang dibuat oleh Indra. Dila duduk di atas kasur busa itu, badan Dila serasa remuk, seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama di bagian inti yang terasa sangat pedih dan berdenyut.
Dila sudah kehabisan tenaga, dan hanya terkulai lemas saat Indra memeluk tubuh nya.
" Ternyata kamu masih perawan, maafkan aku Dil, aku memang mabuk tadi, tapi aku sadar dengan apa yang aku lakukan, obat itu membuatku tidak bisa menghentikan apa yang sedang aku lakukan padamu".
Indra bangkit dari tidurnya dan duduk sambil mengusap kasar wajahnya. Indra mengambil air putih yang ada di meja samping ranjangnya dan meminumnya hingga tandas.
" Aku akan bertanggung jawab jika sampai kamu hamil, apa kita harus segera menikah karena aku sudah merenggut kesucian mu?".
" Sebenarnya tadi...."
Indra mulai menceritakan kejadian sebelum insiden gila itu terjadi.
***
flashback on
" Pak Indra ayo dong minum sedikit saja untuk menghormati tamu kita yang jauh-jauh datang dari Korea", Indra yang awalnya berniat untuk tidak meminum minuman beralkohol akhirnya memesan orange juice untuk menghormati klien yang datang jauh-jauh dari Korea.
Terlihat seorang pelayan membawa orange juice pesanan Indra, dan Tania langsung menghampiri pelayan itu dan mengambil nampan dari si pelayan. Diam-diam Tania memasukkan sebutir pil ke dalam orange juice milik Indra.
Entah pil apa yang Tania masukkan setelah itu Indra merasa tubuhnya menjadi aneh. Sedikit sentuhan lembut dari Tania di pahanya membuat si juniornya langsung terbangun.
Tania terus merayu Indra agar meminum dari gelas yang sedang dipegangnya yang katanya non alkohol, namun setelah meneguk minuman itu, Indra tahu minuman itu berkadar alkohol yang cukup tinggi.
Indra yang tak biasa minum minuman beralkohol langsung merasa pusing dan mabuk, Indra merasa tidak beres pada tubuhnya. Tania mengajak Indra untuk menginap di hotel. Indra menurut saja dan mengikuti Tania hingga ke lobi hotel.
__ADS_1
Tapi saat Indra selesai chek in kamar, Indra tak sengaja mendengar percakapan Tania bersama seseorang melalui telepon dari jarak agak jauh di lobi hotel.
" Sepertinya obat perangsang yang kamu berikan padaku sudah bekerja dengan baik, aku bisa melihat reaksi Indra yang berubah sensitif dengan sentuhan ku. Aku jamin malam ini Indra tidak akan menolak ku lagi seperti sebelum- sebelumnya, thanks ya, nanti aku transfer sesuai perjanjian kita".
Indra yang tak sengaja mendengar percakapan itu langsung memilih keluar dari hotel tanpa sepengetahuan Tania, Indra tak mau melakukan hubungan ranjang dengan Tania, karena hal itu sudah diharapkan Tania sejak dulu. Indra tau Tania sangat ingin bermain ranjang dengannya, karena sudah beberapa kali secara terang-terangan Tania menawarkan diri.
Bukan Indra tidak tertarik pada tubuh seksi dan wajah cantik Tania, hanya saja Indra selalu teringat El yang selalu mengatakan padanya tidak mau punya ibu seperti Tania yang galak dan tidak tulus menyayanginya.
Indra pun berjalan sempoyongan hingga di pinggir jalan raya, dan menyetop taksi yang sedang lewat untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Sayangnya efek alkohol dan obat perangsang itu terus bekerja dan membuat Indra kehilangan kendali.
Saat sampai dirumah dan Dila membukakan pintu rumah, Indra berjalan gontai dan ambruk di tubuh Dila, Indra bisa merasakan dadanya membentur dua gundukan padat dan kenyal di dada Dila, Indra masih berusaha menahan hasratnya, agar tidak menerkam Dila saat itu juga.
Hingga Dila mengantarkan nya ke dalam kamar dan membersihkan wajah dan leher dengan kain basah, justru Indra melihat tubuh Dila yang sangat seksi hanya mengenakan setelan piyama lengan pendek dan celana selutut mondar mandir di kamarnya.
flashback off
***
Dila masih meringkuk, sambil menangis sesenggukan di tempat tidur Indra. Dia menyesal kenapa harus mengantarkan Indra sampai masuk kedalam kamar, harusnya Dila cukup membukakan pintu dan meninggalkannya begitu saja.
Memang secara garis besar kejadian malam ini adalah salah Indra, tapi Dila juga ambil andil dalam kesalahan itu.
Kesalahan satu malam terbesar yang dilakukan Indra, dan merusak seluruh masa depan Dila, merenggut kesucian Dila dan mencuri mahkota paling berharga yang selama ini sudah Dila jaga dengan sangat hati-hati untuk suaminya kelak.
Semua bayangan masa depan yang indah dan membina keluarga bahagia bersama laki-laki yang dicintainya seketika musnah, luluh lantah, terhapus oleh kesalahan fatal yang dilakukan oleh seorang pria yang sedang tak sadarkan diri.
Dila terus menyalahkan dirinya yang tak mampu memberontak, tak mampu lari dari kegilaan majikannya yang sedang mabuk. Jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, Indra kembali merebahkan dirinya di samping Dila yang masih meringkuk membelakanginya sambil menangis.
" Maafkan aku Dil, sungguh aku minta maaf". Indra merengkuh tubuh Dila dan memeluknya dari belakang. Dila sudah tidak mau memberontak lagi, tubuh dan hatinya sudah terlalu lelah malam ini.
Perlahan Dila bangkit dan turun dari ranjang, hendak kembali ke kamarnya, karena melihat Dila yang kesulitan berjalan, Indra menggendongnya dan mengantarkan Dila ke kamarnya.
" Sebaiknya tidak ada yang tahu dengan kejadian malam ini, aku akan mengatakan pada yang lain kalau kamu sakit. Dan butuh istirahat total untuk beberapa hari kedepan. Kamu tidak perlu memikirkan El, sementara aku yang akan mengurusnya. Kamu istirahat saja agar segera pulih".
Indra keluar dari kamar Dila dan menutup pintu kamarnya. Setelah Indra keluar Dila berjalan perlahan ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya di bawah shower yang terus menyala selama dua jam, hingga adzan subuh terdengar berkumandang, rasanya air itu tidak bisa membersihkan tubuh Dila yang sudah ternoda.
__ADS_1