Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 153


__ADS_3

Setelah makan siang dengan nenek dan kakeknya, El membantu Fatma mengupas apel yang hendak dimakannya, tidak lupa El memotongnya juga, agar Fatma lebih mudah memakannya.


Selama ini El tahu betapa baik dan sayangnya sang nenek dan kakeknya. Dari dulu El mengira hal itu wajar, karena El adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka, sampai saat sang adik bayi lahir, El masih tetap sangat di sayang oleh kakek dan neneknya. Namun hari ini El baru sadar, dirinya bukan siapa-siapa di keluarga ini, tapi sang kakek dan nenek masih bersikap sangat baik pada dirinya.


Mendengar percakapan kakek dan neneknya tanpa sengaja, seperti membuka sebuah pintu rahasia yang dari dulu tertutup rapat. El hanya tinggal masuk secara perlahan dan hati-hati jika ingin mengetahui apa saja yang ada didalamnya.


Setelah selesai makan siang El pamit untuk membuka koper sang nenek dan mengambil barang-barang miliknya untuk di bawa pulang. Lumayan banyak juga belanjaan El. Pantas saja kemarin Indra sempat memberinya masukan saat melihat barang belanjaannya yang begitu banyak.


" Nek, sekarang El pamit pulang dulu ya, maaf karena nggak bisa tidur disini dan nemenin nenek yang lagi sakit, karena Arsy juga sedang rewel, mungkin Bu Dila butuh bantuan El juga di rumah", ucap El mencari alasan.


" Iya sayang... nggak papa, lagian nenek sudah lebih baikan, kamu memang sebaiknya pulang dan bantu ibumu mengurus Arsy", ujar Fatma.


El keluar dari rumah neneknya dengan perasaan bercampur aduk tidak menentu. Ada rasa sedih, rasa kecewa, karena dirinya ternyata anak orang lain, bukan Indra ayah kandungnya. Tapi El juga merasa beruntung dan sangat bersyukur karena El di tinggalkan oleh orang tua kandungnya, justru pada keluarga yang semua orangnya baik. Dari kakek, nenek, ayah dan juga ibu sambung yang sangat baik dan sangat menyayangi nya.


~ Om Bram El otw sekarang ~


Itu pesan yang dikirimkan oleh El saat berjalan keluar dari rumah neneknya.


Supir pribadi sang nenek mengantarkan El karena Fatma yang menyuruhnya, El tidak bisa menolak, karena barang bawaan El yang cukup banyak dan juga tidak ada alasan untuk menolak permintaan neneknya.


Namun saat di dalam mobil, El mengatakan pada sang supir untuk menurunkan dirinya di kafe RX, karena ada temannya yang menunggu di sana." Apa nggak papa Den El turun di sini?".


El mengangguk, " Nggak papa, Bapak balik saja ke rumah nenek, nanti El kabari nenek kalau El sudah sampai di rumah, terimakasih atas tumpangannya", ucap El sambil turun dari mobil.


Saat El masuk ke dalam kafe dengan membawa kantong berisi barang belanjaannya, El duduk di sebelah pinggir yang dekat dengan jendela kaca luas, dia melihat seorang laki-laki yang ditunggunya baru saja sampai di parkiran kafe dan turun dari mobilnya.


" Maaf adik... apakah adik kesini seorang diri?, dimana keluarganya?".


El menunjuk Bram yang sedang berjalan menuju kedalam kafe." Itu om saya, tolong buatkan satu coklat milkshake dan white coffe untuk om saya, sama kentang goreng dan dua pancake", ujar El selayaknya orang dewasa.


Pelayan hanya mengangguk, dan percaya dengan ucapan El karena saat menatap kearah laki-laki yang disebut Om oleh El, Bram melambai ke arah mereka.


" Baiklah, tunggu sebentar adik tampan...", ujar si pelayan kafe dengan sangat manis.

__ADS_1


" Pantas ponakannya cakep, om nya juga cakep", gumam si pelayan kafe yang masih bisa terdengar sampai ke telinga El, meski lirih.


Bram pun sampai dan langsung duduk di sebelah kanan El dengan santai dan cool. " Sudah lama sampainya ?, maaf Om tadi kejebak macet jadi agak telat", ujar Bram sambil menatap kantong belanja El yang cukup banyak tergeletak di kursi sebelah kiri El.


" El juga baru sampai Om, apa sekarang El boleh langsung bertanya alasan El mengajak Om Bram ketemuan disini?", El tidak bertele-tele, dia langsung membicarakan alasan nya ingin bertemu dengan Bram.


" Wah... langsung membahas ke intinya, ternyata kamu lebih mirip dengan Indra dari pada dengan...", Bram tak melanjutkan kalimatnya.


" Dengan Faris?, apa maksud Om Bram dengan Faris, ayah kandungku?", tanya El dengan tatapan menyelidik.


Bram langsung melotot karena kaget saat El menodongnya dengan kalimat itu.


" Sejak kapan kamu tahu hal ini?, Om kira kamu ngajak Om ketemuan karena kamu belum tahu dan mau cari tahu tentang rahasia yang selama ini di pendam oleh keluargamu".


Bram tidak menyangka jika ternyata El juga sudah mengetahuinya.


" Tapi bagus lah, jika Dila atau Bu Fatma sudah memberi tahu mu terlebih dahulu, jadi bukan aku kan yang membocorkan rahasia besar tentang kamu?", Bram mengambil secarik kertas yang sudah disimpan nya dengan sangat hati-hati cukup lama. Kemudian menyerahkannya pada El.


" Diam-diam Dila memberikan sampel ke rumah sakit dan melakukan pengecekan DNA kamu dan Indra, tapi setelah mengetahui hasilnya bahwa kamu bukan anak kandung Indra, Dila tidak memberi tahu siapapun tentang hal itu. Dia memendam sendiri kebenaran yang sesungguhnya".


" Justru semua keluargamu tahu saat kamu dan Dila mengalami kecelakaan di depan sekolahan mu, kamu kehabisan banyak darah, dan butuh pendonor yang memiliki jenis darah yang sama dengan darahmu".


" Darah Indra dan Kayla tidak ada yang sama dengan darahmu, saat itulah semua rahasia terbongkar. Ibumu... dia ternyata berhubungan dengan laki-laki lain saat dulu masih menjadi istri ayahmu".


" Entah ibu macam apa Kayla itu, meski dia adalah sepupu Om, tapi Om sangat tidak setuju dengan sikap dan kepribadiannya. Sangat berbanding terbalik dengan ibumu yang sekarang. Dila... gadis desa yang sangat keibuan, siapa yang tidak akan jatuh hati saat melihat dan mengenalnya?, semua laki-laki pasti akan tertarik jika mengenalnya lebih dekat".


" Indra beruntung karena memilikimu, karena kamulah alasan mengapa Dila mau menerima Indra menjadi suaminya. Seandainya saja dulu kamu tinggal sama Om, pasti Dila lebih memilih Om menjadi suaminya, demi bisa merawat kamu".


El menjadi pendengar setia curhatan Om Bram, niat hati ingin tahu tentang jati dirinya, namun justru El lebih banyak mendengarkan curhatan dari Bram yang patah hati karena Bu Dila lebih memilih ayah Indra.


" Sebenarnya... El baru tahu tadi Om, itu pun tidak sengaja, El juga tidak berharap banyak bisa tahu tentang semua kebenaran yang dirahasiakan, sudah cukup dengan kertas bukti tes DNA ini", ujar El setelah membaca hasil tes ditangannya.


" Bukan Bu Dila atau Nenek Fatma yang memberi tahu padaku tentang kebenaran ini, El hanya tak sengaja mendengarkan percakapan seseorang yang sedang membahas mengenai hal itu".

__ADS_1


" Meski Ayah Indra bukan ayah kandung El, dan dia juga merahasiakan kebenarannya pada El, tapi El akan tetap menyayanginya. El sudah menganggapnya seperti ayah kandung El sendiri. Karena orang yang sebenarnya ayah kandung El, tidak perduli dengan keadaan El selama ini, hanya karena tidak berhubungan darah, bukan berarti seorang anak tidak bisa menyayangi ayah angkatnya dengan sepenuh hati".


" Makasih ya Om, biar kertas ini El yang simpan, karena El yang berhak menyimpannya, bagaimana kertas ini bisa ada pada Om, El juga nggak tahu. Tapi yang jelas, sekarang El yang mau simpan, karena El yang berhak atas kepemilikan surat ini".


Bram mengangguk setuju. " Bagaimana bisa anak sekecil kamu berbicara dengan gaya bahasa orang dewasa seperti ini, aku bahkan tidak merasa sedang ngobrol dengan anak-anak", ucap Bram sambil terkekeh sendiri.


Percakapan terjeda saat pesanan makanan dan minuman mereka datang.


" Kali ini biar El yang traktir Om Bram, karena Om sudah baik pada ku dan juga Bu Dila, tapi ingat, jangan berani dekati Bu Dila, karena dia hanya milik ayah Indra".


Bram yang sedang mencicipi kentang goreng sampai tersedak, saking kagetnya dengan kalimat El barusan. Anak kecil dengan gaya bahasa orang dewasa.


" Kamu ini sama saja seperti nenekmu, minta ketemuan di kafe dan datang hanya untuk mengancam ku untuk menjauhi Dila. Beruntung sekali Indra, yang punya ibu dan anak sangat perduli padanya". Bram menyeruput white kopi yang masih panas dengan meniupnya terlebih dahulu.


" Benarkah nenek Fatma pernah melakukan hal seperti itu?", tanya El penasaran.


Bram mengangguk, " Itu saat Dila masih tinggal di Jogja. Sudah sangat lama, saat aku belum tahu jika Dila adalah istri Indra, Dila masih sangat muda waktu itu, dia masih jadi mahasiswa", ucap Bram.


" Apa Om mau aku kenalkan dengan seseorang yang cantik dan juga baik seperti Bu Dila?", tanya El sengaja menggoda Bram.


" Anak sekecil kamu mana ada kenalan gadis seumuran dengan Om, lagian mana ada gadis baik-baik yang mau sama Om, yang terkenal playboy ini. Sudah terlanjur dapat cap tidak baik dimata wanita, jadi hanya wanita yang suka main-main saja yang mau jadi pacar Om", ujar Bram.


El nampak melihat Bram dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. " Om nggak jelek, malah kelihatan ganteng dan berduit, pasti wanita yang aku rekomendasikan untuk Om, akan suka jika bertemu dengan Om. Tapi tidak saat ini, tunggu aku beri tahu orang itu dulu. Sekarang sudah sore, dan aku mau pulang, pasti ayah sebentar lagi sampai di rumah. Kalau tahu aku belum pulang, mereka akan khawatir", ucap El sambil menyeruput milkshake coklat miliknya hingga tetes terakhir.


" Makasih ya Om, sampai ketemu di lain kesempatan".


El berdiri dan membayar tagihan di kasir, baru setelah itu dirinya mengambil barang belanjaan yang di letakkan di kursi.


" Om antar sampai rumah ya, sudah sore, saatnya orang-orang pulang kerja, pasti ojek online nunggu lama di jam sibuk seperti saat ini".


El mengangguk setuju.


Bram ikut beranjak dan keluar dari kafe, sambil senyum-senyum sendiri, baru pernah seumur hidupnya di traktir oleh seorang anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2