Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 27


__ADS_3

Di kamar mandi El melupakan kekecewaannya terhadap sang Ayah. Karena Dila membuatkan busa yang sangat banyak memenuhi bathub yang El masuki.


Awalnya Dila juga ingin ikut berendam, karena ukuran bathub di kamar mandi El cukup besar, seperti yang digunakan untuk mandi orang dewasa, bahkan untuk mandi dua orang dewasa sekaligus juga muat.


Namun Dila masih datang bulan, dan takut mengotori air busa yang sedang digunakan El berendam. Jadi Dila hanya ikut bermain-main busa di pinggiran bathub.


" Lihatlah, El sudah jadi manusia busa", Dila melumuri tangan, badan, kaki dan kepala El dengan begitu banyak busa.


" Hahahaha, El jadi manusia busa, kak Dila nggak ikut sepelti El jadi manusia busa?".


Dila menggeleng, " Tidak, El saja yang jadi manusia busa, kalau kak Dila ikut jadi manusia busa nanti busanya jadi habis dipakai menutupi tubuh kakak".


" Kalau El sudah merasa kedinginan, bilang sama kak Dila, jangan karena suka main busa, El jadi masuk angin karena mandi yang terlalu lama".


El mengangguk mengerti, namun pada kenyataanya, El bermain busa selama satu jam. Hingga tangannya keriput.


Dila akhirnya membilas tubuh El dengan air hangat, meski El masih ingin bermain-main dengan busa.


" Sudah ya sayang, mandi busanya besok-besok lagi, sudah terlalu lama El mandinya, nanti kalau ayah tahu, Kak Dila yang dimarahin".


El pun akhirnya menurut dan mau membilas tubuhnya dan mengakhiri permainan busa sore itu.


Dila sengaja membalurkan lebih banyak minyak telon di tubuh El, karena tadi El terlalu lama bermain air. Dila juga memakaikan pakaian yang panjang dan tebal, agar El merasa hangat.


Jam setengah 6 sore Dila menyuapi El makan malamnya. El yang tadi siang hanya makan es krim dan burger pasti saat ini perutnya sudah kosong dan butuh di isi ulang. Makan dengan ayam bakar madu, membuat El menghabiskan cukup banyak nasi.


Indra terus berada di ruang kerjanya sejak sore hingga malam hari, Dila yang berhasil menidurkan El lebih awal dari kemarin akhirnya punya waktu bersantai.


Jam dinding baru menunjukkan pukul 7 malam, tapi El sudah tidur. Dila hendak meminta ijin pada Indra untuk keluar rumah, tapi Indra sedang sibuk di ruang kerjanya, akhirnya Dila berpamitan pada Bi Darsih untuk ke minimarket sebentar, dan menitipkan El pada Bi Darsih dan bi Ana.


Dila hendak membeli kebutuhan pribadinya, karena pembalutnya sudah habis, saat berjalan keluar rumah, ada Ari yang sedang duduk santai di kursi yang ada di taman.


" Mau kemana Dil?".


Dila menengok menatap Ari yang tiba-tiba berdiri saat melihatnya keluar.


" Ke minimarket Ar, kamu belum pulang?".


Dila melanjutkan perjalanannya.


" Aku temani ya, sudah malam, jalan di komplek perumahan ini sepi banget kalau malam-malam".


Dila mengangguk, mereka berdua berjalan bersama menuju minimarket terdekat.


" Katanya tadi siang habis diajak jalan-jalan sama nyonya besar ya?", Ari memulai pembicaraan karena sejak tadi mereka berdua saling berdiam diri.


" Iya, sebenarnya lebih tepatnya ngajak jalan El, aku cuma ngikutin sebagai pengasuh El", ujar Dila.

__ADS_1


" Sudah malam kok kamu belum pulang sih Ar?".


" Iya, aku cuma jaga-jaga siapa tahu si bos perlu ku antar kemana.... begitu, stand by di rumah. Kan bos lagi banyak pikiran gara-gara sebentar lagi mau pembukaan hotel baru miliknya, karena itu bos lagi sibuk banget, sebagai supir yang baik, tentu saja aku harus selalu siap setiap saat", jawab Ari.


" Apa kamu juga harus bekerja 24 jam sepertiku?". Dila membuka pintu minimarket dan masuk ke dalamnya.


Ari menggeleng, " Nggak sih, kalau bos sudah tidur, dan tidak pergi kemana-mana lagi ya aku istirahat, lagian sebenarnya pekerjaan ku tuh nggak secapek kerjaan kamu Dil, kalau sudah nganter, di kantor aku cuma duduk-duduk santai", jawab Ari.


" Kamu nggak kepikiran buat buka usaha Ar?, kan sekarang toko online sudah banyak banget, aku lihat kamu tipe orang yang suka bekerja keras, dan juga bersemangat".


Ari meringis, " Aku nggak pernah kepikiran ke situ Dil, buat buka usaha kan butuh modal, dan aku nggak punya modalnya", jawab Ari jujur.


" Ari kan sudah tiga tahun lebih jadi supir, masa iya nggak punya tabungan sudah bekerja selama itu", batin Dila.


Dila mengambil beberapa keperluan pribadinya, dan memasukkan ke keranjang belanjaan.


" Kamu di Jakarta tinggal dimana Ar?", tanya Dila sambil mengantri di kasir setelah semua keperluannya sudah masuk ke ranjang belanjaan.


" Aku rumahnya deket rumah bos kok Dil, keluar dari komplek perumahan ambil kiri, ada pertigaan pertama ke kanan, lalu ada pertigaan kecil ambil kiri, masuk ke gang cukup jauh, rumah ku di dalam, jadi mobil nggak bisa masuk, karena itulah tiap hari aku bawa motor untuk berangkat ke sini".


Ternyata Ari asli orang Jakarta dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah pak Indra.


" Berarti dari sini Deket dong Ar, tinggal lurus ada pertigaan ke kanan, lalu ada pertigaan kecil ke kiri, kamu tinggal dengan siapa saja di rumah?", Dila selesai membayar belanjaannya, mereka berdua keluar dari minimarket.


" Aku tinggal sendiri, bapak ibuku sudah tiada, dan nggak punya saudara juga", jawab Ari singkat. Sepertinya Arin tipe cowok yang tertutup, dan tidak mudah menceritakan kehidupan pribadinya.


" Boro-boro membelikan es krim, bawain barang belanjaan saja tidak kepikiran, bukan tipe lelaki idaman", batin Dila.


Perjalanan sekitar 10 menit dari minimarket hingga sampai di rumah.


Keadaan rumah sudah ramai, Bi Darsih langsung menarik Dila agar berjalan lebih cepat.


" Kamu itu kalau pergi bawa HP, jadi orang rumah bisa hubungi kamu!", oceh bi Darsih masih menarik tangan Dila menuju kamar El.


Ari mengikuti mereka berdua, namun hanya berdiri di depan kamar El.


Sampai di kamar El, Dila meletakkan kantong plastik berisi belanjaannya di lantai dekat pintu.


" El kenapa?".


Padahal tadi lagi tidur nyenyak, karena itulah Dila berani meninggalkan El sendirian. Tapi kenapa sekarang El nangis kejer seperti itu?


Indra yang sedang menggendong El langsung menatap Dila dengan tajam, wajahnya penuh dengan amarah.


" Kamu...!", belum selesai Indra bicara, Dila langsung menarik tubuh El dan menggendongnya. Ternyata badan El sangat panas.


" Ini pasti gara-gara tadi mainan air terlalu lama", batin Dila.

__ADS_1


Dila langsung mengambil Paracetamol di kotak obat, " bi tolong ambilkan air putih yang anget ya", ucap Dila pada Ana.


" Bi Darsih tolong ambilkan kompres ya, air hangat dan kain handuk kecil"


" El diam dulu ya sayang, jangan nangis, nanti El malah jadi makin pusing", Dila menepuk-nepuk punggung El, agar merasa lebih tenang. El pun menurut, perlahan menghentikan tangisannya, " anak pinter minum sirup dulu, ini sirup rasa leci, manis, biar El nggak pusing lagi".


Bi Ana sudah membawa air putih hangat. Dila memberikan El satu sendok sirup penurun panas, sekaligus obat sakit kepala. Lalu merebahkan El di kasurnya.


Bi Darsih membawa kompresan beserta baskom berisi air hangat. Dila mengompres El dengan telaten.


" Makasih ya Bi, sekarang kalian kembali ke kamar saja, El butuh istirahat dan butuh ketenangan, kalau kalian semua disini malah membuat El semakin tidak nyaman".


Bi Darsih dan bi Ana langsung keluar dari kamar El, begitu juga dengan Ari yang memilih keluar rumah, takut ikut kena semprot oleh bosnya . Hanya ada El, Dila dan Indra yang masih di kamar.


Dila terus mengganti kompres yang ada di kening El jika terasa sudah dingin. Setengah jam kemudian El pun kembali tidur karena sirup yang diminumnya ada efek samping membuat ngantuk.


Indra memberi kode pada Dila agar keluar dari kamar El sebentar. Dila tahu betul pasti dirinya akan di marahi karena sudah membuat kesalahan. Dila berjalan keluar kamar dan berdiri sambil menunduk di depan Indra yang sudah berkacak pinggang.


" Kamu tahu apa kesalahanmu?".


Dila langsung mengangguk dengan cepat.


" Jangan mentang-mentang El menyukai kamu dan nurut sama kamu, kamu jadi seenaknya sendiri ya mengasuhnya!".


" Kalau mau keluar rumah itu pamitan dulu, jangan pergi seenak kamu sendiri. Apa lagi El lagi panas dan rewel seperti itu".


" Kalau kamu masih membuat kesalahan lagi, saya tidak segan-segan akan memecat kamu. Masih banyak orang di luaran sana yang membutuhkan pekerjaan, dan mau menjadi pengasuh El !".


" Ayah....", rengekan El membuat Indra terpaksa menghentikan omelannya dan kembali masuk ke dalam kamar. Dila juga ikut masuk.


" Iya sayang... kenapa?", Indra mengusap kepala El, yang sudah mulai turun panasnya.


El berkeringat cukup banyak. " El sayang, bajunya dilepas dulu ya, ini bajunya panjang, jadi El berkeringat karena gerah". Dila mengambil kaos pendek yang tipis untuk mengganti baju El yang basah karena keringat.


" Apa El masih pusing ?".


El menggeleng. " El sudah nggak pusing ayah. El mau bobo lagi, ayah jangan malah-malah telus sama kak Dila".


Dila begitu tersentuh dengan ucapan El yang meminta pada ayahnya untuk tidak memarahinya.


" Ayah nggak marah-marah sama kakak, tadi ayah cuma menegur kak Dila, karena kakak sudah berbuat salah. Sekarang El bobo lagi ya, malam ini kak Dila mau temenin El bobo disini".


El mengangguk dan kembali memejamkan matanya.


Indra terpaksa harus menyudahi omelannya pada Dila, karena permintaan dari El.


" Tuan istirahat saja, El biar saya yang temani".

__ADS_1


Sebenarnya Indra masih ingin menemani El, tapi karena Dila akan tidur bersama El, akhirnya Indra keluar dari kamar El dan kembali ke ruang kerjanya.


__ADS_2