Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 42


__ADS_3

Dila tidak menyangkal jika dia juga wanita biasa yang mempunyai keinginan untuk berbelanja, memiliki barang-barang bagus, shopping di mall, dan juga memakai perhiasan. Tapi dalam hati kecil Dila dia menolak memakai pemberian Indra itu, Dila kembali berfikir, jika dia belum bisa menjadi istri yang baik untuk Indra, belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri Indra sepenuhnya, termasuk melayaninya lahir dan batin, maka Dila juga tidak akan pernah memakai kartu sakti itu meski hanya sekali.


Kartu sakti berwarna hitam itu Dila masukkan kedalam dompetnya setelah Indra berpamitan pada El dan padanya untuk berangkat kerja.


Demam yang Indra alami semalam memang sudah sembuh, pemulihannya lebih cepat setelah pagi tadi Indra mendengar kalimat Dila yang menyuruhnya untuk berusaha membuat Dila jatuh cinta pada nya, Indra jadi merasa bersemangat untuk menaklukkan hati Dila.


Dila kembali melakukan rutinitasnya seperti biasa, mengantar El ke Bimba, dan mengasuh El seharian, tidak ada rasa bosan meski yang dilakukannya setiap harinya tetap sama.


Hari ini saat El sedang di dalam kelas, Dila mendapatkan telepon dari Evan, mungkin sejak kemarin Evan sudah menunggu-nunggu telepon dari Dila, namun Dila tak kunjung meneleponnya. Karena itu Evan berinisiatif menghubungi Dila terlebih dahulu.


Mereka saling berbalas salam dan Evan tak bertele-tele, langsung pada inti pertanyaan yang ingin di ajukan nya, " sudah membaca surat yang ku letakkan di buku kecil itu?".


" Sudah", jawab Dila singkat.


" Jadi bagaimana, apa jawaban kamu Dil?".


" Aku nggak bisa Van, maaf karena kamu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri", jawab Dila jujur.


" Apa karena calon kamu di kampung, sehingga kamu menolakku?. Atau gara-gara Kunto?", Dila kaget saat Evan menyebut nama Kunto juga, karena selama ini Dila tidak pernah bercerita tentang kedekatannya dengan Kunto.


" Apa maksud kamu Van?", bukan karena siapapun, tapi karena memang aku menganggap kamu sudah seperti saudara", ucap Dila tegas.


Terdengar suara Evan yang terkekeh dari dalam ponsel Dila.


" Kunto mengatakan kalau dia menyukaimu saat dia hendak kembali ke Pemalang. Dia juga bilang mau menemui mu terlebih dahulu di Jakarta sebelum pulang. Saat itu diam-diam aku mengikutinya, dan melihat kalian berpelukan di depan minimarket. Apa kamu memilihnya Dil?"


" Apa kamu tahu Dil, kalau Kunto sebenarnya anak orang kaya. Tapi dia sok sokan mandiri dan ingin hidup dengan jerih payahnya sendiri".


Dila menjauhkan ponselnya karena suara Evan semakin keras seperti orang yang sedang marah.


" Mas Kun hanya bilang akan pulang dan melanjutkan kuliah, karena dia dikhianati pacarnya yang di kampung, gadis yang sedang diperjuangkan olehnya berkhianat", ujar Dila.


" Jadi kamu tahu banyak tentang Kunto rupanya. Sarah itu sepupuku Dil, mantan kekasih Kunto itu anak bibiku".


Dila mengernyitkan keningnya," permasalahan dua sahabat itu komplek sekali", pikir Dila.


" Untuk hal itu, aku nggak tahu dan nggak mau tahu Van. Dan perlu kamu tahu, pelukan saat di depan minimarket itu, aku terpaksa membiarkan Kunto melakukannya, aku sudah berusaha menolak Van".


" Yang jelas saat ini, aku cuma menganggap kalian semua teman baikku, yang sudah aku anggap seperti saudaraku semua, baik terhadapmu, atau pada Mas Kun, posisi kalian sama. Kalian orang-orang baik, dan aku berterima kasih untuk semua bantuan yang kalian berikan saat aku tengah kesusahan dulu".


" Sudah dulu ya Van, El sudah keluar dari kelasnya, aku harap silaturahmi kita tetap berjalan dengan baik. Dan semoga kamu secepatnya bisa menemukan gadis baik yang mencintai kamu sepenuh hati. Kabari dan kenalkan padaku jika kamu sudah menemukan gadis yang seperti itu", Dila menutup telepon setelah mengucap salam.

__ADS_1


El terlihat keluar dari kelas dengan wajah ditekuk dan terlihat marah.


" El kenapa sayang?, tadi pas masuk kelas, El masih ceria, coba ceritakan sama ibu, apa yang terjadi?". Dila menekuk lututnya mensejajarkan diri dengan El.


" Ada yang dolong El di kelas tadi, El kan nggak nakal, tapi Mimi telus dolong-dolong El gala-gala El ngoblol sama Faza, El kan mau punya teman banyak".


El ternyata merasa disakiti teman perempuannya yang cemburu karena El bermain dengan teman perempuan yang lain.


" Miminya mana?, biar ibu bicara sama Mimi".


El menggelengkan kepalanya. " Mimi sudah pelgi sama baby sittel nya".


" Ya sudah, besok kalau berangkat lagi, ibu akan bicara dengan Mimi, sekarang kita pulang yuk..., atau El mau kita main kemana?", tanya Dila dengan sabar.


" El mau ketemu ayah sekalang, El mau celita sama ayah kalau Mimi nakal sama El".


Dila mengangguk, " oke nanti bicara sama ayah kalau ayah sudah pulang kerja", Dila menggandeng tangan El, mengajak El pulang.


" Bukan nanti, El maunya sekalang ibu Dila, El mau ke kantol ayah sekalang", El merengek minta diantar ke kantor ayahnya saat ini juga.


Dila memang belum pernah ke kantor Indra, bahkan tidak tahu alamat kantor Indra berada.


" Nanti coba ibu tanya sama Mas Ari dimana kantor ayah, ibu kan belum pernah kesana".


Setelah mengetahui alamat kantor Indra, Dila pun mengajak El naik ke motor dan mencari alamat itu. Perjalanan selama 45 menit hingga Dila sampai di alamat tujuan.


Dila menatap gedung bertingkat dihadapannya yang menjulang tinggi hingga dirinya harus menengadah seperti menatap langit jika harus melihat atap gedung itu.


" Ye.... kita sampai di kantol ayah, ayo Ibu Dila, kita masuk ke dalam, temui ayah, El mau celita kalau Mimi jahat sama El". Dila yang sedang terbengong bengong saking takjubnya langsung tersadar karena tangannya ditarik oleh El.


" Selamat siang Nona, apa ada yang bisa kami bantu?", tanya seorang security yang berjaga di depan pintu masuk kantor.


" Saya mau ketemu Pak Indra Pambudi, apa bisa?", tanya Dila gugup, karena ini pertama kalinya Dila datang ke kantor sebesar itu.


" Apa Nona sudah membuat janji dengan Tuan Indra?", tanya security itu lagi.


" Belum Pak, apa harus membuat janji terlebih dahulu?", tanya Dila.


" Betul Nona, kalau belum membuat janji sebaiknya Nona pulang, dan datang kemari lagi besok, Pak Indra itu orang sibuk, jadi tidak bisa menemuinya sesuka hati, harus buat janji dulu", ujar security.


Dila pun mengajak El keluar, " El belum bisa ketemu ayah, ayah El lagi sibuk, jadi cerita sama ayahnya nanti saja ya di rumah".

__ADS_1


El masih merajuk, " tapi El maunya sekalang Bu Dila".


" Ya sudah Ibu coba telepon ayah dulu", ujar Dila.


Baru saja Dila hendak menghubungi Indra, ada seorang security lain yang baru saja keluar dari dalam gedung itu. Security yang baru keluar menatap El dan membungkukkan badannya.


" Kenapa kamu suruh anak itu pergi, dia putra Tuan Indra, kamu itu bisa dimarahi Bos berani mengusir mereka!". security yang baru keluar memarahi security baru yang sedang bertugas jaga di pintu masuk.


" Nona tunggu, mari saya antar ke ruangan Tuan Indra, maafkan ketidak nyamanan tadi, dia itu security baru, belum tahu tuan muda El adalah putra dari pemilik perusahaan ini", ucap security senior.


" Pemilik perusahaan?, jadi Indra yang punya perusahaan ini?", batin Dila, masih merasa tidak percaya. Selama ini Dila mengira Indra hanya bekerja di kantor sebagai atasan, bukan sebagai pemilik perusahaan. " Jadi sekaya apa Mas Indra itu, jika perusahaannya sebesar ini, berapa banyak karyawan yang bekerja disini ?", Dila bertanya-tanya dalam hatinya.


" Pantas saja Mas Indra selalu sibuk bekerja, karena dia bertanggung jawab untuk hajat hidup orang banyak", sekilas ada rasa kagum terbersit dalam benak Dila.


Dila mengikuti security itu masuk kedalam lift, security itu memencet angka 20, itu berarti lift akan membawa mereka ke lantai 20, dimana ruangan Indra berada disana.


Baru pertama kali ini Dila naik lift dan menuju lantai 20, karena biasanya paling tinggi hanya sampai ke lantai 3, atau lantai 4 jika sedang jalan-jalan di mall.


Ting....


Pintu lift terbuka, security itu keluar, dan Dila terus mengikutinya, melewati lorong panjang yang disampingnya Dila bisa melihat dari kaca gedung tampilan kota Jakarta dibawah sana.


" Ruangannya yang ini Nona, silahkan masuk saja, saya permisi kembali ke pos, karena harus berjaga", ujar security itu dengan sopan.


Dila mengangguk dan berterimakasih kepada security yang di dadanya tertulis nama 'Jamal'.


Dila mengetuk pintu ruangan Indra, namun sepi tak ada jawaban.


" Ayo Bu Dila, kita masuk saja, kan luang kelja ayah itu luas, mungkin ayah tidak dengan", El meminta Dila membuka pintu itu, dan Dila melakukannya.


El langsung berlari masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, dan Dila mengikuti dari belakang sambil menutup pintu itu kembali.


" Ayah...!", teriak El.


Terlihat betapa terkejutnya Indra melihat El dan Dila berada di ruang kerjanya.


Dan Dila juga tak kalah lebih terkejut melihat pemandangan di dalam ruangan itu, Indra sedang duduk di kursi kerjanya dan ada Tania dengan kemeja kerja yang sangat seksi ngepres di badan membentuk lekuk tubuhnya, dan kancing bagian atas kemeja yang sengaja dibuka, agar terlihat belahan dadanya, sedang duduk di pangkuan Indra.


Dila langsung mengejar El dan menutupi matanya agar tak melihat apa yang sedang ayahnya itu lakukan.


" El..!, Dila..!", Indra langsung mendorong tubuh Tania dari pangkuannya dengan kasar.

__ADS_1


" Sebaiknya kita pulang dulu sayang... El bisa bicara dengan ayahnya nanti saja di rumah". Dila langsung menggendong El dan keluar dari ruang kerja Indra.


__ADS_2