Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 74


__ADS_3

Dila masuk ke dalam mobil bersama El dan ibu mertuanya, El memang masih liburan sekolah, seminggu sebelum lebaran dan seminggu setelah lebaran, besok hari terakhirnya liburan, dan Fatma ingin El ikut bersamanya ke salon.


Meski masih kecil, tapi El sudah sering ikut ke salon untuk mengikuti treatment anak-anak, potong rambut, pijat, lulur, keramas juga perawatan kuku. Sang nenek yang seringkali mengajak El, memang tidak ada salahnya merawat dan memanjakan tubuh, karena sebenarnya bukan hanya perempuan saja yang butuh perawatan.


Memang tak jarang El menolak ajakan neneknya tiap kali di ajak ke salon, tapi kali ini El nurut karena mereka pergi bersama Bu Dila.


" Selamat datang Nyonya..., silahkan memilih paket perawatan yang diinginkan".


Resepsionis salon langsung menunjukkan brosur dengan berbagai paket perawatan, dan Fatma langsung memilih paket perawatan lengkap, mulai dari perawatan rambut hingga perawatan kuku kaki. Alhasil seharian Dila dan El menghabiskan waktunya di salon.


Saat siang hari, Dila dan El sudah terlebih dahulu selesai perawatan, sedangkan Fatma masih satu perawatan lagi, yaitu mani padi.


Dila mengajak El untuk keluar terlebih dahulu, karena El terus berlarian, tak sengaja El menabrak seorang wanita paruh baya seumuran neneknya tengah berjalan masuk menuju ke dalam salon.


Wanita itu sedang menengok ke belakang dan berbicara dengan wanita yang lebih muda yang berjalan di belakangnya.


" Aw....!", teriak wanita paruh baya itu yang tasnya terjatuh saat di tabrak El.


" Kok bisa anak kecil diperbolehkan lari-lari di salon mahal seperti ini, mana ibu kamu!", suara keras dari wanita paruh baya itu membuat El takut dan berlari kembali ke dalam bersembunyi di belakang Dila.


Fatma masih berada di dalam sedang perawatan. Dila yang mengikuti El langsung mendekat ke wanita paruh baya yang tadi bicara keras dan membuat El ketakutan.


" Maafkan putra saya Nyonya, dia tak sengaja menabrak Nyonya tadi, anak kecil memang suka lari-lari di manapun berada", ucap Dila sopan sambil menunduk dan memegangi El menyuruhnya untuk meminta maaf. Tapi El terlanjur takut dengan wanita paruh baya yang terlihat judes itu dan tetap bersembunyi di belakang Dila.


" Kalau tahu anak kecil suka lari-larian, kamu sebagai ibunya yang harus ekstra hati-hati jagain anak kamu, nggak tahu apa ini tas mahal dan limited edition, ini harus dipesan ke Paris terlebih dahulu jauh-jauh hari, kalau lecet kan sayang barang mahal !", wanita paruh baya itu sengaja menekankan kata 'barang mahal'.


Ucapan wanita paruh baya itu sungguh sangat angkuh dan sombong. Dila menatap tas itu, " barang seperti itu saja dibela-belain sampai memarahi anak kecil hingga ketakutan", gerutu Dila, namun hanya dalam hatinya tentu saja.


" Mami ada apa sih, katanya mau treatment kok malah marah-marah nggak jelas".


Wanita muda yang tadi berjalan di belakang wanita paruh baya itu menyebutnya 'mami'.


" Dila.... !", teriak wanita muda yang baru masuk salon itu.

__ADS_1


Dila yang sejak tadi sedang menggerutu dalam hatinya sambil menatap tas milik wanita paruh baya yang masih marah-marah tidak jelas itu menatap ke belakang.


" Lita...!", ujar Dila sambil menunjuk dengan jarinya".


" Waaaah..... akhirnya ketemu Dila juga", Lita langsung melewati ibunya dan memeluk Dila dengan begitu erat.


" Sejak kemarin-kemarin aku ingin sekali bertemu sama kamu, tapi begitu sampai Jakarta langsung diberi begitu banyak pekerjaan di kantor papi, mana menghadapi lebaran, urus gaji dan THR karyawannya Papi, aku sampai nggak kemana-mana lebaran kemarin saking capeknya ngurus kerjaan. Malah ketemu sama kamu disini, senangnya", Lita masih kegirangan sambil meremas kedua lengan Dila.


" Kamu kenal sama wanita ini Lit?", tanya maminya Lita dengan lirikan matanya.


" Ibunya Lita... wait.. berarti dia ibunya mba Kayla juga dong, jadi wanita yang tadi memarahi El itu adalah neneknya sendiri", pikir Dila dalam hati.


" Dia sahabat aku waktu kuliah di Jogja Mami... yang di taksir sama Mas Bram", terang Lita.


Lita memang tidak terlalu dekat dengan maminya, hanya pernah cerita punya sahabat di Jogja bernama Dila, dan Mas Bram sepupunya naksir sama Dila dan ngajak Dila bekerjasama dalam bisnis nasi cup.


Dila sudah khawatir jika maminya Lita tahu jika dirinya istri barunya Indra, namun dari ekspresi wajahnya justru terlihat lebih melunak setelah mengetahui Dila adalah sahabat Lita.


" Kenapa dia menyebut anak kecil itu sebagai putranya, bahkan setahuku dia adik tingkatan Lita, kuliah saja kan belum selesai, mungkin anak kecil itu adalah saudaranya", batin Maminya Lita membuat kesimpulan sendiri.


" Ya sudah kalau kalian mau ngobrol dulu silahkan, Mami masuk kedalam ya, sudah janjian sama dokter kulit sejak tadi, pasti mami lagi di tungguin". Maminya Lita langsung menuju ruangan dokter spesialis perawatan kulit wajah, jadi tidak sampai bertemu dengan Fatma, sang mantan besan.


" Kamu kesini sama siapa?", Lita menarik Dila dan mengajaknya duduk di kursi yang tersedia. Tak lupa Lita mengusap pipi El sang keponakan yang semakin besar dan tambah ganteng. " Maafin nenek tadi ya sayang...", ujar Lita pada El. El hanya mengangguk pelan.


Salon yang mereka datangi memang cukup besar dan mahal, sehingga tamu salon yang datang rata-rata dari kalangan menengah keatas, wajar saja kalau tidak terlalu mengantri karena yang datang biasanya sudah membuat janji terlebih dahulu, atau bisa langsung masuk ke ruang perawatan.


" Sama neneknya El, masih di dalam tadi, sepertinya belum selesai perawatan, lagi ngobrol sama temannya yang lagi nyalon juga".


" Apa kamu nggak pernah cerita tentang aku sama mami kamu?", tanya Dila penasaran.


Lita menggeleng, " aku kan sudah pernah cerita sama kamu, aku itu nggak deket banget sama kedua orangtuaku, mereka itu lebih Deket ke kak Kayla, mungkin karena aku tipe anak yang nggak mau di atur, beda sama Kak Kayla yang selalu penurut, makanya perlakuan mereka ke aku dan kakakku jauh berbeda".


" Aku cuma pernah cerita kalau Mas Bram naksir kamu, gara-gara waktu itu ibunya Mas Bram main ke rumah, dan cerita kalau mas Bram lagi naksir sama temen aku".

__ADS_1


Dila hanya melongo tidak percaya karena ternyata Ibunya Bram sampai tahu jika putranya menyukainya. Padahal Bram kan sudah dewasa, dan gadis yang dipacarinya pasti sudah diluar hitungan jari saking banyaknya, Dila pikir keluarga Bram tidak ada yang tahu, namun ternyata cukup perhatian juga ibunya Bram kepada putranya yang sudah dewasa.


Lita mendapatkan panggilan telepon dari maminya, " ish.... mami itu nggak sabaran banget, sori Dil, aku masuk ke dalam dulu ya, besok-besok aku chat kamu, masih liburan kuliahnya kan?, kita jalan-jalan berdua besok-besok, oke?". Lita mengambil dua batang coklat dari dalam tasnya dan diberikan pada El, El yang sejak tadi nampak murung langsung berubah sumringah.


" Dadah El...", Lita langsung masuk ke ruang dokter perawatan kulit karena terus ditelepon maminya. Dila hanya tersenyum melihat tingkah Lita yang berjalan sambil terus menggerutu.


" Makasih Tante..!", seru El, meski sepertinya tak di dengar oleh Lita yang sudah keburu masuk ruangan dokter spesialis perawatan kulit.


" Kita pulang sekarang sayang...atau mau mampir makan siang di restoran dulu?, itu restoran yang di samping salon ini katanya masakannya lumayan enak, temen ibu yang tadi rekomendasikan ", Fatma baru saja keluar dari dalam, sehingga tidak sempat bertemu dengan Lita.


" Nenek kita makan pizza saja, El nggak mau makan nasi", ucap El sambil berdiri dan membuka bungkus coklatnya.


" Dapat coklat dari mana cucu nenek?".


" Dari Tante yang maminya galak tadi Nek", jawab El dengan polosnya.


Fatma menatap Dila seolah bertanya siapa?.


" Teman Dila waktu kuliah di Jogja Bu", jawab Dila seperlunya.


" Ya sudah sekarang kita makan pizza saja, sesuai keinginan cucu nenek yang paling ganteng ini". Fatma meraih tangan El dan mengajaknya keluar dari salon kecantikan itu.


Hanya melewati dua pertigaan, Dila, Fatma dan El sudah sampai di tempat penjualan pizza, El langsung memesan pizza dengan ukuran paling besar yang panjangnya satu meter, Dila dan Fatma hanya saling berpandangan sambil menggelengkan kepala.


" Apa El bisa menghabiskan semuanya?", akhirnya Dila hanya memesan minuman saja, karena El pasti tidak akan bisa menghabiskan pizza nya seorang diri. Begitu juga dengan Fatma yang hanya memesan jus melon saja.


" Kan makannya sama-sama Bu Dila dan nenek", jawab El sambil meringis.


Ternyata El memang ingin mencoba pizza yang sangat besar karena penasaran setelah mendengar cerita dari salah satu teman sekolahnya sebelum liburan sekolah. El sudah berniat akan mengajak Bu Dila membeli pizza saat liburan sekolah nanti, dan setelah menunggu selama setengah jam, pizza sepanjang ukuran meja sudah tersaji di hadapannya.


El begitu sumringah menatap pizza super besar itu, " ibu, sekarang tolong ambil foto El, jangan lupa pizza-nya kelihatan di foto ya Bu....".


Dila hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan tingkah El.

__ADS_1


__ADS_2