Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 64


__ADS_3

Bram mengingat pertemuannya dengan Bu Fatma pagi tadi di sebuah restoran di dekat Malioboro. Bu Fatma entah mendapatkan nomer HP nya dari siapa, tapi Bram tidak bisa membantah keinginan neneknya El itu, karena pemasok minyak dan beras terbesar di pengolahan makanan perusahaannya adalah dari perusahaan yang di kelola oleh Tuan Rizal suaminya.


Bram mau tidak mau menuruti keinginan Bu Fatma untuk mencari alasan yang tepat membuat Dila bisa kembali tinggal dirumah Indra secepatnya. Bu Fatma juga mengancam Bram agar tidak lagi mendekati Dila menantu kesayangannya, jika perusahaannya ingin tetap berada di titik aman.


Sebenarnya Bram sangat geram saat itu, karena dirinya tidak bisa memperjuangkan Dila lagi, Bram tidak masalah untuk beradu dengan Indra, hanya saja Indra memiliki power juga dari orang tuanya. Bram tidak menyangka jika Dila begitu disayang oleh keluarga Indra.


Padahal seingat Bram, saat Keyla sepupunya, dulu menjadi menantu keluarga itu, semuanya nampak biasa-biasa saja. Tidak se proteks seperti sikap mereka kepada Dila. Bahkan saat Keyla kabur dari rumah dan minta cerai pada Indra, pada saat itu Indra mencari Keyla seorang diri, tidak ada bantuan dari orang tuanya. Seolah perpisahan itu mendapat lampu hijau dari orang tua kedua belah pihak.


Bram memang pernah mendengar kisah masa lalu antara kedua orang tua Indra dan kedua orang tua Keyla yang cukup rumit. Tapi Bram tidak banyak bertanya dan mencari informasi tentang itu. Karena saat itu Bram merasa tidak perlu ikut campur dengan urusan rumah tangga sepupunya.


Tapi perbedaan kasih sayang Bu Fatma pada Dila dan Keyla membuat Bram menaruh tanda tanya besar.


Dila bukan siapa-siapa, dia berasal dari kampung, anak seorang petani biasa, tapi kasih sayang Bu Fatma begitu besar padanya. Seolah seperti pada putrinya sendiri.


" Jadi apa Mas Bram ngajak aku ke sini cuma mau ngomongin masalah itu?", Dila meminum jus yang ada di depannya dengan cepat.


Bram menggeleng, namun kemudian mengangguk. Sebenarnya masih banyak yang ingin dibicarakan Bram pada Dila, Bram juga masih ingin terus menatap Dila, tapi sepertinya Dila merasa tidak nyaman berdua saja bersamanya.


" Ya sudah kalau begitu, minumanku sudah habis, aku akan memikirkannya lagi Mas, tapi aku usahakan pindah Jakarta setelah menyelesaikan semester ini". Dila beranjak dari duduknya dan meninggalkan Bram duduk sendiri di dalam kafe.


Bram sebenarnya baik dan juga sopan pada Dila, namun Dila harus menjaga jarak dengan laki-laki lain karena ternyata dirinya masih berstatus istri Indra.


Sejak pertemuan dengan Bram di kafe itu, Dila mulai mempersiapkan diri untuk mengajukan permohonan pindah kampus ke tempat kuliahnya.


Semester depan Dila sudah harus mulai mengikuti KKN, jadi lebih cepat Dila pindah akan lebih baik. Dila juga berniat akan mencari tempat KKN di Jakarta.


Mungkin akan sedikit sulit karena harus beradaptasi lagi dengan orang-orang baru, hanya saja itu semua demi kebaikan bersama.


Semua prosedur pindah kuliah sudah Dila lakukan, saat Dila memberi tahu Indra bahwa dirinya akan segera pindah ke Jakarta Indra merasa sangat senang. Indra sengaja belum memberi tahu El dan Ibunya tentang kepindahan Dila yang sebentar lagi.


Diam-diam Indra mencarikan tempat kuliah yang sesuai keinginan Dila, dan juga tidak terlalu jauh dari rumah. Ada seorang teman SMA Indra yang menjadi dosen di kampus tempat Dila hendak pindah.


Jadi Indra merasa tenang karena saat Dila pindah ke Jakarta Dila bisa langsung mengikuti kegiatan kuliah seperti biasa.


Dila menyerahkan tanggungjawab mengelola ruko pada mba Hana dan Mia sebelum dirinya pindah lagi ke Jakarta. Tak lupa Dila juga berpamitan pada Lita sahabatnya, Lita sudah mulai menyelesaikan skripsinya, dan sebentar lagi kuliahnya selesai, jadi ada kemungkinan Lita juga akan menyusul Dila kembali ke Jakarta.

__ADS_1


Apa lagi kisah asmaranya dengan Felik telah kandas beberapa waktu yang lalu. Felik ternyata hanya main-main dan memanfaatkan Lita untuk menjadi dompet berjalannya. Felik yang anak rantau dari luar Jawa memang butuh banyak biaya hidup di Jogja, namun caranya salah karena memanfaatkan perasaan Lita yang tulus untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.


Lita sangat kecewa saat mengetahui Felik Diam-diam jalan dan nonton dengan gadis lain, yang juga menjadi target dompet berjalan selanjutnya.


_


_


Dila menaiki pesawat dengan penerbangan pagi. Sampai di Jakarta hanya Indra saja yang menjemputnya di bandara.


" El nggak ikut Mas?", tanya Dila mencari keberadaan El.


" Aku nggak kasih tahu El dan ibu kalau kamu datang hari ini, aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat sebelum kita pulang kerumah".


Indra langsung melajukan mobilnya ke salah satu hotel miliknya, dan menuju kamar presiden suite yang kadang menjadi tempat istirahat Indra saat dia merasa lelah dengan pekerjaan dan malas pulang.


" Kok kamu malah ngajak aku kesini sih mas?, kita harus ngurus pindahan ke kampus baru, belum lagi orang rumah pasti menantikan kedatangan kita", ujar Dila protes.


Indra hanya tersenyum, " kamu tenang saja, nggak ada yang tahu kamu pulang ke rumah hari ini, dan Mas sudah mendaftar kamu di kampus yang sesuai dengan jurusan kamu dan dekat dari rumah, ada teman Mas yang jadim dosen Diana. Kamu santai saja, Mas ingin kita menikmati hari ini hanya berdua saja, Mas sudah mengatur ulang jadwal mas hari ini agar bisa libur seharian. Mas sangat merindukanmu". Ujar Indra sambil membuka pintu hotel miliknya.


" Kamu sengaja pesen kamar ini Mas?", tanya Dila takjub, ternyata suaminya yang kaku bisa bersikap romantis juga.


Indra mengangguk, " ini hotel milik Mas, dan mas bebas memakai kamar mana saja, mas hanya ingin menyambut kedatangan kamu kembali ke Jakarta, Mas ingin hari pertama kamu menginjakkan kaki di Jakarta lagi menjadi hari yang membahagiakan dan tak akan pernah kamu lupakan hingga kamu tak berpikir untuk pergi lagi dari sini", ucap Indra.


Suara pintu kamar diketuk, dan seorang pelayan mendorong troli berisi berbagai macam makanan dan minuman masuk ke dalam kamar.


" Selamat menikmati hidangan yang kami siapkan, semoga Tuan dan nyonya menyukainya", si pelayan menunduk dan keluar dari kamar itu.


Indra langsung mengunci pintu kamarnya dan berjalan mendekat ke Dila, memeluk dan menciumi Dila di semua bagian wajahnya.


" Mau makan dulu atau mau aku makan dulu?".


Pertanyaan Indra sungguh membuat Dila merasa semakin malu.


" Kita makan dulu saja, aku belum sempat sarapan tadi pagi, kalau di makan dulu, perutku bisa protes", jawab Dila sambil nyengir kuda.

__ADS_1


Indra pun menurunkan makanan dari troli ke atas meja yang ada di depan sofa empuk di kamar itu, berbagai olahan daging dan juga sayuran tersaji memenuhi meja.


Dila sampai bingung mau mulai makan dari yang mana dulu saking banyaknya makanan.


Baru habis beberapa suapan, Dila benar-benar sudah merasa kenyang. Sehingga masih banyak makanan yang masih utuh belum termakan.


Dila hendak membereskan meja yang penuh makanan itu, tapi Indra melarangnya.


" Biarkan saja, nanti kalau kita lapar tinggal makan lagi, jadi nggak usah di beresin". Indra langsung menarik tangan Dila menuju ranjang dan menidurkan Dila di atas bunga mawar yang kini bertebaran sampai ke lantai karena berterbangan terhempas tubuh Dila dan Indra.


Lagi-lagi Indra memperlakukan Dila begitu istimewa, Dila dibuat tak bisa menolak setiap sentuhan yang Indra lakukan. Anehnya bahkan sentuhan demi sentuhan yang Indra lakukan membuat Dila ingin merasakan lebih dan lebih. Entah sudah ke berapa kalinya hingga siang hari Dila dan Indra masih tetap berada di ranjang yang sama.


Meski rasa lelah usai pergulatan ranjang Dila rasakan, tapi tiap Indra kembali menyentuhnya Dila tak bisa menolak.


Pergulatan mereka baru berakhir untuk yang ke sekian kalinya, saat Dila mengambil ponselnya dan mengangkat telepon dari sang ibu di kampung.


" Apa kamu sudah sampai di Jakarta".


Suara Siti terdengar begitu nyaring di ponsel Dila. Dila memang telah bercerita tentang dirinya yang belum di ceraikan oleh Indra selama ini. Dan Dila kembali ke Jakarta untuk menebus kesalahannya karena dulu pergi dari rumah tanpa pamit.


" Dila sudah sampai Bu, sekarang sedang bersama Mas Indra, apa Ibu mau ngobrol sama Mas Indra juga?", tanya Dila.


Siti pun mengobrol dengan Indra, meminta maaf atas sikap putrinya yang masih ke kanak-kanakan, karena dulu minggat dari rumah, Siti dan Toto memang tidak pernah tahu alasan Dila kabur, karena Dila juga tidak pernah menceritakan perihal itu.


" Nak Indra, kalau ibu boleh minta, kalian datanglah ke kampung, lakukan resepsi pernikahan disini, ibu masih sering di datangi beberapa pemuda yang menanyakan kapan Dila kembali dari perantauan".


" Ibu memang belum pernah menceritakan pernikahan kalian pada para tetangga, karena setahu ibu kalian sudah berpisah, ibu harap nak Indra bisa mengerti dengan keinginan ibu".


Indra pun menyetujui keinginan ibu dan bapak Dila untuk mengadakan resepsi di desa. Indra hanya mengatakan akan mencari hari yang tepat, dimana jadwal pekerjaannya dan juga kedua orang tuanya sedang santai.


Siti menyetujui dan mengatakan akan menunggu kabar selanjutnya. Karena sudah semakin risih dengan seringnya kedatangan tamu yang hendak melamar Dila.


" Makasih ya Mas, sudah mau menuruti keinginan kedua orang tuaku", Dila berterimakasih karena Indra mau menyempatkan waktu untuk ke kampung dan mengadakan resepsi pernikahan.


" Mas juga sebenarnya ingin melakukan resepsi di kampung tempat tinggalmu sejak awal, hanya saja ada kejadian seperti kemarin, membuat semua rencana berantakan".

__ADS_1


" Mas ingin semua orang tahu kalau kamu itu adalah istri Mas, dan tidak ada lagi yang berani untuk mendekati kamu", ujar Indra sambil mengecup kening Dila yang saat ini tengah menatapnya penuh cinta.


__ADS_2