
Senin pagi Dila bangun tidur saat mendengar adzan subuh berkumandang, ternyata lumayan ampuh mengoleskan lotion anti nyamuk pemberian Kunto semalam, nyamuk tidak seganas saat sebelum memakai lotion. Meski tidur hanya beralaskan tikar dan berbantalkan tas besar, namun Dila bisa tidur nyenyak, mungkin karena rasa capek setelah perjalanan jauh.
Dila menatap Asri yang masih tertidur pulas meringkuk di sampingnya, entah jam berapa Asri kembali ke kamar, karena semalam saat Dila masuk ke kamar untuk tidur Asri belum juga kembali.
" As... kita subuh jama'ah yuk...".
Asri masih tetap meringkuk tak bergeming dengan suara Dila yang membangunkannya.
" As, sudah adzan subuh kok kamu nggak mau bangun sih !".
Terlihat Asri menggeliat sambil bergumam.
" Aku lagi dapet, jadi nggak subuh, kamu subuh sendiri saja ya". Asri menguap lalu melanjutkan tidurnya.
" Owh, ya sudah kalau begitu", Dila keluar dari kamar untuk berwudhu, saat keluar kamar Dila melihat kamar yang berada persis di depan kamarnya terbuka pintunya, dan seorang pemuda tengah melepas sepatunya sambil duduk di depan pintu.
Dila mengangguk menyapa tetangga depan kamar kontrakannya. Pemuda itu membalas anggukan Dila sambil tersenyum ramah.
" Penghuni baru ya mba?".
Ternyata pemuda itu menyapa Dila terlebih dahulu.
" Eh... iya Mas", Dila yang sedang berjalan menuju kamar mandi menoleh ke pemuda hitam manis yang tinggal di depan kamarnya.
Sempat terlintas di benak Dila, mempertanyakan apa pekerjaan pemuda yang mengontrak di depan kamarnya, sejak Dila sampai di kontrakan kemarin, kamar itu selalu tertutup dan sepi, kenapa pagi-pagi sekali penghuni kamar depan baru pulang kerja?.
Bukankah kemarin Evan bercerita jika di PT besar biasanya shift kerja di bagi tiga shift dalam sehari, pulang jam 3, jam 11, dan jam 7, sedangkan pemuda itu pulang subuh-subuh, jadi Dila langsung menebak-nebak jika pemuda itu bukan bekerja di PT.
Ternyata dugaan Dila tepat, saat Dila meneruskan berjalan memasuki kamar mandi umum, Evan menyejajari langkahnya.
" Lagi mikir apa pagi-pagi?. Penasaran dengan kerjaan Joko ya?, kenapa jam segini baru pulang".
" Cowok yang tinggal di depan kamar kamu namanya Joko, dia itu supir bus antar jemput karyawan, jadi dia pulang kalau waktu kerjanya sudah selesai".
Dila mengangguk seolah Evan bisa membaca pikirannya. Ternyata pekerjaan pemuda yang bernama Joko itu adalah seorang supir bus jemputan.
" Kamu mau pergi sholat jama'ah bareng ke mushola?, nggak terlalu jauh dari sini, kalau mau ikut aku tungguin, mumpung belum terdengar iqomah".
Dila mengangguk setuju dengan ajakan Evan, selain akan mendapatkan pahala lebih banyak, Dila juga ingin tahu dimana letak mushola, sejak kemarin Dila hanya mendengar suara adzan yang terdengar keras, pertanda jika mushola tidak terlalu jauh dari kontrakan, tapi Dila belum melihat dimana letak mushola itu.
Dila berjalan mengikuti langkah Evan yang cukup jenjang, memang Evan cukup tinggi, mungkin tingginya sekitar 170cm, bekerja di PT besar di kota besar memang kadang ada standar minimal tinggi badan, jadi wajar karyawan di PT biasanya berperawakan tinggi.
__ADS_1
Evan berjalan cepat karena saat masih di jalan sudah terdengar suara iqomah, agar tidak tertinggal sholat jama'ah, jadi Evan mempercepat langkahnya.
Setelah sampai di pelataran mushola, Evan menunjuk pintu masuk sebelah kiri untuk masuk jama'ah perempuan, sedangkan Evan masuk melalui pintu depan.
Hanya sebentar melaksanakan sholat subuh, tapi jama'ah yang datang bisa dihitung hanya dengan hitungan jari. Kebanyakan penghuni di sekitar mushola memang seorang perantau, dan bekerja di pabrik atau PT, jadi mereka kadang tengah masuk shift malam, atau malas ke masjid karena baru tidur beberapa jam bagi yang masuk shift sore.
" Lama banget, habis ngapain dulu?, jangan kebanyakan minta, belum tentu di kabulkan, mending minta satu hal yang bisa mencakup semua permintaan yang kamu inginkan", ujar Evan sambil melangkah menghampiri Dila yang baru keluar mushola.
" Aku nggak tahu kalau kamu nungguin di sini, aku kira kamu langsung kembali ke kontrakan".
" Lagian siapa yang kebanyakan minta, aku tadi cuma rebahan di dalam mushola, disana tadi rasanya nyaman banget buat rebahan. Karpetnya tebal, dan wangi banget, pasti yang jadi petugas kebersihan di mushola orangnya rajin banget".
Dila berjalan sambil memeluk mukena dan sajadah kecil di tangannya.
" Pantesan lama, aku nungguin kamu sampai kaki ku di gerumut nyamuk", gumam Evan.
" Kamu nggak pakai lotion anti nyamuk punya Mas Kunto?, aku juga semalam di gerumut nyamuk, tapi di kasih lotion anti nyamuk sama mas Kunto, jadi nggak di gerumut lagi deh".
Evan menatap Dila heran.
" Kenapa berhenti?".
Dila baru tahu kalau Evan berhenti tiba-tiba.
" Sedikit aneh sih kalau semalam kamu di kasih lotion, kan kalian baru kenal", ucap Evan merasa heran.
" Memangnya kenapa Van kalau di kasih lotion, bukan cuma lotion yang dikasihkan ke aku, Mas Kunto juga ngasih nasi sama mie goreng, semalam kita makan malam bareng di depan kamar".
Evan semakin tidak percaya, karena setahu Evan, Kunto adalah tipe pemuda yang pendiam dan tidak mudah akrab dengan orang baru, apalagi dengan seorang gadis, biasanya Kunto akan dingin, cuek, masa bodo, dan nggak perduli dengan orang lain, karena begitulah sikap Kunto pada gadis yang sebelumnya menempati kamar yang sekarang ditempati Dila.
" Kamu serius Dil?, kalian kan baru kenal, kok bisa Kunto dan kamu makan malam bareng begitu?".
Dila mengernyitkan keningnya, saat ini mereka sudah berada di depan pintu masuk gedung kontrakan.
" Memangnya kenapa? kemarin kamu juga makan siang bareng sama aku dan Asri, bahkan kamu traktir kita berdua padahal kan kita baru kenal, apanya yang aneh".
" Kalau Mas Kunto ngajak aku makan bareng jadi aneh, berarti kamu juga orang yang aneh".
Dila membuka pintu kamar, masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutupnya, karena Asri masih tidur dengan menggunakan celana pendek yang longgar. Khawatir tiba-tiba ada tetangga kamar yang lewat, karena tetangga kamar mereka ternyata pejantan semua.
" Kamu berangkat ke LPK jam berapa Dil?", suara Evan dari kamar sebelah bisa terdengar jelas di telinga Dila, maupun Asri yang terpaksa bangun karena alarm ponselnya sudah berbunyi.
__ADS_1
" Jam setengah 7, kenapa ?".
" Aku juga hari ini masuk shift pagi, kita keluar yuk, cari sarapan bareng", ajak Evan.
" Kamu mau sarapan nggak As?", justru Dila bertanya pada Asri yang sedang duduk sambil mencari-cari sesuatu di dalam tas besarnya.
" Iya, nanti sarapan, sekarang aku mau mandi dulu. Tungguin aku ya, kalian berdua jangan pergi duluan, aku mandinya lama, soalnya sekalian mau ganti pemb....". Dila langsung membungkam mulut Asri dan melotot padanya. Masa iya Asri mau bilang ganti pembalut pada seorang cowok. Meski mereka di kamar yang berbeda dan tak saling melihat, tapi Dila tahu pasti, saat ini Evan dan Kunto bisa mendengar suara Asri dengan jelas.
" Kamu apa-apaan sih Dil, nggak usah tutup mulut aku juga aku nggak bakalan selesein kalimat aku".
" Tinggal disini itu sama seperti tidur sekamar, hanya saja di sekat dengan papan tipis, kalau papan ini aku lubangi sedikit, pasti aku bisa lihat ekspresi Evan yang lagi tidur sambil ngorok kayak semalem", ucap Asri sengaja meledek Evan.
" Enak saja, siapa yang tidurnya ngorok, kamu tuh yang tidur semalam kayak lagi berantem, bolak-balik nendangin papan, untung papannya nggak roboh !", ledekan Asri berhasil membuat Evan terpancing. Berarti benar, meski bicara dengan suara lirih, tapi dari kamar sebelah bisa terdengar dengan sangat jelas.
" Ye... siapa yang nendangin papan, aku tuh semalem nabokin nyamuk cemen yang beraninya nyerang keroyokan, nggak berani nyerang satu persatu".
" Justru aku aneh sama kamu dan Dila, nyamuk begitu banyak tapi bisa tidur nyenyak kayak kebo!".
Dila yang juga hendak mandi dan sudah siap membawa baju ganti, handuk, dan peralatan mandinya akhirnya meninggalkan Asri yang masih saja adu mulut dengan Evan.
" Mau mandi juga Mas?", tanya Dila saat melihat Kunto membawa handuk dan peralatan mandi juga, keluar dari kamarnya.
" Iya, sebenarnya masih pengen tidur sebentar lagi, tapi nggak bisa, gara-gara teman sekamar kamu sama Evan yang terus berisik". Kunto masuk ke dalam kamar mandi, begitu juga Dila yang masuk ke kamar mandi lainnya yang masih kosong.
Kamar mandi di kontrakan memang ada banyak, agar penghuni kontrakan yang cukup banyak tidak perlu berebut atau mengantri di kamar mandi.
Dila sudah selesai mandi dan langsung mencuci baju yang tadi dipakainya, kini Dila sudah mengenakan baju atasan putih dan bawahan rok hitam. Dila membawa pakaian yang sudah dicucinya keluar dari kamar mandi.
" Kalau mau jemur baju di atas mba", gumam salah satu penghuni kontrakan yang baru mau mandi.
Dila menatap ke atas gedung kontrakannya. Terlihat ada beberapa penghuni kamar lain yang juga membawa cucian dan menaiki tangga menuju atap gedung.
" Seandainya bawa baju ganti banyak pasti aku cuci bajunya dua hari sekali, biar hemat energi nggak naik turun ke atas, tapi apalah daya, aku cuma bawa baju santai beberapa lembar saja, kalau nggak langsung di cuci nanti nggak bisa ganti baju", batin Dila sambil menaiki tangga menuju tempat jemuran di lantai 3.
" Kenapa ngos-ngosan begitu?", Kunto yang sudah memakai seragam kerjanya sedang duduk di depan kamar sambil memakai kaus kaki.
" Habis jemur baju dari atas, ternyata capek juga, padahal cuma naik tangga dua lantai".
Kunto tersenyum lucu melihat ekspresi Dila.
" Kamu cuma belum terbiasa saja, nanti kalau sudah terbiasa tinggal disini juga lama-lama terbiasa naik turun tangga itu"
__ADS_1
Dila hanya nyengir kuda mendengar ucapan Kunto, kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk merapikan diri, menguncir rambut agak tinggi dan memakai jepitan rambut yang membuat rambutnya terlihat lebih rapi. Dila juga memakai bedak bayi yang dibawanya dari rumah. Bedak bayi dengan kemasan paling kecil yang jarang dipakai oleh Dila, sehingga satu botol dengan kemasan kecil bisa awet hingga satu tahun pemakaian baru habis.
" Wah sudah cantik saja mbak Dila, tungguin aku rapikan dandanan aku sebentar ya, habis ini kita langsung mampir warung makan buat sarapan, habis itu berangkat deh ke LPK". Asri yang baru masuk kamar langsung memasukkan pakaian kotornya ke dalam kantong plastik yang ada di dalam tasnya.