Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 54


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuan Bram dengan Indra di kantor Indra, ternyata Bram ada jadwal untuk mengisi seminar lagi di kampus UVW yang juga berada di Jogja, saat mengetahui jadwalnya dari sang sekertaris, Bram tersenyum sumringah.


" Oke, aku akan kesana, tapi sepertinya aku akan naik pesawat saja biar lebih cepat sampai. Kemarin melakukan perjalanan dengan mobil itu sangat melelahkan", ujar Bram.


Dan saat ini Bram telah selesai mengisi seminar di kampus UVW, Bram langsung menuju ruko Dila, namun ternyata Dila masih kuliah, hingga Bram harus menunggu sekitar 1 jam baru bisa bertemu dengan Dila.


" Gimana kabar kamu Dil?", Bram langsung menyapa Dila saat Dila baru pulang dari kampus.


" Baik, aku kira kamu cuma becanda mengatakan kalau kamu lagi di ruko, ternyata beneran. Lagi ada kerjaan di Jogja apa gimana nih, jauh-jauh dari Jakarta, nggak mungkin cuma main-main kan?", Dila duduk di kursi yang ada di depan Bram.


Dila melihat es teh manis di gelas Bram sudah habis, sepertinya Bram sudah cukup lama di rukonya.


" Iya, aku habis jadi pembicara di kampus UVW, yah... seperti itulah kegiatanku, setelah sukses jadi pengusaha yang masih muda jadi sering dapat undangan untuk jadi pembicara di mana-mana". Bram berkata sambil terkekeh.


" Sombong banget... terus ngapain pengusaha muda yang sukses ini sekarang ada disini?, mau-maunya nungguin mahasiswi biasa seperti aku sampe lama, buang-buang waktu kamu saja", ujar Dila.


" Loh, aku kesini kan mau mengajak kamu bekerja sama. Aku serius dengan tawaranku beberapa waktu lalu loh Dil, aku pengin mengembangkan usaha kamu ke beberapa kota lain, semacam buka cabang begitu", ujar Bram.


" Apa kamu yakin ngajak aku kerjasama?, menurut pandangan kamu sebagai seorang pengusaha, apa prospek nasi cup itu bagus kedepannya?", Dila nampak belum terlalu yakin untuk bekerja sama dengan Bram.


" Tentu saja, yang penting kamu berbagi resep masakan kamu, aku yang akan mengurus di daerah lain", ucap Bram


Dila nampak berpikir, " Aku pikir-pikir dulu, kalau sudah ada keputusan aku segera kabari".


Saat mereka berdua terdiam dan tenggelam dengan pemikiran masing-masing, Bram memanfaatkan momen itu untuk mencari tahu sedikit informasi tentang Dila.


Satu karyawan Dila menyajikan dua gelas es teh manis di meja mereka sesuai permintaan Dila tadi. Dil alun langsung menyeruput es teh manis miliknya.


" Dil, apa aku boleh menanyakan sesuatu hal sama kamu?", Bram nampak serius.


" Apa?, kenapa ekspresi kamu langsung berubah begitu?". Dila meletakkan gelas es teh yang dipegang nya di meja.


" Sebelum tinggal di Jogja, kamu tinggal dimana?", tanya Bram.


" Aku, tinggal di Jakarta, kenapa?, aku sempat bekerja disana hampir setahun", jawab Dila jujur.

__ADS_1


Bram langsung terdiam, berarti dugaannya benar, Dila yang dicari Indra, Dila yang ada difoto ruang kerja Indra, dan Dila yang jadi tetangga kontrakan Intan itu adalah orang yang sama dengan gadis yang ada dihadapannya saat ini, gadis yang langsung menarik perhatiannya pada pandangan pertama, gadis yang mengisi memori otaknya hingga hari-harinya dibuat sibuk memikirkan gadis itu.


" Kenapa harus kamu Dil, gadis yang sedang di cari Indra selama ini, aku sepertinya benar-benar menyukai kamu, tapi kamu adalah pengasuh yang sangat dinantikan kepulangannya oleh keponakanku", batin Bram


" Nggak papa, aku cuma penasaran saja dengan kehidupan kamu di masa yang lalu sebelum kamu ke sini", ujar Bram.


Dalam hati Bram ingin mengatakan pada Dila bahwa Dila sedang dicari oleh bekas majikannya, tapi di sisi lain, Bram tidak ingin Dila kembali ke Jakarta, karena kehidupan Dila saat ini sudah jauh lebih baik daripada kehidupannya yang dulu, yang harus lelah mengurus anak kecil yang bukan siapa-siapanya.


" Oke Dil, aku harap kamu bisa secepatnya menyetujui rencana kerjasama kita, jadi nantinya kamu sudah tidak terlalu capek bekerja sendiri, semua bisa di handle oleh karyawanku, dan kamu tinggal meraup hasilnya".


Dila mengangguk paham, dengan maksud ucapan Bram. Awalnya Dila khawatir untuk berhubungan lebih jauh dengan Bram, karena Dila tahu siapa itu Bram, setelah mengetahui jika Bram adalah kenalan Kak Intan bekas tetangga kontrakannya saat di Cibitung dulu.


Berarti Bram adalah seorang playboy yang diceritakan oleh Indra padanya, untung dulu Dila belum sempat bertemu maupun berkenalan dengan Bram, jadi Dila pikir Bram tidak mengenalinya. Dan mungkin bekerja sama dengan Bram tidak akan membuatnya bertemu dengan Indra lagi.


Namun pemikiran Dila salah besar. Sebulan setelah obrolan ringan di rukonya bersama Bram, Dila menyetujui kerjasama yang diajukan oleh Bram. Dalam waktu serentak Bram membuka cabang nasi cup ayam suwir di beberapa kota besar dengan banyak titik cabang tiap kota itu.


Pembukaan outlet nasi cup ayam suwir pun dilaksanakan sebulan setelah mereka berdua menandatangani perjanjian kerjasama sebagai partnership.


Dila sebagai partnership harus mendatangi pembukaan outlet di Jakarta. Bahkan di Jakarta saja ada 14 outlet yang tersebar di Jakarta timur, utara, barat, selatan dan Jakarta pusat. Dila bahkan tidak menyangka jika usahanya akan dipermudah jalannya seperti ini.


El yang sudah semakin besar dan semakin pintar menggunakan gedget melihat foto Dila di salah satu halaman berita online. El langsung menunjukkan pada neneknya foto Dila yang dilihatnya.


Siang itu juga sepulang dari TK, Fatma mengajak El ke kantor Indra dan menunjukkan apa yang tadi ditunjukkan El padanya.


" Ayah El mau ketemu sama Bu Dila, El kangen banget sama Bu Dila yah....", rengek El saat masuk ke ruang kerja Indra.


" Jadi yang menjadi partner Bram dan yang punya usaha nasi cup ayam suwir adalah Dila. Jadi Dila sekarang tinggal di Jogja dan menjadi seorang mahasiswi juga, tapi kenapa Bram tidak mengatakan apapun padaku, padahal jelas-jelas saat datang ke kantor dia melihat foto Dila di pajang di ruangan ku", batin Indra.


" Ayah ayo kita temui Bu Dila !".


Indra tersentak mendengar rengekan El.


" Iya sayang, kita temui Bu Dila, tapi nggak sekarang, ayah lagi kerja, akhir pekan ayah akan ajak kamu ketemu sama Bu Dila, ayah janji", ucap Indra berusaha membuat El berhenti merengek.


" Ibu juga mau ikut kalau kamu mau temui Dila", Fatma ikut saja seperti cucunya.

__ADS_1


" Iya Bu, tapi sekarang ibu ajak El pulang dulu, aku masih banyak banget pekerjaan", ujar Indra.


Fatma akhirnya mengajak El pulang setelah Indra menjanjikan akan mempertemukan mereka dengan Dila.


Untung Indra janji weekend baru akan menemui Dila, hari ini baru Senin, dan masih ada 5 hari lagi waktu yang dimiliki Indra untuk mempertemukan mereka.


Indra lebih dulu menyuruh orang kepercayaannya mencari alamat lengkap tempat tinggal Dila. Karena sudah tahu jika Dila tinggal di Jogja, dan kuliah di salah satu kampus disana.


Ternyata mencari data Dila sangat mudah, apalagi sekarang Dila cukup terkenal selain di kalangan mahasiswa, Dila juga dikenal sebagai pebisnis baru yang sedang naik daun.


Alamat lengkap tempat tinggal Dila sudah Indra simpan. Ternyata bukan hanya El saja yang sangat rindu, ingin bertemu dengan Dila, karena setelah mengetahui dimana Dila tinggal, Indra jadi terus memikirkan Dila... Dila...dan Dila..., bahkan mengurus pekerjaan pun Indra sudah tidak bisa fokus.


Senin sore sekitar pukul 4, Indra menyuruh sekertaris nya untuk memesan tiket pesawat online, Indra langsung menuju ke bandara diantar oleh sekertarisnya. Saat itu Indra sengaja menyuruh Ari supir pribadinya untuk pulang lebih dulu, karena tidak mau kepergiannya ke Jogja diketahui orang dirumahnya.


Jam setengah 5 kurang, pesawat yang ditumpangi Indra lepas landas, Indra terpaksa berbohong dan mengatakan pada ibunya dirinya harus lembur sampai malam, dan menitipkan El karena dirinya pulang telat.


Setengah 6 sore Indra sudah sampai di bandara Adisucipto, Indra memesan taksi untuk mengantarkannya ke alamat Dila tinggal. Persis saat adzan maghrib, Indra sampai di depan ruko itu.


Toko masih buka dan banyak pembeli yang sedang mengantri, kebanyakan pembeli online melalui gojeg, Indra memilih untuk sholat di mushola terdekat, baru setelah maghrib Indra masuk dan ikut menjadi pembeli nasi cup.


Saat itu Dila tidak ada di toko, mungkin dia sedang sholat, dan saat Indra sedang memakan nasi cup pesanannya, Indra bisa melihat Dila menuruni tangga dari lantai atas. Seketika jantung Indra berdetak dengan sangat cepat seakan tak percaya bisa melihat Dila lagi secara langsung seperti saat ini.


Ingin sekali Indra berlari dan memeluk istri yang sudah dua tahun tinggal berpisah darinya. Namun akal sehat Indra masih bekerja, pasti pengunjung yang lain akan heboh melihat tingkah absurd Indra. Indra masih makan dan sengaja membelakangi posisi Dila berada agar Dila tidak melihat keberadaannya.


" Mbak sholat dulu, biar saya gantian jaga, sekalian makan malam dulu di atas sudah saya siapin".


Suara Dila terdengar jelas di telinga Indra, membuat Indra rasanya ingin sekali menghampiri pemilik suara itu.


Indra bahkan sampai menghentikan makannya karena sejak tadi terus memasang telinga, mendengar sapaan Dila pada para pembeli dan juga ojol yang sedang mengantri.


" Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan mampir lagi", senyum di wajah Dila tiap kali ada pembeli yang selesai makan dan keluar dari toko itu.


Sudah setengah jam Indra duduk di sana, Dila merasa aneh dengan tamunya yang satu ini, makan begitu lama, padahal dia duduk seorang diri. Hingga akhirnya Dila menghampiri meja Indra berniat untuk menyapa pembelinya itu.


Dan saat Dila sampai dan melihat yang duduk di bangku itu adalah Indra, ekspresi Dila yang tadi tersenyum ramah seketika berubah kaget sekaligus panik. Dila langsung berlari ke belakang dan menyuruh karyawannya untuk jaga toko.

__ADS_1


Indra pun langsung berdiri dan mengejar Dila ke dalam.


__ADS_2