Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 31


__ADS_3

" Terserah Tuan Indra mau mikir apa tentang aku, yang penting sudah ku beri tahu Mas Kun itu bukan pacar aku, dia cuma tetangga kontrakan waktu tinggal di Cibitung, lagian siapa juga yang mau di peluk-peluk begitu, aku juga sudah berusaha melepaskan diri, tapi apa dayaku yang lemah ini". Dila meluapkan kekesalannya pada tembok di depannya.


" Jangan ngomong sama tembok Dil... nggak bakalan denger itu tembok, nggak ada kupingnya", ternyata ada Mang Santo yang sedang menyiangi rumput di sekitar teras.


" Hehehe, ada Mang Santo, sejak kapan di situ Mang?", Dila merasa malu karena ternyata ada orang lain disana.


" Sejak kamu keluar sambil lari-lari, saya sudah disini".


" Di maklumi saja kalau Pak Indra suka marah-marah, laki-laki kalau keinginannya nggak tersalurkan ya akhirnya seperti itu, gampang emosi. Karena itulah saya ngalah ikut kerja disini sama Darsih, dari pada punya istri tapi tinggal jauhan kaya nggak punya istri, bisa emosi saya tiap hari kalau lagi kepengin".


Dila mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang Mang Santo bicarakan.


" Saya masuk dulu ya Mang".


Dila masuk kerumah, dan sudah ada El yang menunggunya di ruang tamu sambil ngemil jajan pemberian Kunto tadi. Sedangkan Indra terlihat di ruang tengah menghadap laptop dan terlihat sedang meeting dengan seseorang.


" Padahal hari minggu, tapi kerja terus nggak ada liburnya", gumam Dila sambil mendudukkan dirinya di samping El.


" Kak Dila mau?". Dila menggeleng.


" Ayah memang begitu Kak, selalu sibuk dengan keljaan, makanya El nggak betah dilumah, pengennya kelual cali ibu, bial ada yang temenin main".


Dila jadi kasihan pada El dan mengusap kepalanya, " El yang sabar ya, sekarang kan sudah ada kak Dila yang nemenin El tiap hari, jadi nggak perlu cari ibu lagi, oke?".


El mengangguk setuju.


" El kan juga mau sekolah, jadi El akan punya banyak teman di sekolah besok", ucap El girang.


" Betul itu, El memang anak yang cerdas", puji Dila.


" Telus, siapa cowok yang peluk kak Dila tadi?, apa dia pacal kak Dila?".


Mendengar pertanyaan El, Dila langsung tertawa lepas, sampai Indra penasaran, untung meeting nya sudah selesai. Diam-diam Indra menguping pembicaraan Dila bersama El di ruang tamu.


" El...El... memang menurut kamu pacar itu apa?, anak kecil kok sudah tahu pacar, kak Dila yang se gede ini saja belum tahu apa itu pacar".


" Dengerin kak Dila ya El sayang... Dari dulu kakak itu dilarang pacaran sama bapaknya kakak, karena katanya kalau pacaran itu bisa ganggu fokus belajar, bisa jadi males belajar karena memikirkan hal yang nggak penting".


" Karena itu sampai segede ini, kakak belum punya pacar, yang tadi itu teman kakak, dia tadi berpamitan mau pulang ke kampungnya, kamu lihat kan tadi cowok yang sama kakak kelihatan sedih dan menangis waktu meluk kakak, itu karena dia sedih dengan perpisahan".


" Cowok tadi itu namanya Mas Kun, dia tetangga kontrakan kakak yang paling baik, sering kasih makan, kasih jajan sama kakak, kan lumayan, kakak yang nggak punya uang jadi kebantu banget dengan punya tetangga yang baik kaya Mas Kun itu".

__ADS_1


El mengangguk-angguk, seperti paham dengan yang Dila katakan. Tapi tidak dengan Indra yang diam-diam nguping pembicaraan mereka, Indra masih saja manyun dan tidak percaya dengan penjelasan Dila.


_


_


Hari Senin pun tiba, hari yang ditunggu-tunggu oleh El karena ini hari pertama dirinya berangkat ke Bimba.


Benar kata Dila ada banyak teman sepantaran El di Bimba, El merasa senang karena bisa berkenalan dengan banyak teman baru.


Hari pertama El hanya belajar selama 30 menit secara rame-rame, dan 10 menit ngobrol intensif dengan guru pembimbing. El begitu senang karena akhirnya berkenalan dengan orang banyak.


Selama seminggu El berangkat 3 kali, Senin, Rabu dan Jum'at. Dila yang memilih paket itu, karena menurut Dila El masih terlalu kecil untuk mengikuti paket yang belajar full selama seminggu. Anak-anak seusia El masih suka bermain-main, jadi anggap saja ini langkah awal pengenalan dunia sekolah pada anak usia balita.


Semenjak El belajar di Bimba, hari-hari Dila semakin berwarna, berkenalan dengan ibu-ibu muda, dan juga pengasuh lain. Dila kini semakin banyak kenalan di Jakarta, dan lebih menggembirakan lagi, Dila sudah diperbolehkan membawa motor sendiri untuk antar jemput El ke Bimba, motor metik yang dipakai Indra saat ke minimarket waktu itu, kini menjadi kendaraan pribadi Dila dan El.


Awal berangkat ke Bimba Dila masih diantar oleh Ari menggunakan mobil, tapi lama kelamaan Dila merasa kurang nyaman, karena Indra jadi menyetir mobil sendiri ke kantor. Karena itu Dila memilih minta ijin menggunakan motor metik yang ada di garasi. Tentu saja awalnya Indra melarang, namun Dila meyakinkan jika semuanya bisa aman, dan lebih efisien jika Dila diperbolehkan membawa motor.


Hari berganti hari.... tak terasa sudah 6 bulan Dila bekerja di Jakarta menjadi pengasuh El.


Tiap ada waktu luang Dila berusaha mengabari orang tuanya jika dirinya betah dan kerasan bekerja di kota.


Asri, Nino, Wowo, Kunto, Evan dan semua teman Dila masih sering berkirim pesan dan tetap menjalin silaturahmi dengan baik.


Memang sampai saat ini penghuni rumah belum ada yang tahu jika sebenarnya Dila gadis yang sangat cantik. Hanya Ari dan Bu Fatma yang tahu.


Dan hari itu Bu Fatma sengaja datang ke rumah untuk berpamitan pada El karena hendak ke Malaysia untuk menemani persalinan Indri yang HPL nya sebentar lagi.


Bu Fatma juga menitipkan El pada Dila untuk terus menjaganya. Karena kepergian Bu Fatma kali ini mungkin akan cukup lama, setidaknya 4-6 bulan, sampai Indri bisa merawat sendiri anaknya nanti, Bu Fatma berniat akan terus mendampingi.


" Ibu tenang saja, saya janji akan merawat El dengan baik sampai ibu kembali ke Jakarta".


Bu Fatma memeluk Dila yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Ini kali pertama Dila melihat suami Bu Fatma. Ternyata kakeknya El adalah seorang pria paruh baya yang masih sehat dan bugar. Wajahnya mirip sekali dengan Indra, hanya saja Indra berambut lurus, sedangkan ayahnya agak ikal.


Dila , Indra, dan El melambaikan tangan saat mobil yang membawa Bu Fatma dan suaminya melaju menuju bandara.


" El nggak bisa ketemu nenek untuk beberapa bulan kedepan, jadi kalau El kangen, El jangan minta ke kak Dila di antar ke rumah nenek lagi ya, El Videocall saja sama nenek dan kakek, kan mereka lagi di rumah Tante Indri yang jauh, mau jagain dede bayi ".


El mengangguk mengerti.


" Nanti kalau El sudah besal, El juga mau lihat dede bayinya Tante Dila. El mau ajak Dede bayi main sama El, nanti El ajali melangkai puzzle, telus bikin istana dali Lego". Dila tertawa senang mendengar inisiatif El.

__ADS_1


" Kalau Kak Dila, apa nanti punya Dede bayi juga?". El bertanya dengan begitu polos. Padahal sedang ada ayahnya di samping mereka.


Dila sampai bingung mau jawab apa, akhirnya Dila punya ide.


" Kak Dila sudah punya Dede, tapi Dede kak Dila sudah besar, sekarang sudah sekolah di SMP", yang Dila maksud dengan sebutan dede adalah Dita adiknya.


Indra mendengus dan berlalu dari mereka berdua.


" Oh iya Dil, nanti malam saya ada pertemuan dengan klien penting dari luar negeri di hotel MM, sepertinya akan pulang larut malam, jadi kamu bisa tidur temani El malam ini", ucap Indra kemudian berlalu.


" Ye.... El mau bobo sama Kak Dila, asyiiik", teriak El kegirangan. Karena biasanya jika malam minggu Indra lah yang akan tidur berdua dengan El, namun karena malam ini Indra ada acara penting. Malam ini Dila yang akan tidur bersama El.


Malam pun tiba, Indra sudah pergi sejak pukul 7 tadi, dan saat ini sudah pukul 9 malam, tapi El tidak juga tidur meski Dila sudah membacakan dua buku cerita. Bahkan El mengajak Dila bermain ular tangga di ruang tengah, dan akhirnya Bi Darsih dan bi Ana ikut juga bermain ular tangga.


Mereka berempat bermain hingga jam 11 malam baru berhenti karena akhirnya El tertidur di kasur lantai. Dila menggendong El ke kamarnya. Bi Ana dan Bi Darsih juga langsung menuju kamar masing-masing dan mengunci pintu kamar mereka karena sudah sangat ngantuk.


Dila yang biasa melakukan ritual gosok gigi dan cuci muka sebelum tidur terpaksa kembali ke kamarnya terlebih dahulu untuk menjalankan ritualnya itu. Saat Dila selesai menggosok gigi dan cuci muka, Dila langsung menuju kamar El untuk tidur. Namun tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Semua penghuni rumah baru saja tidur, akhirnya Dila memilih melihat siapa yang bertamu tengah malam begini.


Ternyata Tuan Indra yang pulang bersama orang tak dikenal. Dila buru-buru membuka pintu dan mempersilahkan majikannya untuk masuk.


Betapa kagetnya Dila saat tiba-tiba Indra berjalan sempoyongan dan jatuh dipelukannya.


" Mba, ongkos taksi 80 ribu", ucap bapak-bapak yang mengantar Indra, Dila kebetulan mengantongi uang seratus ribu dan langsung menyerahkan pada supir taksi itu.


" Terimakasih pak, kembaliannya buat bapak saja".


Supir taksi berterimakasih dan langsung pergi dari rumah itu. Dila pun langsung mengunci pintu rumah. Dengan sekuat tenaga Dila membantu Indra berjalan menuju kamarnya.


" Ya Allah, bagaimana bisa sampai mabuk begini Tuan, jangan sampai El lihat ayahnya seperti ini, ini bukan contoh yang baik". Dila terus nyerocos menceramahi Indra yang setengah sadar.


Sampai di kamar Indra, Dila membantu membukakan sepatu dan kaus kaki yang Indra pakai. Tidak lupa Dila mengambil air hangat untuk menyeka wajah dan leher Indra yang sangat bau alkohol.


" Jangan sampai El tahu ayahnya mabuk, ini bau alkohol harus segera di bersihkan!", gumam Dila masih terus membersihkan wajah majikannya.


Dila sudah selesai membersihkan wajah Tuannya dan hendak keluar dari kamar itu. Tapi tiba-tiba Indra menarik tangan Dila, hingga Dila jatuh tersungkur di atas tubuh kekar Indra.


" Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendirian, aku butuh kamu", Indra terus bergumam tidak jelas. Dila berusaha melepas cengkeraman tangan Indra dan keluar dari kamar itu. Namun justru Indra menarik Dila dan mengungkungnya di atas ranjang.


Indra mendekatkan wajahnya ke wajah Dila yang saat ini sudah sangat panik.


" Tuan, anda sedang mabuk, jangan lakukan ini Tuan, ini salah besar!", Dila terus memberontak berusaha melepaskan diri dari kungkungan Indra, namun justru Indra menduduki paha Dila agar tidak terus memberontak.

__ADS_1


Dila sudah sangat khawatir dengan keadaannya sekarang, apalagi Dila bisa merasakan dengan jelas bagian bawah tubuh Indra yang saat ini terasa mengeras dan juga membesar.


" Ya Allah apa yang harus aku lakukan, tolong aku, aku tidak mau berbuat kesalahan yang fatal", Dila menangis ketakutan dengan perubahan sikap Indra yang menjadi liar.


__ADS_2