
" Apa Mba Dila masih ada sedikit rasa untuk mas Nino?", tanya Dita kembali berbisik.
Dila nampak terdiam sambil berpikir, bukan pertanyaan Dita yang sulit dijawab, karena Dila tahu persis apa yang dirasakan hatinya sendiri saat ini. Sudah tidak ada nama Nino di dalam hatinya. Namun perasaan bersalah karena telah mengingkari janjinya pada Nino membuatnya tidak bisa melupakan begitu saja satu nama itu.
Mungkin suatu saat nanti, ketika Nino menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya menggantikan dirinya, barulah rasa bersalah itu sedikit demi sedikit akan menghilang dengan sendirinya.
" Jadi masih sayang?", Dita menyimpulkan sendiri jawabannya, karena Dila tak kunjung menjawab.
Dila menggeleng. " Sekarang hanya ada Mas Indra yang ada di dalam hatiku, hanya suamiku sajalah yang aku cintai dan sayangi. Tentang masa lalu, itu hanyalah masa lalu, hanya saja sedikit beban karena merasa bersalah telah mengingkari janjiku pada seseorang, membuat ku sampai sekarang belum bisa benar-benar lepas untuk memikirkan nya. Kamu tahu kan Dit, disini posisinya aku yang bersalah".
" Sedangkan sampai saat ini, diusianya yang sudah 27 tahun, Nino masih saja sendiri, wajah tampannya, sikap baiknya, dan jabatannya, seharusnya mendukung dia untuk bisa secepatnya mendapatkan pengganti ku. Namun sampai saat ini dia masih saja sendiri. Setelah cukup lama aku menikah dengan orang lain dan menyakiti nya, dia belum juga menemukan pengganti diriku yang jahat ini".
" Sampai kadang aku menyebut namanya di dalam doaku, semoga dia segera menemukan pengganti ku dan segera menikah dengan jodohnya. Agar aku bisa menghilangkan rasa bersalah ku sedikit demi sedikit...".
Ea....ea.....ea.....
Tiba-tiba saja Arsyila menangis, Dila menggendongnya dan memberikan ASI kepada putri kecilnya agar putrinya berhenti menangis dan tidak membuat penghuni rumah lain masuk kedalam kamar.
Sesi percakapan kakak beradik yang tengah membahas seseorang dari masa lalu sang kakak memang sedikit rahasia. Tidak boleh ada orang lain yang mendengarnya. Meski sebenarnya, sejak tadi Indra mendengar semua percakapan Dila dan Dita di dalam kamar.
Saat tadi Dita mulai bertanya tentang perasaan Dila yang sesungguhnya, saat itu juga Indra sudah berdiri di depan pintu kamarnya sendiri, awalnya Indra ingin masuk dan menyuruh Dita untuk makan siang bersama yang lain, karena dirinya sengaja mempercepat proses makannya, agar bisa gantian menemani Dila.
Tak disangka ternyata kedua kakak beradik itu tengah mendiskusikan satu nama laki-laki dari masa lalu sang kakak. Yang mana laki-laki itu yang pernah menjadi alasan Indra harus melihat Dila menitikkan air mata untuk laki-laki lain, di pesta pernikahan nya.
Karena itulah Indra tidak bergeming dari posisinya saat ini, tidak bisa masuk kedalam, mau pergi lagi juga tidak bisa, karena Indra penasaran dengan percakapan istri dan adik iparnya.
Untung saja semua jawaban yang keluar dari bibir sang istri tak ada yang melenceng. Dirinya benar-benar sudah memenangkan hati Dila. Hanya ada sedikit PR untuk dikerjakannya. Segera mencari seseorang yang bisa meluluhkan hati Nino, agar Dila tak lagi memikirkan laki-laki itu karena rasa bersalahnya.
Saat malam hari tiba, Indra menghampiri Dita ke kamar El. Dita langsung mengubah posisi tiduran menjadi duduk di atas kasur saat mengetahui Indra mengetuk pintu kamar. Dita memang sengaja tidur bersama dengan El dikamar El.
El sudah tidur dengan pulas, begitu juga dengan Dila , yang tidur lebih awal karena ketiduran saat menyusui Arsyila.
" Bisa kita bicara?, tapi bukan disini, mari kita duduk di gazebo taman belakang", ajak Indra sambil melangkah menuju ke taman belakang.
Dita mengikuti kakak iparnya berjalan menuju gazebo yang berada di taman belakang.
__ADS_1
" Belum ngantuk kan Dit?, duduk sini, Mas mau nanya sesuatu sama kamu", ujar Indra sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
Dita menurut saja dan duduk di sebelah Indra, " Mau nanya apa Mas?, kok pake ke sini segala, mau bikin kejutan buat Mba Dila ya?, jadi ngobrolnya cari tempat yang aman ?", tebak Dita.
" Salah, tebakan kamu salah Dit. Aku mau minta tolong sama kamu hubungi Nino, kades di desa kamu, kamu punya nomernya kan?, aku ingin bicara berdua dengannya", ujar Indra.
Kalimat Indra sungguh membuat Dita jantungnya dag dig dug tidak karuan. Dita takut Indra mendengar percakapan nya dengan Dila tadi siang, dan ingin membuat perhitungan dengan Nino.
" Buat apa.... Mas bicara..... dengan Mas Nino?, bukankah.... kalian tidak saling kenal?", ucap Dita dengan terbata-bata.
" Siapa bilang?, kami saling kenal satu sama lain. Jadi tolong hubungi dia sekarang juga", pinta Indra dengan sedikit memaksa.
" Aduh... ponselku ada di kamar El.... tadi lagi aku carge, jadi aku ambil dulu Mas", ucap Dita sambil menggaruk kepala. Sesungguhnya Dita sangat takut jika kedua laki-laki itu saling mengobrol.
Dita berusaha mencari alasan yang tepat agar kedua lelaki yang pernah ada hubungan hati dengan Dila itu tidak saling ngobrol satu sama lain. Tapi apa alasan yang tepat ?.
" Haruskah aku membangunkan Mbak Dila dan mengatakan kepadanya tentang hal ini?", saat ini dalam hati Dita terus bergejolak.
" Buruan ambil HP kamu, terus bawa sini ya Dit", ulang Indra.
Dita pun meringis sambil berjalan menuju kamar El untuk mengambil ponselnya yang sedang di carge.
" Sudahlah, yang penting aku ambil HP dulu, terserah Mas Indra saja mau bagaimana, tapi yang jelas aku harus berada di dekatnya dan mendengarkan pembicaraan mereka agar aku bisa laporan sama Mbak Dila", gumam Dita sambil mengambil ponselnya dan kembali ke taman belakang rumah.
" Ini Mas.... dan ini nomernya Mas Nino", Dita menyerahkan ponselnya yang sudah membuka WhatsApp dan menunjukkan nomer Nino.
Indra menerima ponsel itu dan langsung menghubungi nomer Nino. Bukan hanya menelepon, tapi Indra melakukan video call langsung.
Benar-benar tidak bisa dibayangkan, apa yang akan mereka bicarakan, dan entah apa yang akan terjadi setelah ini. Bayangan menakutkan terus mengisi otak Dita yang tengah khawatir.
" Assalamualaikum Dit, tumben kamu video call, apa sudah sampai di Jakarta?".
Suara Nino jelas terdengar di ponsel Dita yang menghadap ke arah taman.
" Eh... iya Mas, saya sudah sampai di rumah Mas Indra dari kemarin". Dita jadi gelagapan sendiri mau menjawab apa. " Kenapa justru Mas Indra tidak langsung bicara, tapi justru menghadapkan kamera ke arah taman?", batin Dita.
__ADS_1
" Ada apa Dit?, apa ada yang mau disampaikan?",, lagi-lagi Nino bertanya, namun Indra masih tetap diam, seolah tak berada di sana.
" Saya yang ingin bicara dengan Anda", ujar Indra yang akhirnya bersuara, dan menghadapkan ponsel Dita ke arahnya.
" Oh... Mas Indra, saya dengar kabar kalian sudah dikaruniai anak, selamat atas kelahiran anak pertama kalian", ujar Nino tanpa basa-basi.
Indra bisa melihat ekspresi ucapan selamat yang Nino sampaikan dengan melihat langsung raut wajah Nino yang benar-benar tulus.
" Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda", ujar Indra sambil menatap layar ponsel Dita dengan serius.
" Sebenarnya saya sudah tidak baik menanyakan hal ini, dan mencampuri urusan pribadi Anda... Pak Kades, tapi kalau boleh saya beri saran dan masukan, akan lebih baik jika seorang pak kades mempunyai calon ibu kades yang sesuai", ujar Indra.
" Maksud Mas Indra apa ya?", tanya Nino pura-pura tidak paham, padahal Nino paham betul arah pembicaraan mereka.
Dita tiba-tiba mengmbil ponselnya dan mengarahkan ke wajahnya. Saking khawatirnya mendengar percakapan kedua laki-laki itu. " Saya melihat Mas Nino ngobrol dengan gadis cantik di stasiun yang datang bersama Pakde Mas Nino, jadi Dita cerita, apa dia itu calon istri Mas?", Dita akhirnya mengalihkan pembicaraan kedua lelaki itu agar lebih santai.
Indra sempat merasa aneh dengan gelagat sang adik ipar yang memotong obrolan dirinya dengan Nino begitu saja.
" Gadis itu bukan calon istriku, dia hanya satu kereta dengan Pakde dan berkenalan dan ngobrol lama di dalam kereta, lalu saat turun Pakde mengenalkannya padaku sebagai teman ngobrol yang asyik saat di perjalanan. Itu saja,", terang Nino.
" Apa terlihat begitu akrab ya, saat kamu melihatnya?", tanya Nino pada Dita. Kini justru Indra yang mendengarkan percakapan mantan sang istri dengan adik iparnya.
" Iya sih, kelihatan akrab", jawab Dita singkat.
Nino nampak tersenyum, " Bukan dia gadis yang aku suka, ada gadis lain yang sedang aku tunggu, setidaknya setahun lagi sampai ayahnya mengijinkan dia untuk dekat dengan seorang pemuda", Nino nampak memberi clue, namun Dita tidak pernah berpikir jika gadis yang dimaksud adalah dirinya.
" Kenapa nunggu setahun?, bukankah usia anda sudah sangat cukup untuk menikah?", Indra ikut bergabung masuk kedalam obrolan.
Nino nampak tersenyum. " Tanyakan saja sama bapak mertua Anda, kenapa semua putrinya dilarang dekat dengan pemuda saat masih sekolah. Padahal saya ingin seriusan sama Dita. Tapi Dita bilang dia belum boleh berpacaran atau berhubungan dengan laki-laki manapun sebelum lulus SMA".
Dita langsung shock mendengar ucapan Nino. Indra juga tak kalah kagetnya.
" Ini saya kasih bocoran, saya sudah melupakan Dila sejak dia.menikah dengan Mas Indra, dan saya kini tertarik dengan Dita, adiknya yang membuat hari-hari saya sibuk memikirkan dirinya. Tapi saya harus menunggu sampai bapaknya memberi ijin, apa kamu juga berkenan untuk lebih dekat dengan saya di masa mendatang nanti Dit?".
Pertanyaan Nino membuat Dita langsung melongo, dan tak bisa berkata-kata. " Mas Nino lagi bercanda ya?, Dita kan masih kecil", jawab Dita dengan pipi yang merah merona.
__ADS_1
" Apa Anda serius dengan ucapan anda Pak Kades?", tanya Indra sambil menatap Nino serius.
" Saya serius, Mas Indra yang jadi saksi ucapan saya saat ini, saya tertarik dengan Dita, dan berusaha mendekatinya sudah cukup lama, hanya saja Dita terlalu polos, dan tidak sadar dengan pendekatan yang saya lakukan". Nino semakin membuat Dita tidak bisa berkata-kata.