Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
134


__ADS_3

Dila selesai mandi dan kini keluar dengan rambut basah yang digerai, Dila sengaja keramas karena cuaca siang ini lumayan panas.


" Yang sudah mandi, kelihatan fresh banget", Indra yang baru masuk kamar langsung memeluk Dila dari belakang saat melihat Dila tengah menyisir rambutnya di depan meja rias.


" Kok cepet Mas, apa sudah selesai urusan pemesanan kambingnya?", tanya Dila tanpa menoleh ke belakang, masih dengan lanjut menyisir rambutnya yang basah. Karena wajah Indra sudah terpampang jelas di pantulan cermin.


" Ibu ternyata sudah pernah menyampaikan niatnya untuk mengaqiqah cucunya pada temannya itu, bahkan sebelum Arsy dilahirkan. Karena itulah saat sampai di rumah aqiqah tadi, ibu dan temannya itu langsung nyambung ngobrolnya. Acara dilaksanakan saat 7 harinya Arsyila, sekalian mengumumkan nama Arsyila ke para tetangga dan kerabat", ujar Indra.


Dila mengangguk dan berdiri dari duduknya, Indra kembali memeluk Dila dari belakang, namun kini dengan posisi tubuh sama-sama berdiri, Indra memeluk lebih erat, bahkan sedikit meremas bagian dada Dila yang kini ukurannya membesar karena sedang menyusui Arsy. Wajah mereka berdua terpampang jelas di pantulan cermin.


" Ish.... mas jangan mancing-mancing begitu, nanti mas sendiri yang bingung, aku masih belum bisa melayanim mu Mas , minimal dua bulan lagi", gumam Dila sambil melepaskan pelukan Indra.


Dila memang terlihat sangat cantik siang ini, apalagi saat dipeluk tadi aroma wangi dari shampo menyeruak ke dalam hidung Indra. Rambut basah Dila membuatnya nampak lebih seksi.


" Cuma pegang nggak papa kan sayang, yang penting yang satu itu tidak Mas sentuh. Lagian kalau nggak nyentuh punya istri, mau nyentuh punya siapa?, memang kamu bolehin Mas pegang-pegang punya orang lain?" ,Indra tak mau kalah berdebat.


Dila hanya manyun, " Ya sudah boleh pegang, tapi jangan kepingin, soalnya lagi belum bisa dipakai. Kalau kepingin bisa berabe, sana ke kamar mandi, pakai sabun saja nuntasinnya", gumam Dila, karena Dila sudah bisa merasakan bagian bawah Indra yang menegang saat memeluknya erat dari arah belakang tadi.


Indra hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah seminggu lebih Indra berpuasa, karena terakhir mereka berhubungan suami-istri itu sekitar 3 hari sebelum Dila melakukan persalinan.


" Aku keluar dulu Mas, kalau mas sudah selesai langsung keluar ada yang mau aku tanyakan".


Dila pun keluar dan menutup pintu kamarnya. Membiarkan sang suami menuntaskan keinginan yang tak tersalurkan di kamar mandi.


" Salah siapa pakai peluk-peluk segala, kan jadi bangun juniornya, ya harus di tuntaskan sendiri, bukan salahku menolaknya, karena memang keadaanku yang belum boleh bercinta dengannya", batin Dila sambil keluar dari kamar dan mencari keberadaan Arsy dan ibunya.


Ternyata Arsy ada di taman samping, sedang digendong oleh nenek Fatma. Kedua ibu-ibu itu sedang asyik mengobrol, entah apa yang sedang mereka bahas. Tapi Dila bahagia karena ibu kandung dan mertuanya nampak begitu akur. Jarang-jarang ada besan yang akur seperti teman begitu.


" Jadi besok sudah mau balik ke kampung?, nggak nunggu acara aqiqah Arsy?", pertanyaan Fatma membuat Dila mempercepat jalannya dan bergabung dengan kedua ibunya.


" Iya, tadi bapaknya Dila yang bilang, besok malam sudah harus pulang ke kampung, katanya sawahnya sudah waktunya di siangi kemudian di pupuk, takut tanamannya ketuaan malah jadi nggak bagus, katanya", Siti mencoba menjelaskan, terlihat raut wajah tak enak karena dirinya tak bisa menepati janji untuk menemani Dila lebih lama.


" Ya sudah ibu ikuti saja apa kemauan bapak, Dila kan sudah ada bi Ana dan bi Darsih di sini, ada Mas Indra dan ibu juga yang bantuin. Jadi Dila nggak masalah kalau ditinggalkan", Dila mengajak main Arsy yang sedang digendong Fatma.

__ADS_1


" Saya titip Dila ya jeng, meski dulu dia itu pengasuh El, dan sangat bisa mengurus anak kecil, tapi Arsy ini masih bayi, belum bisa menyampaikan keluhan, apa-apa cuma nangis, pasti tetap suatu hari Dila akan kewalahan mengurusnya". Siti sengaja menitipkan Dila pada ibu mertuanya.


" Jeng Siti santai saja, saya kan juga ibunya Dila, sama seperti ibu menjaga dan merawatnya, saya juga akan melakukan hal yang sama".


Percakapan siang itu terus berlanjut hingga sore. Hingga El dan Dita pulang dari tamasya.


Malam harinya Dila langsung mengajak Dita untuk rebahan di kamarnya saat Arsy dan El sudah tidur dengan lelapnya.


" Besok malam kamu sudah mau pulang ke kampung, jadi malam ini tidurlah bersama mba disini", pinta Dila pada adiknya.


" Terus mas Indra bagaimana?, maksudku tidur dimana?", tanya Dita.


" Mas Indra sudah ku suruh tidur bersama El di kamar El. Ada yang ingin mba tanyakan sama kamu", ujar Dila.


Dita sudah feeling sebelumnya, pasti Dila sudah merasa aneh dengan sikapnya, juga pasti entah bapak atau ibu sudah memberitahunya tentang Nino.


" Mau tanya apa Mba?, apa tentang Mas Nino?", tanya Dita tanpa basa-basi.


" Loh... kenapa malah bahas Nino?. Kali ini mba pengen dengar cerita kamu tentang pemuda yang sudah menyatakan perasaan sukanya sama kamu, kata Ibu ada pemuda dari desa yang terang-terangan mengatakan mau nunggu kamu sampai kamu lulus SMA, apa mba kenal?, siapa namanya?", tanya Dila.


" Jadi mba cuma dikasih tahu itu oleh ibu?", tanya Dita.


Dila mengangguk, " memangnya kenapa?, apa ada yang lebih mengejutkan dari itu?", tanya Dila penasaran.


Dita pun nampak berpikir, mungkin memang sudah saatnya mba Dila tahu tentang kebenarannya, entah nanti dia akan setuju atau tidak. Tapi Dita akan menghormati apapun tanggapan kakaknya.


" Laki-laki itu mantan pacar kamu Mba... Mas Nino yang mengatakannya semalam, didepan Mas Indra juga, karena semalam kami video call bertiga", ucap Dita pelan-pelan agar Dila tidak terlalu shock mendengar penjelasannya.


Tapi ekspresi wajah Dila tetap terlihat sangat shock dan seperti tidak percaya dengan apa yang Dita katakan.


" Apa bapak dan ibu tahu kalau laki-laki yang menyukaimu itu Nino?", tanya Dila dengan nada penuh penekanan.


" Dita nggak tahu mba... bapak dan ibu tahu atau belum, yang jelas yang sudah tahu ya Mas Indra, karena dia yang semalam dengar langsung. Menurut mba Dila bagaimana?, jujur aku masih belum yakin dengan perasaan Mas Nino. Karena aku tahu Mas Nino dulu sangat mencintai mba Dila".

__ADS_1


" Apa bisa tadinya suka sama kakaknya terus jadi suka sama adiknya?, apa perasaan bisa diturunkan seperti itu. Atau apa karena aku mirip dengan mba Dila sehingga Mas Nino menyukaiku?".


Ucapan Dita membuat Dila nampak berpikir. Mungkinkah Nino benar-benar mencintai Dita, atau Nino hanya mau memanfaatkan Dita untuk mendekatinya?. Semua masih nampak samar.


" Apa Mas Indra melihat ekspresi wajah Nino saat mengatakan dia menyukaimu Dit?", kini Dila ingin menanyakan tentang keseriusan Nino pada suaminya.


" Mas Indra lihat mba, kan kami sedang video call bareng semalam", jawab Dita.


Dila pun memanggil Indra menyuruhnya masuk ke kamar dan langsung menanyainya perihal ekspresi Nino semalam.


" Dia serius Dil, aku sebagai sesama laki-laki si menilai begitu. Tentang hatinya tidak ada yang tahu, tapi dari ekspresi wajahnya aku melihat keseriusan Nino saat menyatakan perasaannya pada Dita semalam".


" Diluar alasan mengapa dia mencintai Dita, kita semua tidak tahu, tapi kita tidak boleh berburuk sangka padanya, bukankah kalian berdua setuju kalau Nino itu pemuda yang baik. Dia juga setia, dan tidak suka bercanda?, itu yang ku ketahui tentang Nino dari kalian berdua", ujar Indra yang kini sudah berada di dalam kamar dan bergabung mengobrol dengan istri dan adik iparnya.


Obrolan malam itu tidak ada ujungnya, dan tidak menemukan titik terang, karena ini tentang perasaan.


Indra kembali keluar dari kamar dan tidur di kamar El.


Dila kembali mengajak Dita ngobrol berdua.


" Seandainya Nino serius, apa kamu menyukainya juga Dit?, kamu harus yakinkan perasaanmu dulu, jangan memposisikan Nino sebagai mantan kakak. Anggap saja dia laki-laki lain. Apa kamu juga menyukainya?"


Dita menatap kakaknya dengan perasaan tak enak. Dulu biasanya sang kakak yang curhat tentang Nino padanya, tapi keadaan kini terbalik, dialah yang sedang menjadi topik pembicaraan dengan Nino.


" Mas Nino pria yang baik Kak, kakak tahu sendiri, jika tentang cinta, jujur belum ada perasaan seperti itu di hati Dita, pada laki-laki manapun. Tapi bukankah rasa cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu?. Jika Mas Nino terus bersikap baik pada Dita. Dan menyayangi Dita dengan tulus, Dita yakin lama-lama juga rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya".


" Sama seperti Mba Dila dan Mas Indra, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, jika kita dicintai oleh orang yang tepat", ujar Dita.


Dila tersenyum sambil menepuk lengan Dita perlahan. " Kalau begitu saat pulang kampung nanti, mintalah Nino untuk sabar menunggu setahun lagi, sampai kamu lulus sekolah".


" Mba tidak akan melarang hubungan kalian, karena hubungan kalian tidak terlarang, kalian tidak ada ikatan darah, bukan saudara atau kerabat, bukan juga sepersusuan. Jadi kalian bisa bersatu dalam ikatan pernikahan".


" Nino pria baik, kamu akan beruntung menjadi istrinya, dan dia juga beruntung jika kelak menjadi suamimu".

__ADS_1


Ucapan Dila mengakhiri obrolan malam itu. Meski terasa ada sesuatu yang masih mengganjal, tapi Dila mencoba memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Jodoh memang rahasia Yang Maha Kuasa, tidak ada yang tahu dimana dan siapa jodoh kita.


__ADS_2