Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 115


__ADS_3

Dita pun menunggu Nino untuk selesai menyampaikan sambutan di depan banyak warga, ternyata menyampaikan rencana akan dibangunnya pasar badog, Dita baru tahu tentang hal itu.


Pasar badog memang sudah semakin semrawut, dan kurang tertata, karena semakin banyak yang berjualan di sana, jika akan dibangun dan di tata ulang, mungkin akan lebih terlihat rapi dan akan membuat pembeli semakin nyaman.


Tak sadar Dita mengulas senyuman di bibir nya. Pasar yang sudah ada sejak jamannya masih kecil dulu, Mba Dila lah yang dulu sering mengajaknya ke pasar tiap hari minggu. Kadang hanya sekedar joging pagi bersama teman-teman Dila, dan paling bisa membeli kue pukis, atau getuk saja, karena dulu untuk membeli banyak jajan belum mampu seperti sekarang.


Dila yang kadang sengaja tidak menggunakan uang jajannya di hari Sabtu, agar waktu ke pasar badog bisa membelikan jajan untuk adiknya. Dita paham betul bagaimana kakak satu-satunya itu sangat memperhatikan dan memperdulikannya.


Selama ini Dita sudah banyak dibantu oleh Dila, Dita juga paham dan sadar akan hal itu. Karena itulah, Dita ingin menjadi adik yang berbakti untuk Dila, salah satunya seperti sekarang ini, menyayangi El sebagai keponakannya. Meski El adalah keponakan tiri, karena setahu Dita, El adalah putra kakak iparnya.


" Tante Dita, El mau main ayunan yang itu", El sudah selesai memakan cilor dan juga serabi miliknya, dan meminta pada Dita untuk bermain ayunan yang berada di tengah-tengah taman.


Dita menatap ke panggung depan, Nino masih memberikan sambutan, namun sesekali menatap kearahnya, dan Dita memberi kode jika dirinya mau mengikuti El masuk ketaman, bermain ayunan. Terlihat Nino mengangguk mengisyaratkan dirinya paham.


El sedikit berlari menuju ayunan itu, hari sudah mulai panas, namun di taman masih terasa sejuk karena banyak pepohonan besar dengan daun yang rimbun di taman itu.


Dita duduk di ayunan yang berada di sebelah ayunan yang dinaiki El. El mulai mengayun sendiri ayunannya dengan lumayan cepat.


Terpaksa Dita berdiri dan memegangi ayunan El. " Jangan terlalu cepat begitu dong El, nanti kamu bisa jatuh dan terluka, nanti Tante yang dimarahi sama Bu Dila".


" Maaf Tante, soalnya asyik kalau naik cepet-cepet kayak tadi, jadi semriwing", ujar El sambil cengengesan.


El pun memelankan gerakan ayunannya, membuat Dita lebih merasa tenang, dan Dita hendak kembali ke ayunan sebelah yang tadi di duduki nya, tapi keduluan oleh anak-anak lain, jadi Dita duduk di kursi panjang yang ada di pinggir tempat ayunan itu.


" Nggak lama kan nunggunya?", tanya Nino yang tiba-tiba sudah ada di belakang Dita, kemudian mendudukkan dirinya di samping Dita, di kursi panjang yang sama dengan yang Dita duduki.


" Sebenarnya mau ngobrol apa Mas?, apa tentang mba Dila?", Dita lebih dulu menebak, karena selama ini dirinya tidak ada urusan yang perlu dibahas dengan Nino. Kecuali tentang Dila tentunya.


" Bukan bukan, saya dan Dila sudah selesai saat Dila memutuskan untuk menikah dengan ayahnya El. Meski memang masih terasa sangat aneh, karena bukan waktu sebentar kami saling mengenal".


" Saya mau menanyakan tentang acara pengajian yang akan diselenggarakan pekan depan, saya dengar kamu yang jadi koordinator bendaharanya. Apa sudah terkumpul banyak donasinya?, kalau masih kurang, datanglah ke rumahku. Ibu kemarin mengatakan mau bantu buat acara pengajian besok, hanya saja masih sibuk sejak kemarin, dan belum sempat pergi kerumah Pak kiyai".


" Tapi pas kemarin tanya Fajar, katanya kamu koordinator penarikan dana, ya kebetulan kalau begitu, kamu bisa main kerumah, tapi kalau bisa sore atau malam, pas ibu dirumah. Soalnya kalau pagi sampai siang kadang ibu banyak acara dan tidak di rumah".

__ADS_1


Dita mengangguk, " jadi mau membicarakan masalah pengajian, bagaimana bisa aku salah menebak, kan jadi malu", batin Dita.


" Kalau nanti malam bagaimana Mas?, kan siang ini mba Dila sekeluarga sudah mau balik ke Jakarta. Jadi rumah nanti malam sudah sepi, dan saya nggak perlu nemenin El lagi, nanti malem El nya sudah pulang. Jadi saya ada waktu, biar nanti malam saya datang ke rumah Mas Nino sama Mei", ujar Dita menyebut nama bendahara 2, yang sejak kemarin setia menemaninya menarik sumbangan ke tiap rumah warga.


Dikampung itu memang sudah biasa, jika ada pengajian akan ada panitia yang menarik sumbangan ke tiap rumah warga, biasanya uang itu akan digunakan untuk keperluan pengajian seperti sewa panggung, sewa sound sistem, bisyaroh penceramah, dan juga untuk snack bagi pengunjung pengajian.


" Baiklah, nanti malam habis maghrib datang kerumah, biar aku sampaikan pada ibuku untuk tidak pergi kemana-mana nanti malam", ujar Nino.


Dita mengangguk setuju.


" Sudah mau pulang atau masih mau main-main di sini?", tanya Nino berbasa-basi.


" Sepertinya El masih betah disini Mas, lagian biar dirumah mba Dila bisa istirahat, jadi mending El aku ajak bermain di luar, nanti juga El sudah mau balik ke Jakarta, mending di puas-puasin main disini", jawab Dita masih dengan suasana canggung, karena semakin banyak pengunjung yang datang ke taman itu. Hari minggu memang taman biasa ramai pengunjung.


Dan kebanyakan mereka adalah orang dari kampung itu juga. Semua orang tahu bagaimana hubungan antara Nino dan kakaknya, dan mungkin orang-orang akan berpikir jika Nino mendekati Dita karena ingin membahas tentang Dila, padahal yang mereka berdua bahas adalah tentang dana untuk pengajian.


" Ya sudah kalau begitu, apa nggak papa aku temani disini?, lagian di rumah aku juga nggak ada kegiatan setelah ini. Hari minggu jadi memang seharusnya libur dari pekerjaan, namun malah ada acara dadakan disuruh nyambut disini, jadi mau tidak mau harus datang pagi-pagi. Padahal biasanya hari minggu jam segini masih meringkuk di kasur".


Dita hanya meringis mendengarkan Nino bercerita. Mumpung sedang berdua dengan Nino, Dita ingin mencari tahu ucapan Asna tentang Nino yang kirim salam untuk Dila itu beneran atau hanya candaan.


Nino menengok, " Pribadi ya.... tanya apa?", Nino nampak berpikir, namun akhirnya setuju juga untuk ditanya oleh Dita.


" Apa beneran Mas Nino kemarin nitip salam buat Mba Dila lewat Mba Asna?, waktu mba Asna disuruh nganter nasi tumpeng ke rumah Mas Nino", ujar Dita.


Nino langsung terkekeh mendengar pertanyaan Dita.


" Iya betul, ibu juga nitip salam buat ibu kamu, sekalian minta tolong disampaikan ucapan terimakasih karena sudah repot-repot ngirim nasi tumpeng ke rumah", gumam Nino.


" Asna itu kemarin pas main ke rumah, banyak banget ngomongnya, jadi sengaja aku ledek sekalian", ujar Nino.


" Memang ngomongin apa?, bahas tentang mba Dila ya Mas?", tebak Dita.


Kali ini tembakkannya tepat, karena Nino langsung mengangguk.

__ADS_1


" Orang-orang mengira aku masih mengharapkan Dila, padahal Dila sudah menikah dengan laki-laki lain. Karena sampai sekarang aku belum menjalin hubungan dengan perempuan lain".


" Padahal tidak se sederhana itu, kamu tahu kan Dit, aku yang sekarang bukanlah Nino yang sama seperti dulu. Bebas memilih pasangan. Sekarang aku punya tanggung jawab terhadap desa ini, dan seandainya mencari pasangan, tentu saja harus mencari wanita baik-baik yang bisa aku ajak kerjasama, se pemikiran denganku untuk membangun desa ini. Karena nantinya siapapun perempuan itu, dia akan menjadi ibu untuk seluruh warga desa ini".


" Menurutmu benar tidak pemikiran ku ini?", Nino menatap Dita yang nampak mengangguk-anggukkan kepala.


" Bener banget Mas, aku sih setuju, cari pasangan itu bukan cuma untuk satu dua hari saja, tapi untuk seumur hidup, apalagi seumuran mas Nino, sudah bukan waktunya bermain-main dan sekedar berpacaran saja, tapi sudah serius ke jenjang pernikahan, jadi harus dipikirkan matang-matang, apalagi Mas Nino bukan lagi warga biasa, Mas Nino adalah panutan bagi seluruh warga desa ini".


Nino tersenyum mendengar jawaban Dita. " Benar, mungkin memang begitu didikan dari orang tua Dila, yang juga digunakan untuk mendidik Dita, selain wajah, pemikiran kakak beradik ini juga mirip. Gaya bicara, sampai gerak tubuh, semuanya mirip", batin Nino, seperti menemukan sosok Dila yang menghilang.


" Aku senang karena ngobrol sama kamu itu bisa memahami apa yang aku maksudkan. Kadang ada orang yang meski sudah dijelaskan masih saja punya pemikiran sendiri", gumam Nino.


" Oh iya, sekarang kamu melanjutkan di SMA negeri ya Dit?", Nino kembali bertanya.


" Iya Mas, soalnya banyak teman aku yang melanjutkan ke sana, cuma ngikutin teman saja, soalnya jujur, sampai sekarang aku itu masih bingung cita-cita aku tuh apa?, beda sama Mba Dila yang sudah punya cita-cita pengen jadi guru sejak masih kecil".


" Kadang membuat aku iri sama mba Dila, yang punya pemikiran teguh, punya semangat dan percaya diri yang tinggi, aku juga pengen seperti kak Dila", entah mengapa Dita mengatakan unek-uneknya pada Nino.


Namun justru Nino tersenyum mendengar kejujuran Dita.


" Iri untuk hal baik seperti itu nggak salah, karena akan memotivasi kamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kecuali kalau kamu iri karena Dila punya suami kaya, atau kamu iri karena merasa Dila lebih cantik dari kamu, itu baru iri yang salah".


Dita tersenyum karena merasa mendapat dukungan dari Nino. " Ternyata asyik juga ngobrol sama orang yang lebih dewasa", pikir Dita.


" Tante Dita, kita balik yuk, takut dicari ibu, karena El sudah main kelamaan", tiba-tiba El menghampiri mereka berdua.


" Apa mau bareng sama Om?, dari pada jalan kaki kelamaan, naik motor sama Om, akan lebih cepat sampai", ajak Nino.


El nampak bertanya pada Dita, dirinya memang sudah capek bermain, dan untuk berjalan jauh pasti akan melelahkan.


" Kalau El mau, Tante juga mau", jawab Dita sambil tersenyum.


" Oke, El pulang bareng Om, tapi kita belum berteman ya... El nggak suka berteman sama orang tua, karena hidupnya terlalu ribet".

__ADS_1


Ucapan El membuat Dita dan Nino tertawa bersamaan.


" Oke, sekarang kita jalan menuju motor Om di depan", Nino berjalan mendahului El dan Dita yang mengikuti langkah dibelakangnya.


__ADS_2