
Saat yang lain sedang makan malam, Dila lebih dulu menyuapi El dengan telaten, semua bisa melihat jika keputusan Indra menikahi Dila untuk menjadi ibunya El adalah keputusan yang sangat tepat.
Setelah Indra selesai makan, Indra melanjutkan menyuapi El, dan menyuruh Dila untuk makan malam terlebih dahulu, ini memang sudah menjadi kebiasaan mereka selama ini. Tanpa mereka sadari menurut yang lain hal itu sangatlah romantis. Seperti seorang suami istri yang saling bekerja sama mengasuh putra mereka.
Usai makan malam, Bu Fatma mengajak Siti untuk mengobrol di ruang tengah bersama Darsih dan Ana. Membahas untuk acara pernikahan besok.
Toto dan Rizal lebih memilih duduk-duduk dan mengobrol santai di teras samping, sebenarnya Toto sendiri awalnya bingung mau membahas apa dengan calon besannya yang notabene nya seorang pengusaha, karena dunia mereka yang berbeda. Namun ternyata Rizal juga punya lahan sawah dan perkebunan yang luas salah satunya sawah di daerah Cianjur, hanya saja lahan itu di kelola oleh orang kepercayaannya. Salah satu hasil dari sawahnya adalah beras yang biasa di pasarkan di swalayan-swalayan dan supermarket.
Sedangkan perkebunan kelapa sawit yang cukup luas di daerah Sumatra juga dipercayakan kepada orang kepercayaannya, kebun sawit seluas 10 hektar, bisa menghasilkan minyak goreng dengan kualitas terbaik yang biasa di jual di supermarket, minimarket dan swalayan.
Toto sungguh kagum dengan usaha yang dijalankan calon besannya itu, berbeda dengan dirinya yang hanya menggarap lahan seluas 200 ubin, dan hasilnya hanya cukup untuk makan dan diputar untuk modal menanam lagi.
Saat semua tengah sibuk dengan obrolan masing-masing, Dila pun sibuk menidurkan El. Entah mengapa sudah seminggu ini El selalu tidur larut malam, melewati jam 9 yang biasanya menjadi jam tidur paling malam.
" Ibu Dila....!, ibu Dila...ibu Dila...., El sudah pintel kan manggil ibu ke kak Dila".
Dila yang sedang membacakan buku dongeng pengantar tidur justru diajak bercanda oleh El.
" Iya pinter banget, putra siapa dulu dong, putra ibu", ucap Dila gemas. " Kalau El mau lebih pinter lagi, El harus bobo lebih awal, besok kan acara pernikahan ayah dan ibu Dila nya pagi-pagi. Kalau El bangun kesiangan, El nggak bakal bisa foto-foto bareng sama ayah dan Ibu besok".
El nampak berpikir setelah mendengar perkataan calon ibunya itu.
" Ya sudah El akan melem bial El cepet bobo, besok bangunin El yang lebih awal, bial El bisa ikut foto-foto, Ibu Dila bobo disini aja, bial nggak lupa bangunin El , jadi El nggak bangun kesiangan ". Dila tersenyum sendiri sambil mengacungkan jempolnya pertanda setuju.
Ternyata El benar-benar tidur, dan saat ini jam baru menunjukkan pukul 8 malam. Dila pun keluar hendak bergabung dengan ibu-ibu yang lain, karena dari tadi mereka berempat terlihat begitu asyik membahas acara besok. Namun belum Dila duduk bersama mereka, Dila mendengar ada yang mengetuk pintu. Mungkin ada tamu, Dila mengurungkan untuk bergabung dengan yang lain dan membukakan pintu rumah.
" Lama banget sih bukain pintunya, Indra ada di rumah kan?", Tania datang dengan pakaian sangat seksi, dress pres body dengan rok yang hanya menutup pantat, dan bagian dada yang sangat turun kebawah memperlihatkan belahan dada yang menyembul begitu memikat.
" Dasar perempuan nggak tahu sopan santun, belum dipersilahkan masuk, sudah main nyelonong masuk sendiri, nggak punya tata krama", gumam Dila merasa dongkol.
" Nggak usah banyak ngedumel nggak jelas, lu mau gue aduin ke Indra biar lu dipecat!. Buruan panggil Indra keluar, sudah jam 8 nih, nanti kelamaan di jalan, weekend biasanya macet, sejam lagi DJ nya udah mau naik".
__ADS_1
Ternyata Tania datang untuk mengajak Indra pergi ke klub malam. Dila pun masuk tanpa mempersilahkan Tania duduk terlebih dahulu.
" Perempuan nggak tahu sopan santun, nggak disuruh juga bakalan duduk sendiri", pikir Dila.
Dila melewati ruang tengah dan menuju ruang kerja Indra di lantai dua, yang lain hanya menatap Dila karena Dila melewati mereka dengan wajah kusut.
" Ada tamu siapa Dil?, kok wajah kamu ditekuk seperti itu?", tanya Bu Fatma.
" Tania Bu", jawab Dila singkat sambil menaiki tangga. Dila langsung mengetuk pintu ruang kerja Indra sesampainya diatas dan membuka pintu itu." Sekertarisnya lagi nunggu di ruang tamu tuh, udah dandan seksi, mau ngajak malem mingguan ke klub", ucap Dila yang masih berdiri di pintu.
Mendengar perkataan Dila, Indra menatap Dila dengan tajam. " Aku nggak ada janji sama siapapun, suruh saja dia pulang".
Mendengar jawaban Indra, Dila jadi masuk ke dalam ruang kerja, " Perempuan bar-bar dan nggak tau sopan santun seperti itu mana mau denger omongan aku yang hanya seorang pembantu ini. Tadi saja dia bilang mau nyuruh Tuan untuk memecat ku. Mending ditemuin dulu, sayang banget pemandangan indah dilewatkan, Tania sudah dandan cantik dan sangaaat seksi kalau nggak dilihat sama yang dituju, pasti dia akan kecewa berat".
" Tuan pasti akan berubah pikiran kalau sudah melihat secantik dan se seksi apa sekertaris Tuan saat ini".
Indra langsung berdiri dan merasa tidak terima dengan ucapan Dila, seolah menuduhnya menjadi seorang laki-laki mata keranjang dan pemuja wanita cantik dan seksi. Indra pun menarik tangan Dila dengan kasar.
" Jangan hanya karena malam itu aku berbuat salah telah memaksamu menjadi pelampiasan hasratku, kamu pikir aku akan melakukan hal yang sama pada perempuan lain !, karena untuk melakukannya lagi dengan mu saja itu tidak akan mungkin !".
Indra keluar dari ruang kerja dengan berjalan cepat menuju ruang tamu, entah se seksi apa penampilan Tania saat ini, tapi memang Tania selalu berpenampilan seksi, setiap hendak pergi ke klub malam, yang jelas Indra malas untuk pergi kemana-mana. Pekerjaan nya saja masih menumpuk, hingga malam minggu pun Indra masih harus sibuk bekerja , bahkan dimalam pengantinnya seperti saat ini.
Sampai di ruang tamu sudah tidak ada siapa-siapa disana, termasuk keempat ibu-ibu yang sedang ngobrol di ruang tengah tadi juga sudah tidak ada semua. Indra hendak kembali ke ruang kerjanya, namun terdengar suara gaduh dari luar rumah. Indra pun memasang telinga agar mendengar suara yang berasal dari luar.
" Hem dasar perempuan nggak punya urat malu, bertamu ke rumah laki-laki kok pake pakaian anak SD begitu, kayak orang nggak punya duit saja, nggak mampu beli baju yang agak besaran dikit!", bi Ana nyerocos tiada henti, dari dulu dia memang paling tidak suka pada Tania.
" Sudah bi, orangnya juga sudah pergi jangan emosi terus", suara Bu Fatma mencoba menenangkan bi Ana.
" Maaf ya Bu Siti, saya juga tidak tahu kalau sekertaris Indra sering datang kerumah. Tapi diantara mereka tidak ada hubungan yang spesial, hanya sebatas rekan kerja. Tapi memang begitulah beberapa tipe perempuan di kota besar, suka berpakaian minim seperti itu", Bu Fatma kini berganti menjelaskan pada calon besannya, agar tidak salah paham.
Indra tersenyum lebar mendengar ibunya yang selalu membela dan berusaha membersihkan namanya. Indra langsung lari masuk kedalam saat langkah ibu-ibu itu semakin mendekat, Indra tidak mau ibu-ibu itu tahu dirinya hendak menemui Tania. Memang sejak tadi Indra sudah menolak untuk bertemu Tania, tapi Dila terus nyerocos dan menuduh yang bukan-bukan. Hingga Indra terpaksa turun untuk menyuruh Tania pergi.
__ADS_1
Karena tergesa-gesa di belokan dari ruang tamu ke ruang tengah Indra menubruk Dila yang hendak ke ruang tamu, hingga Dila hampir jatuh, untung saja Indra gerak cepat menangkap tubuh Dila yang sudah doyong kebelakang.
" Wah... calon pengantin ini, malah lagi mesra-mesraan, sabar anak muda, tunggu sehari lagi, di halalkan dulu, biar jadi ibadah, bukan jadi maksiat", sindir bi Darsih yang berjalan paling depan di antara ibu-ibu yang lain.
Dila langsung berdiri dan Indra buru-buru melepas rengkuhan tangannya. Entah bagaimana, tapi jantung mereka berdua sama-sama berdetak dengan begitu cepat saat ini. Karena malu, Dila hanya meringis dan pergi ke kamar El melarikan diri, sedangkan Indra kembali ke atas menuju ruang kerjanya setelah membungkuk pada ibu-ibu di hadapannya.
Malam ini Dila memilih tidur dikamar El, sesuai permintaan calon putranya itu. Dila merebahkan diri di samping El yang sudah tidur dengan lelapnya.
Dan pagi harinya justru Dila yang dibangunkan oleh El, El bangun begitu awal, mungkin karena suara bising dari luar membuat tidurnya terganggu.
Ternyata subuh-subuh beberapa orang yang memasang dekorasi sudah datang kerumah. Acara akad memang dibuat sesimpel mungkin, tapi Fatma tetap ingin membuat dekorasi rumah dan tempat akad yang indah dan cantik. Karena itulah Bu Fatma mempercayakan semuanya pada salah satu temannya yang punya bisnis wedding organizer.
Team wardrobe dan make up juga sudah datang kerumah. Dila bangun dan tak menyangka dengan semua kesibukan ini, yang Dila bayangkan pernikahannya hari ini benar-benar akan dibuat sesimpel mungkin. Yang penting sah. Namun melihat team dekorasi, wardrobe dan make up membuat Dila jadi grogi. Padahal sejak semalam Dila masih santai dan tenang.
Usai subuh, Dila memandikan El terlebih dahulu, baru nanti dia sendiri mandi.
" Bukannya kamu mau di-make up, biar El aku yang mandikan, kamu kan juga harus mandi", ucap Indra yang sengaja menengok ke kamar El terlebih dahulu.
" Tidak apa, akadnya kan jam 8, masih ada waktu 3 jam, pasti cukup buat sekedar merias wajah saja".
Dila tetap melanjutkan kegiatannya memandikan El. Indra pun menunggu hingga El selesai mandi.
" Sekarang sebaiknya kamu mandi, El biar aku yang pakaikan baju".
Kali ini Dila setuju, Dila kembali ke kamarnya dan mandi, usai mandi Dila duduk di kamarnya menunggu team makeup meriasnya. Namun tak kunjung datang.
" Aduh Dila, kamu di cariin dari tadi ternyata disini, team makeup ada di kamar Indra yang lebih luas. Ayo sekarang kamu ke kamar Indra, nantinya kamar itu akan jadi kamar kamu juga", Bu Fatma, menarik tangan Dila agar bergegas menuju kamar Indra.
Dila langsung di tarik masuk ke dalam kamar, padahal kenangan terakhir masuk ke kamar itu sungguh mengerikan.
" Kamu kenapa Dil?, kok malah bengong, buruan masuk", Bu Fatma duduk di tepian ranjang. Dila duduk di depan meja rias dengan kaca lebar di hadapannya. Ada dua orang penata rias yang akan me-make over Dila. Satu menata rambut dan satunya perias wajah.
__ADS_1
Dila memejamkan mata, berusaha untuk melupakan kenangan buruk yang terjadi dikamar itu.