Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 85


__ADS_3

Dila sudah sampai di sekolah El tepat saat bel istirahat berbunyi, Dila sengaja berjalan cepat agar segera sampai di kelas El, namun sayang karena terburu-buru Dila tak sengaja menabrak seorang guru laki-laki yang mengajar di SD.


Memang tempat El sekolah itu mulai dari TK, SD, SMP dan SMA berada dalam satu komplek. Karena sekolah itu adalah milik swasta yang biaya bulanannya cukup mahal. Sekolah anak-anak dari orang menengah ke atas.


" Maaf-maaf, saya buru-buru, jadi tidak sengaja menabrak bapak".


Guru laki-laki yang sedang memunguti buku yang jatuh bertebaran di lantai kembali berdiri, " Tidak apa-apa Bu..., loh Dila...".


Dila juga terkejut ternyata guru itu adalah Bima, teman kuliahnya.


" Bagaimana bisa kamu mengajar disini?, apa kamu sudah mulai magang Bim?. Aduh aku lagi buru-buru, El sudah istirahat, kita lanjut ngobrol nanti ya Bim, maaf sudah bikin buku kamu jatuh". Dila kembali berjalan menuju kelas El. Bima hanya menatap Dila sambil menggelengkan kepalanya.


Saat sampai dikelas El sudah tidak di kelasnya, memang semua nak biasanya keluar kelas saat istirahat, mereka biasanya makan di gazebo yang ada di samping taman bermain. Dila pun langsung menuju gazebo dan menemukan El bersama dengan teman-teman dan ibu-ibu yang lain disana.


" Bu Dila dari mana?".


Dila yang baru sampai langsung mendapat pertanyaan dari El yang sedang meminum susu murni dan sandwich bekal yang dibuatkan Dila pagi tadi.


" Ibu tadi keluar sebentar sayang, ada teman ibunya yang tiba-tiba datang dan minta ditemenin ibu ngobrol sebentar diluar. Ayo habiskan bekal kamu, apa tadi El sudah cuci tangan sebelum makan?".


El mengangguk sambil memasukkan potongan sandwich terakhir kedalam mulutnya.


" Makasih ya ibu-ibu sudah nemenin El", Dila mengucapkan terimakasih pada ibu-ibu wali murid lainnya.


" Santai saja Bu Dila, sebagai gantinya nanti Bu Dila harus ceritakan apa saja yang dikatakan wanita itu sama kita, biar kalau dia jahat, kita bisa bales rame-rame, iya kan ibu-ibu?", ucap Bu Mei yang suaminya menjadi karyawan di perusahaan Indra.


Dila hanya tersenyum mendengar kalimat Bu Mei yang begitu menggebu-gebu, seolah sudah siap perang.


" Nggak banyak yang diobrolkan, kan cuma keluar sebentar, tadi katanya cuma pengen lihat saya saja". ujar Dila menutup-nutupi kekesalannya.


" Syukurlah kalau begitu, seandainya perempuan itu berani macem-macem, ada kita yang siap membantu Bu Dila".


Dila mengangguk sambil mengucapkan terimakasih.


El sempat bermain-main sebentar di taman bermain bersama teman-temannya usai makan bekal, dan kembali masuk ke dalam kelas saat bel masuk berbunyi.


Siang harinya Dila langsung mengajak El pulang, karena cuaca sangat panas siang itu, awalnya El meminta Dila untuk mampir membeli es krim, tapi karena El baru sembuh, Dila belum mengijinkan El untuk memakan es krim sementara waktu.


Sampai di rumah El nampak kecewa karena keinginannya tidak dituruti. El langsung lari dan masuk ke dapur mengadu pada Bi Darsih karena dilarang Dila membeli es krim. Bi Darsih hanya tersenyum melihat tingkah El yang mengadu padanya.

__ADS_1


" Loh bener yang Bu Dila katakan, El baru sembuh, kemarin El ingat waktu badan El panas, El bilang kepala El pusing dan badan El sakit, karena itulah Bu Dila melarang El untuk makan es krim dulu, kan cuma sementara sayang... kalau sudah sembuh beneran, pasti Bu Dila akan mengijinkan El makan es krim lagi".


El nampak berpikir, Dila yang melihat El berdiri di dapur langsung menghampirinya.


" Apa El mau makan siang?, kok langsung ke dapur nemuin bi Darsih?".


Darsih membuat kode memberi tahu jika El sedang mengadu. Dila mengangguk paham.


" El nggak mau makan, semua makanan rasanya pahit, nggak enak", ujar El sambil pergi dari dapur menuju kamarnya.


El meletakkan tasnya di meja belajar, melepas baju seragam sendiri dan memakai baju ganti sendiri, jika sedang ngambek El memang semakin menggemaskan.


" Wah putra ibu sudah makin mandiri, lihatlah sudah bisa melakukan semuanya sendiri, gimana kalau nanti malam ibu Dila kasih hadiah karena El sudah makin pinter?".


Dila sengaja merayu El agar tidak merajuk terlalu lama. Dan nampaknya rayuannya berhasil.


" Hadiah apa Bu?, apa boleh El memilih hadiah El sendiri?".


Dila nampak berpikir, " Tergantung, kalau yang El minta itu nggak bikin El sakit, tentu saja El boleh memilihnya sendiri".


" Nggak bikin El sakit kok Bu", jawab El cepat.


" El mau punya adik bayi yang lucu kaya Rayna, tadi saat istirahat Rayna menunjukkan video adik bayinya yang sangat lucu, El juga pengen punya adik bayi".


Dila langsung spitchles mendengar permintaan El, kali ini bukan karena di profokasi oleh Indra sang ayah, tapi murni keinginan El setelah melihat adik bayi dari teman sekolahnya.


" Kalau mintanya adik bayi itu prosesnya lama, harus diproses dulu di dalam perut ibu selama 9 bulan, apa El mau menunggu selama 9 bulan sampai adik bayinya keluar?", Dila mencoba memberi pengertian kepada El, takutnya jika El tidak tahu bayi itu akan keluar setelah dikandung selama 9 bulan terlebih dahulu.


El mengangguk mengerti, " El tahu itu Bu Dila... kan waktu itu ibunya Rayna juga perutnya besar dulu lama, baru adik bayinya keluar, jadi nanti ibu Dila juga simpan adik bayi El dulu di perut Bu Dila yang lama, biar adik bayinya El lebih lucu dari adik bayinya Rayna, habis itu Bu Dila keluarin deh...".


Dila sampai tertawa lepas mendengar ucapan El. Sepertinya El kali ini minta dengan tulus.


" Baiklah sayang ibu Dila akan berusaha untuk mengabulkan keinginan El".


Dila hanya berusaha menghibur El, karena belum ada tanda-tanda dirinya hamil, padahal Dila sudah menghentikan KB suntik nya sejak bulan puasa. Usai dirinya datang bulan sebelum acara resepsi pernikahan di kampung, namun sampai saat ini sudah hampir sebulan, Dila belum ada tanda-tanda kehamilan. Dila kembali mengingat-ingat jika terakhir datang bulan saat mendekati lebaran, berarti bulan lalu Dila tidak datang bulan.


" Mungkinkah aku hamil?, tapi aku tidak pusing-pusing atau mual-mual seperti orang hamil pada umumnya, coba kalau bulan ini aku tidak datang bulan lagi baru aku akan mengeceknya", batin Dila.


" Ye.... El akan punya adik bayi yang lucu seperti adiknya Rayna".

__ADS_1


" Sssst.....", Dila langsung menyuruh El diam dengan meletakkan telunjuknya di bibir El, membuat El nampak bingung.


" Sayangku.... jangan bicara keras-keras, anggap ini adalah rahasia ibu dan El saja, tidak boleh kasih tau yang lain, dan nggak boleh cerita ke siapapun".


Dila sangat khawatir jika ada penghuni rumah lain yang mendengarnya, karena Dila takut mereka akan berharap lebih dan menjadi kecewa karena sebenarnya Dila belum hamil, itu hanya keinginan El saja.


_


_


Malam harinya saat El sudah tidur, Dila masuk ke kamar dan mendekati Indra, kini dirinya punya misi baru, yaitu mewujudkan keinginan El untuk punya adik bayi.


" Apa El sudah tidur?".


Dila mengangguk sambil merapat duduk di samping Indra yang masih sibuk mengecek pekerjaan melalui laptopnya.


Indra pun menutup laptop dan meletakkan di atas nakas, " Tumben kamu deket-deket seperti ini, apa mau bahas sesuatu?"


Sebenarnya Indra mendengar dari karyawannya yang punya anak sekolah bareng sekelas dengan El, istrinya menceritakan jika pagi tadi Dila dihampiri oleh mantan istrinya Indra, ibu kandung El. Namun Indra sengaja tetap diam dan tidak bertanya terlebih dahulu jika Dila belum ingin membahasnya.


Indra sudah lima tahun tidak bertemu dengan Kayla, dan saat kembali ke Indonesia, bukannya menemuinya dan meminta maaf, justru Kayla datang ke sekolahan El untuk bertemu dengan Dila, tanpa menemui El dan sama sekali gak menanyakan kabarnya.


" Enggak kok Mas, aku cuma pengen deketan kamu saja, apa membuatmu merasa tidak nyaman?, kalau iya aku akan tidur seperti biasanya".


Dila langsung menjauh karena merasa malu Indra mengomentarinya, memang biasanya Dila tidur mepet ke pinggir dan ada jarak yang cukup luas antara mereka berdua, hanya saja Indra yang selalu merapat dan memeluk Dila, menariknya ke tengah agar tidak terlalu jauh.


Sedangkan malam ini Dila sengaja mepet di samping Indra, padahal Indra duduk di tepian kasur, hal yang belum pernah terjadi.


" Di tanya kok malah jadi menjauh, tentu saja aku sangat suka kalau kamu ada inisiatif seperti tadi, tidak seolah-olah hanya aku yang menginginkanmu saja sayang", Indra memeluk Dila dengan erat.


" Apa lagi pengen?", Indra sengaja berbisik di telinga Dila, membuat leher belakang Dila terasa hangat terkena hembusan nafas Indra.


" Dengan senang hati sayangku, setiap hari saja kamu deket-deket begini pasti Mas akan dengan senang hati melakukannya".


Kini pipi Dila semakin merona. Indra memang tidak pernah bisa menahan keinginannya tiap kali berada dekat dengan Dila, tubuh Dila sudah sangat membuat Indra kecanduan untuk menyentuhnya tiap kali hanya berduaan seperti saat ini.


Malam indah pun kembali terjadi, bahkan malam ini terasa lebih indah dari malam-malam sebelumnya, karena yang biasanya Dila menurut saja dengan kemauan Indra, kali ini Dila berinisiatif sendiri melakukan gerakan yang membuat Indra merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Indra dibuat ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi, Dila begitu amazing dan membuat Indra mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.

__ADS_1


Berulang kali Indra mengerang saat pelepasan, dan berkali-kali pula semburan benih dari Indra menyirami rahim Dila. Kali ini keduanya begitu menikmati malam indah penuh kenikmatan yang sangat luar biasa.


__ADS_2