
Malam hari pun tiba, usai makan malam dan belajar menyambung titik-titik menjadi angka, El terlihat mengantuk karena saat belajar El terus menguap.
" Bu Dila, kenapa sih kalau belajal itu bikin ngantuk?, padahal El masih mau belajal lagi, tapi mata El sudah belat banget".
Dila terkekeh sendiri mendengar ucapan El, " nggak papa sayang, kalau ngantuk ya belajarnya besok lagi. Kan El sudah bisa menulis sampai angka 7, tinggal dua angka lagi, El sudah bisa menulis semua angka. Itu kemajuan yang sangat baik".
Anak usia 4 tahun sudah bisa menulis, tentu saja sudah sangat lumayan. Dila yang setiap hari telaten menemani El belajar di rumah, dan mendampingi El ke tempat bimbingan belajar dua hari sekali, merasa sangat bahagia tiap kali El mengalami peningkatan dan bisa melakukan sesuatu yang baru meski sedikit demi sedikit.
" Kalau El ngantuk, sekarang kita tidur ya, besok kan harus berangkat ke Bimba, jadi harus tidur lebih awal biar bangunnya nggak kesiangan".
El mengangguk, dan membereskan semua buku dan alat tulisnya ke tempat masing-masing. Lalu berjalan ke kamar mandi untuk sikat gigi dan membersihkan diri.
Kebiasaan menerapkan kebersihan sejak kecil yang di ajarkan Dila di kehidupan sehari-hari El memang kini menjadi sebuah rutinitas yang selalu El lakukan tiap hari.
" Sudah belsih Bu Dila, sekalang El mau bobo dulu, Bu Dila bacakan celita yang balu lagi ya".
El merebahkan diri di atas kasurnya, dan Dila membacakan cerita baru dari buku yang dibelinya dua minggu yang lalu.
El memang sangat senang jika tiap tidur dibacakan cerita oleh Dila, menambah kosa kata El, juga pengetahuan El tentang hewan-hewan, atau tumbuhan yang menjadi objek cerita.
Baru membaca dua lembar, El sudah tidur dengan nyenyak. Dila baru bisa sholat Isa karena El baru tidur.
Dila masuk ke kamarnya, tapi kosong, Dila menepuk jidatnya, semua barang-barang miliknya sudah dipindah ke kamar Indra tadi.
Dila jadi merasa menyesal kenapa menidurkan El terlalu awal, sekarang dia sendiri bingung harus bagaimana. Seandainya ayah dan ibu mertuanya sudah tidak tinggal serumah, mungkin Dila bisa saja tidur di kamarnya atau kamar El, tapi ayah dan ibu masih tinggal serumah, dan akan menjadi pertanyaan jika Dila tidak tidur bersama Indra.
" Lagi ngapain disini Dil?, apa ada barang-barang kamu yang ketinggalan?". Bi Ana yang melewati kamar Dila tak sengaja melihat Dila sedang duduk di dalam kamarnya yang dulu.
" Eh iya bi Ana, tadi aku lagi mau nyari headset, mau tek pakai tapi nggak ada, aku kira di kamar ini, tapi ternyata nggak ada", kilah Dila mencari alasan, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya sudah besok bibi bantu cariin, sekarang buruan ke ruang tengah, kamu ditunggu sama tuan dan nyonya besar".
Dila mengernyitkan keningnya, " memangnya lagi pada bahas apa bi?, apa sudah lama mereka disana?".
Ana mengangguk, " Sudah sejak setengah jam yang lalu. Buruan kamu kesana, sudah dicariin sejak tadi".
Dila pun beranjak dan bergabung dengan yang lain diruang tengah
" Apa El sudah tidur Dil?, sini kamu duduk samping ibu", Fatma menepuk kursi yang ada disebelahnya agar Dila duduk disana. Dila pun menurut duduk di samping Fatma.
__ADS_1
Fatma dan Rizal menyampaikan apa yang disampaikan pada Indra tadi siang, bahwa besok harus berangkat ke Malaysia lagi. Dalam hati Dila sangat bersyukur. Lebih cepat kedua mertuanya pergi dari rumah ini, lebih nyaman juga untuk dirinya, tak perlu masuk kamar Indra dan tidur bersama laki-laki menyebalkan itu.
" Ibu berangkat jam berapa?", tanya Dila.
" Awalnya rencana ikut penerbangan pagi, tapi setelah dipikir-pikir kayaknya berangkat siang, karena mau mampir ke rumah dulu sudah lama tidak pulang ke rumah", jawab Fatma.
" Sekitar jam 10 habis dari Bimba, Dila sama El mampir kerumah ibu. Dila pengin nitip sesuatu buat Dede bayinya mba Indri", ujar Dila.
Fatma mengangguk, " Jangan panggil 'mba Indri', sekarang dia adik kamu, panggil namanya saja".
Dila mengangguk mengerti.
" Sekarang kamu istirahat saja, mumpung El tidur lebih awal, jadi kamu punya banyak waktu sama Indra", Bu Fatma tersenyum penuh arti, sedangkan Dila hanya meringis.
Dila masuk kamar Indra, sudah ada Indra yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil sibuk menatap laptopnya. Namun saat mengetahui Dila duduk dan merebahkan diri di sampingnya, Indra langsung mematikan laptopnya dan meletakkannya di atas nakas.
Tak ada sapaan yang keluar dari keduanya, kamar itu sungguh sepi meski ada dua manusia didalamnya, Dila langsung memposisikan dirinya tidur miring membelakangi Indra, membuat Indra menghembuskan nafasnya panjang.
" Huuuufffhhhh......".
" Apa kamu hobi tidur membelakangi aku?, atau kamu lebih suka jika aku memeluk kamu dari belakang Dil?".
Tuduhan Indra membuat Dila membalikkan badannya, " Aku kan sudah pernah bilang, aku mau menikah sama kamu dengan syarat kamu tidak boleh menyentuhku".
" Yang aku ingat saat aku membacakan sighat taklik, bahwa aku akan mempergauli istriku dengan baik, bukankah kamu juga berada disana saat aku membacakan itu?".
Indra tidak mau kalah berdebat dengan Dila, yang jelas Indra suka melihat Dila yang merajuk seperti saat ini.
" Pokoknya nggak boleh lewatin batas ini, atau aku tidur di sofa!", Dila memasang bantal guling di tengah-tengah mereka." Awas saja kalau digeser lagi, aku langsung pindah ke sofa", ancam Dila.
Indra kembali terkekeh, dan membiarkan Dila tidur nyaman malam ini, sebenarnya tadi Indra hanya berniat menggodanya saja, entah mengapa Indra jadi hobi menggoda Dila.
" Aku akan sabar nunggu kamu buat memaafin aku Dil, dan akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, sampai kamu dengan senang hati datang dan menawarkan diri padaku, tanpa aku memaksa atau meminta hak ku atas dirimu ", batin Indra.
_
_
Esoknya sepulang dari Bimba, Dila mampir ke baby shop terlebih dahulu bersama El, Dila membeli beberapa baju bayi perempuan yang sangat lucu-lucu, ada yang baju set turban, ada juga yang set bandana, ternyata baju untuk bayi perempuan sangat cantik-cantik.
__ADS_1
" Apa El juga mau beli sesuatu?", Dila pindah ke pakaian anak-anak kecil yang berada di lorong yang berbeda.
" El udah punya baju banyak banget Bu Dila, El ga mau beli baju lagi", tolak El. Tapi Dila ingin membelikan El sesuatu mumpung sudah di baby shop, akhirnya Dila membeli jaket tebal dan juga kupluk rajut.
" Ya sudah, kalau nggak mau beli baju, El ibu belikan kupluk dan jaket tebal saja, kan tiap ke Bimba naik motor, biar nggak kedinginan kena angin tiap pulang balik". El mengangguk setuju.
Ternyata hanya untuk membeli beberapa baju untuk bayi menghabiskan uang sampai lima juta, karena Dila memilih beberapa baju yang bermerek, tidak enak hati jika memberi hadiah untuk keponakan yang abal-abal.
" Satu bulan gaji, kalau beli di tanah Abang pasti dapat banyak banget, tapi nggak papa Dila, dari pada malu maluin, masa iya baju dibawa ke luar negeri yang biasa biasa saja", batin Dila, sambil menunggu baju bayi itu dibungkus dengan cantik sebagai hadiah.
Dila dan El kembali menaiki motor, kini mereka menuju rumah Bu Fatma. Dila pun menyerahkan bingkisan yang tadi dibelinya di baby shop pada Bu Fatma, " Nitip buat Dede bayi ya Bu", bayi itu memang baru lahir lima hari, dan putri Indri belum diberi nama.
" Kamu malah repot-repot pakai ngasih bingkisan segala, tapi nanti ibu serahin ke Indri".
" Makasih ya Dil, dan juga maaf, karena Indra..., ibu jadi memaksakan kehendak ibu agar kamu mau menikah dengan Indra, putra ibu yang satu itu memang kadang-kadang menyebalkan, kamu yang sabar ya jadi pendamping hidupnya, jadilah istri yang baik, jangan seperti mantan istrinya yang nggak jelas itu".
" Ibu harap pernikahan kalian bertahan sampai akhir hayat, hingga maut yang memisahkan, meski pernikahan ini berawal dari sebuah kesalahan putra ibu, tapi ibu tidak ingin kalian berpisah".
" Kalau ada masalah dibicarakan berdua, jangan dipendam, suami istri itu harus saling terbuka, karena itu adalah kunci sebuah hubungan bisa langgeng. Ibu titip El dan juga Indra sama kamu".
Dila mengangguk mengerti, meski sebenarnya mungkin dirinya mungkin tidak bisa menjadi istri yang baik, tapi Dila akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk El.
Setelah melepas kepergian mertuanya menuju bandara, Dila langsung mengajak El pulang ke rumah. Sudah jam 1 siang, dan El belum tidur siang, namun El justru tertidur saat masih di motor, Dila begitu kesusahan membawa motor sambil memegangi tubuh El yang sudah semakin besar.
Sampai di depan teras rumah, ternyata Indra ada di sana, sengaja pulang untuk makan siang bersama. Indra langsung mengambil El dari tangan Dila dan menggendongnya sampai ke kamar. Motor diserahkan pada mang Santo untuk dimasukkan garasi.
" Kenapa nggak mau diantar dijemput saja sama Ari, atau pesen taksi kalau memang posisinya seperti tadi, untung kalian berdua selamat sampai rumah, coba kamu kenapa-kenapa sama El dijalan, siapa yang kerepotan".
Ucapan Indra ada benarnya, tapi Dila masih merasa tidak nyaman jika diantar jemput oleh Ari.
" Ari itu kan kerja disini buat jadi supir kamu Mas, aku nggak suka kalau jadi ngerepotin ", jawab Dila.
" Ya sudah besok-besok kamu belajar nyetir mobil, setidaknya kalau kamu bisa bawa mobil sendiri, pergi-pergi bawa mobil, kalau El tidur di tengah perjalanan pun nggak masalah, aman".
" Aku mau ke kantor lagi, tadi nungguin kalian lama banget, kenapa ke rumah ibu nggak bilang-bilang sih, kalau kamu ngomong kan aku bisa temenin".
Indra keluar dari rumah sambil kembali memakai jasnya yang tadi diletakkan di kursi.
Dila menuju dapur untuk makan karena belum makan siang.
__ADS_1
" Makanannya masih di ruang makan Dil, tadi nyiapin buat Pak Indra, tapi belum di makan sudah berangkat lagi, kamu itu gimana si Dil, pas masih jadi pengasuh El, mau kemana- mana pamitan sama pak Indra, sekarang sudah jadi istrinya Pak Indra malah pergi nggak pamit-pamit, padahal sudah jadi kewajiban seorang istri harus pamit sama suami kalau mau pergi", ceramah bi Darsih.
Dila hanya meringis sambil menuju ruang makan untuk makan siang, " Yang dikatakan bi Darsih memang benar, jadi Indra nggak jadi makan siang karena aku tadi nggak pulang-pulang", ada rasa bersalah yang muncul di hati Dila.