
Esok harinya, hari Sabtu malam, alias malam minggu, tiga unit mobil yang membawa rombongan keluarga Nino berhenti tepat di depan rumah Toto .
" Ternyata Mas Nino sungguh tidak main-main Mba... Padahal kita cuma sekeluarga yang jemput tamu, tapi Mas Nino bawa rombongan, bahkan PakDe nya yang dari Surakarta juga datang. Biar aku telepon Mba Asna biar Paman dan Bibi datang kesini lewat pintu belakang". Dita nampak panik sendiri, karena sejak tadi terus santai, mengira tamu yang akan datang hanya Nino dan kedua orangtuanya.
Dita memang sudah memberi tahu kedua orang tuanya jika Nino akan datang bersama keluarganya malam ini, tapi Dita melarang bapak dan ibunya untuk menyambut mereka secara berlebihan.
Siti memang sudah mempersiapkan suguhan makan malam untuk tamu keluarga Nino. Dan siang tadi Dila dan Dita juga belanja berbagai macam kue kering dan basah, buah-buahan dan juga dodol sebagai suguhan untuk tamu.
Untung saja rumah Asna tidak terlalu jauh dari rumah Dita, sehingga keluarga Asna bisa segera bergabung dengan dandanan ala kadarnya, yang penting bersih, rapi dan sopan.
" Kamu itu ngawur banget sih Dit, kenapa kasih tahunya mendadak, untung bapak dan ibuku lagi dirumah. Kalau nggak, kamu malu-maluin keluarga kita, masa mau dilamar sama Pak Kades malah yang jemput cuma orang serumah saja". Asna yang baru sampai langsung nyerocos menceramahi Dita yang sangat ngawur.
Sedangkan kedua orang tua Asna langsung keluar ke ruang tamu, ikut menjemput kedatangan tamu dari keluarga Nino.
" Beruntung banget Siti dan Toto, Dila nggak jadi sama Pak Kades, malah Dita yang gantiin jadi calon istrinya, kalau rejeki memang nggak kemana ya Pak, sudah takdirnya Nino jadi mantu di keluarga ini, nggak jadi sama kakaknya, eh.. dapet adiknya", bisik Ibunya Asna pada sang suami.
" Hust... jangan sirik begitu, kalau orang baik memang dapat besannya juga dari keluarga yang baik, jadi ibu jadi orang yang baik dulu, biar dapat besan dari keluarga yang baik juga", jawaban dari bapaknya Asna membuat ibunya Asna manyun.
Dita ditemani Asna ikut keluar dan duduk di ruang tamu bersama orang tua mereka.
" Maaf Mba Asna, aku kira Mas Nino itu nggak ngajak keluarga besarnya, toh cuma pertemuan keluarga, ya aku kira tadinya cuma bawa bapak dan ibunya saja. Nggak tahunya malah Pakde nya yang dari Surakarta juga datang". bisik Dita meringis sambil meminta maaf. Asna hanya mengangguk karena suasana sudah sepi, semua orang tidak lagi bersuara.
Keluarga Nino dan Keluarga Toto kini sudah berkumpul di ruang tamu dan ada juga yang kebagian duduk di ruang tengah karena ruang tamu yang sudah penuh.
Termasuk Dila juga tetap di ruang tengah karena sambil menggendong Arsy, khawatir Arsy rewel jika ikut bergabung di ruang tamu yang ada banyak orang.
Namun Indra dan Ari ikut duduk diruang tamu menyambut kedatangan keluarga Nino.
__ADS_1
Ada sekitar 10 orang yang Nino ajak, yaitu ayah dan ibunya, pakde dan budenya, 3 perangkat desa dan tiga tetangga samping rumahnya. Semua orang-orang yang sering berhubungan dengan Nino setiap harinya.
Karena mereka berasal dari kampung yang sama, dari pihak keluarga Nino tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, tentunya mereka semua sudah saling kenal. Dan apalagi Nino adalah kepala desa di kampung itu, siapa.yang tak mengenalnya.
Acara pun langsung pada intinya, yaitu lamaran yang di lakukan oleh ayahnya Nino secara langsung.
" Kami datang kemari bukan lain karena ingin bertemu dengan keluarga Pak Toto atas permintaan Nino putra kami. Meski dibilang Nino ini bapaknya orang sekampung, karena sekarang dia jadi kepala desa di kpung ini, tapi bagi kami bapak ibunya, dia tetaplah anak-anak yang kadang keinginannya membuat kami selaku orang tuanya kaget".
" Tadi pagi tiba-tiba Nino menyampaikan pada saya dan istri, meminta saya untuk melamar anaknya pak Toto".
" Jujur saya langsung marah-marah tadi pagi, karena seingat saya putrinya pak Toto itu sudah menikah dengan orang Jakarta".
Indra dan Ari langsung saling melirik saat ayahnya Nino membahas soal Dila. Namun mereka hanya saling lirik dalam diam sambil mendengarkan apa yang akan dikatakan ayahnya Nino selanjutnya.
" Dan ternyata saya salah paham, yang dimaksud Nino adalah putri bungsu Pak Toto yang bernama Dita, jadi untuk lebih meyakinkan kami selaku orang tua, kami ingin bertanya terlebih dahulu kepada Mba Dita dan keluarganya, apakah Mba Dita ini sudah menikah?, atau sudah punya calon suami ?, atau sedang dekat dengan laki-laki lain?, karena tidak mungkin kami melamar perempuan yang sudah mempunyai suami atau punya calon suami, untuk putra kami".
Karena itu Pak Toto pun menjawab pertanyaan ayahnya Nino dengan kalimat yang diatur sedemikian rupa.
" Mohon maaf bapaknya Mas Nino, jujur sebenarnya saya sendiri merasa minder, karena Pak Kades mengajak keluarga besarnya dan bapak-bapak perangkat desa datang ke gubug saya yang sempit ini".
" Semua jamuan dan tempat hanya ala kadarnya. Padahal yang datang tamu orang-orang penting".
" Sebenarnya saya juga sama kagetnya saat tadi pagi Dita putri bungsu saya tiba-tiba mengatakan bahwa malam ini akan kedatangan tamu dari keluarga Pak Kades. Jujur saya tidak kepikiran yang akan datang sebanyak ini, karena saya pikir hanya silaturahmi biasa".
" Putri saya Dita memang masih sangat muda, usianya baru 18 tahun lebih, sekolah saja baru lulus SMA sebulan yang lalu, jadi tentu saja Dita masih lajang, alias belum menikah, dan selama ini setahu saya, Dita itu tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, karena jujur saya melarangnya untuk berpacaran saat dia masih sekolah, khawatir mengganggu konsentrasi belajar".
" Dan setelah lulus SMA putri saya Dita langsung disibukkan dengan pekerjaan barunya di rumah sakit, alhamdulilah mencoba peruntungan daftar kerja di rumah sakit malah di terima, jadi tidak ada waktu untuk berhubungan dengan laki-laki lain. Benar kan Dit, belum punya pacar?", Toto nampak bertanya langsung pada Dita. Dan Dita langsung mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
" Jadi saya berani jamin bahwa putri bungsu saya masih sendiri, dan tidak sedang dekat dengan laki-laki manapun", ucap Toto mengatakan kalimat 'putri bungsu' dengan penuh penekanan.
Ayah Nino langsung mengangguk, " Kalau begitu saya mau meminta ijin pada pak Toto selaku ayah Mba Dita, untuk meng-khitbah putri bapak menjadi calon istri putra kami Nino".
Toto menatap Nino dengan seksama, Nino yang juga sedang mengharapkan jawaban darinya ekspresi wajahnya terlihat tegang.
" Saya sebagai orang tua mengijinkan , hanya saja jawaban dan keputusan tetap saya serahkan pada Dita yang mau menjalaninya", jawab Toto lugas.
" Bagaimana nak Dita?, apa nak Dita bersedia menjadi calon istri putra bapak?, Nino?".
Dita pertama menatap bapak ibunya, kemudian menatap Nino yang berwajah harap-harap cemas, dan berpindah menatap Dila yang menyaksikan dari pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah. Dita cukup lama menatap Dila, hingga Dila mengangguk baru Dita ikut mengangguk, " Saya... bersedia".
Ibunya Nino pun langsung maju kedepan diikuti Dita yang maju kedepan, penyematan cincin emas sebagai simbol lamaran pun dilakukan ibunya Nino secara langsung.
" Alhamdulillah, jadi lamaran kami diterima ini Pak Toto, semoga saja lancar sampai di hari pernikahan", doa ayahnya Nino, yang diamini oleh semua yang hadir.
Setelah sesi doa bersama, para tamu undangan pun dipersilahkan untuk menikmati masakan yang sudah disediakan.
" Tidak menyangka akhirnya kita tetap besanan, jodoh memang tidak ada yang tau kemana arah dan tujuan nya, dari dulu saya sudah membayangkan akan datang kerumah ini guna melamar putri pak Toto untuk putra saya".
" Sempat kecewa saat tahu ternyata putri sulung pak Toto menikah dengan orang lain, tapi ternyata sudah digariskan oleh Allah keluarga kita untuk jadi besan. Dan ternyata yang dituju putra saya justru putri bapak lagi".
" Padahal jujur kami sudah mengenalkan Nino dengan begitu banyak gadis cantik dan berpendidikan tinggi, namun ternyata tidak ada yang membuat Nino tertarik. Justru putri bungsu bapak yang masih sangat muda yang menarik perhatiannya".
" Sebelumnya saya mohon maaf, kalau nanti putra saya minta pernikahannya di percepat, jangan terlalu lama dari lamaran ini, karena dia sudah pengen berkeluarga katanya, karena dia putra kami satu-satunya, dan sudah setua ini saya dan istri belum diberi cucu, jadi kami ingin seperti teman-teman kami yang sudah punya cucu", ucap Ayahnya Nino pada Toto secara terang-terangan.
Toto sampai bingung harus bagaimana menanggapi ucapan calon besannya itu.
__ADS_1