Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 19


__ADS_3

" Kenalin Mba Dila, nama saya Ari, supir pribadi dari Pak Indra. Kalau boleh tau, mba Dila umuran berapa?, saya kira yang akan jadi baby sitter El itu sudah tua, ternyata masih muda banget", Ari memperkenalkan diri pada Dila.


Dila yang sejak tadi diam kini menatap Ari yang tatapannya sedang fokus kedepan, karena tengah menyetir mobil.


" Saya baru 17 tahun, jadi panggil Dila saja, nggak usah pakai sebutan 'Mba' Mas Ari".


Ari mengangguk setuju, kalau begitu panggil saya Ari saja, meski saya sudah 22 tahun, tapi biar lebih akrab, panggilnya nama saja".


" Kalau boleh tahu, apa itu yang di pipi kamu, tanda lahir sejak kecil?", Ari menanyakan tompel di pipi Dila.


" Oh, ini tempelan Mas, eh... maksud ku Ar".


" Kata Kak Intan bos kamu itu nggak suka lihat perempuan yang cantik, makanya aku disuruh pakai kacamata dan tompel ini sama Kak Intan", jawab Dila jujur.


Ari terkekeh geli, " ternyata kamu gadis kampung yang masih sangat polos, tapi benar juga sih kata teman kamu itu. Pak Indra itu sengaja merekrut tukang masak dan tukang bersih-bersih semua perempuan yang sudah tua, karena dulu perceraian beliau dengan istrinya disebabkan asisten cantik yang sok genit sama semua lelaki, termasuk sama aku dan juga Pak Indra".


" Mantan istri Pak Indra namanya Bu Kayla, beliau tidak terlalu cantik, tidak jelek juga sih, ya cantik karena perawatan yang mahal, beda dengan Fifi, ART yang dulu bekerja di sana sebagai tukang bersih-bersih, dia cantik alami".


" Fifi bekerja dengan mereka semenjak mereka tinggal di rumah itu. Sekitar 5 tahun yang lalu Pak Indra dan Bu Kayla itu membeli rumah itu setelah menikah, Fifi itu pembantu pilihan orang tua Bu Kayla, yang suka pakai baju seksi, saya sebagai laki-laki normal juga suka lihat kalau Fifi sedang mengepel atau menjemur baju sambil lenggak-lenggok".


" Singkat cerita, tiga tahun lalu saat Bu Kayla melahirkan El, dia itu melahirkan secara sesar karena posisi bayi yang sungsang, saat itu aku baru menjadi supir mereka".


" Banyak saudara dan kerabat yang menengok ke rumah saat El diperbolehkan pulang. Bu Kayla itu saat hamil jadi sangat gendut dan semakin gendut saat menyusui El. Oleh dokter dilarang diet atau senam karena tidak baik untuk ibu pasca melahirkan secara sesar".


" Bu Kayla termakan omongan para saudara yang memanas-manasi kalau suaminya bisa saja melirik wanita lain yang lebih cantik dan lebih seksi. Entah disengaja atau memang sudah takdirnya, waktu itu kebetulan Fifi lagi nyuci baju kepleset di tempat cucian yang licin karena sabun. Pak Indra yang sedang lewat berusaha membantu karena Fifi tidak bisa berdiri karena pinggangnya membentur lantai".


" Tapi Bu Kayla yang sudah menaruh curiga karena profokasi dari keluarganya melihat saat Pak Indra menggendong Fifi ke kamarnya, Bu Kayla masih berusaha sabar dan tetap diam, tapi sebulan setelah kejadian itu Fifi hamil, entah oleh siapa, padahal Fifi belum menikah".


" Bu Kayla menyuruh Pak Indra untuk jujur dan bertanggung jawab atas perbuatannya, padahal Pak Indra tidak pernah menyentuh Fifi sekalipun, kecuali waktu membantu Fifi saat jatuh kepleset itu".


" Pertengkaran terjadi setiap hari, hingga Bu Kayla pergi dari rumah, beliau pulang ke rumah orang tuanya, meninggalkan El yang baru berusia 3 bulan, dan menggugat cerai Pak Indra".


" Sebenarnya Pak Indra tidak mau bercerai dengan Bu Kayla, tapi Bu Kayla sepertinya masih terus di kompori oleh keluarganya yang sebenarnya dulu tidak setuju dengan pernikahan mereka".


Dila mendengarkan cerita panjang tentang kisah majikannya dari Ari sang supir pribadi.


" Jadi sebenarnya Fifi hamil oleh siapa?, apa belum ada kejelasan sampai sekarang?", tanya Dila.

__ADS_1


" Nggak tahu siapa yang menghamili Fifi, tapi aku yakin bukan Pak Indra pelakunya, karena Pak Indra itu laki-laki yang setia. Saat itu Fifi dipecat oleh Pak Indra karena kesalahannya yang sangat fatal, hamil diluar nikah, dan entah siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Belum lagi kehamilan Fifi menjadi penyebab perceraiannya", jawab Ari.


" Sebenarnya Pak Indra tidak membenci gadis yang cantik, hanya saja beliau tidak suka kejadian dulu terulang lagi, karena pembantu yang cantik membuat banyak laki-laki menyukainya, dan jadi hamil diluar nikah seperti Fifi, merepotkan saja".


" Sejak itu Pak Indra enggan mengambil resiko yang sama, dan lebih memilih mencari pengasuh anaknya yang sudah ibu-ibu, sayangnya dari belasan pengasuh, tidak ada satupun yang bertahan lama", terang Ari.


Dila mengangguk paham.


" Terus kenapa El ditinggal di rumah Pak Indra sama Bu Kayla?, sebagai ibu kan seharusnya Bu Kayla membawa El yang masih bayi bersamanya?".


Ari menghentikan mobilnya saat lampu lalulintas berwarna merah.


" Itu hasutan dari keluarga Bu Kayla, aku kan tadi sudah bilang kalau keluarga Bu Kayla awalnya menentang pernikahan mereka".


Dila mengangguk paham, mungkin saja perpisahan mereka lebih ke kurangnya dukungan keluarga dari Bu Kayla, karena menurut Dila masalah yang mereka hadapi sebenarnya hanya kesalahpahaman yang belum bisa di clear-kan.


" Jadi penyebab Pak Indra dan Bu Kayla bercerai itu sebenarnya tidak terlalu besar, hanya salah paham yang tak kunjung diperjelas. Kasihan si kecil El yang menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya".


" Apa Bu Kayla sering mengunjungi El ke rumah?".


Ari menggelengkan kepalanya, " tidak pernah sama sekali, sejak mereka bercerai, katanya Bu Kayla pindah ke Jerman, dan tak pernah lagi datang ke rumah. Mereka benar-benar putus hubungan".


Ada rasa kasihan mendengar hubungan yang pupus hanya karena masalah kecil, tapi mungkin itu hanya sebagian dari alasan perceraian mereka yang di dengar dari sisi pandang sang supir, dari sisi lain mungkin ada alasan besar yang menyebabkan perpisahan itu terjadi.


Mobil memasuki kawasan perumahan elit, melewati pintu gerbang besar yang kemarin sudah Dila lihat.


Masuk melewati pintu gerbang itu terpampang jelas taman hijau dengan tanaman yang terawat, ada taman bermain dan juga lapangan luas sebagai tempat berolahraga.


Dila terus menatap sekitaran, rumah-rumah yang dilaluinya memang semuanya mirip seperti istana. Hingga mobil yang membawa Dila berbelok masuk ke sebuah pelataran luas yang rumahnya sangat besar.


Seorang tukang kebun menutup kembali pintu gerbang setelah mobil yang mereka tumpangi masuk.


" Lain kali jika ada kesempatan lagi, aku ingin sekali bisa melihat seperti apa wajah aslimu", ucap Ari sambil membuka pintu mobil dan membantu membawa tas besar milik Dila.


Dila menunjukkan salah satu foto di ponselnya. " Ini aku, bersama teman-temanku".


Ari mengernyitkan keningnya, " ada begitu banyak perempuan di foto itu, kamu yang mana?".

__ADS_1


Belum sempat Dila menjawab, seorang anak laki-laki kecil berlari dari dalam rumah tak sengaja menabrak dirinya, ponsel yang sedang Dila pegang jatuh ke lantai dan terinjak oleh anak kecil itu hingga layarnya retak parah.


" Astaghfirullah, layarnya retak", Dila nampak sangat sedih karena HP nya rusak.


" Ini aku beli dengan menabung selama dua tahun, tapi rusak begitu saja", entah mengapa Dila merasa begitu sedih saat HPnya rusak.


" Aduh, itu kan HP murah, nanti minta saja sama Pak Indra untuk diganti yang baru, sekarang tolong kamu kejar El, dia lagi kumat, nyariin ibunya. Ari kamu taruh tas baby sitter baru itu di kamarnya", teriak ibu-ibu paruh baya yang sedang mengejar El.


Dila ikut mengejar El yang sudah sampai di depan pintu gerbang.


" Untung saja pintu gerbangnya di tutup, kalau tidak ini anak pasti sudah keluar rumah muter-muter di komplek nyariin ibunya".


" Kamu baby sitter El yang baru ya?, syukur kamu sudah datang, dari pagi aku sudah capek banget ngejar-ngejar El, aku serahkan El sama kamu ya, saya Ana tenaga kebersihan disini, Nyonya besar tidak datang hari ini, sampai saya kewalahan urus ini anak, pekerjaan saya sekarang masih utuh, kamu urus El ya".


Dila mengangguk, dirabanya ponsel di sakunya yang sudah rusak, entah mengapa baru sampai saja Dila sudah harus mengalami hal tidak menyenangkan seperti ini. Semoga saja Dila di beri kesabaran menghadapi anak nakal ini.


" Hai El, namaku Dila apa kamu mau berteman denganku?, aku baru saja sampai dan akan menjadi pengasuh kamu kedepannya, apa aku boleh menggendong mu?".


El tiba-tiba berteriak marah-marah.


" El ga suka pengasuh, El maunya ibu, El mau ibu...", rengek El terus menangis, dan berteriak hingga tanrtrum.


Dila membiarkan El meluapkan kemarahannya, setelah tangisnya agak reda, Dila memeluk El penuh kasih sayang.


" Kalau memang El maunya sama ibu, El harus jadi anak yang baik dan nurut, soalnya ibu mau ketemu sama El kalau El jadi anak baik dan penurut", Dila mengusap-usap punggung El agar merasa lebih tenang.


Mungkin ada untungnya juga dulu saat kecil Dila selalu disuruh mengasuh Dita saat ibu harus melakukan pekerjaan rumah. Jadi ada pengalaman mengasuh anak kecil meski dulu yang diasuh adik kandungnya sendiri.


" El sekarang kita masuk rumah ya, cuaca mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan, kalau nanti kena hujan dan El batuk atau pilek, ibu El nggak mau ketemu sama El yang batuk pilek, takut ketularan".


El yang masih polos percaya saja dengan perkataan Dila, dan menurut masuk ke dalam rumah.


" Sekarang El mau main apa sama kak Dila?, kita main yang El suka", Dila berusaha untuk tidak emosi menghadapi El yang sejak tadi terus marah dan membentak tiap kali berbicara.


Pelan pelan El mau bermain dengan Dila, meski baru sebentar El sudah merasa bosan, hingga jam 11 siang Dila mengambilkan makan siang untuk El yang sengaja dibuatnya seperti kepala boneka, El yang biasanya susah makan pun mau makan hingga makanan di piringnya habis.


Setelah kenyang Dila menggendong El dan mengajaknya tidur siang di kamar, Dila membacakan buku dongeng tentang lebah bernama Hachi yang terus mencari ibunya yang pergi, belum selesai Dila membaca cerita, El sudah tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Dila yang merasa sangat capek pun ikut memejamkan mata di samping El.


__ADS_2