
Dila menatap ke Lita meminta kejelasan, Lita sengaja memberi tahu keberadaan mereka atau semuanya hanya kebetulan semata.
" Aku nggak tahu sama sekali kalau Mas Bram lagi disini, kan kamu yang ajak aku ketemu disini" Lita langsung melotot kesal karena ekspresi Dila seperti menuduhnya melakukan konspirasi.
" Oh... sori sori kalau keberadaan aku bikin kalian nggak nyaman, tadi habis meeting sama supplier baru, ini Mas Kunto dan Mas Fino, mereka yang akan memasok beras dan ayam yang akan bekerja sama dengan usaha kuliner kita Dil", Bram berusaha menjelaskan.
Betapa terkejutnya Dila saat melihat Kunto di kafe itu juga, jadi Kunto yang akan memasok beras ke setiap outlet nasi cup ayam suwir, dan Fino adalah pemasok ayam yang akan menggantikan supplier yang dulu.
Bram memang pernah bercerita jika supplier beras dan ayam yang dulu terus menaikkan harga, sehingga setelah kontrak kerja selama 6 bulan berakhir Bram memilih mencari supplier beras dan ayam yang baru, yang jelas yang berani memberinya harga terendah dengan kualitas yang bagus.
Dila bisa melihat Kunto terus menatapnya tanpa berkedip, tidak juga mengucapkan sepatah katapun, entah apa yang sedang Kunto pikirkan sejak tadi.
" Nggak papa kan kita gabung duduk disini Dil?, sebenarnya aku juga pengen ketemu sama kamu dan bahas tentang ini, kan kamu partner aku di produk ini, kebetulan kita malah ketemu disini sekarang".
Sebuah kebetulan yang membuat Bram semakin semangat untuk memajukan kerjasama bidang kuliner dengan perempuan cantik yang tak dapat di gapai nya karena sudah keduluan jadi milik orang lain.
" Mas Kunto, Mas Fino, kenalkan ini Karina Nadila, dia pertner ku di bisnis nasi cup yang menjadi produk yang kita bahas tadi, dialah yang tiga tahun lalu merintis usaha nasi cup ayam suwir, membuat resep dan mengawali usaha nasi cup ayam suwir hingga sekarang tersebar di banyak kota besar ". Bram memperkenalkan Dila pada Fino dan Kunto, karena belum tahu jika ternyata Kunto sudah lebih dulu mengenal Dila.
Fino langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dila, " Hai, aku Fino, senang bertemu dengan Anda, tak ku sangka yang merintis usaha ini masih sangat muda dan seorang gadis yang sangat cantik, menjadi sebuah kehormatan berkenalan dengan wanita hebat seperti anda nona Karina".
Dila mengulurkan tangannya, " Panggil saja aku Dila, terimakasih sudah menjadi supplier kami, semoga anda tidak seperti supplier yang dulu yang terus menaikkan harga, biar bisa bekerja sama dalam waktu yang lama", ujar Dila tanpa basa-basi.
Fino tertawa lepas, " Tentu saja, saya juga berharap bisa bekerja sama dalam waktu yang sangat lama dengan kalian".
Dila menarik tangannya karena sejak tadi Fino masih menggenggam tangan Dila. Tatapan Dila langsung berpindah pada Kunto.
" Mas Kun apa kabar?", Dila terlebih dahulu menyapa Kunto yang sejak tadi masih diam dan mendudukkan diri tepat di hadapan Dila.
__ADS_1
" Apa kita perlu berjabat tangan dan berkenalan juga seperti kamu dan Fino tadi?", Kunto mengulurkan tangannya mengajak Dila bersalaman. Dila pun menerima uluran tangan Kunto dan mereka bersalaman.
" Bagaimana kabar kamu Dil?, apa kamu sehat?".
Dila langsung mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kunto.
" Sepertinya kamu juga sangat sehat, sekarang kamu sudah selesai kuliah dan menjadi pengusaha beras meneruskan usaha orang tuamu, semoga saja kamu akan menjadi orang yang sukses Mas". batin Dila.
Bram, Fino dan Lita langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kunto.
" Apa kalian sudah saling kenal?", tanya Bram penasaran.
" Bukan kenal lagi..., tapi Dila yang jadi tempatku bersandar saat aku jatuh dan rapuh".
Jawaban Kunto jelas membuat Bram langsung menatapnya tajam, seakan butuh penjelasan kalimatnya barusan.
" Sedekat itukah kalian?, apa Mas Indra tahu kamu punya teman dekat seorang laki-laki Dil?", kini Lita yang bertanya penasaran.
" Mas Indra sudah pernah bertemu dengannya, dulu waktu awal aku baru pindah ke Jakarta", jawab Dila jujur, maksudnya adalah saat bertemu di depan minimarket seberang perumahan.
" Siapa Mas Indra?, apa dia laki-laki dari kampung yang dulu sering telepon Dila di kontrakan, teman tapi membingungkan nya Dila?, tapi aku belum pernah bertemu dengannya, jika Dila mengatakan aku pernah bertemu awal Dila pindah ke Jakarta, berarti yang dimaksud Mas Indra mungkinkah orang lain lagi?", begitu banyak pertanyaan yang kini muncul di pikiran Kunto tentang nama Indra.
" Wow, sepertinya banyak cerita yang aku lewatkan", gumam Lita. " Tapi memang Dila begitu sih sejak awal kami kenal di Jogja dulu, dia lebih suka mendengarkan aku curhat dan dia sendiri tidak pernah menceritakan tentang masalah pribadinya". Lita meringis menyadari betapa sedikit pengetahuannya tentang Dila.
" Jadi kamu menghilang dari Jakarta itu pergi ke Jogja Dil?, bahkan kamu mengganti nomor kamu, sampai aku dan teman-teman yang lain bingung bagaimana harus menghubungi kamu. Kami sempat datang ke Jakarta, tapi kata bos kamu yang dulu kamu pergi dari rumahnya". Kini Kunto sudah tidak bisa mengendalikan rasa penasaran dan kesalnya kepada Dila.
Dila menyadari tidak sepantasnya membahas masalah pribadi saat beramai-ramai seperti saat ini, apalagi ekspresi Bram dan Lita sudah sangat tidak menyenangkan.
__ADS_1
" Maaf, apa bisa membahas masalah pribadinya nanti, bukankah sekarang ini kita mau membahas tentang kerjasama yang baru saja kalian sepakati?", Dila sengaja mengalihkan topik pembicaraan, karena merasa tidak enak dengan yang lain.
" Benar sekali, kita sedang membahas masalah kontrak kerjasama, jadi urusan pribadi bisa di lanjutkan di lain waktu", ucap Bram yang kini justru merasa salah pilih supplier, karena orang yang menjadi supplier ternyata punya masa lalu dan masalah pribadi dengan Dila.
" Sebaiknya kalian kembali ke pembahasan awal dan selesaikan meeting mendadak ini, karena aku butuh waktu berdua dengan Dila, sengaja aku bolos dari kerjaan karena mau ngobrol berdua sama Dila, tapi kalian datang dan membuat acara kita jadi berantakan", Lita sudah selesai makan dan kini duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu. Ekspresinya terlihat sangat kesal.
Akhirnya Bram, Dila, Fino dan Kunto kembali pada pembahasan masalah pekerjaan, Lita milih diam dan memberi waktu mereka menyelesaikan urusan pekerjaan.
" Oke, jadi kurang lebih seperti itu kerja sama yang akan kita lakukan, kita akhiri pertemuan siang hari ini", Bram menutup sesi pembahasan tentang kerjasama mereka setelah beberapa menit kemudian.
Kunto langsung menyodorkan ponselnya ke arah Dila. " Simpan nomormu disini, aku akan menghubungi kamu lagi nanti". Mendengar kekesalan Lita yang diganggu waktunya memang tidak memungkinkan dirinya mengobrol berdua dengan Dila usai meeting dadakan tadi. Karena itulah Kunto meminta Dila memberikan nomernya agar bisa dihubungi lain waktu.
Dila terpaksa menyimpan nomernya di ponsel Kunto, mungkin memang Tuhan sengaja mempertemukan mereka kembali agar Dila bisa menuntaskan kisah lama yang masih menggantung. Seperti kemarin saat harus bertemu Nino saat pulang kampung, setiap masa lalu yang belum selesai memang harus diselesaikan dengan baik-baik. Itulah yang ada di pikiran Dila saat ini.
" Aku sudah tulis nomerku di sini", Dila menyerahkan ponsel Kunto pada sang pemilik.
" Oke, thanks, aku akan menghubungi kamu secepatnya". Kunto berpamitan pada semuanya. Begitu juga dengan Fino.
Bram menatap Dila sesaat, " Kenapa sih harus begitu banyak laki-laki yang menyukai kamu Dil, bagaimana bisa kamu akhirnya memilih Indra, aku benar-benar penasaran dengan alasan kamu memilih Indra, dia tidak lebih tampan dariku, tida lebih tampan dari Kunto juga, urusan harta, bagiku kamu bukan gadis yang matre, pasti kamu memilih Indra bukan karena kekayaannya, jadi karena apa?, padahal aku masih singgle, sedangkan Indra ibarat buy one get one, kamu harus mengurus anaknya juga, merepotkan, kenapa kamu mau sama Indra?, sampai kamu begitu menyayangi putranya".
Lita menatap Dila mengamati ekspresi wajah sahabatnya itu yang barusan diberi pertanyaan cukup sulit dari Bram.
" Mas Bram keliru, bukan aku mencinta Mas Indra, makanya aku menyayangi El, tapi kebalik, aku menyayangi El, makanya aku menerima lamaran Mas Indra, El yang waktu itu memintaku untuk menjadi ibunya saat Mas Indra melamar ku. Awalnya aku menolak saat pertama Mas Indra mengajakku menikah, tapi di lamaran yang kedua El ada bersama kami, dia memberiku bunga dan memintaku untuk menjadi Ibunya".
Lita dan Bram sama-sama tercengang dengan jawaban Dila.
Sebenarnya Lita lebih ke terharu dan juga malu mendengar jawaban Dila, kakaknya lah ibu kandung El, namun hingga saat Ini Kayla tidak pernah sekalipun menjenguk putranya, boro-boro menjenguk, menanyakan kabar saja tidak pernah.
__ADS_1
" Wooow.... aku sampai spitchles nggak bisa ngomong apa-apa mendengar jawaban kamu Dil, kenapa aku tiba-tiba merasa iri pada Indra, karena tidak memiliki putra yang bisa membuatmu menerima perasaan ku seperti El yang dengan pintar dan tulusnya meminta padamu untuk menerima ayahnya". ucap Bram sambil meringis.
" Oke kalau begitu, nikmati waktu kalian, aku masih harus kembali ke kantor, sampai ketemu lagi di lain kesempatan gadis-gadis cantik, maaf jadi ganggu waktu kalian", Bram berdiri dan meninggalkan Dila dan Lita di kafe, berjalan keluar sambil melambaikan tangan.