
Dila keluar dari stasiun melalui pintu timur dan terus berjalan menyusuri jalanan yang cukup ramai dengan pejalan kaki, hingga dirinya sampai di jalanan Malioboro yang ramai.
Begitu banyak pejalan kaki di jalanan Malioboro, mungkin karena akhir pekan, banyak anak sekolah bersama orang tua mereka yang sedang libur kerja, juga pemuda pemudi usia SMA dan kuliahan yang berjalan-jalan di sana.
Untung Dila tidak membawa begitu banyak barang bawaan sehingga tidak merasa keberatan dengan barang bawaannya.
Dila kini berjalan menuju arah sekitaran kampus terdekat, seperti rencana dadakan yang sudah Dila pikirkan saat di kereta api, Dila ingin mendaftar kuliah di kampus yang ada di Jogja, kuliah yang biayanya tidak terlalu mahal tentunya.
Pertama-tama Dila mencari tempat kos di sekitaran lokasi kampus, karena tidak mungkin Dila membawa barang-barang miliknya kemanapun dia pergi, apalagi sudah siang, dan cuaca mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Sepanjang perjalanan Dila dari stasiun menuju lokasi kampus, memang terdapat begitu banyak kos-kosan, dari yang harganya murah, sampai yang harganya sangat mahal.
Beberapa kali juga Dila melihat kamar dan menanyakan harga, namun belum ada yang cocok, hingga setelah berjalan sekitar 20 menit menyusuri jalanan kota Jogja, Dila menemukan satu kos-kosan khusus putri yang cocok dengan harga dan juga tempatnya.
Dila melihat kos-kosan itu sangat bersih, ada kasur busa, lemari dan juga kamar mandi di dalam, dengan harga 400 ribu sebulan, ini jauh lebih baik dibanding saat di Cibitung dulu.
Setelah ngobrol cukup lama dengan ibu kos, Dila mendapatkan diskon khusus, karena Dila langsung menyewa kamar untuk setahun kedepan. Dila hanya membayar 4 juta untuk kos selama setahun di sana, sudah gratis air dan listrik pula. Itu termasuk sangat murah. Setidaknya Dila tidak akan lantang lantung di kota ini untuk setahun kedepan.
Suasana kos-kosan yang tadi sepi kini mulai ramai, karena beberapa penghuni kamar lain pulang sehabis jalan-jalan.
Dila masuk ke kamar barunya, tidak sebesar kamar Indra, tapi ini lebih luas dari kontrakan saat di Cibitung dulu. Di tambah sudah ada kamar mandi di dalam, juga kasur dan lemari, itu sudah lebih dari cukup untuk bisa tidur dengan nyaman.
Dila merapikan bajunya ke dalam lemari pakaian. Rencananya hari ini Dila ingin keluar dan mencari HP second. Dila berniat mendaftar kuliah, pasti akan sangat membutuhkan ponsel sebagai alat komunikasi nantinya.
Beruntung di Jogja begitu banyak orang baik dan ramah, yang bisa ditanyai, hanya sekitar satu kilo dari kos-kosan Dila, ada konter HP, Dila membeli HP second seharga 1 juta di konter itu, sudah sekalian gratis kuota selama sebulan. HP nya memang tidak sebagus miliknya yang dibelikan oleh Indra sebelumnya. Namun yang kali ini sudah lumayan bagus dengan memori cukup besar.
Baru sehari di Jogja Dila sudah menghabiskan 5 juta untuk kos setahun dan beli hp second, tapi memang kedua hal itu penting, sore hari Dila memilih duduk-duduk di depan kosannya sambil melihat-lihat fitur di HP barunya.
" Sore mba, penghuni baru disini ya?".
Dila menatap seorang gadis yang mungkin sepantaran dengan nya." Iya, baru pindah hari ini, mba ngekos disini juga?", sapa Dila sopan.
Gadis itu mengangguk dan menyodorkan tangan untuk bersalaman, " Saya Lita, penghuni kamar sebelah, lagi kuliah di UGM baru semester 2, nama mba siapa?".
Benar dugaan Dila bahwa mereka sepantaran.
" Namaku Dila, panggil saja Dila, sepertinya kita sepantaran, tapi aku baru mau daftar tahun ini, kemarin habis lulus kerja dulu, ngumpulin biaya".
__ADS_1
Lita tersenyum simpul, " Waah... saya jadi termotivasi mendengar cerita mba... maksud ku cerita kamu, yang bekerja untuk daftar kuliah. Mau kuliah dimana?, UGM juga?".
Dila menggeleng, " nggak mampu disana, soalnya aku nggak pinter, nilai ujian juga nggak bagus-bagus amat, mungkin ke kampus lain, yang bisa kuliah sambil kerja juga nantinya", ujar Dila.
Lita mengangguk paham, " Memangnya mau kuliah jurusan apa Dil?".
" Rencananya ambil jurusan pendidikan, biar bisa jadi guru pas selesai, tapi mau belajar buka usaha juga, sepertinya buka usaha disini prospeknya cukup bagus, banyak banget kos-kosan dan penginapan. Mungkin kalau usaha makanan siap santap yang bisa delivery order bakalan laku keras", ujar Dila.
" Kamu pasti anak orang kaya ya Lit...jadi nggak perlu repot-repot buat nyari biaya tambahan", tebak Dila, karena sejak tadi Lita tidak tertarik membahas pekerjaan ataupun bisnis.
" Orang tuaku asli Jakarta, bisa di bilang hidupku sudah sangat kecukupan, tapi aku seperti sendirian tinggal di rumah itu, ayah dan bunda selalu sibuk kerja, Kakak perempuan ku sekarang tinggal di luar negeri. Awalnya aku disuruh kuliah di luar negeri juga, tapi aku terhambat bahasa, karena itulah aku memilih kuliah di Indonesia, tapi yang cukup jauh dari Jakarta, dan akhirnya in the kost disini".
" Semoga saja kita bisa jadi teman baik ya Dik, soalnya disini aku belum banyak teman cewek, apa kamu mau ikut denganku nyari makan malam keluar?, sekalian jalan-jalan, kalau malam Minggu begini di jalanan Malioboro dan arah menuju kota itu sangat ramai. Kamu bisa pilih menu suka-suka karena begitu banyak restoran, rumah makan, dan kafe sepanjang jalan itu".
Dila nampak berfikir, tapi dari pada tidak ada kegiatan, akhirnya Dila setuju untuk ikut dengan Lita.
" Tapi aku perginya sama temen cowok, kamu nggak papa kan kalau pergi rame-rame?", tanya Lita.
Dan malam pun tiba, kini Dila sedang bersama Lita dan dua teman kuliahnya dari UGM, semua sama-sama perantau, dari daerah yang berbeda-beda.
" Sori kalau temen-temen aku kebanyakan cowok, soalnya aku kuliah di jurusan teknik, kenalin ini Felik dan ini Marko, mereka dari luar Jawa".
" Baru mau daftar kuliah ya?", tanya Felik.
Dila mengangguk," kemarin kerja dulu setahun, buat kumpulin modal, jadi sepertinya kita lulus di tahun yang sama ", tebak Dila.
" Ya, kita lulusan tahun kemarin, berarti seangkatan sama kamu", ucap Marko.
" Sekarang kita nyari tempat buat makan dulu, kalian tahu nggak tempat yang murah, tapi enak makanannya?", Dila begitu apa adanya dan tidak malu-malu menunjukkan siapa dirinya.
" Tenang Dil, di Jogja nyari rumah makan yang enak itu banyak, dan disini harganya murah, jadi nggak perlu hemat-hemat banget, buat makan dan tidur sebulan itu 2 sampai 3 juta sudah cukup".
Mendengar ucapan Lita, Dila jadi merasa tenang. Setidaknya dia bisa bertahan hidup cukup lama di Jogja, apalagi kalau dia mulai usahanya, pasti semuanya akan berjalan lancar dan baik-baik saja.
" Oke, kalau gitu aku ngikut kalian saja yang sudah lebih lama tinggal disini", ucap Dila.
Merekapun menuju sebuah rumah makan yang cukup luas dengan suasana yang cukup antik, bangunan sebagian besar terbuat dari kayu, dan berbentuk seperti rumah joglo, luas dan nyaman, meski kesannya klasik, tapi banyak juga anak-anak muda makan, sekaligus nongkrong disana.
__ADS_1
Dila bisa melihat jika kota Jogja memang sebuah kota pelajar, karena begitu banyak orang dari daerah lain, bahkan dari luar pulau Jawa sengaja datang ke kota ini untuk belajar.
Menu malam ini Dila memesan nasi dengan gudeg Jogja yang terkenal, rasa gudegnya memang sangat nikmat, meski seperti masakan ibunya kalau masak sayur nangka di kampung, tapi ada cita rasa tersendiri yang membuat gudeg Jogja menjadi begitu nikmat di lidah. Belum lagi ternyata pesan gudeg sudah komplit dengan tambahan ayam dan telor juga, Dila benar-benar kenyang menyantap makan malamnya.
Ditambah sate kere yang dipesan oleh Lita, ternyata sate kere adalah sate yang terbuat dari jeroan sapi, kedua makanan ini jika digabungkan ternyata rasanya sangat enak.
Dan satu hal lagi yang membuat Dila merasa senang, saat hendak membayar makan malamnya, Dila hanya membayar 35 ribu, sudah diberi teh manis gratis.
" Untuk besok pagi apa kamu mau ikut kita lagi Dil?, besok pagi kita bertiga mau lari pagi, rutenya ke arah embung Langensari, disana itu ada kolam dan tempatnya sering dipakai buat trek joging juga, kalau mau ikut, habis subuh kita berangkat, gimana?".
Dila yang sedang menyeruput teh manisnya mengangguk setuju, " Oke besok aku ikut".
Lita meminta HP Dila dan memanggil nomernya menggunakan ponsel Dila. " Ini nomer HP ku, kalau kamu nggak bangun-bangun besok aku telepon".
Dila tersenyum lucu, karena selama ini dirinya selalu bangun tidur lebih awal dari penghuni rumah Indra yang lain. Ya.... Dila jadi teringat dengan semua orang yang tinggal dirumah besar itu, " semoga saja mereka semua baik-baik saja meski tanpa ku", batin Dila saat mengingat orang-orang yang dulu tinggal bersamanya.
" Mungkin ini jalan hidup yang harus aku lalui, meski seharusnya aku hanya perlu berpangku tangan menerima semua pemberian dari Indra, tapi apa iya, aku hanya akan menerima saja, tanpa memberikan hak Indra , aku tidak bisa melupakan malam kelam itu, dan bagaimana bisa aku membahagiakan Indra jika tiap kali kami berusaha berhubungan tidak pernah berhasil?", Dila terus mencoba untuk membenarkan keputusannya pergi dari rumah Indra, karena sejak awal sebenarnya Dila sudah lebih dulu takut dengan pernikahan nya yang berasal dari status sosial yang sangat jauh berbeda.
Dari awal Dila sudah tidak yakin dengan pernikahannya dengan Indra, meski lambat laun Dila mulai bisa membuka hati untuk Indra, tapi jika dipikirkan lagi, mungkin rasa sakit hati yang akan didapatnya juga akan jauh lebih besar jika dia terus berusaha mempertahankan hubungan itu. Bagi Dila, dirinya dan Indra bagaikan langit dan bumi, benar-benar terbentang jarak yang sangat jauh.
Kini Dila dan Lita sudah kembali sampai di kos-kosan, jam baru menunjukkan pukul 9 malam, dan suasana di jalanan tadi juga masih sangat ramai.
" Dil, aku masuk kamar kamu boleh?", Lita tiba-tiba ingin masuk kamar Dila, tentu saja Dila mengijinkan.
" Sebenarnya aku mau sedikit curhat sama kamu, tentang cowok yang bernama Felik tadi, menurut kamu gimana?", Dila menatap ekspresi Lita saat ini, jadi Lita naksir Felik, pantas sejak tadi dia terus mengajak Felik mengobrol.
" Aku baru ketemu tadi, jadi yang bisa aku lihat cuma dari segi fisik, dia lumayan keren, tinggi dan stylish. Kalau untuk sikap juga lumayan sopan, tapi untuk kepribadian dan lainnya aku belum bisa membaca, kan baru ketemu tadi", jawab Dila.
" Kalau jalan berdua sama aku cocok nggak Dil?".
Kini Dila semakin paham arah pembicaraan Lita kemana.
" Ya cocok, kan kalian seumuran, kuliah di jurusan sama, jadi pasti kalau ngobrol nyambung", jawab Dila apa adanya.
" Dila... kamu memang teman yang sangat jujur, nggak melebih-lebihkan, selama ini aku tuh nggak punya banyak teman cewek, karena kebanyakan dari mereka itu ngomongnya sok manis di depan, tapi dibelakangnya nusuk".
" Ngomong-ngomong apa kamu sudah punya cowok?", kali ini Lita yang penasaran dengan kehidupan pribadi Dila.
__ADS_1
Dila mengangguk, " Sudah, dia selalu berkata sangat menyayangi aku dan aku juga sangat menyayanginya", hanya itu yang Dila ucapkan dan terlintas wajah Indra di pikirannya.