Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 34


__ADS_3

" Bukankah tadi El ada di sini bersama kami semua, kapan El masuk dan mengambil buket bunga itu?, bunga itu... seperti yang di tanam di taman samping", batin Indra memperhatikan dengan seksama El dan buket bunga yang ada di tangannya.


Indra menengok ke belakang, melihat bi Ana dan Bi Darsih tersenyum-senyum sambil berbisik-bisik.


Ternyata buket bunga itu dibuat oleh mereka berdua tadi, saat mendengar percakapan kedua keluarga dan mengetahui jika Pak Indra sedang melamar Dila, bi Ana dan bi Darsih merasa sangat senang. Dan memetik bunga-bunga di taman samping rumah yang sedang mekar dengan sempurna.


Bi Ana dan bi Darsih merangkai bunga menjadi sebuah buket bunga yang cantik, dan meminta El untuk menyerahkan bunga itu, sekaligus mengajari El untuk mengutarakan keinginannya. Bahwa El ingin Dila menjadi ibunya.


Karena kedua bibi itu tau, selain Dila sangat menyayangi El, mereka juga sudah mengenal Dila dengan sangat baik, Dila gadis yang baik, sopan, ceria dan bersemangat.


Tida ada kandidat lain yang lebih baik dari Dila untuk menjadi ibunya El. Karena wanita lain yang pernah datang kerumah dan berusaha mendekati Indra, mereka semua tidak ada yang setulus Dila dalam menyayangi dan memberi perhatian pada El.


" Apa jawaban Kak Dila?, El sudah capek nih pegang bunganya", suara El menyadarkan Dila dari lamunannya.


" Apa boleh kakak berbicara bertiga dengan bapak dan ibu kakak terlebih dahulu. Kami belum sempat ngobrol apa-apa tadi", ujar Dila merasa bingung.


El menatap Dila kecewa dengan mata berkaca-kaca, karena Dila tidak langsung menerima bunga pemberiannya. El merasa keinginan nya tak langsung dituruti oleh Dila.


Namun suara Siti mengalihkan perhatian semua orang dari El.


" Bapak dan Ibu menyerahkan keputusan sepenuhnya sama kamu Dil. Untuk saat ini, anak kecil ini sepertinya lebih membutuhkan kamu, ketimbang bapak dan ibu, kami di kampung masih bisa hidup sendiri dengan kerja keras kami. Jadi jika kamu mau menerima pinangan ini, kami berdua juga insyaallah ikhlas lahir batin", Siti yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan yang lain bicara, kini menyampaikan isi hatinya.


Siti bisa melihat raut wajah El yang kecewa karena Dila tak langsung menuruti keinginan El untuk menjadi ibunya.


El masih sangat kecil dan tak punya ibu, membuat hati Siti sebagai seorang ibu jadi tersentuh. Meski saat diperjalanan Siti berniat untuk memarahi Dila saat bertemu. Tapi kemarahan itu menguap begitu saja saat melihat anak kecil yang masih sangat polos itu begitu mengharapkan Dila untuk menjadi ibunya.


Mendengar ucapan ibunya yang mengatakan bahwa mereka ikhlas, Dila tak mungkin untuk menolak pinangan Indra, ini semua demi kebaikannya juga.


" Kalau begitu, Kak Dila mau jadi ibunya El, tapi dengan syarat, El harus jadi anak yang baik, dan juga nurut, bagaimana, apa El mau ?". Dila menatap El dengan penuh kasih sayang.


El langsung menghambur memeluk Dila dan menciumi wajahnya.


" Tentu saja, El akan jadi anak yang baik dan nulut, jadi apa sekalang Kak Dila sudah jadi ibunya El?".


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar pertanyaan El.

__ADS_1


" El sayang... kak Dila harus menikah dulu dengan ayah El besok, baru Kak Dila resmi jadi ibunya El", ucap Fatma.


Setelah pertemuan keluarga itu, Toto dan Siti dipersilahkan untuk beristirahat di kamar tamu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sejak pagi melakukan perjalanan dengan mobil selama 7 jam tanpa berhenti, dan saat sampai di rumah Indra langsung ada acara pertemuan keluarga, itu sungguh melelahkan bagi Toto dan Siti.


Dila sudah berdiri di depan kamar tamu, dirinya ingin masuk dan bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi ada rasa takut menemui mereka. Dila sudah terlalu banyak berbohong selama ini. Namun setelah dipertimbangkan akhirnya Dila memberanikan diri mengetuk pintu kamar tamu dan masuk kedalam.


" Assalamualaikum bapak, ibu...", Dila menutup pintu dan menghampiri kedua orangtuanya yang terdengar sedang berdiskusi serius.


Dila langsung menekuk kakinya dan memohon maaf kepada kedua orangtuanya untuk semua kesalahan yang sudah Dila perbuat, berbagai kesalahan, dari yang kecil hingga kesalahan yang sangat fatal.


Siti dan Toto masih terdiam melihat putrinya yang saat ini bersimpuh dihadapan mereka.


Putri yang sangat mereka banggakan selama ini, ternyata sudah melakukan kebohongan yang sangat banyak.


" Bapak dan ibu pantas untuk marah dan benci sama Dila, tapi bapak dan ibu harus mau mendengarkan penjelasan Dila dari awal hingga akhir, setelah itu baru bapak dan ibu memutuskan akan terus membenci Dila atau memaafkan Dila".


Dila pun bercerita dari awal Dila pergi ke Bekasi. Bagaimana kehidupan di sana, dan kenapa Dila akhirnya memutuskan untuk pergi bekerja di Jakarta sebagai pengasuh.


Toto dan Siti mendengarkan cerita Dila dengan seksama, hingga adzan maghrib terdengar, Dila akhirnya menyudahi ceritanya.


" Selama ini, semenjak kamu pergi dari rumah, perasaan ibu selalu tidak enak, tapi kamu selalu mengatakan jika kamu betah dan kerasan tinggal di kota. Ibu pun hanya berharap jika yang kamu katakan itu benar adanya. Dan ternyata semua kekhawatiran ibu itu memang tidak salah, jadi selama di Bekasi kamu hanya tidur beralaskan tikar dan berbantalkan tas saja, kamu sudah merasakan sulitnya hidup di perantauan Nak".


" Maafkan ibu dan bapak yang tidak berpunya ini, kamu harus berjuang untuk meraih cita-cita kamu sendiri, ibu hanya bisa mendoakan kamu agar menjadi orang sukses, dan kamu berhasil meraih cita-cita yang kamu inginkan".


Siti beranjak dari tempat tidur dan membantu Dila berdiri sudah cukup lama Dila bersimpuh di lantai.


" Sejak kapan kamu pakai kacamata, dan ini apa hitam-hitam di pipi kirimu?", Siti mengusap wajah Dila yang terlihat berbeda.


Dila pun menjelaskan sebab musababnya merubah penampilannya.


" Sejak insiden itu.... Pak Indra tidak suka dengan pembantu yang cantik dan masih muda, takut menimbulkan masalah lagi", ujar Dila.


" Jadi Indra belum tahu wajah aslimu seperti apa Nak?", tanya Siti.


Dila pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Jadi Indra itu bilang mencintaimu tanpa melihat kecantikan mu yang sesungguhnya, mungkin dia jatuh cinta padamu karena kasih sayangmu pada El yang tulus, ibu yakin pasti Indra akan semakin jatuh cinta sama kamu kalau sudah melihat seperti apa wajah aslimu ".


Dila hanya meringis mendengar ucapan ibunya.


Toto juga berdiri dan mengajak istri dan putrinya untuk sholat maghrib berjamaah terlebih dahulu, usai sholat mereka melanjutkan perbincangan yang tadi terhenti.


Mereka bertiga duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu.


" Keluarga nak Indra dan keluarga kita itu berasal dari status sosial yang jauh berbeda. Dari sudut tersempit, bisa kamu lihat seperti apa kamar ini, dan bandingkan dengan kamar kamu di desa. Luasnya saja ini 3x kamar kamu, itu baru dilihat dari sisi luas kamar, bagian yang sangat kecil, bisa tahu kan sejauh apa perbedaan diantara keluarga kita, sebenarnya bapak merasa takut berbesanan dengan orang kaya raya, tapi mereka semua sangat menyayangi Dila dan mengharapkan kamu menjadi ibunya El, jadi bapak bisa apa?, sangat tidak pantas jika bapak menolak pinangan yang dilakukan secara baik-baik dari keluarga yang terhormat".


" Dan besok kamu akan menikah dengan Indra, bapak lihat dia laki-laki yang sudah dewasa, bahkan jauh lebih dewasa dari kamu. Setelah menjadi istrinya besok, kamu harus patuh pada suamimu, karena setelah menikah, surga seorang perempuan itu tidak lagi pada orang tuanya, melainkan ada pada suaminya, kamu tahu itu kan Dil?".


" Jodoh itu memang rahasia Allah, kadang bisa orang yang berada dekat dengan kita, bisa juga orang berasal dari tempat yang jauh seperti jodohmu, ada yang bertemu dengan jodohnya saat masih muda, ada juga yang belum dipertemukan hingga usianya dewasa. Urusan jodoh memang tidak ada yang tahu, karena Allah yang mengaturnya".


" Kita sebagai manusia biasa hanya bisa berdoa dan berharap Allah mempertemukan kita dengan jodoh yang baik. Dan bapak rasa Indra adalah pria yang baik, semoga dia bisa mendidik mu menjadi istri yang sholehah", ucap Toto.


Dila hanya diam mendengarkan petuah sebelum pernikahan dari kedua orang tuanya.


" Bapak hanya tidak tahu saja seperti apa Indra yang sebenarnya, dia itu menyebalkan, aku saja sangat membencinya, bagaimana aku bisa jadi istri Sholehah, kalau aku menikah hanya untuk mendapatkan status janda", batin Dila.


Terdengar suara ketukan pintu, Dila membukakan pintu kamar itu, ternyata bi Ana yang mengetuk pintu kamar, memberi tahukan jika semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan, karena sudah saatnya makan malam.


Dila pun mengajak kedua orang tuanya untuk makan malam bersama dengan keluarga Indra.


Toto dan Siti berjalan dan dipersilahkan Indra untuk duduk di kursi yang sengaja Indra persiapkan.


Meja makan yang sangat besar, dengan kayu tebal yang sangat kokoh, banyak kursi yang mengelilingi meja berbentuk persegi panjang itu. Dan saat menatap meja makan, Berbagai hidangan sudah tersedia disana, dari nasi, berbagai macam sayuran, lauk pauk, juga bermacam-macam buah.


Kini Siti paham, mengapa Dila jadi tumbuh besar dan lebih berisi, ternyata apa yang dia makan disini mempengaruhi tumbuh kembangnya. Berbeda dengan saat tinggal di kampung yang hanya makan nasi dan lauk seadanya.


" Kak Dila kemana saja sih?, El cali-cali dali tadi. El kan mau latihan panggil kak Dila jadi 'Ibu Dila', bial besok habis kak Dila lesmi jadi ibu El, El sudah pintel manggilnya, nggak lupa-lupa", ucapan El membuat semua yang berada di ruang makan tertawa dengan tingkah menggemaskan El.


" Maaf, tadi kak Dila habis kangen-kangenan sama ibu dan bapaknya kak Dila, kan sudah lama nggak ketemu, jadi Kakak ngobrol lama, sampai lupa waktu".


Dila menangkupkan kedua tangannya menjadi satu di depan dada memohon maaf pada El.

__ADS_1


" Oke El maafkan, tapi dengan syalat, kak Dila halus suapi El dulu, El mau gulame bakal bikinan bi Dalsih yang supel enak", El meniru gaya bicara Dila padanya tadi sore.


" Belum jadi ibunya saja sudah ditiru gayanya, mau memaafkan tapi pakai syarat, sebenarnya kamu anak ku atau anak gadis kampung itu sih El?", protes Indra dalam hati.


__ADS_2